untuk komentar no.3 : Yap, pendidikan lingkungan hidup memang baru sebatas nyanyian : jika kau makan pisang, jangan dengan kulitnya, kulit kau lempar keranjang, keranjang sampah namanya, keranjang sampah namanya...;-P
 
untuk komentar no.1 : kalau gitu perlu ada inisiator untuk menggalang mereka melakukan penyelamatan itu dong ? karena gimana bisa nunggu mereka mengagendakannya untuk 'tahun2 mendatang' ?
untuk komentar no.2 : nggak perlu dikaji alias TST (tau sama tau) siapa yg kasih ijin ya ?
 
orang2 LH ngapain aja sih di Sumbar ?
 
HHHHMMMMPPPPHHHHHH................(geregetan)
 
Terima kasih,
"C"
 
 
 
----- Original Message -----
From: Nafris
1. Kondisi ngalau kamang memang sudah sedemikian parah dan kondisi sekarang memang tidak bisa lagi dipergunakan untuk objek wisata. Jalan yang dulu disemen dalam ngalau kamang sudah banyak yg berlubang dan licin karena ngga terawat dan dilalui lagi. Untuk penyelamatannya masih bisa dilakukan terutama mungkin diadakan kerja sama Masyarakat setempat dan para pencinta lingkungan hidup di SUMBAR terutama mahasiswa pencinta alam yg begitu banyak di Perguruan Tinggi di SUMBAR seperti Proklamatornya Univ. Bung Hatta, CAMP di Seberang Padang, Blaise Pascal di UPI YPTK, UNAND dll yang mana dari kelompok Pencinta Alam yang ada di SUMBAR ada rutinitas Pembersihan Gunung Singgalang sebelum Tahun baru. Untuk Tahun2 mendatang mungkin dimasukan dalam agenda kegiatan mereka pembersihan Ngalau Kamang.
2. Yang salah satu penyebabnya adalah Penambagan Batu Kapur yang selalu menimbuni mulut ngalau oleh jatuhan batu dari atas gunung untuk pembuatan kapur dan juga pondok-pondok yang didirikan didepan ngalau sudah ditinggalkan oleh orang yg biasa berjualan.
3. Bukan belum ada yang menghargai lingkungan hidup, tapi hanya baru sebagian kecil yang peduli tentang lingkungan hidup
 
tk
Nafris Chaniago
Orang Lintau di Tanjung Enim - SUMSEL

Kirim email ke