Assalamualaikum Sepertinya kisah ini kalau di bawakan ke kondisi Indonesia masa kini terlalu sederhana..kalau diibaratkan Rasulullah dalam posisi yang sama dengan pemerintah maka secara kuantitas, kualitas dan realitas diluar faktor kenabian tentunya sangatlah berbeda..
tapi saya sepakat dengan poin pemberdayaan zakat dan wakaf yang terorganisir dengan baik..kita tinggalkan doktrin lama yang terjebak dengan ritualitas dan kita ubah dengan pandangan yang lebih sosial..kurban misalnya sudah tidak jamannya lagi membantai kambing atau sapi kemudian dagingnya dibagi bagikan ke orang miskin yang hanya megenyangkan lebih kurang 3 hari..selebihnya berbulan bulan kembali kurang gizi...coba bayangkan jika dana kurban kita kelola dalam bentuk badan permodalan atau koperasi yang melayani pinjaman modal bagi usaha kecil dan rumah tangga...saya kira akan lebih baik dan tidak melenceng dari makna korban sesungguhnya... Salam Ben Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum wr.wb. Sanak Arnold, ini tulisan sangat bagus. Faktor penyebab yang disebutkan dalam tulisan ini kurang lebih sama dengan yang ada di kita. Kalau begitu, harusnya "obat"nya pun kurang lebih sama juga. Mudah2 an Bapak2 dan Ibu2 kita yang di sana juga membaca, dan memikirkannya, dan yang penting mengamalkannya. Riri (45) Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Republika online, 07 Mei 2007 Cara Rasul Menangkal Pengangguran Rifqi Fauzi Mahasiswa Jurusan Hadits Universitas Al Azhar Kairo Mesir Angka pengangguran pada 2007 diperkirakan mencapai 12,7 juta jiwa, dan jumlah penduduk miskin mencapai 45,7 juta jiwa. Menurut Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Jakarta, angka tersebut berasal dari 1,6 juta pengangguran baru, di mana jumlah pengangguran pada tahun 2006 mencapai sebesar 11 juta jiwa. Sementara pada tahun 2004, pengangguran baru mencapai 10,25 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa angka pengangguran setiap tahun terus meningkat tajam. Masih menurut LIPI, jika kita mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai skenario optimum yaitu 6,5 persen dengan tingkat serapan tenaga kerja hanya 218.518 orang untuk setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen, maka lapangan kerja pada 2007 yang tersedia hanya 1,4 juta. Sedangkan angkatan kerja pada tahun 2007 diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar tiga juta orang, berasal dari 1,5 juta orang tambahan tenaga kerja baru dan 1,5 juta dari kelompok bukan angkatan kerja yang masuk kembali menjadi angkatan kerja. Kondisi tersebut menunjukan bahwa Indonesia akan menghadapi kondisi sulit. Untuk menutupi kenaikan angkatan kerja tahun sekarang saja sudah tidak bisa, apalagi menutup angka pengangguran tahun sebelumnya. Dengan kata lain, setiap tahun Indonesia hanya akan terus menambah angka pengangguran dan kemiskinan baru. Faktor penyebab Pengangguran dari zaman ke zaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari karena hal itu merupakan sebuah sunatullah. Namun bukan berarti manusia tidak bisa mengantisipasinya. Pengangguran bukanlah kodrat Ilahi yang tidak bisa diganggu gugat. Mungkin, pengangguran itu sendiri disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri. Allah SWT telah memberikan kekayaan alam dan akal yang harus dipergunakan sebaik mungkin oleh manusia. Secara umum, adanya pengangguran disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, disebabkan pribadi manusia itu sendiri yang malas bekerja dan berusaha, adanya kelainan pada diri manusia yang membuat tidak bisa berusaha, dan tidak adanya lapangan pekerjaan. Rendahnya pendidikan sehingga tidak adanya kreasi untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri, rendahnya fasilitas teknologi, kondisi pemerintahan yang tidak sehat dikarenakan adanya pejabat-pejabat pemerintah yang melakukan KKN, terjadinya pemecatan dikarenakan bangkrutnya perusahaan dan yang tidak kalah pentingnya yaitu dikarenakan bencana alam. Semua ini bisa diantisipasi jika ada kesadaran dan kerjasama antara individu dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan ekonomi. Teladan Rasul Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?" Pengemis itu menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasul langsung berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!" Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham." Rasulullah menawarkanya kembali,"adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?" Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelanjakannya makanan untuk keluarganya dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak. Rasullulah bersbada, "Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu." Sambil melepas kepergiannya Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos. Setelah dua minggu pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersada, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha." (HR Abu Daud). Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Pertama, pengangguran dan kemiskinan merupakan tanggung jawab pemerintah dan mereka mempunyai hak untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah. Hadis tersebut menunjukkan teladan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas kemiskinan dan pengangguran yang terjadi pada rakyatnya. Beliau langsung tanggap terhadap keluhan rakyatnya. Kedua, ada kerja sama antara pemerintah dan orang kaya untuk memberantas pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan tidak hanya menjadi milik pribadi namun di dalamnya ada hak orang lain yang perlu dikeluarkan, sehingga kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya bisa diberantas. Cara ini bisa ditempuh dengan memberdayakan zakat dan wakaf umat. Malah lebih baik lagi jika hal ini ditangani langsung oleh seorang menteri. Ketiga, pemerintah tidak cukup hanya sadar akan tanggung jawabnya, namun harus dibarengi dengan kerja nyata dengan mencari solusi untuk mengeluarkan rakyatnya dari jeratan pengangguran dan kemiskinan. Keempat, cara terbaik untuk keluar dari jerat pengangguran dan kemiskinan adalah dengan memberikan pendidikan dan pekerjaan, tidak cukup dengan cara menyantuni rakyatnya dengan uang atau makanan. Selain supaya bisa hidup mandiri, hal ini pula akan meningkatkan perekonomian bangsa, sebagaimana Rasulullah SAW mendidik pengemis selama dua minggu untuk belajar mengumpulkan kayu dan berdagang. Kelima, Rasulullah sangat mencela orang yang suka minta-minta dan malas bekerja, terkecuali bagi orang yang benar-benar miskin yang tidak mempunyai peluang untuk bekerja, orang yang banyak hutang yang tidak bisa membayarnya dan seorang miskin yang sakit. Mereka menjadi tangung jawab pemerintah dan masyarakat yang kaya untuk menyantuninya. Dengan adanya kerja sama dan kesadaran antara individu, masyarakat, dan pemerintah, insya Allah negeri ini akan segera terbebas dari jerat kemiskinan dan pengangguran. --------------------------------- Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains --------------------------------- Get your own web address. Have a HUGE year through Yahoo! Small Business. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan email yang terdaftar di mailing list ini. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
