Assalamu Alaikum W. W.
  Nanda Hanifah beserta seluruh RN dimanopun barado.
  Alhamdulillah kami telah melepas anak-anak kami kejenjang pernikahan mereka. 
Kita bersyukur kepada Allah SWT sebab dengan bersyukur kita itu akan memperoleh 
yang lebih besar yang diberikanNya. 
  Dizaman dulu mungkin membesarkan anak tidaklah semusykil sekarang ini. 
Lebih-lebih dalam mencari jodoh.  Kami selalu nyinyir mengatakan bahwa carilah 
yang seiman dan kalau bisa yang sama-sama backgroundnya dengan kita.  Jadi 
waktu anak-anak kami berjodoh dengan orang seberang kami hanya menerima dengan 
ikhlas bahwa itulah yang dicarikan Allah SWT.  
  Satu lagi mereka belajar menyesuaikan diri dengan kawan-kawan sekampus.  
Mereka tidak punya kenderaan karena teman-teman sekost juga tak punya walaupun 
mereka pandai membawa mobil.  Masih ingat kami seorang teman mengatakan bahwa 
dulu dia susah maka dia tidak mau anaknya susah. Memang sulit kita menimbang 
antara kebutuhan dan kemewahan. Kemewahan itu adalah racun untuk menyelesaikan 
kuliah bahkan membuat anak itu DO tapi kebutuhan akan membantu mereka 
mnyelesaikan kuliah on time. Alhamdulillah juga waktu masa dahulu kuliah 
dinegeri tidak mahal dan mereka dapat menyelesaikannya dan melanjutkan 
kependidikan yang lebih tinggi (graduate study). Hanya sebegitu yang bundo 
ingat sekarang nanti akan ditambah.
  Hayatun Nismah Rumzy (

hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Ass Wr Wb bapak Suheimi yth
   
  Terimakasih atas jawaban bapak.
   
  Hanifah jadi teringat papa
  Papa juga begitu mendidik anak-anaknya
  Uni Fatma, anak yang tidak pernah dimarahi papa selama hidupnya
  Karena uni buaik banget
  Uni juga tidak bisa memarahi anaknya
   
  Kalau hanifah ???
  Hanifah anak papa yang paling badung
  Sekarang bingung
  Terlanjur di cap PEMARAH sama anak-anak
  Kalau sudah terlanjur di cap pemarah begitu lalu bagaimana merobahnya pak?
  Apa tidak terlambat karena mereka sudah besar ? (kul semester 4 dan kelas 
satu SMA)
   
  Tentang pendidikan anak-anak, termasuk pendidikan agamanya
  Bagaimana pula cara bapak memilihkan sekolah formal dan informal untuk mereka?
   
  Makasih pak
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri
   
  suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Hanifah yg baik
   
  Dasarnya tentu kasih sayang yg tulus
  toleransi terhadap kesalahan yg dibuatnya, kalau perlu pura2 tidak tahu
  Kalau kesalahan itu bisa ditegur dg lirikan mata,  tak perlu di gunakan kata 
yg menyakitkan hati,  kalau kesalahan bisa diperbaiki dg kata tak perlu 
menggunakan tangan.  Berhematlah memuntahkan kata-kata yg tak perlu dan  
biasanya kesabaran  merghantarkan anak pada jalannya yg benar
   
  Kebanyakan kita tak sabar ingin anak cepat berubah jadi baik, padahal dia 
butuh waktu utk menjadi dirinya sendiri. bukankah bhw
   
  Anakmu bukanlah milikmu
  mereka adalah putra kerinduan sang hidup pada diri Nya sendiri
  Lewat engkau mereka lahir, tapi bukan berasal dari dirimu
   
  Engkau boleh tumpahkan segenap kasihmu, tapi jangan bentuk dan alam fikiranmu
  Karena dia punya fikiran dan alamnya sendiri
   
  Kau boleh meniriunya, tapi jangan paksa dia mencontohmu, karena kehidupan itu 
tak pernah mengalir mundur dan kehidupan itu bukanlah terpancang pada hari 
kemarin
   
  Engkau boleh buatkan rumah untuk raganya, tapi jangan utk jiwanya.
  Sebab jiwanya adalah penghuni rumah di masa depan yg tak mungkin kau kunjungi 
sekalipun dalam mimpi2 mu
   
  Engkau adalah busur dan anakmu adalah anak panah yg sedang menluncur  
melampau garis batas yg tak terbatas

  Mangga itu jatuhnya tak jauh dari pohonnya. berusahalah menjadi pohon yg 
terbaik, maka anakmupun akan ikuti jejak langkahmu tanpa perlu  dipaksakan
   
  Dia tumbuh sendiri, menyelesaikan persoalannya sendri,  bergelut dg kesulitan 
dan kerikil tajam serta jalan berbatu.
   
  lepaskan segera genggaman jemarimu sewaktu anak itu bisa berdiri sendiri
  biarkan dia menyelesaikan persoalannya
   
  salam teriring do'a
   
   
  K Suheimi
hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Assalammualaikum Wr Wb bapak Suheimi yth
   
  Mumpung masih dalam suasana Hardiknas, hanifah nio batanyo tantang caro bapak 
mandidik anak.
   
  Umumno laki-laki nan mapan mamiliah istri yang bekerja hanya sebagai ibu RT, 
sehingga anak-anak bisa diawas / dididik langsung oleh ibunya.
  Tak semua pasangan bisa hidup ideal begitu. 
  Adakalanya sang istripun ikut pontang panting di luar rumah dan meninggalkan 
anak-anak ke orang lain. Beruntung kalau ada neneknya atau saudara yang mau 
membantu mengasuh / mendidik anak. Kalau tidak ada ??? 
   
  Bapak dan ibu keduanya berprofesi dokter. Wah kebayang betapa sibuknya bapak 
dan ibu. 
  Eh ternyata anak-anak bapakpun termasuk anak-anak yang berhasil. Alangkah 
besarnya Rahmat Allah ke keluarga bapak. 
  Baa caro bapak dan ibu mandidik anak-anak sahinggo mampu menghantarkan anak 
menjadi anak yang berhasil. 
   
  Itu sen dulu yo pak
   
  Wassalam
   
  Hanifah Damanhuri
   

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke