|
Wassalamu'laikum wr.wb.
Sangat setuju dengan usul sanak Arman Bahar soal
pengaktifan FPI atau semacamnya untuk mengatisipasi berkembangnya kristenisasi
di Sumbar. Di Padang dan Sumbar ada PII, HMI, IMM dan organsasi Islam seperti
Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, MUI, partai-partai
Islam dan juga ada madrasah-madrasah Islam mari kita galang persatuan untuk
membendung arus kristenisasi dan pemurtadan yang memang sudah menjadi tujuan
utama misionaris internasional. Yang penting bagi orangtua tetap waspada
terhadap infiltrasi misionaris ini terhadap putra-putrinya.
Wassalam
ZS Manngkuto
----- Original Message -----
Sent: Monday, September 08, 2003 2:28
PM
Subject: RE: [RantauNet.Com] Pemurtadan
di Ranah Minang
Assalamualaikum ww
Sanak
Zulharbi & sanak R/N yth
Mohon
para dunsanak bisa mengaktifkan organisasi FPI-Front Pembela Islam atau
sejenisnya di daerah masing2, di Riau disamping ada laskar FPI juga ada
Laskar Hulubalang Melayu Riau Bersatu yang bisa "di-asuang" untuk
membereskan soal2 beginian
Seharusnya di Sumbar lebih bisa lagi
wasalam
abp
Assalamu'alaikum
Wr. Wb.
Ambo lewakan ciek lai untuak jadi perhatian kita
bersama, maaf bagi nan alah mambaco labiah dahulu, ambo ulang kirimkan
baliak, mengingat seriusnya permasalahannya.
Semoga ada manfaatnya dan tingkatkan terus
kewaspadaan.
Wassalam
ZS Mangkuto
Pemurtadan
di Ranah Minang
Berawal pada bulan Maret, satu tahun silam, saat Khairiyah Enniswati
(Wawah), siswi Madrasah Negeri 2 Padang berkenalan dengan Lia di atas
angkutan kota. Mereka cepat akrab. Ma'lum, selain sangat ramah, Lia pun
mengenakan jilbab. Hubungan kedua gadis itu makin lengket ketika esok
harinya mereka bertemu lagi di angkot yang sama.
Setelah bersahabat beberapa lama, tiba-tiba Lia melakukan tindakan
yang mencengangkan. Pada Wawah, ia mengaku penganut Kristen Protestan dan
menceritakan indahnya berkelana dalam dunia Protestan. Cerita selanjutnya,
bisa ditebak. Lia mengajak Wawah masuk Kristen. Anehnya, Wawah tidak
berdaya saat diajak menghabiskan waktu berkeliling kota Padang. Hingga
akhirnya mereka tiba di gereja Protestan (GPIB), di Jalan Bagindo Aziz
Chan, Padang. Di sini, seperti dituturkan Wawah, sudah menunggu puluhan
jemaat dan Pendeta Willy. Saat itu juga Wawah dibaptis dan dibawa ke rumah
Salmon, salah seorang anggota jemaat gereja yang bekerja di PDAM Padang,
di kawasan Telukbayur. Istri Salmon, Lisa Zuriana, adalah warga Tangah
Sawah, Bukittinggi. Lisa asli Minang, tapi sudah memeluk Kristen. Malah ia
menjabat sebagai bendahara Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat
(PKPSB).
Singkat cerita, ketika ditinggal sendirian oleh istrinya, bisikan
setan merasuki jiwa Salmon. Dua kali ia melampiaskan nafsu binatangnya
pada Wawah. Karena diancam, Wawah tidak kuasa melawan. Bisa kita bayangkan
betapa menderitanya Wawah ketika berada di rumah Salmon.
Sementara itu, keluarga Wawah melaporkan hilangnya putri mereka ke
polisi. Tapi para penculik Wawah tampaknya sudah siap menghadapi
kemungkinan ini. Untuk menghilangkan jejak, nama Khairiyah Enniswati
diubah menjadi Indah Fitria. Kemudian, dengan menggunakan ijazah palsu
dari SMP 4 Muara Bungo Jambi, Wawah disekolahkan di SMU Kalam Kudus, milik
yayasan Prayoga, Padang. Sampai suatu ketika, keberadaan Wawah di SMU itu
tercium oleh teman-temannya di MAN 2. Mengetahui gelagat buruk ini, Wawah
pun dipindahkan ke sebuah sekolah Kristen, di Malang, Jawa
Timur.
Polisi yang terus melakukan pelacakan, berhasil mengetahui
keberadaan Wawah. Mereka menjemput Wawah dan membawanya pulang ke Padang.
Kedatangan Wawah yang lama hilang ini disambut isak tangis keluarganya.
Ayahnya yang dosen IAIN Bengkulu kemudian membawa Wawah ke Bengkulu. Di
sini ia diislamkan kembali. M. Lili N.A. - (m3)
Akibat penurunan statistik
ummat Islam di Indonesia sampai saat
ini.
Di bawah ini di antara sebagian
ungkapan kristolog yang terjadi:
"Kasus
Terbanyak, Pemuda Kristen Hamili Gadis Muslimah"
Pertengahan bulan lalu (Mei 2001), harian Republika menurunkan
laporan tentang puluhan sekolah agama di Yogyakarta dan Temanggung yang
tidak mau menyelenggarakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) untuk
pelajaran agama bagi siswa-siswa beragama lain di sekolah itu. Padahal
sudah ada ketentuan hukum yang mengatur hal itu secara tegas yakni Surat
Keputusan Bersama (SKB) No. 2/U/SKB/2001.
Namun, SKB yang ditandatangani oleh Mendiknas, Mendagri dan Menag
itu sengaja mereka abaikan. Alasan mereka, mengutip pernyataan sejumlah
pejabat Diknas setempat, mereka ingin menjaga kekhasan sebagai sekolah
agama. Bahkan beberapa yayasan pengelola sekolah-sekolah tersebut secara
tegas menolak SKB itu karena ingin mengemban misi tertentu untuk
kepentingan agama mereka (Republika, 12/6/2001).
|