Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
**
*5. Menuju Solok*

* *

Sesudah makan kami lanjutkan perjalanan. Cuaca yang tadinya hujan sejak kami
melalui Kayu Tanam sekarang sudah kembali cerah. Di pasar Padang Panjang
kami berhenti lagi sebentar karena anak saya minta tolong dicarikan cassete
untuk handicam. Tapi sayang kami tidak menemukan, mungkin karena toko masih
banyak yang tutup.



Sekarang kami menuju arah ke Solok. Sejak keluar dari kota Padang Panjang
kerusakan akibat gempa sudah kelihatan. Bahkan masih di kota Padang Panjang
kami lihat sebuah pesantren di sebelah kiri jalan yang menggelar tenda di
pekarangannya. Menurut ustad Zulharbi dinding pesantren itu retak-retak. Di
Batipuah, Batipuah Baruah dan terus sampai ke Ombilin banyak rumah-rumah
yang hancur. Bahkan jalan yang akan kami tempuh ada yang retak. Banyak posko
di pinggir jalan ini, dari bermacam organisasi dan partai. Karena kami sudah
berniat untuk terus ke Solok dan karena dekat tempat yang kami lalui ini
banyak posko, kami tidak berhenti disitu.



Beruntung jalan hampir tidak terganggu menuju Solok, kecuali ada retak di
beberapa tempat. Mobil dapat berlari normal sepanjang pinggir danau
Singkarak. Danau yang kelihatan tenang sekali sore itu, konon menimbulkan
tsunami saat terjadi gempa hari Selasa yang lalu. Ini mengingatkan saya
kepada cerita Buya Hamka dalam tafsir beliau (yang saya lupa entah di juz ke
berapa) tentang tsunami danau Maninjau ketika gempa tahun 1926. Danau yang
bak bejana besar berguncang airnya akibat gempa yang dahsyat, itulah
tsunami. Dan sekarang, di pinggir danau Singkarak ini aman-aman saja seperti
tidak pernah terjadi apa-apa. Air danau hanya beriak halus dan perahu
nelayan terapung tak bergoyang.



Jam lima kurang kami sampai di Sumani, sebelum kota Solok.  Pemandangan
disini sangat mengharukan. Kami lihat sebuah gedung pertemuan di sebelah
kanan jalan yang hanya sedikit bagian di kedua ujungnya yang tinggal
sementara bagian tengahnya sudah tidak ada lagi. Puingnyapun  sudah pula
disingkirkan. Dan rumah yang terjungkal ke dalam sungai, rumah yang hancur
dindingnya.  Di sekitar bangunan rusak ini, di dekat pasar juga sudah ada
posko dari organisasi-organisasi maupun partai. Kami berhenti dan berbelok
ke pekarangan mesjid Fathur Rahman di sebelah kiri jalan. Satu dari dua
kubahnya (kubah di bagian mihrab) runtuh. Bagian dalam mesjid ini juga
hancur. Kami temui seorang anak muda di pekarangan mesjid dan kami tanyakan
kalau kami boleh bertemu dengan pengurus mesjid. Dia menyuruh seseorang
untuk mencari ketua pengurus mesjid. Ustad Zulharbi mengusulkan agar kita
menyumbang untuk mesjid ini dalam bentuk semen. Aku setuju saja. Tapi untuk
membeli semen atau mengeluarkan DO semen tentu kita harus mencari toko bahan
bangunan dulu. Seperti kami bahas sebelumnya kelihatannya cukup repot.
Akhirnya kami masukkan uang sebanyak Rp 200,000 ke dalam sebuah amplop dan
diberi catatan agar dibelikan 5 sak semen.



Ketua pengurus mesjid itu datang. Nama beliau Yusri Herizal. Kepadanya kami
serahkan sumbangan sebesar Rp 200,000 untuk membeli 5 sak semen dan kami
sampaikan bahwa sumbangan ini berasal dari RantauNet dan jamaah mesjid Al
Husna di Bekasi. Begitu ustad Zulharbi menyampaikan. Kami tanyakan apakah
ada mesid yang rusak lagi dekat mesjid itu. Kami diberitahu bahwa sekitar
500m ke arah Solok ada lagi mesjid Aur Duri yang juga rusak parah. Kami
menuju ke sana.



Dan betul sekali. Mesjid itu bersebelahan dengan sebuah pondok pesantren
(Pesantren Darus Salam). Gonjong kubah mesjid ini bahkan jatuh terguling ke
tanah. Sementara pesantren di sampingnya mengalami rusak pada
dinding-dindingnya. Kami serahkan pula masing-masing sebuah amplop a Rp
200,000 yang diterima bapak D. Datuak Bagindo Malano imam mesjid dan bapak
Drs. H. Burhanuddin Chatib sebagai pimpinan pondok pesantren Darus Salam.



Di pesantren ini kami dengar cerita tentang ke Maha Kuasa an Allah. Seorang
ibu guru yang hamil 9 bulan terperangkap di bawah runtuhan tembok pesantren
dalam ruangan sempit sekedar tempat dia berbaring. Alhamdulillah dia tidak
terluka. Yang mengagumkan dia keluar sendiri dari lubang di sela runtuhan
puing yang sangat kecil. Rasanya tidak mungkin seorang wanita hamil 9 bulan
bisa melalui lubang sebesar itu untuk keluar. Tapi itulah yang terjadi dan
ibu muda itu selamat. Diselamatkan Allah Yang Maha Penolong.



Kami tanyakan dimana daerah yang parah kerusakannya dekat tempat itu. Mereka
menyebutkan Malalo di seberang danau Singkarak atau kalau mau yang agak
dekat ke Ranah di sebelah timur Sumani. Kami memutuskan untuk menuju Ranah.
Sebelum menuju Ranah, kami mampir di depan dua buah rumah yang menurut kabar
dihuni seorang wanita tua dan rumah itu hancur. Kami datangi rumah itu tapi
tidak bertemu dengan ibu tua itu. Kami titipkan sebuah amplop ke tetangganya
yang rumahnya juga hancur (yang juga kami beri sebuah amplop).

(bersambung)

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke