Mokasih Mak Sati atas komentarnyo, termasuk juo soal musajik dulu. Tunggu reportase berikutnyo.
Wassalam duta --- "Sjamsir Alam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Batua, Pak Duta. Cubo etong, bara banyaknyo partai politik nan banuansa Islam kiniko, mungkin puluhan. Jan dikato organisasi pemuda, induak-induak, ulama, dan massa lain nan mambao baun Islam, indak saketek banyaknyo. Nampaknyo awak urang Islam susah bana untuk basatu. mS ----- Original Message ----- From: "dutamardin" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Cc: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, August 22, 2003 8:31 AM Subject: [RantauNet.Com] Pelajaran dari Tegallinggah, Bali > > Pelajaran dari Tegallinggah, Bali > > Melanjutkan laporan perjalanan mudik bulan lalu, saya juga berkesempatan melihat Bali dari sisi lain. Sisi bukan dunia wisata. Dua malam bermalam dirumah keluarga almarhum Haji Umar di Desa Tegallinggah, Kabupaten Buleleng, memberikan beberapa pelajaran berharga, disamping merasakan kehangatan persaudaraan nyonya rumah dan seisi rumah. > > Seperti diketahui Bali adalah identik dengan Hindu yang sangat kental tradisinya. Namun Tegallinggah bukanlah sepenuhnya Hindu. Separuh wilayah dan penduduk desa itu adalah muslim. Bukan muslim pendatang yang masih memakai bahasa asli daerah mereka. Muslim Tegallinggah mengaku Bali-Muslim. Mereka berbahasa Bali sehari-harinya. Bahasa Bali adalah bahasa ibu mereka. > > Pelajaran pertama saya lihat adalah kerukunan hidup antar umat beragama, yang benar-benar ikhlas, tanpa polesan basa-basi politik. Sampai bom Bali yang terkenal itu, tidak menggeser sedikitpun rasa kekeluargaan mereka, walaupun Islam dibawa-bawa. Tidak seperti dikota Denpasar atau Singaraja, terjadi pelecehan terhadap umat Islam. > Di Tegallinggah azan disetiap waktu sudah hal yang lumrah ditelinga umat Hindu. Sementara bunyi semedi sampai larut malam bukanlah juga suatu yang aneh ditelinga umat Islam. Malahan azan subuh juga disyukuri umat Hindu, dimana dengannya mereka ikut bangun mulai kesawah. > > Kerukunan juga melahirkan konsensus alias kesepakatan bersama. Sejak bergenerasi di Tegallinggah itu sudah terjalin konsensus bergantian menjadi kepala desa. Kalau priode ini Muslim, maka priode berikutnya adalah Hindu dan seterusnya. Era reformasi sedikit mengganggu konsensus itu, karena demokrasi ala Barat diprakktekkan pula di desa itu, yang berakibat, tak pernah lagi Muslim menjadi kepala desa. Lho..kok bisa? Habis, pada setiap pemilu desa, umat Islam tak pernah datang dengan calon tunggal. Sementara umat Hindu selalu calonnya satu. Ini merupakan pelajaran kedua dari desa itu. Perpecahan umat Islam ternyata juga sudah merambah kedesa yang makmur itu. Indahnya, > umat Hindu di desa itu tetap memperlihatkan persaudaraannya dengan mengangkat orang kedua, sekretaris desa dari kalangan Islam. Ini pelajaran berikutnya bagi saya, yaitu umat Islam yang susah bersatu dan umat Hindu yang tetap setia dengan konsensusnya. Paling kurang didesa Tegallinggah itu. > > > Wassalam > > Dutamardin Umar RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php =============================================== RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

