Kini sdg intend diskusi parawisata Minang di biliak potensi Minang, kalau lai ado nan 
ka ikuik bisiakkan ka [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalaamu'alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu

Membahas zakat profesi, memang ada beberapa pendapat ulama mengenai gaji
yang dijadikan pokok zakat 2.5% tersebut.
Dalam Fiqih Zakat, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan bahwa untuk mereka
yang berpenghasilan tinggi dan terpenuhi kebutuhannya serta memang memiliki
uang berlebih, lebih bijaksana bila membayar zakat dari penghasilan kotor
sebelum dikurangi dengan kebutuhan pokok.

Misalnya seseorang bergaji 200 juta setahun, sedangkan kebutuhan pokok
perbulannya sekitar 2 juta atau setahun 24 juta. Maka ketika menghitung
pengeluaran zakat, hendaknya dari penghasilan kotor itu dikalikan 2,5 %.

Namun masih menurut Al-Qaradhawi, bila seseorang termasuk orang yang bergaji
pas-pasan bahkan kurang memenuhi standar kehidupan, kalaupun dia diwajibkan
zakat, maka penghitungannya diambil dari penghasilan bersih setelah
dikurangi hutang dan kebutuhan pokok lainnya. Bila sisa penghasilannya itu
jumlahnya mencapai nisab dalam setahun (Rp. 1.300.000,-), barulah dia wajib
mengeluarkan zakat sebesar 2,5 % dari penghasilan bersih itu.

Nampaknya jalan tengah yang diambil Al-Qaradhawi ini lumayan bijaksana,
karena tidak memberatkan semua pihak. Dan masing-masing akan merasakan
keadilan dalam syariat Islam. Yang penghasilannya pas-pasan, membayar
zakatnya tidak terlalu besar. Dan yang penghasilannya besar, wajar bila
membayar zakat lebih besar.

Sedangkan mengenai kebutuhan pokok, mungkin perlu amil zakat yang dipercaya
memberikan standar kebutuhan pokok, agar umat Islam yang ingin membayarkan
zakatnya bisa menghitung zakatnya dengan mudah. Dari berbagai cara
penghitungan zakat yang ada terlihat bahwa setiap orang bebas menentukan
sendiri jumlah kebutuhan pokoknya sehingga ada yang menentukan jumlah
kebutuhan pokoknya seenaknya dan berusaha membayar zakat seminimum mungkin.
Kalau ada standar yang jelas mengenai kebutuhan pokok (yang mungkin saja
berbeda menurut tempat tinggal), insya Allaah akan lebih membuka kesempatan
bagi orang untuk membayar zakatnya dan juga mungkin akan memudahkan negara
menentukan pembayar zakat jika urusan zakat ini menjadi urusan negara
nantinya.

Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"

----- Original Message -----
From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, September 25, 2003 2:42 PM
Subject: Re: [RantauNet.Com] Zakat profesi


> > Rahima writes:
> >
> >
> > > Berarti masih ada sisa dari gaji bersih itu
> > > kan,..?,wajib mengeluarkan zakat.boleh dibayarkan
> > 2,5
> > > % dari sisa gaji kotor tersebut,perbulan,boleh
> > juga di
> > > tunggu sampai setahun.Mana yang mau,.yang pasti
> > wajib
> > > keluarkan zakat.
> > >
> > > Wassalam.Rahima.
> >
> >
> > Assalamualaikum Ww.
> >
> > Saya ingin klarifikasi lagi nih. Apa zakat itu 2.5%
> > dari
> > sisa gaji atau 2.5% dari gaji yang melewati nisab?
> >
>  Mak darul,..iyah..zakat memang 2,5 % dari sisa
> gaji.Tapi pengeluaran yang dikeluarkan adalah
> pengeluaran dari yang kadar normal2 saja,jangan pula
> dicari-cari sehingga gaji itu habis sama sekali,supaya
> beralasan,gaji kita ngak ada sisanya koq ?
>
> Kenapa begitu..? Itulah Islam itu,tidak pernah
> memberatkan ummatnya.Makanya,kalau saja setiap yang
> bergaji,mengeluarkan zakatnya sedikit apapun kalau
> dikumpulkan semua zakat pegawa,akan jadi banyak.
>
> Belum lagi kalau dikumpulkan zakat2 yang
> berharta,punya perak emas,ladang,bahkan kalau kita
> punya tanah yang belum lagi digarap,atau belum
> diolah,dan dibangun,masih dibiarkan terletak begitu
> saja menurut ulama,wajib juga di zakatkan,tapi sekali
> saja,disaat kita membelinya..
>
>  Sama dengan petani,sesuai dengan hasil
> panennya,setelah dikeluarkan semua kebutuhan untuk
> panen tersebut,semua biayanya,baik itu gaji
> karyawan,perairan,bila sawah diari.( tapi
> berbeda,sawah yang diari oleh hujan, % nan zakatnya
> lebih tinggi dengan sawah yang diari memakai
> perairan,karena sawah yang pakai ( irigasi,atau apa
> namanya itu,yang jelas,kita pakai duit untuk
> mengalirkan air kasawah itu ),
>
> Bila panen,maka zakatnya tidak sebesar zakat sawah
> yang hanya tergantung degan air hujan saja.
>
> Memang begitu Islam,dalam hal pembagian zakat sangat
> adil,seadil2nya.Dan tidak memberatkan sama sekali.
>
> Soal hitungan2,jujur aja deh..lihat di situs yang
> ditunjukkan netter lain. Saya hanya menyampaikan siapa
> yang berhak,menerima zakat,juga siapa yang harus
> berzakat.
>
> Sekali lagi untuk zakat profesi,memang menurut ulama
> seperti itu,ia dinisbahkan sesuai dengan zakat
> tani,dikeluarkan zakatnya ketika panenn,atau terima
> gaji,setelah dikeluarkan pengeluaran selama
> sebulan,tapi dalam koridor,yang normal.Jangan dicari2
> pengeluaran yang luar biasa,hitung sana-sini,supaya
> habis pengeluaran sebulan.
>
> Inilah Islam,tidak membuat ummatnya miskin,akibat
> memberikan zakat pada orang lain,tetapi tetap
> diutamakan dulu kebutuhan keluarga,dengan batas
> normal.
>
> Demikian dulu penjelasan dari saya.
>
> Wassalam.Rahima.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
============================================

Kirim email ke