Terima kasih tanggapannya Pak Beni.
Saya hanya hendak mengajak kita semua, jernih memandang surau dan
kontribusinya bagi pengembangan sumberdaya manusia minangkabau. Yang saya
takutkan, keinginan kita kembali ke surau dan menempatkan sebuah surau sebagai
sebuah lembaga super hanyalah sebuah jawaban kefrustasian kita selama ini.
Menjadi kambing hitam atas semua keterpurukan ini.
Wassalam
benni inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya mencoba menjawab postingan beni per paragraf.
BI: Benni Inayatullah
MS: Mantari Sutan
Baik Pak mantari tarimo kasih banyak banyak,
1. MS:
Ben, semua itu hanyalah masa lalu. Kalaupun hendak mengacu pada ABS SBK,
sistem pendidikan surau (dimana anak laki-laki tanggung sudah di lepas begitu
saja) rasanya tidak begitu sejalan dengan Al Quran dan Hadits.
Ben: Kita memang sedang membicarakan masa lalu pak mantari, Boleh tahu Ayat dan
hadist mana yang melarang anak laki2 beranjak dewasa mengaji di surau ?
2.
MS:
Yang dikerjakan Lenin dan Mao adalah sesuatu yang kontradiktif dengan ide
Plato. Plato menekankan pada kebebasan berfikir dan Mao/Lenin adalah sebuah
indoktrinasi sistemik.
Sebenarnya ini hanyalah soal pendidikan belaka. Bukanlah format pemisahan
orang dari keluarganya.
Ben: betul sekali pak mantari..anda betul sekali namun yang saya ingin
sampaikan adalah bahwa Plato dan Mao bermaksud untuk menciptakan manusia2 baru
dengan menumbuhkan pemikiran melalui bakat2 mereka sendiri. yang kita bicarakan
memang pendidikan kok Pak Mantari..suraukan wahana pendidikan juga...
3.
MS:
Pelajarilah sejarah kehidupan mereka. Belajar di surau seperti paragraf anda
sebelumnya adalah sebuah kurun waktu yang sangat singkat dalam kehidupan
mereka. Mereka relatif lebih singkat berkehidupan budaya surau dibanding orang
minangkabau lainnya. Lha mereka baru lulus pendidikan dasar langsung
disekolahkan ke tempat lain di luar kampungnya. Dan ingat. Sekolah itu
bukanlah surau.
Ben:
baik Pak..ini juga lagi belajar.. sesungguhnya dalam menentukan seseorang itu
akan jadi pemimpin atau orang hebat adalah kesadaran diri bahwa mengejar
pengetahuan itu adalah suatu keharusan dan dilakukan kapan saja dan dimana
saja. budaya mencari ilmu/ mengkaji dan membentuk pola pikir itulah yang mereka
mulai disurau. kalau pengetahuan memang hanya sedikit disurau pak..begono..
4.
MS:
Di surau Iya! Tapi yang belajar di surau hanya menjadi rakyat biasa saja di
ranah minang. Bukan penghasil Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan seterusnya
5. Ya tentu saja tidak semua yang belajar disurau yang akan jadi orang hebat
pak mantari. Mereka mereka yang menyadari pentingnya pengetahuanlah akan terus
mencari dan mencari ilmu itu sampai keujung duniapun. Untuk menjadi seorang
tokoh nasional maka jagoan lokalpun musti ke jakarta pak mantari. Lihat saja
Jusuf Kalla yang dah jadi tokoh hebat betul di makasaaar namun dikenal orang
ketika beliau sudah menakhlukkan jakarta dan menebarkan namanya ke seantero
negeri.
Seperti yang saya katakan sebelumnya kita tidak bisa mengatakan bahwa apa
yang ada dalam pikiran kita sekarang, kehebatan kita sekarang, pengetahuan yang
kita miliki adalah berasal dari salah satu proses pendidikan yang kita lalui.
Saya tidak bisa mengatakan kemampuan saya untuk bermain internet karena saya
pernah belajar di bangku kuliah saja. Karena proses pembelajaran itu
sesungguhnya di mulai ketika saya sudah lahir, belajar membaca di Taman Kanak
Kanak, belajar berhitung di SD, belajar Sejarah di SMP misalnya.
Jadi tidaklah bijak dan stupid saya kira ketika kita ingin mencari proses
pendidikan dan proses pembelajaran yang manakah yang menjadikan Tan Malaka,
Hatta, Hamka dll menjadi tokoh nasional bahkan internasional. Adalah stupid
jika kita mengkaji apakah tokoh2 nasional yang berasal dr Minangkabau adalah
hasil pendidikan di Minangkabau atau malah hasil pendidikan luar negeri. Karena
proses pembelajaran tidak bisa di kotak kotakan sepetri itu..ilmu apapaun itu,
pengetahuan apapun itu dan keberhasilan apapun yang kita raih adalah hasil
pembelajaran yang telah kita mulai dari sejak didalam kandungan, didikan
keluarga dan lingkungan hingga detik ini..setiap fase pembelajaran itu
betapapun kecilnya adalah sama berartinya.
6.
MS: PendidikTerlhiat kan? Surau tak sehebat itu. Bukan penjawab semua tanya.
Ben: La iyalah
..lebih hebat Mr. Google kali Pak Mantari..semua ada
disitu..hehe
surau kan bukan supermarket .. cape deehh
7.
MS:
Bukan hilangnya surau penyebabnya Ben. Yang lain berlari dan kita masih
berjalan. Hanya masalah itu saja
Ben: kan dah saya bilang tidak sepenuhnya karena tiadanya surau. Betul juga
orang berlari kita berjalan kalau mau dikatakan begitu. Paling tidak dinamika
surau telah memperlihatkan kepada kita bahwa pendidikan itu musti dimulai sejak
dini. Surau telah memunculkan bakat2 terpendam yang dimiliki pemuda Minangkabau
sehingga tak heran muncul ide2 besar yang saat ini makin jarang kedengaran di
Ranah Minang.
Salam
Ben
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa
Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid
Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan
Gempa di Sumbar.
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---