Assalamualaikum wr. wb
Bahwa IT itu memberikan kemudahan, kecepatan dst nya itu tidak terbantahkan.
Bahwa IT itu murah ... ya iya, sementara ini juga sulit untuk dibantah. Tapi
kalau kita mulai membicarakan tentang efisiensi dan efektifitas, nah sepertinya
kita perlu "duduak baselo dilapiak nan samo" dulu untuak membahas ini, karena
ujung2nya, kita perlu kembali lagi, apakah itu memang murah, untuk level
teknologi yang kita butuhkan?.
Ini juga hendaknya harus diinformasikan ke dunsanak2 nan tampaknyo "dari sisi
awak" memerlukan teknologi yang murah ini, dengan "duduak baselo dilapiak nan
samo"
Saya bukan ahli IT, cuma beberapa pekerjaan saya bersinggungan dengan itu.
Dan, maaf kalau di posting ini lebih banyak bicara tentang "saya", maksudnya
daripada bicara: "katanya".
Background saya "tukang pareso", pernah ikut bbrp training penggunaan audit
tools, pernah nyambi ngajar mata kuliah Computer Audit di bbrp perg tinggi.
Tetapi dalam pekerjaan, saya hampir tidak pernah menggunakan any audit software
- yang kita beli (walaupun konsep auditnya saya terapkan). Alasannya, data
klien tidak selalu adaptable dengan softwarenya, lebih gampang dengan cara
"tradisional". Kalaupun ketemu auditees yang banyak data kuantitatif, seperti
bank, lebih mudah ngaudit dari "dalam" systemnya dibanding pake software luar.
Software luar bisa menemukan keanehan, tapi tidak bisa menjelaskan kenapa dia
aneh. Nah, untuk ini saya ngambil kesimpulan sendiri, tools IT ini mahal
(dibandingkan kebutuhan saya)
Saya pernah ikut ngaudit IT Procurement di sebuah bank besar. System yang
dipake (dan tentunya juga mesin2nya) luar biasa. Murah? Sementara bisa dibilang
iya, karena bank tersebut punya sekian belas juta accounts nasabah. Tapi kalau
kita dalami bahwa ternyata sangat banyak dari nasabah2 tersebut adalah penerima
kredit dalam jumlah relatif kecil, mereka rajin mencicil setiap bulan (tidak
seperti bbrp konglomerat), dalam setahun kreditnya lunas. Nah, apakah jadinya
ini murah?
Saya pernah dipekerjakan di proyek BLN (Berbantuan Luar Negeri, dengan
catatan "Berbantuan" = Hutang). Salah satu yang kami kembangkan adalah
Performance Audit yang menggunakan Balance Score Card sebagai salah satu tools.
Hebat dan murah, memang. Kita beli softwarenya untuk 200 users. Nah, belakangan
baru kita mikir. Clients kita ga pake BSC, dan susah untuk diajak untuk itu.
Performance Indicators yang mereka gunakan juga jauh lebih sedikit. Ngitung
pake Excel yang harganya cuma 200an dollar juga bisa.
Berikutnya ada yang mengusulkan (si pengusul tentunya "didampingi supplier")
pembelian software statisik yang canggih. Dari presentasi mereka, saya juga
sangat yakin bahwa software nya canggih, dan cost per unit nya sangat murah.
Tapi waktu saya tanya, seberapa besar dan seberapa rumit data kita yang perlu
diolah? Ujungnya saya tutup meeting dengan ucapan: "Lo bawa deh data lo ke
sini, ntar gue selesain pake excel atau SPSS yang basic".
Tapi bukan berarti saya membantah bahwa IT itu mahal, tidak efisien. Cuma,
hendaknya dibahas dengan cara "duduak baselo dilapiak nan samo"
Mungkin level "duduak basamo" itu berbeda di setiap orang, instansi, atau
perusahaan. Contohnya, tahun lalu saya pulang ke Padang Panjang. Nyari ATM BCA
dan Lippo ga ketemu. Tapi sangat mudah menemukan ATM BNI, BRI dan Mandiri, yang
mesinnya masih mengkilap. Saya pikir2 sendiri, dan simpulkan sendiri. Karena ga
punya data apa2 selain penglihatan itu, saya simpulkan sendiri (krn sendiri, ya
kemungkinan salahnya tinggi), mungkin bank yang satu "duduak baselo dilapiak
nan samo", sedangkan yang lain mungkin kurang lamo duduaknyo.
Memang kadang2 kita punya pilihan, tetapi kadang2 tidak. Dan pilihan itu juga
sering baru bisa ditetapkan dengan "membayar uang sekolah yang tidak murah"
Contohnya, koneksi internet. Pertamanya dial-up, langganan ke ISP (waktu itu
ini the only pilihan). Tapi kemudian - krn yg lain kecepatannya sudah tinggi -
saya coba telkom-net instan. Lumayan cepat (untuk waktu itu), mudah dan
praktis, tapi bill nya ngagetin. Pernah pake speedy, kecepatannya hebat,
relatif murah. Tapi waktu bayar baru sadar bahwa 750MB itu ga banyak, ha ha.
Sekarang saya pake mynet, Lumayan cepat dan murah, bayarannya untuk pemakaian
24 jam. Tapi "murah" itu karena kebetulan saya sudah langganan TV Kabelnya.
Kalau belum? ya belum tentu murah juga. Apalagi dibandingkan biaya telpon dan
biaya mengomel karena dia sering ngadat, dan begitu dikomplen cuma dicatat,
tapi ga diapa apain.
Tentang HP. HP saya lumayan kuno. Saya berpikir, pokoknya sesuai kebutuhan.
Rasanya hampir semua featuresnya sesuai kebutuhan, bisa ngakses internet.
Memang ada "bagian yang terpaksa saya beli" misalnya seperti PTT (honestly,
sampai sekarang saya ga tau PTT itu apa). Tapi apa boleh buat, memang terpaksa.
Anak saya dulu mintanya HP yang bisa muter MP3, cameranya "sekian" mega
pyxel. Saya bilang, apa ga lebih baik beli HP "biasa" plus kamera digital yang
"dua kian" mega pyxel. Tapi akhirnya saya "kalah". OK. Belakangan ini dia minta
HP yang lebih canggih, teknologinya 3G. Saya tanya alasannya: bisa saling liat
lawan bicara (saya tanya, berapa orang teman kamu yang juga punya itu); bisa
nonton TV (saya bilang, bukannya TV dirumah lebih besar). Sampai sekarang saya
masih "menang", entahlah besok-besok. He he.
Jadi, muter-muter, saya pikir ujungnya adalah IT itu memang murah hanya kalau
sudah diputuskan melalui cara "duduak baselo dilapiak nan samo".
Riri (45)
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---