Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Assalamu 'alaikum wr. wb.

Sepertinya sanak belum memahami point yang saya maksudkan disini. Perlu dicatat dulu 
bahwa, sejak awal saya tidak menafikan perlunya pendidikan sex bagi remaja termasuk 
segala macam ancaman penyakitnya. (perhatikan kembali email saya sebelumnya ).

Saya sepakat dengan sanak bahwa perlu adanya pendidikan sexual bagi remaja. Sangat 
setuju sekali. Tapi saya berbeda pendapat dengan sanak kalau "cara memberikan 
pendidikan tsb" adalah salah satunya dengan membolehkan para remaja tersebut membawa 
kondom. Membolehkan para remaja membawa kondom sama saja dengan memberi mereka peluang 
seluas-luasnya utk "memanfaatkan" kondom itu. Dalam bentuk apa dimanfa'atkan ? saya 
kira semua kita udah paham.

Bukankah ada cara yang lebih baik dalam memberikan pendidikan sex kepada remaja ? 
seperti seminar atau penerangan umpamanya ?

Jadi kalau sanak merasa tidak perlu memarahi ponakan atau adik sanak yang membawa 
kondom kesekolah, maka - ma'af saya berbeda dengan sanak - saya akan memarahinya dan 
akan mengganti kondom tsb dengan buku-buku yang menginformasikan ttg pendidikan sex 
bagi remaja. Bagi saya, memberikan kondom kepada para remaja sama saja dengan menyuruh 
mereka melakukan tindakan asusila.

sengaja tidak saya potong email terdahulu agar tetap nyambung, mohon ma'af...

wassalaam,
Ronald

---------- Original Message ----------------------------------
From: Tanjuang Heri <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
Date:  Fri, 10 Oct 2003 14:25:21 +0200 (CEST)

>Sanak Ronald nan budiman, jo netters sadonyo,
>
>
>Wa 'alaikum salam wa Rahmatullahi wa Barakaatuh
>
>Tarimo kasih atas tanggapan sanak na cukuik panjang lebar. Sanak batua, tapi marilah 
>kito cubo liek keadaan iko jo pikiran nan janiah. Iko sebagai wanti wanti sae atau 
>jago jago sabalun parah. Lebih baik mencegah dari pada mengobati toh?
>
>Manuruik pandapek ambo, kegerahan Kadispendidikan tsb adalah sangat wajar, dan 
>mungkin juga dirasakan oleh sebagian besar netter RN ini. Bagaimana tidak ? 
>siswa-siswa tsb (yang jelas-jelas belum menikah)mengantongi kondom yang merupakan 
>salah satu alat kontrasepsi dalam hubungan suami istri. Buat apa bagi mereka ? Saya 
>yakin sanak bisa menjawabnya.
>
>Saya mau tanya, apakah karena seseorang itu belon menikah, mereka tidak dapat 
>berproduksi? ndak toh? Nah, justru dalam keadaan co iko, kito nan tahu wajib maagiah 
>tahu ka nan mudo tu, supayo inyo kuat beriman. Tapi waktu yang namanya godaan setan 
>"kenikmatan sementara" itu datang tanpa kendali, apa dia pilih "ngebuntingin" orang? 
>atau dia sendiri yang dapat penyakit kalau dia seneng ama sejenis?Maaf, kata-katanya 
>agak pasaran dikit. Dari dua pilihan yang sangat jelek ini, sanak pilih mana? Justru 
>kampanye anti aids dengan menampilkan kondom sebagai alat pencegah bahaya, itu perlu 
>ditanamkan di sekolah. Dan Kadispend harusnya tahu itu. Apa kita terus terusan 
>melarang tanpa harus memberi tahu apa itu seks dan bahayanya?  Sudahkah ada 
>penerangan di sekolah oleh pihak Depkes, jajaran hukum dan polisi tentang masalah 
>seks ini? Pendidikan tentang seks tidak berarti hanya sebatas bagaimana menghamili 
>orang, tapi semua aspek yang berkaitan. Dan ini harus disesuaikan dengan Minang dan 
>keadaan
> di sekitar kita. Betul ngga?
>
>Kita semua khawatir dan mengelus dada melihat merebaknya free sex dikalangan pelajar 
>ini. Bagaimanapun para Da'i dan Ulama menghimbau tapi tetap saja perilaku ini tidak 
>bisa dikikis. Banyak hal yang ikut berperan disini, baik itu koran, tabloid-tabloid 
>porno yang dijual bebas, VCD porno, orang tua yang melepas putri utk bepergian dengan 
>sang pacar, sampai Iklan anti Aids yang menganjurkan memakai kondom !
>
>Sebagai manusia normal dengan sistem produksi yang normal, seks tetap dibutuhkan. 
>kalau hanya larangan saja tanpa memberikan pengertian, saya rasa percuma, akan sia 
>sia usaha ulama dan da'i. Coba sanak selidiki sendiri, dari setiap larangan yang ada 
>di Ina, apa ada pengarahan pada masyarakat kenapa hal tsb dilarang ? Saya belon 
>pernah lihat, tapi kalau ada yang mau kasih contoh , saya seneng sekali. Masyarakat 
>kkita sudah dibiasakan dengan larangan. Larangan akan memberikan rangsangan pada 
>orang untuk mengetahui sampai dimana seseorang itu berani melanggar larangan . Ada 
>yang mengatakan , larangan / undang undang dibuat untuk dilanggar. Kelirukah saya?
>
>Jadi adalah kurang tepat jika sanak justru gelisah karena "kegerahan" Kadispendidikan 
>ini. Cobalah jika keadaan seperti ini dihadapkan kepada sanak, ketika suatu hari adik 
>atau kemenakan sanak yang belum menikah ketahuan mengantongi kondom dalam tas 
>sekolahnya. Apakah sanak akan marah atau gerah, atau sanak justru "happy" karena 
>berarti adik atau kemenakan sanak tersebut telah memahami penggunaan kondom dan bisa 
>melindungi dirinya dari berbagai penyakit kelamin.
>
>Saya gelisah karena "kegerahan " Kadispend, yang nota bene sudah mendapat pendidikan 
>barat, justru mengenyampingkan masalah ini dan menganggap "kondom" sebagai barang 
>bukti tindakan kriminal. Saya tidak akan bangga alias "happy" kalau ponakan /adik 
>saya (laki atau permpuan) bawa kondom. Tapi mari kita tanya mereka , buat apa mereka 
>pakai / bawa kondom. kalau sebagai perlindungan, apa perlu dimarahi? Apa kita tidak 
>pernah remaja ? dimana pada saat tsb, merupakan saat saat kritis dalm kehidupan 
>manuasia, di situlah fungsi pengarahan/pendidikan seks di sekolah. Sekali lagi bukan 
>pelajaran bagaimana melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Saya tidak 
>memaksakan pendapat saya ini, tapi mari kita pikirkan , kalau kita melarang para 
>remaja mengerti apa itu kondom dan seks, akankah hal ini menyetop penyebaran bebas 
>seks? apalagi dalam kaitan  pengembangan pariwisata di Ranah Minang. Terpikirkah oleh 
>kita dampak ini? Walaupun dalam beberepa postingan soal ini telah dibahas.
>
>Betul membawa kondom itu bukan KRIMINAL seperti kata sanak, tapi perlukah dia membawa 
>kondom hanya untuk sekedar tahu apa fungsinya kondom ? Apakah tidak dikhawatirkan 
>justru kondom itu digunakan utk berbuat asusila dan menghindar dari akibatnya ?
>
>Jawaban saya, perlukah Ranah Minang ini kembali ke zaman kegelapan sebelum kelahiran 
>nabi Muhamad saw? Perlukah dilarang warnet dan turis asing di Sumbar? Perbuatan 
>asusila akan terjadi kalau anak, kemanakan tidak pernah dididik. Bagi setiap orang 
>tua, ninik mamak yang bertanggung jawab, hal ini tidak akan dikesampingkan. Kata kata 
>seks di Minang masih tabu, tapi semua orang sering melakukannya seenaknya. malah ada 
>pagar yang makan tanaman. Justru ini harus dikembalikan pada diri sendiri, sudahkah 
>kita mendidik, mengawasi anak kemanakan dengan baik? Apakah hubungan seks diluar 
>nikah yang dilakukan sepasang manusia , yang suka sama suka dan dengan saling 
>melindungi diri sendiri dengan memakai kondom digolongkan pada perbuatan asusila? Dan 
>perkosaan digolongkan pada bagian mana?
>
>Saya memahami penolakan sanak akan free sex, tapi sikap membolehkan pelajar yang 
>belum menikah membawa alat kontrasepsi (kondom) hanya agar dia bisa melindungi diri 
>dari berbagai penyakit kelamin juga tidak tepat dan menyalahi agama.
>
>Saya setuju kalau dilihat dari segi agama perbuatan ini terlarang (sejauh yang saya 
>pahami dari pelajaran agama yang saya dapat di sekolah). Sekarang kita tinggal pilih, 
>kawin paksa, hamil dan dapat penyakit kelamin atau menggunakan perlindungan?
>
>Kita tidak hidup dinegara yang membebaskan sex. Kita hidup di Indonesia, lebih khusus 
>lagi di ranah minang yang sangat kental keislamannya.
>
>Kalau yang sedang kita diskusikan bukan terjadi di Sumbar, buat apa saya capek capek 
>kasih komentar. Justru ini merupakn peringatan bagi kita untuk tidak mengeluarkan 
>setiap larangan bagi hal yang kita anggap baru, melainkan harus mencari jalan keluar 
>yang terbaik , kalau perlu yang terbaik di antara yang terburuk. Saya tidak mau 
>melihat Minang yang seperti pendudk sebagian besar negara Afrika hitam dan Cina 
>daratan yang banyak mengidap penyakit Aids. Hal ini karena pemerintahan mereka 
>memanfaatkan kebodohan rakyatnya dengan tidak memberikan informasi lengkap tenntang 
>penyakit tsb. Kenapa negara maju masih tetap memberikan penyuluhan tentang penyakit 
>Aids dan penyalkit kelamin lainnya, sedangkan masyarakatnya dapat meng akses 
>informasi secara bebas soal ini dan tingkat pendidikan mereka minimal SMU ? 
>Jawabannya , karena penyuluhan lebih murah biayanya dari pada pengobatan. Dan 
>penyuluhan dapat dilakukan oleh para sukarelawan.
>
>Kita punya pepatah : Sedia payung sebelum hujan. Polisi juga menyarankan pakai helmet 
>kalau naik roda 2. Kenapa?
>
>Bagaimana tanggapan netters lainnya, para Mamak, Bundo Kanduang dan Uni lainnya?
>
>Pendapat saya sih tidak perlu jadi acuan , tapi sebagai bahan pikiran saja,karena 
>kita tidak mungkin hidup tertutup dari dunia luar.
>
>Wasalam
>
>Heri (40)
>Rangtabiang
>
>wassalaam,
>Ronald (31+)
>
>
>
>
>
>
>
>---------------------------------
>Do You Yahoo!? -- Une adresse @yahoo.fr gratuite et en fran�ais !
>Testez le nouveau Yahoo! Mail
>

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
=======================================

Kirim email ke