-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rahima Sent: Saturday, November 08, 2003 5:55 PM
Assalamualaikum.Wr.Wb. (DM)... Walaikumussalam WW Hahahaha...mak Darul..mak Darul,..kalaulah mak Darul tahu,sebagaimana panas telinga mak Darul mendengar kata " lelaki di beli ",seperti itulah panasnya telinga saya saat dengar langsung dari orang lain,bahkan dari ipar sendiri( sayang,.saya dengarnya justru setelah menikah,coba kalau melum menikah,..entahlah,.saya apakan itu ipar,yang saya baru tahu,kalau mereka ternyata minta agar keluarga saya beli suami saya ini saya kaget setengah mati dengar itu setelah menikah. (DM) ... Lain padang lain Belalang. Lain Bkt lain pula Piaman. Itulah nan awak alami. Kalau Rahima iyo suami surang na piaman. Kalau mbo sumando dan minantu nan dari Piaman nantun. Dan syukurnya lagi setelah kami menikah,melihat ketegasan,ataupun sikap saya yang sesuai dengan agama,mereka dapat mengerti dan membenarkan,kalau kita itu,ngak boleh memakan harta yang bukan milik kita,dan jangan mempersulit suatu hal yang baik." tetapi segala sesuatu yang baik itu haruslah di percepat " Khairul birru 'aajiluhu ". (DM) .. Iyo iko nan waka harapan sakalian. Mampamudah jalan kamuko. Karena bukan saja sang wanita yang akan berbahagia mendapatkan calon suami baik dan berkedudukan,sang lelaki juga akan berbahagia,dapat calon istri yang tidak kalah dengan,baik kedudukannya juga . (DM) ... Tapi awak kan urang Minang, jadi harus mancaliak jo kaco mato Minang. Bahaso laki nantun nan datang ka rumah padusi. Satalah bakaluarga Laki adolah bagian iduik dari kaum perempuan. Kemudian pernah terjadi dua orang teman mahasiswa/i Kairo,mereka sama-sama pacaran dan ingin menikah.Tapi bertahun -tahun lamanya pernikahan mereka jadi tergantung-gantung,akibat apa..?? (DM) ... Nan sabananyo, nan penting iyo diphak nan ka Nikah nantun, nan lain nan sabananyo tingga disasuaikan. Bararti nan silaki nantun indak serius, dan kurang tegas. Saandainyo inyo lai saroman mantu mbo si Rahim nantun, kan indak balaruik, laruik co itu kan? Saya kira,kita ngak bisa menutup mata dari omongan orang lain,dan ini yang sering saya dengar sendiri cemeehan dari teman-teman,karena jelas mereka tahunya saya orang Minang,sementara saya orang agama,tapi banyak yang ngak seimbang dengan syari'ah Islam itu sendiri.baik itu warisan,ataupun suku jatuh ke pihak ibu,dan lainnya lagi.Kalau soal warisan,mungkin saat ini saya bisa menjawab,setelah membaca postingan dek laila,tentang adanya pusaka tinggi dan rendah itu. (DM) ... Kita harus dapat menerangkan bahwa Minang itu luas sekali, apa lagi termasuk Minang Rantau. Membujur dari Meolabuh Aceh, sampai ke Bengkulu di Selatan. Mulai dari Piaman sampai ke Rokan dan Siak di Riau. Malah ada negara bagian di Malaysia yang manganut adat Perpatih. Kalau saya berlaku adat Bkt/ Agam nan marupokan luhak nan tigo, asa asli adat Minang. Tapi kalau saja yang di berikan pada wanita baik itu secara keseluruhan padanya,atau lebih banyak ke wanita ketimbang lelakinya,jujur,itu memang dalam hukum warisan dalam islam,jelas salah,karena harta warisan yang dicari sendiri oleh ayah/ibu,istri,suami sudah ada ketentuannya dalam Islam.Saya bisa menjawab hal ini,kalau memang itu realitanya yang terjadi di Minang kabau,yang jatuh kewanita itu adalah Pusaka Tinggi. (DM) ... Ini tergantung dari pelaksanannya. Dan manusia itu cendrung berat ke dirinya. Power trend to corroupt. Apa lagi kalau salah satu pihak dibawah tekanan ekonomi. Kalau saya pribadi iya agak lain. Alhamdulillah, pesan orang tua saya dulu. Kalian disikolakan supayo indak mambuek pimatang ditangah sawah. Maksudnya, karena punya sawah sepiring, kami berempat bersaudara, tentu sawah itu harus dibagi empat, alias dibuat pematang berbentuk tanda tambah ditengah sawah yang sepiring. Alhamdulillah, harta dikampung tersebut nggak di-bagi-bagi, dan kami bangga itu adalah harta orang tua kami, yang kini diurus oleh orang kampung yang semua hasilnya untuk orang tua kami. Sawah-sawah kami dijadikan, atau diurus oleh orang yang membangun Masjid dan surau, hasilnya ya untuk Masjid atau surau tersebut. Kami berempat, telah mematok tanah lain untuk hidup dirantau masing-masing. Ada yang di Salatiga, Jakarta, Padang dan Banda Aceh (alm) adik saya terkecil. Masing-masing telah bangga dengan harta gono-gini masing-masing. Harta dikampung hanya kini sebagai tanda kami berasal dari Canduang. Tempat singgah kalau kerinduan pulkam dilaksanakan. Yang saya kira juga mempertahankan pusaka tinggi ini sangat baik sekali,untuk mempertahankan tanah agar tidak di miliki oleh orang lain,terutama kalau saja bisa di jual,bisa-bisa akan jatuh ke tangan orang Kristen,karena harga mereka bisa naik banding jauh lebih tinggi.Satu sisi dari segi mempertahankan tanah warisan pusaka tinggi di Minang Kabau ini sangat baik sekali,kita lihat saja daerah Betawi ,Jakarta sana,mana lagi orang Betawi asli yang menguasai daerah itu,sudah kebanyakan daerah lain,lebih maju. (DM) ... Betul sekali, kalau tidak mungkin banyak tanah di Minang telah dikuasai Cina atau dari suku lain. Keutuhan ranah Miang masih dapat dipertahankan sampai kin. InsyaAllah akan terus. Berarti kita masih membutuhkan ABSSBK kan? Apa sajapun seharusnya kita kembalikan pada hukum agama kita sendiri.Jangan seperti pepatah Minang juga kalau ngak saya salah " Tahimpik nak di ateh,takuruang nak di lua ",adat yang enak-enaknya untuk kita saja yang kita ambil,sementara yang tidak enaknya,meski tidak sesuai dengan agama,kita acuhkan.Sebagaimana kata Mak Darul sendiri : Buka kulit tanpak Isi,agar semua nya jelas,maka mari sama-sama kita buka,Ada apa sebenarnya adat Minang itu,bagaimana hakikatnya,sesuai ngak realita dengan yang tertulis,atau slogan yang selama ini kita agung-agungkan itu. (DM) ...Jangan salah mengartikan pustulat Tahimpik nak diateh, takuruang nak dilua. Kalau dicaliak dari sudut negatifnya, ya seperti Rahima itu. Mungkin juga sering saya dengar dari yang lainnya. Yang sebetulnya itu adalah kata bermata dua. Bisa dilihat dari sisi positifnya. Ini yang sebenarnya maksud dari postulat tersebut. Dalam managemen apa lagi dalam bisnis, kita harus bersikap atau berpendapat begitu. Harus mencari jalan untuk setiap persoalan dan berusaha keluar dari persoalan tersebut. Ada dalam buku biznya Robert T. Kiyosaki, Cash Flow Kwadrant, malah lebih fulgar lagi. Begini katanya: kalau kita berutang, usahakan orang yang membayarnya. Apa ini curang? kalau dilihat cerita dan dinilai dari kaidah biz nggak curang. Gimana caranya? Kita harus dapat melihat sesuatu itu dari pihak biznya. Dia bercerita begini: Lama dia menginginkan punya rumah dilembah perbukitan, dimana didekat rumah tersebut ada air bersih mengalir, dan taman dilingkungan hijau yang asri. Sewaktu dia berjalan ke country side, dia menemukan sebuah rumah tua di dalah kebun yang luasnya hektaran. Akhirnya terjadi tawar menawar dengan si pemilik, maka dia memutuskan membeli tanah tersebut, tapi dengan cicilan, setelah dibayar sejumlah uang muka. Si Robert ini, dasar akal nya panjang. Untuk uang muka saja dia pinjam ke bank. Setelah terjadi transaksi, maka rumah yang ada tadi direnovasi dan dibuat pagar sekelilingnya. dan tanah yang lainnya dia kapling, dan dijual secara cicilan kepada peminat lain. Akhirnya, dia dapat untung, dapat rumah dan taman indah dipinggior air mengalir, semua huitangnya dibayar oleh orang lain. Apa ini curang? Jadi kita harus dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai penggunaannya. Juga kalau dapat dari mana datangnya pustulat tersebut, apa latar belakang adanya postulat tersebut. Persis seperti Rahima mau menafsirkan al Quiran dan hadislah. Saya justru karena cinta Minanglah makanya saya mau buka-bukaan semacam ini,sampai mau saya mengatakan bagaimana yang saya hadapi sendiri dari keluarga pihak suami saya,jujur saja,harta yang ipar saya katakan jatuh pada wanita adalah harta pencarian ayah kandung suami saya sendiri,saya tanyakan itu langsung. ( Dapat ngak mak Darul bayangkan,apa yang saya rasakan dari pergaulan saya bersama daerah lain,..dengan banyaknya cemeehan dari mereka tersebut ,sementara saya sendiri,ngak bisa jawab,karena saya disamping kurang tahu adat istiadat Minang itu sendiri,dimana pada realnya saya memang melihat kondisi sering semacam itu ). Contoh saja kedua mahasiswi/a tadi itu.Hal tersebut menambah cemeehan orang lain.Keduanya sempat terkatung-katung ,akibat keluarga pihak lelaki bersikeras ingin anaknya di beli,pakai uang jeputan itu.Berita ini kesebar luas saat itu.Dapat dibayangkan betapa saya harus menahankan hati mendengar cemeehan orang,dimana saya tak dapat menjawab sama sekali. (DM) ... Jawab yang paling gampang dan biasa digunakan, Minang itukan luas. Yang begitu di Pariaman, dikampung saya tidak. Maaf untuk sanak nan dari Pariaman. Tentu sanak punya jawaban yang lebih tepat. Sampai saat itu mereka tanyakan : " Rahima,..koq di Minang,perempuan yang berkuasa yah..suku lari ke ibu,bukan ke bapak,mana lelaki di jeput pakai duit lagi.? (DM) ... Jawab yang tepat adalah: "Berkuasa terhadap harta iya, karena dia dipihak yang lemah, jadi harus dilindungi. Tidak ada perempuan Minang yang terusir dengan kain spatagak saja dari rumahnya. Saya bangga jadi orang Minang. Kembali ke harta tadi, si perempuan hanya berhak memilikinya, tapi nggak dalam memanage dan menentukan penggunaannya, yang berada ditangan laki-laki. Unikkan. Makanya belajar adat Minang. Jangan hanya dilihat dari salah satu sisinya saja. Apa lagi hanaya dilihat dari sisi negatif anggapan orang luar. Harus dinilai secara konprehesif dong. Coba di Jawa sampai sandi orang tua di jual/ Kalau di Minang susah untuk mendapatkan tanah bagi pendatang, apa lagi beragama lain. Jadi pertahan kami kuat. Ini patut anda contoh. Apa jawab saya malam tadi,.." akh..mungkin kelihatannya saja begitu,lelaki koq yang tetap berkuasa,jadi pemimpin,". " Apa jawab mereka " Akh..kagak ah..lihat tuh si Anu...istrinya yang mengendalikan semuanya,..sang suami sepertinya manut2 aja " (DM) ... Itu adalah kasus, nggak semua, lihatt saya, bgmn? Jangan menilai umum dengan kasus khusus, kalian kan orang terpelajar. Rahima jangan ditulis: "Minang kabau" ya. Artinya bisa beda sbb: 1. Kaidah bahasa Indonesia: bisa dibaca "Minang adalah kabau" 2. Kaidah bahasa di Betawi atau Jawa, dimana awalan "me" sering dihilangkan, sehingga bisa diartikan: "meminang kabau". Dasar. Kabau saja dipinang. HHHHHmmmmmmmmm Wassalam.Rahima ( 34 ). Wass WW Darul (50) Jkt ========================================
<<attachment: winmail.dat>>

