Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


--- Darul M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Walaikumussalam WW

> carito. Jadi awak iyo harus
> biukak kulik tamapak isilah, bia awakko indak salah
> anggapan. Cubo Rahima
> sajo mangecekkan "laki dibeli" nan kadang iyo
> mamanehkan talinbgo awak
> sabagai urang Minang.


Assalamualaikum.Wr.Wb.

Hahahaha...mak Darul..mak Darul,..kalaulah mak Darul
tahu,sebagaimana panas telinga mak Darul mendengar
kata " lelaki di beli ",seperti itulah panasnya
telinga saya saat dengar langsung dari orang
lain,bahkan dari ipar sendiri( sayang,.saya dengarnya
justru setelah menikah,coba kalau melum
menikah,..entahlah,.saya apakan itu ipar,yang saya
baru tahu,kalau mereka ternyata minta agar keluarga
saya beli suami saya ini saya kaget setengah mati
dengar itu setelah menikah.


Syukurnya hal ini diselesaikan sendiri oleh suami
saya,dan tanpa bilang kesaya sebelumnya,kecuali
setelah menikah,dan disampaikan beliau saat santai,dan
syukurnya lagi mertua,ibu kandung beliau sendiri,juga
tidak menyetujui sikap anak,ataupun familinya dalam
banyak hal semacam ini,baik segi harta warisan ,
ataupun istilah membeli anaknya itu sendiri.
 

Dan syukurnya lagi setelah kami menikah,melihat
ketegasan,ataupun sikap saya yang sesuai dengan
agama,mereka dapat mengerti dan membenarkan,kalau kita
itu,ngak boleh memakan harta yang bukan milik kita,dan
jangan mempersulit suatu hal yang baik." tetapi segala
sesuatu yang baik itu haruslah di percepat " Khairul
birru 'aajiluhu ".


Sikap dan tidakan suami saya ketika itu memang
bijaksana sekali,tidak mau memberitahukan hal ini pada
saya sama sekali,kalau saja di beritahukan pada saya
sebelum menikah,wallhua'lam apa yang akan
terjadi,karena jelas,bagaimanapun ,saya ngak mau beli
suami,apapun alasannya,apakah itu uang japuik,karena
jelas,meski itu untuk bekal kedua belah pihak ( untuk
kehidupan mereka berdua kelak,bukan untuk keluarga
lelaki saja )


Karena bukan saja sang wanita yang akan berbahagia 
mendapatkan calon suami baik dan berkedudukan,sang
lelaki juga akan berbahagia,dapat calon istri yang
tidak kalah dengan,baik kedudukannya juga .Tapi kalau
saling  membantu,sudah kewajiban pihak keduanya,itulah
gunanya bersatu,hidup,yang susah dan sulit jadi
mudah,karena di tanggulangi oleh kedua belah
pihak.Yang keruh dan runcing jadi jernih dan
tajam,serta jelas.


Tapi kalau dari cerita mak Arman Bahar tadi,kalau saja
sang wanita sudah Gadis perawan Tua ( maaf mohon
jangan ada yang tersinggung,ngak ada maksud
menyinggung siapa2 di sini,ini juga saya ambil dari
ceritanya mak Arman Bahar ),dimana prianya
berkedudukan tinggi,tampan pula,saya dapat mengerti
betapa banyaknya yang akan datang melamar lelaki ini 


( ini juga dialami sendiri oleh suami saya sebelum
kami menikah,betapa banyaknya keluarga wanita di
kampung itu yang datang ke beliau,cantik mirip yessi
ratna sari,manis mirip Lidia kandau,kaya datang
bermobil lagi,guru,dosen dlsbgnya ).Ada baiknya juga
saya tahu ternyata saya banyak saingan ketika itu
setelah saya menikah,coba kalau sebelum
menikah,khawatir kalau-kalau niat saya menikah dengan
beliau ini jadi lain,bukan karena ikhlas karena Allah
ta'ala lagi,tapi karena banyak saingan.


Tapi ini semua tergantung pria nya juga,apakah ia mau
menikah dengan wanita itu,apalagi kalau hanya karena
sang wanita sudah berumur,dan juga karena lelaki
berpangkat,berharta dan berkedudukan tinggi pula,mana
masa depan cerah,InsyaAllah bakalan jadi orang kaya
kelak,bukan karena kepribadian lelaki itu sendiri
.Saya kira,lelaki tentu menginginkan seorang istri
yang menginginkan ia untuk menjadi suaminya,karena
sayang dan cinta,perhatian,dan mengerti dengan
ia,bukan karena jabatan,harta,pangkat,tampan,ataupun
kedudukannya.karena jabatan,harta,kekayaan bisa punah
di telan masa,semakin lama kita semakin tua juga.


Umur berkurang,ketampanan sirna,dan tenaga pun
berkurang,tentu yang diharapkan sang suami adalah yang
menjaga dan memperhatikan dan menyayanginya kelak,baik
saat senang,susah,tua dan muda,menjaga dan merawat
anak-anaknya kelak,dapat beradaptasi dengan
keluarganya.Saya kita itu yang banyak di inginkan
lelaki,wallhua'lam,kalau dugaan saya ini salah
terhadap lelaki.

Saya tahu sebagian sifat lelaki,karena saya banyak
mengenal lelaki sebelumnya,dan banyak diskusi bersama
mereka,tentang apa sebenarnya yang mereka inginkan
dari wanita itu.banyak yang bilang,kalau untuk sekedar
teman dengan wanita,yang nakal,cantik,manis jahatpun
di temani,tapi untuk dijadikan istri,kami lebih
memilih lagi.Yang kami utamakan justru adalah
akhlaknya,agamanya kuat,sehingga dapat mendidik
anak-anaknya ke jalan yang benar,dapat menyayanginya
sampai akhir hayatnya kelak.Tidak menyayanginya ketika
senang saja " Ada uang abang salang,tak ada uang abang
melayang " 


Kembali kecerita teman-teman saya.

Dan teman-teman saya juga Mereka bilang begini :


" Rahima,..lelaki di Pariaman itu di beli,pakai uang
japuik yang tawarannya tergantung dari posisi dan
jabatan lelaki itu sendiri ".( ini langsung yang
ngomong teman cewek saya asli Minang,ngak pernah
merantau kemanapun ianya.).


Kemudian pernah terjadi dua orang teman mahasiswa/i
Kairo,mereka sama-sama pacaran dan ingin menikah.Tapi
bertahun -tahun lamanya pernikahan mereka jadi
tergantung-gantung,akibat apa..??


Karena sang lelaki berasal dari pariaman,sang wanita
dari BKT,dan keluarga lelaki minta di beli,yaitu pakai
uang jeputan.bagi orang-orang daerah lain,istilah ini
tetap saja di katakan " di beli ",karena pakai
uang,apalagi ada tawar menawar harga sesuai jabatan
dan kondisi lelaki itu sendiri.


Saya kira,kita ngak bisa menutup mata dari omongan
orang lain,dan ini yang sering saya dengar sendiri
cemeehan dari teman-teman,karena jelas mereka tahunya
saya orang Minang,sementara saya orang agama,tapi
banyak yang ngak seimbang dengan syari'ah Islam itu
sendiri.baik itu warisan,ataupun suku jatuh ke pihak
ibu,dan lainnya lagi.Kalau soal warisan,mungkin saat
ini saya bisa menjawab,setelah membaca postingan dek
laila,tentang adanya pusaka tinggi dan rendah itu.

Tapi kalau saja yang di berikan pada wanita baik itu
secara keseluruhan padanya,atau lebih banyak ke wanita
ketimbang lelakinya,jujur,itu memang dalam hukum
warisan dalam islam,jelas salah,karena harta warisan
yang dicari sendiri oleh ayah/ibu,istri,suami sudah
ada ketentuannya dalam Islam.Saya bisa menjawab hal
ini,kalau memang itu realitanya yang terjadi di Minang
kabau,yang jatuh kewanita itu adalah Pusaka Tinggi.


Yang saya kira juga mempertahankan pusaka tinggi ini
sangat baik sekali,untuk mempertahankan tanah agar
tidak di miliki oleh orang lain,terutama kalau saja
bisa di jual,bisa-bisa akan jatuh ke tangan orang
Kristen,karena harga mereka bisa naik banding jauh
lebih tinggi.Satu sisi dari segi mempertahankan tanah
warisan pusaka tinggi di Minang Kabau ini sangat baik
sekali,kita lihat saja daerah Betawi ,Jakarta
sana,mana lagi orang Betawi asli yang menguasai daerah
itu,sudah kebanyakan daerah lain,lebih maju.


Tapi bila harta warisan yang di cari sendiri,dalam
pembagiannya banyak jatuh,atau bahkan sepenuhnya jatuh
ke tangan wanita,jujur saja,dalam agama ini sudah
salah.Kita di larang memakan harta yang bukan milik
kita,apalagi secara paksa,karena sudah adatnya memang
begitu.( ini perlu sekali dibedakan dan menjadi
perhatian kita bersama ,saya hanya sekedar mencoba
melihat,mana yang sebenarnya terjadi,kalau saja pusaka
tinggi,bagi saya itu tidak menjadi masalah,tapi kalau
pusaka rendah,tolong sama-sama kita
memperbaikinya,bukankah katanya adat kita bersandikan
syara'syarak,bersandikan kita bullah ).


Apa sajapun seharusnya kita kembalikan pada hukum
agama kita sendiri.Jangan seperti pepatah Minang juga
kalau ngak saya salah " Tahimpik nak di ateh,takuruang
nak di lua ",adat yang enak-enaknya untuk kita saja
yang kita ambil,sementara yang tidak enaknya,meski
tidak sesuai dengan agama,kita acuhkan.Sebagaimana
kata Mak Darul sendiri : Buka kulit tanpak Isi,agar
semua nya jelas,maka mari sama-sama kita buka,Ada apa
sebenarnya adat Minang itu,bagaimana hakikatnya,sesuai
ngak realita dengan yang tertulis,atau slogan yang
selama ini kita agung-agungkan itu.


Saya justru karena cinta Minanglah makanya saya mau
buka-bukaan semacam ini,sampai mau saya mengatakan
bagaimana yang saya hadapi sendiri dari keluarga pihak
suami saya,jujur saja,harta yang ipar saya katakan
jatuh pada wanita adalah harta pencarian ayah kandung
suami saya sendiri,saya tanyakan itu langsung.


Saya suka terang-terangan,agar ngak terjadi salah
faham.Sebagaimana saya tanyakan langsung pada ibu
saya,tanah yang di miliki ibu saya di Kamang itu tanah
siapa,pencarian hasil mana,..agar di akhirat
kelak,kita ngak ada sangkut paut dengan makan harta
yang bukan milik kita,meski tanpa kita sadari,karena
sudah adat istiadat begitu.


Di dalam Islam kita di ajarkan " Waatuu dzii haqqan
haqqahu,.dan berilah hak seseorang itu sesuai dengan
haknya,baik dalam hal apa saja,terutama dalam hal
harta warisan pencarian ortu ,suami sendiri ).


Dan keadaan ini juga bukan saya sendiri yang
rasakan,tapi banyak di rasakan oleh kita orang Minang
lainnya,apalagi dari daerah lain.


( Dapat ngak mak Darul bayangkan,apa yang saya rasakan
dari pergaulan saya bersama daerah lain,..dengan
banyaknya cemeehan dari mereka tersebut ,sementara
saya sendiri,ngak bisa jawab,karena saya disamping
kurang tahu adat istiadat Minang itu sendiri,dimana
pada realnya saya memang melihat kondisi sering
semacam itu ).


Contoh saja kedua mahasiswi/a tadi itu.Hal tersebut
menambah cemeehan orang lain.Keduanya sempat 
terkatung-katung ,akibat keluarga pihak lelaki
bersikeras ingin anaknya di beli,pakai uang jeputan
itu.Berita ini kesebar luas saat itu.Dapat dibayangkan
betapa saya harus menahankan hati mendengar cemeehan
orang,dimana saya tak dapat menjawab sama sekali.


Belum lagi banyak hal-hal lain,yang jujur aja,baru
malam tadi,entah kenapa kita ibu-ibu pas saat buka
puasa bersama,mereka saling cerita tentang adat
istiadat kampungnya.

Sampai saat itu mereka tanyakan : " Rahima,..koq di
Minang,perempuan yang berkuasa yah..suku lari ke
ibu,bukan ke bapak,mana lelaki di jeput pakai duit
lagi.?

Apa jawab saya malam tadi,.." akh..mungkin
kelihatannya saja begitu,lelaki koq yang tetap
berkuasa,jadi pemimpin,".
" Apa jawab mereka " Akh..kagak ah..lihat tuh si
Anu...istrinya yang mengendalikan semuanya,..sang
suami sepertinya manut2 aja "

Akhirnya saya jawab lagi " Kalau soal beli,atau jeput
lelaki pakai duit,kalau ngak salah saya di jawa juga
ada yang begitu " 


 " Soal kata mereka wanita Minang material,karena
melihat lelaki tersebut dari posisi jabatannya,seperti
cerita mak Arman bahar tersebut,kalau di baca oleh
teman-teman saya,hal ini justru menguatkan anggapan
mereka wanita Minang material dalam memilih
suami,pantang lihat lelaki berpangkat,berjabatan ".Hal
ini bisa juga saya jawab,daerah Jawa barat ( Sunda
),kadang lebih dari itu,pantang melihat lelaki
bermobil,matanya sudah biru kelam.


Meski saya tahu sekali,dalam agama,dalam memilih
jodoh,bukan itu yang kita utamakan,tapi Agama dan
Akhlaknya.Tapi ngak jadi masalah,kalau ia beragama
kuat,akhlak bagus,berduit lagi,apa salahnya
toh..?,ekonomi juga perlukan Yang salah,kalau kita
100% memilih seseorang karena hartanya,meski orangnya
akhlak dan agamanya ngak bagus,apalagi sampai Murtad
,karena setahu saya tuntutan jodoh dalam agama,yang
lebih diutamakan melihatnya adalah Agama dan
Akhlaknya.

Sampai disini dulu cerita saya,semoga dapat difahami
dan di mengerti,apa yang saya rasakan,saya alami
selama ini selama pergaulan saya baik sesama
Minang,ataupun di luar Minang.Saya bergaul justru
lebih banyak dari daerah lain selama ini,jadi
pendengaran saya juga lebar .Mungkin dengan orang
Minang,hanya di RN,serta di Man 2 itu sendiri.Jangan
dikatakan istilah " Beli lelaki itu ",keluar dari
mulut saya sendiri,tapi justru saya dengan
sendiri,sesuai dengan cerita saya diatas,saya justru
tahu dari orang lain,toh hidup saya selama ini di
P.Siantar dan Mesir.


Saya ngak tahu apa-apa dengan adat istiadat Minang
Kabau,selain selentingan yang saya dengar di atas.Tak
banyak juga pujian yang saya dengar,seperti Minang itu
pandai berdiplomasi,pandai berdagang,saya aja sering
di puji orang,pandai sekali merangkai kata,dan
berdiskusi,ciri-ciri khas Minang kabau,itu kata mereka
sendiri pada saya,bahkan tak sedikit yang meramalkan
saya,saya bisa jadi pejabat tinggi,kalau sikap
berdiplomasi ini saya pertahankan.Meski saya ngak
pernah kepikir akan jadi pejabat,apalagi pejabat
tinggi.inginnya cuman jadi pendidik saja .


Dimana juga berbisnis,dan hitungan sangat jeli.Tapi
bukan pujian yang seharusnya kita pikirkan dan
agung-agungkan,pujian itu anggap saja dorongan saja
buat kita agar bisa mempertahankannya,kalau memang
benar2 baik ,tapi cemeehan orang lain,mengapa kita di
cemeeh semacam itu.Semua ejekan,cemeehan orang,kalau
perlu kita klarifikasi,kita klarifikasi,kalau perlu di
robah,kita harus robah,semua ini demi kemajuan kita
bersama.


Bersikap netral saya kira itu lebih baik,kita tidak
hanya hanyut dengan pujian-pujian dan kebanggan diri
saja,tapi selalu mengoreksi kekurangan diri,daerah
kita juga,itu kalau kita benar-benar sayang dan cinta
pada diri dan keluarga,serta daerah kita juga.Jangan
sampai menutup mata akan kritikan orang lain.lebih
baik kita renungkan bersama.Kita membiasakan diri
menerima koreksian dari orang lain,saya kira itu lebih
baik sebenarnya untuk diri dan daerah kita juga.


Saya sendiri mengakui banyak yang baik dari adat
Minang tersebut,kalau benar-benar itu realitanya,adat
bersandi sara,syara,bersandikan kitabullah,slogannya
sangat bagus sekali,moga-moga aja antara slogan dan
realita sesuai adanya..Mempertahankan tanah pusaka
tinggi itu adalah salah satu yang saya puji,karena
dalam Islam,kita di haruskan Cinta tanah air,karena
cinta tanah air dan mempertahankannya adalah salah
satu dari manisfestasi keimanan seseorang." Hubbul
watan Minal Iman ",tapi karena mempertahankan tanah
,sehingga milik orang lain,atau saudara kita sendiri
,atau hak orang lain,yang berhak menerimanya kita
sabet dan kita tahan,ia itu salah dalam Islam.
 

Wassalam.Rahima ( 34 ). 




 
> 
> Wassalam WW.
> Darul Dagang Setia
>   -----Original Message-----
>   From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
> Arman Bahar
>   Sent: Friday, November 07, 2003 11:05 PM
>   To: '[EMAIL PROTECTED]'
>   Subject: [RantauNet.Com] Sistem peminangan di
> Minangkabau v/s competition
> 
> 
>   Assalamualikum ww
> 
>   Kelihatan ibu teman saya ini kecewa berat mengapa
> anaknya tergila2 dengan
> "urang darek" tsb, udahlah dulu kawin-nya nggak
> restu sang ortu, udah kawin
> pun sang mantu egp yang mungkin saja karena nggak
> tau adat orang Piaman gitu
> tambah lagi sang suami yang Piaman itu nggak punya


__________________________________
Do you Yahoo!?
Protect your identity with Yahoo! Mail AddressGuard
http://antispam.yahoo.com/whatsnewfree
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
========================================

Kirim email ke