zul amri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 

Kebenaran versus Kebohongan

 �Qulil haqqa walaukunna muran , artinya katakanlah kebenaran itu walau terasa pahit �

 Mamak Zul di pulau Dewata

Ambo baru saja mendapat berita sedih bertepatan sehari setelah lebaran, teman kami telah dipanggil Allah kehadiratNya. Beliau masih muda, pintar dan menyandang gelar Dr dari salah satu Universitas di Jepang.

Membaca tulisan mamak kami teringat kalau seandainya sebentar lagi kami dipanggil oleh yang maha kuasa sedangkan kami masih bergelimang dengan dosa dan hak2 orang lain belum kami tunaikan dengan sebaik baiknya bagaimana nantinya kami bisa mempertanggungjawabkannya di depan Allah.

Seperti kata orang mak mumbang jatuah kalapo jatuah, putik gugur bungapun gugur dan kematian itu sangat dekat dengan kita, karena satu satunya kepastian dalam hidup ini adalah mati dan gelar yang paling tinggi adalah almarhum. Bila saatnya tiba tidak satupun harta dunia yang akan kita bawa melainkan kain putih tiga lembar. Rumah megah yang bertingkat, mobil indah yang berkilat, istri cantik dan memikat, anak anak yang gagah dan sehat tak satupun akan mengikuti kita, melainkan hanya amal ibadah yang setia menyertai kita.

Saya rasa uang 1.7 triliun itu juga tidak bisa kita gunakan untuk menyogok malaikat agar kita tidak mendapat siksaan Allah dan dikasih tiket VIP ke sorga.  

Maka Rasulullah selalu menganjurkan kita untuk mengingat mati sehingga kita bisa menahan nafsu kita yang ingin selalu kelihatan "wah" baik dari harta, kedudukan, pangkat, posisi dlsb. Saya yakin kalau training selama bulan ramadhan yang telah dilakukan oleh umat islam Indonesia yang berjumlah lebih dari 80% bisa diterapkan dalam bulan bulan selanjutnya, insya Allah tidak akan kita dengar lagi adanya korupsi, penyelewengan, penyalahgunaan jabatan, pelecehan seksual, perkosaan, perampokan, kemiskinan, orang yang mati terinjak injak karena uang 20 ribu, anak sekolah gantung diri karena uang 2500.

Marilah kita berdo'a dan berusaha dengan kapasitas kita masing masing agar bangsa dan negara kita diberi Allah keselamatan, kemakmuran, kepekaan hati, saling tenggang manenggang dijauhkan dari segala silang sangketo, diberi kesadaran kepada pemimpin2 kita untuk memikirkan rakyatnya dan bukan memikirkan dirinya pribadi dan semoga mereka tidak berlomba lomba dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kekuasaan. Karena jadi pemimpin itu bukanlah suatu nikmat atau anugrah tapi bencana dan cobaan. Sabda Rasulullah, setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dipertanyakan di akhirat tentang apa yang mereka pimpin. seorang bapak akan diminta pertanggungjawabannya tentang anak istrinya, seorang lurah akan mempertanggungjawabkan rakyat didesanya, begitu pula bupati, gubernur dan presiden. Saya tidak bisa membayangkan kalau presiden negara yang terletak di khatulistiwa ini masih sempat tertawa2 dan berlibur sedangkan rakyatnya sudah menderita tak ketulungan, bagaimana nantinya dia bisa berdiri di depan Allah mempertanggungjawabkan semua ini.

mohon ma'af bagi yang tidak berkenan

wallahu'alam

Junaidi (37), kandang singo

 


Do you Yahoo!?
Free Pop-Up Blocker - Get it now

Kirim email ke