Assalamualaikum Ananda Beni dan Hanifah, Saya ikut senang dan bersyukur bahwa orang Rantau masih cinta Ranah, setidak-tidaknya sebagai identitas kultural seperti dikatakan Ananda Beni.
Tapi rasanya tidak sedikit yang sejak tahun 1958 berusaha menyembunyikan keminangaannya itu, antara lain dengan mengambil atau memberi nama pribadi yang tidak lagi "berbau" Minang kepada diri atau keturunannya. Kelihatannya gejala itu berlangsung terus sampai sekarang. Pemilihan nama pribadi adalah suatu indikasi kecil dari identitas seseorang, yang lazimnya terkait dengan suatu 'homeland'. Mengapa koq sampai terjadi gejala penyembunyian identitas yang agak aneh itu ? Mungkinkah karena tidak banyak lagi yang bisa dibanggakan sebagai orang Minang, yang sampai sekarang hanya bisa membanggakan masa lampau dan tokoh-tokoh masa lampau belaka? Mana tokoh Minang masa kini, yang 'tacelak tampak jauah". Bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan. Tidakkah kita terdorong untuk mengungkapkannya secara objektif dan realistis? Sehubungan dengan itu sejak tahun 2004 yang lalu saya mengajak semua dunsanak untuk melihat realita Minangkabau seperti apa adanya, agar kita bisa bersama merancang masa depan bersama. Setelah berkali-kali mengkomunikasikan ajakan saya ini di Ranah, sekarang ini saya merasa tidak perlu terlalu gigih lagi melanjutkannya, karena setiap kali saya mengajak melihat ke depan, hampir selalu dijawab dengan pola masa `lampau. Dengan kata lain, paradigma yang dianut berbeda jauh, sehingga bahkan untuk berkomunikasi saja sungguh amat sukar. Baru-baru ini seorang penghulu yang sering menulis buku adat Minangkabau -- tapi bermukim di Jakarta -- mengirimkan kepada saya tembusan suratnya kepada seorang penghulu lain, yang memuat ajakan agar memperjuangkan kembalinya suatu 'pemerintahan ninik mamak', dalam wujud secara otomatis menyerahkan pemerintahan nagari kepada ketua kerapatan adat nagari. Artinya golongan-golongan baru yang muncul dalam masyarakat agar mematuhi saja 'perintah-perintah' ketua kerapatan adat nagari itu, yang pasti tidak akan mengundang kaum perempuan, anak muda, orang rantau, urang sumando, kaum cadiak pandai, sudagar, pegawai negeri, atau seniman dan budayawan. Saya benar-benar terpana dengan pola pikir retrogresif seperti itu. Ya sudahlah, apa boleh buat, kalau memang itu yang diinginkan. Terserah kepada para dunsanak kita di Ranah untuk memutuskan menerima atau menolak. Oleh karena itulah, akhir-akhir ini saya memilih Riau sebagai tumpuan perjuangan saya untuk memulihkan hak masyarakat hukum adat Indonesia melalui Komnas HAM, karena hampir seluruh pemuka adat Riau itu berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa`lampau seperti di Ranah. Insya Allah sekarang ini sedang disiapkan akta notaris pembentukan Sekretariat Nasional Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat, dimana saya akan jadi Ketua Dewan Pakarnya. Jika tidak ada aral melintang, Sekretariat Nasional ini akan diresmikan Presiden di Pekanbaru atau Siak Sri Indrapura akhir Mei mendatang. Sudah tentu `saya masih cinta pada Ranah, tapi soalnya apakah cinta itu bukan bagaikan 'bertepuk sebelah tangan' ? Mengapa demikian sulit kita berkomunikasi dengan para dunsanak kita di Ranah ? Bukankah -- sebagai reaksi -- sejak beberapa lama kita risau dengan gejala 'marantau cino' yang ditengarai semakin banyak di kalangan para perantau Minang. Bukankah itu juga yang mendorong kita untuk membentuk MPKAS dan MAPPAS agar cinta itu tetap terpelihara dengan baik ? Bukankah kita selalu mengeluh betapa tidak ramahnya Ra nah terhadap kita yang pulang kampung, sehingga kita menyarankan agar 'service' diperbaiki ? Saya rasa jawabnya yang otentik terhadap kerisauan kita bersama itu akan kita peroleh dengan mengadakan pengkajian berlanjut terhadap hubungan Rantau-Ranah ini, seperti dianjurkan pak Chaidir, tetapi yang juga disambut dingin-dingin saja sampai sekarang. Bagi saya -- selaku peneliti dan pengamat icak-icak -- hal ini sangat menarik perhatian. Wassalam, Saafroedin Bahar --- Linda_QA <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > maaf dunsanak ambo......... > barusan ambo salah forward email..... > ===================== > okay..... > At 12:02 AM 3/22/2007, you wrote: > >Hanifah yang baik > > > >Memang indak kasadonyo Masih ado juo Tapi manuruik > ambo Raso Kebersamaan tu bana nan alah manurun Kok melalui melis ko lai ado hasilnyo memgguggah para dunsanak sesamo urang Minang Iko masalah emosi masalah perasaan yang harus dikembalikan sehinggo tertanam Iko memeng indak mudah Tapi harus ado0 usaho taruih > >Chaidir N Latief > > > >----- Original Message ---- > >From: hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> > >To: [email protected] > >Sent: Thursday, March 22, 2007 2:44:14 PM > >Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Masalah Pengumpulan Dana > dan Melonggarnya Ikatan Kejiwaan. > > > >Ass Wr Wb > > > >Sato pulo manyolo saketek... > > > >Tantang malonggarno ikatan kajiwaaan ... manuruik > hanifah tapulang > >kapribadi surang surang. Di kecekkan indak ado nan > mantun .. > >banyak.. pareso di kampuang awak surang- surang. > Kadang-kadang ibo > >awak mancaliak ... bara banggano punyo saudara kayo > dirantau ... > >tapi saku bajaik. Kok pulang .. pai pamer sen... > Basuo mangko ka taibo ati. > > > >Tantang nan kuaik ikatanno jo kampuang .. banyak > pulo ... > >mudah-mudahan awak tamasuak urang nan mantun.. > walau kalau > >manyumbang indak paralu urang lain tau... mungkin > sagan jumlahno > >saketek atau sagan jatuah jadi riba... paliang > indak jo doa nan > >ikhlas lai juo takirim untuak kampuang du. > >Semoga rang kampuang capek bisa maatasi musibah > iko. Amin > > > >Wass > > > > > >Hanifah Damanhuri > > > >benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >Waalaikumsalam bapak Saaf > >memang betul selama ini kita berbicara hanya > berdasarkan asumsi dan pengalaman belaka belum berdasarkan data dan fakta yang empiris. > >MEngenai ikatan kejiwaan sendiri sangat jamak dan > banyak indikator sesungguhnya dalam memberikan penilaian tersebut. saya pribadi misalnya yang hanya pekerja kelas bawah di jakarta akan terkejut > >sekali ketika saya misalnya hanya menyumbang > sedikit bagi ranah dan itupun tidak diumumkan berapa jumlahnya ke publik bisa dikategorikan mempunyai ikatan kejiwaan yang sudah longgar pada ranah bundo. > >padahal saya masih sangat mencintai ranah sebagai > identitas kultural saya misalnya. saya setiap hari memutar lagu2 minang dan selalu berbicara pakai bahasa minang dengan orang sekampung. Dan banyak hal > >yang selalu merekat jiwa saya dengan setiap aspek > kehidupan yang terjadi di Minangkabau. > >saya pikir kita yang berada di palanta ini mempunyai ikatan kejiwaan yang kuat dengan ranah Minang, betapa tidak ? kita selalu membahas > >persoalan demi persoalan disini demi kemajuan ranah > meskipun >barangkali ada yang tidak menyumbang.. :) karena kesulitan ekonomi misalnya..tidak sedikit perantau kita yang hidupnya hanya pas pasan > >bahkan secara kualitas hidup mungkin lebih baik > mereka di ranah ..tapi secara kejiwaan saya yakin dan percaya mereka sangat mencintai Minangkabau paling tidak sebagai identitas kultural yang patut ibanggakan.. > >salam > >Ben > >Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >Assalamualaikum w.w. Pak Chaidir dan Ananda Beni, > > > >Susahnya persepsi kita tentang hubungan > Ranah-Rantau -- atau sebaliknya -- lebih banyak didasarkan pada kesan, dan belum pernah > >benar-benar didasarkan pada penelitian dengan data > yang akurat. Saya dukung penuh jika ada yang berminat untuk benar-benar mengkaji hal > >ini secara sungguh-sungguh. Rasanya capek juga > kalau pendapat kita hanya berdasar asumsi serta kesan belaka. > > > >Kalau memang ikatan kejiwaan masih kuat, > alhamdulillah. > > > >Wassalam, > >Saafroedin Bahar > >chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >pak saf yang baik > >Apo nan disampaikan sdr Benny ko memperkuat alasan > ado kajian dan > >penelitian nan alah sejak lamo kito ancang ancang > agar semua data itu akurat > >Jumlah urang Minang se sampai kini masih simpang > siur > >Chaidir N Latief > >----- Original Message ---- > >From: benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> > >To: [email protected] > >Sent: Thursday, March 22, 2007 8:30:59 AM > >Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Masalah Pengumpulan Dana > dan Melonggarnya > >Ikatan Kejiwaan. > >Assalamualaikum > >terlalu prematur saya kira kesimpulan tentang > melonggarnya ikatan > >kejiwaan urang rantau dengan urang kampuang..apakah > sudah punya data > >berapa sumbangan riil dari perantau selain yang > tersebut di koran > >koran dan data data di internet ? apakah ada yang > mendata sumbangan > >urang rantau yang diberikan langsung kepada > keluarganya yang kena musibah ? > >jangan jangan karena sekarang trend nya sumbangan > di "halo halo" kan > >orang yg menyumbang dengan ikhlas tanpa pamrih dan > tanpa di "halo > >halo" kan dianggap sudah tidak cinta kampung > lagi..Masya Alloh ngeri > >saya membayangkan > >chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >pak saf yang baik > > > >Bahwa ado di Ranah nan indak sanerah jelas tu pak > Saf Ambo pernah > >distap oleh Bupati Solok 3 jam dirumahnyo Ambo alah > SMS sebelumnyo > >akan meliek beliau tu katanya sakit Sudah OK Ambo > pak Firdaus Umar > >dan Listok anggota DPRD tunggu 3 jam, Kami datang > bukan minta > >proyek. Silaturahmi menghormati beliau Sesudah tu > indak ado kato > >maaf Masyaalah Itu lah model nan bakuaso kini. > >Tapi kan kito indak buliah maambiak nan negatif > sajo MPKAS adalah > >satu bukti POSITIF baa gayung basambuik serta > respons yang cepat > >Kembali ke RASA KEBERSAMAAN ko memang paralu > digugah terus menerus > >Ambo sangat khawatir ka nan mudo mudo anak cuccu > kito Tasirok darah > >ambo mandanga anak seorang kawan ambo ngkong, papi > dan mami guwe > >katenye memang orang padang tapi guwe orang jakarte > >Kalau generasi mendatang sudah kehilangan identitas > atau JATI > >DIRI tidak lagi merasa ada ETNIS MINANG Ini harus > jadi pemikiran serius > >Chaidir M latief > >----- Original Message ---- > >From: Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> > >To: [email protected] > >Sent: Wednesday, March 21, 2007 10:45:09 PM > >Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Masalah Pengumpulan Dana > dan Melonggarnya > >Ikatan Kejiwaan. > >Pak Chaidir yth, > >Memang perlu kita telaah secara sungguh-sungguh > >mengapa kali ini koq tidak demikian 'bergelora' > >semangat perantau untuk menghimpun dana untuk > menolong > >kampung sendiri, dibandingkan dengan dahulu. Selain > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ It's here! Your new message! Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
