pak chaidir yang saya hormati...
entah lah pak saya sebagai yang muda juga terkadang geram dengan yang
terjadi, apakah sedemikian lemah posisi tawar kami?
seperti buya syafii mengatakan idealisme sesaat...
tapi klo' berbicara kajian dan penelitian secara analitatif... kenapa saya
justru lebih suka yang intuitif... untuk jaman sekarang nampaknya kita
memerlukan banyak orang2 intuitif...
saya kutip satu hal yang menarik buat saya;
Pikiran Intuitif adalah karunia suci, sementara pikiran rasional adalah
pelayan setia. Kita telah menciptakan sebuah masyarakat yang menghormati si
pelayan dan melupakan karunia itu.
-Albert Einstein-
pak saf yang saya hormati...
kepunahan, bukankah itu adalah hal yang biasa. bahkan keturunan nabi pun bila
mengikuti syariat telah punah karena satu2nya garis keturunan hanya dari
fatimah ra. tapi entahlah wallahu alam...
mohon maaf bila saya sedikit mencoba mengulang kembali bahasan yang bpk kirim
kemarin...
seharusnya dengan metode penelitian yang bapak gunakan mengenai habisnya
keturunan, harusnya ada ketegasan untuk menuruti akar dari sistem yang ada.
[studi case minangkabau]
pertama, ayah jika tidak punya anak perempuan apakah keturunannya akan punah?
jawabnya tidak, karena jika mau konsisten dengan adat minangkabau,
kamanakannya lah keturunan dari suku sang ayah. jika sang ayah tidak memiliki
kamanakan perempuan maka barulah ini yang dinamakan punah. sedangkan jika dalam
konteks ayah tidak memiliki anak perempuan, maka harta yang dimiliki [harta
pribadi] masih ada anak laki2 sebagai ashobah.
kedua, apakah adat minangkabau ABS-SBK tidak sesuai syariat?
jawabnya masih perlu banyak pengkajian, satu contoh real, harta pusako dalam
ketentuannya disebutkan oleh seorang panghulu kepada saya harus memenuhi satu
dari tiga syarat yang ada. 1) ada anak perempuan mau dinikahkan 2) ada mayat
yang terbaring di rumah gadang/suku 3) kepentingan/kesejahrteraan suku. lalu
teringatlah saya pada sebuah dalil [tolong dikoreksi], ada 3 perkara yang tidak
boleh ditunda 1) anak perempuan dilamar laki2 baik2 2) mayat yang belum
dikafani 3) kepentingan islam. secara kontekstual tidak cukup berbeda dan
banyak dari kalangan pemangku adat [hemat saya pribadi] tidak menyadari hal
tersebut...
sehingga kesimpulan sementara saya, banyak hal yang tidak tercatat,
terpublikasi dan ter-regenerasi...
sehingga adat minangkabau [yang sekarang] belum dapat dikatakan sebagai adat
yang jahiliyah.
patutlah kita memaklumi sejarah kebudayaan kita terputus sejak jaman
"kegelisahan" di minangkabau, perang, pertikaian, dsb... sehingga terputuslah
tambo2, yang notabene yang terucap itulah yang lebih memiliki kredibilitas
kebenarannya sesuai dengan kredibilitas sang individu. lain dengan jaman
sekarang yang lebih mengkredibiltas-kan dokumen dan analisa.
mohon maaf bila ada kata2 yang salah...
a.arifianto [st.jabok]
darah muda, darah agretifitas, darah pembaharu
---------------------------------
Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast
with theYahoo! Search weather shortcut.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---