Kurnia Chalik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  >>> Pegawai Negeri di Pemda Sumbar bukannya tidak namuah dan juga bukan tidak 
>>> siap dengan perubahan,tetapi banyak dari Mereka yang belum paham sabananyo 
>>> mengenai kemajuan dan kecanggihan serta manfaat IT tu.
   
  Untuk bidang pengelolaan keuangan daerah pendapat ini tidak berlaku. Istilah 
"resistance to change" yang biasanya mengawali buku teks sistem informasi tidak 
ditemukan di lingkungan ini.
   
  Mereka - mulai dari level atas spt sekwilda dan asisten, kepala 
biro/bagian/badan keuangan, sampai ke pelaksana sangat memahami dan 
membutuhkan, serta berusaha memanfaatkan IT secara maksimal.
   
  Sayangnya, begitu masuk ke level implementasi, ternyata produk yang mereka 
beli tidak semudah dan semurah "katanya" dulu. 
   
  Contoh paling mutakhir, ketika peraturan mengenai pengelolaan keuangan daerah 
berubah (kalau dibandingkan, sih garis besarnya ga berubah), banyak daerah yang 
terpaksa "membangun" aplikasi baru. Kenapa? Jangankan untuk mengadaptasi 
peraturan yang totally baru, untuk merubah kode rekening saja harus minta 
"asistensi" developer. 
   
  Kalau begitu, siapa sebenarnya yang "tidak namuah dan tidak siap dengan 
perubahan?"
   
  Catatan: Bisa saja kesimpulan saya salah, tapi harusnya tidak terlalu salah. 
Tahun 2005-2006 saya bbrp teman melakukan studi ttg ini, sebagai bagian dari 
program pengembangan local goverment finance and governance reform. Mudah2 
studi ini tidak bias karena kami bekerja untuk pemerintah, dan dibayar oleh 
lembaga donor. Bukan berarti teman2 saya ahli, tetapi kebetulan kami berasal 
dari berbagai latar belakang, akuntan pemerintah dengan pemahaman IT, orang IT 
dengan pemahaman akuntansi, ada yang orang kampung seperti saya, tapi juga bbrp 
urang gaek dari lua nagari nan pernah terlibat pengembangan sistem keuangan 
pemerintah di negara maju dan negara mundur. Dan tidak ada satupun dari kami 
yang akan "beruntung" kalau daerah pakai IT, atau "merugi" kalau mereka tidak 
pakai, karena tidak satupun yang berbisnis IT.
   
  Studi memang tidak mencakup seluruh 400an daerah, "hanya" 21 propinsi, di 
mana 4 propinsi diantaranya (termasuk Sumatera Barat) menjadi partisipan. 
Bapak2 dan Ibu2 itu diminta masukan melalui kuesioner, wawancara, dan diskusi - 
baik dengan kami, maupun "sesama mereka". Mereka ini dari unit keuangan, 
perencanaan, "pencari uang", dan "pengguna uang". Pengertian "sesama mereka" 
itu bisa satu profesi-beda daerah, dan satu daerah-beda profesi. Untuk 4 
Propinsi, tim datang liat2 orang kerja, ngobrol dll ke level propinsi, 
kabupaten, dan kota (di Sumbar: Sumbarnya sendiri, Padang, dan Padang 
Pariaman). 
   
  Riri (45)

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke