Bentrokan di Sawahlunto Diselesaikan Melalui Jalur Hukum

Padang, Kamis

 
Kirim Teman | Print Artikel

Pemuka masyarakat peserta penyelesaian kasus kerusuhan massal antara warga Nagari Muaro Kalaban dengan Padang Sibusuk, Sawahlunto Sijunjung, Sumbar, akhirnya mengambil jalan tengah dengan menyerahkan kasus ini kepada aparat kepolisian untuk diproses secara hukum.

"Pemuka masyarakat telah bersepakat untuk saling menenangkan suasana di daerah masing-masing dan menyerahkan sepenuhnya pengusutan pelaku sesuai proses hukum pada aparat kepolisian," ujar Kapolres Sawahlunto Sijunjung AKBP Suwardi di Muaro Sijunjung, Kamis (27/11) malam.

Menurut dia, pertemuan perdamaian yang diikuti belasan pemuka masyarakat kedua daerah itu berlangsung alot sejak pukul 14.00 WIB hingga 21.30 WIB, dengan kesepatakan saling menenangkan warga dan menyerahkan pengusutan pelaku pada aparat kepolisian. Pada dasarnya, kedua belah pihak meminta agar pelaku kerusuhan ditangani aparat kepolisian karena mereka sama-sama menderita korban luka-luka dan kehilangan harta benda.

Guna mendukung upaya penegakan hukum tersebut, ungkapnya, sebanyak 250 aparat Brimob Polda Sumbar masih akan tetap dipertahankan hingga keadaan benar-benar kondusif. Ia menambahkan, sampai saat ini belum ada pembicaraan penggantian kerugian moril maupun meterial, namun, masalah itu akan terungkap sesuai proses hukum yang berlaku.

Setelah pertemuan, seluruh pemuka masyarakat yang terdiri atas ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, aparat kelurahan, kecamatan serta ketua pemuda pulang ke daerah masing-masing.

Mengenai apakah pihak kepolisian sudah melakukan penangkapan terhadap warga yang dicurigai sebagai penyulut kerusuhan dan pembakaran bangunan ini, Kapolres menegaskan belum ada penangkapan karena masih dalam taraf penyidikan.

Sementara itu, di Muaro Kalaban, puluhan pemuda dan lelaki tetap bersiaga penuh dengan menenteng senjata tajam. Mereka tetap akan berjaga agar tidak kecolongan lagi dan diserbu warga Padang Sibusuk.

Menurut Sony, pada Kamis sore kerusuhan nyaris terulang karena seorang warga Padang Sibusuk tertangkap di daerah itu. Kemungkinan warga itu, terperangkap sejak semalam dan baru ketahuan sore tadi. Sejak pagi hingga malam ini, warga masih diliputi kecemasan karena berbagai isu yang berkembang tidak menentu. "Kemungkinan warga tidak akan bisa tidur malam ini, karena mereka masih was-was," katanya.

Sedangkan seorang perantau dari Jakarta, Yanto, mengatakan, kerusuhan Muaro Kalaban dan Padang Sibusuk sengaja dibesarkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai komoditi politik. "Persoalan kecil dan sepela sengaja dibesarkan oleh orang tertentu sehingga menjadi besar dan menelan korban jiwa. Keyakian itu, makin terbukti ketika beredar isu akan terjadi saling serang kembali," ujarnya.

Ganti rugi

Menurut mayarakat Muaro Kalaban, mereka bersedia berdamai jika Nagari Padang Sibusuk dan Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung mengganti kerugian dan memperbaiki bangunan yang rusak kembali.

Seandainya perdamaian itu tanpa diikuti penggantian kerusakan akan menjadi hal yang mustahil, sebab kemungkinan dendam antarkampung khususnya dari warga yang rumahnya dibakar, masih akan berlanjut.

Peristiwa perkelahian massal melanda daerah bertetangga yang terletak sekitar 90 km arah utara Kota Padang itu, bermula ketika terjadi selisih paham antar-anak-anak di kolam renang
Muaro Kalaban.

Kemudian anak Padang Sibusuk mengadukan pada orang tua, kakak dan sanak keluarga lainnya yang melibatkan warga. Penyerangan pun terjadi dalam dua tahap antara pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB Rabu.

Pada aksi kedua, warga Padang Sibusuk dengan berkekuatan beberapa truk menjarah dan membakar 14 toko serta rumah penduduk sehingga menyebabkan kerugian mencapai Rp3,5 miliar. Dalam peristiwa yang memacetkan jalur lintas tengah Sumatera itu, menelan tiga korban luka-luka dan masih mendapatkan perawatan di Puskesmas Muaro Kalaban.(Ant/nik)



Do you Yahoo!?
Free Pop-Up Blocker - Get it now

Kirim email ke