Assalamu'alaikum ww

Sekedar sharing,

Pengalaman saudara di Sulawesi, dia provider swasta satu-satunya di sebuah 
kota di sana. Dia presentasi ke sekolah-sekolah langsung, karena sekarang 
dana-dana dari pusat itu langsung ke kepala sekolah, tidak melalui dinas di 
daerah.

Contoh kasus,
Di sebuah pesantren, dia presentasi, lalu buat proposal ke Depag pusat. 
Ternyata tidak lama langsung disetujui dan hanya dipotong Rp 25 ribu untuk 
administrasi dari dana yang diajukan Rp 100 juta.
Dengan spek yang sesuai di set up lab. komputer yang memiliki jaringan 
internet.

Masalah muncul karena pesantren tak mampu merawat/mengelola sistem yang 
canggih tersebut serta membiayainya. Dia usulkan sistem bagi hasil, dengan 
menempatkan orangnya untuk bantuan pengelolaan di lab itu. Sekalian dibuka 
untuk umum juga, kebetulan letak pesantren di jalur utama di kota itu dan 
dikelilingi kantor pemerintahan setempat.

Saya tidak tahu kelanjutannya setelah sistem bagi hasil disetujui, namun 
cerita dia permintaan untuk lab kom itu terus berdatangan dari sekolah negeri 
lainnya. Sementara sebelumnya dia juga telah set up untuk beberapa poltek.

Mudah-mudahan ada gunanya.

wassalam
erwin z


On Tuesday 17 April 2007 17:10, Ronal Chandra wrote:
> Ridha ngomongnya yang jelas aja, gak perlu ragu :-)
>
> Point saya bahwa teknologi informasi punya peran yang cukup besar dalam
> mendukung kemajuan pendidikan.
>
> Bukan cuma indonesia, dunia pun sudah melakukan hal itu :-)
>
> Kalou masalah Implementasi dan next itu adalah peran dan tanggung jawab
> penuh pengelola untuk pemamfaatannya.
>
> Kita tidak bisa cegah kemajuan teknologi ini, masalah nya cuma kapan
> teknologi itu sampai ke kita atau dalam hal ini Pendidikan Sumbar secara
> massal.
>
> Masalah masalah pendampingan, asistensi itu kewenangan penuh mereka untuk
> memutuskan dan saya pun cukup yakin banyak konsultan yang mau membantu
> disini.
>
> Tapi disini pendakatan saya adalah swadaya masyarakat. Mulai dari sekolah,
> murid dan mahasiswa sampai dengan perantau. Ini berguna untuk membantu
> menekan cost saat implementasi awal.
>
> Kalou ridha baca email saya sebelumnya, akan jelas terlihat peran
> pemerintah daerah atau diknas itu kecil sekali, nah yang mempunyai peran
> besar adalah masyarakat umum mungkin diMinang (Perantau) untuk bisa
> membantu percepatan teknologi informasi ini.
>
> Didaerah daerah lain penetrasi yang dilakukan pemerintah sangat kecil
> sekali, contoh kasus tahun 2001 penetrasi depkominfo untuk peningkatan
> pemakai internet hanya 1 juta per-tahun. Bandingkan dengan sejak
> dibebaskannya prekuensi 2.4 tahun 2006  yang mencapai 16 juta per-tahun
> yang dilakukan oleh masyarakat mulai dari lingkungan terkecil sampai besar.
>
> Itu dulu yh ridha, lagi makan nih.
>
> Regards
> Ronal Chandra


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke