Saya sangat setuju pendapat anda, Depkes harus jelas dan tegas dulu, seperti
apa desain upaya peningkatan kesehatan masyarakat (artinya, keputusan/
peraturan menkes tentang Standar Pelayanan Minimal juga harus "membumi")

 

===> Pendapat saya adalah bahwa setiap individu masyarakat Indonesia berhak
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar ilmu dan teknologi kedokteran
Indonesia masa kini (SITKIMI) dan pemerintah berkewajiban mendorong dan
menyediakan pelayanan kesehatan sesuai SITKMI itu. SITKMI ini sangat
fleksibel mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran di Indonesia.
Kalau masyarakat kedokteran Indonesia sudah mampu melakukan diagnostik
dengan menggunakan peralatan canggih baik imaging dan laboratorium maupun
instrumentasi lainnya saya kira setiap masyarakat Indonesia baik yang miskin
maupun tidak miskin berhak memperoleh pelayanan itu. Demikian pula dalam hal
terapi, kalau masyarakat kedokteran Indonesia sudah mampu melakukan terapi
dengan metode yang canggih maka masyarakat Indonesia baik yang miskin maupun
yang tidak miskinpun berhak mendapatkan pelayanan itu.

 

Saya ambil contoh satu kasus yang baru bulan lalu saya tangani di salah satu
rumah sakit umum di jakarta. Pasien seorang anak umur 6 tahun yang dirujuk
dari medan dengan spondylitis tbc (infeksi tulang belakang) yang sudah
diderita selama 4 tahun. Pasien ini selama 2 tahun pertama berobat ke dukun
yang menurut orang tuanya sudah menghabiskan uang kurang lebih 5 juta
(selama 2 tahun). Beruntung ada tetangga yang memperkenalka jps sehingga
pasien ini diobati selama kurang lebih 2 tahun (2 tahun kedua) di salah satu
rumah sakit umum di medan. Penderita ini mendapatkan pengobatan dari bagian
anak, dan bagian ortopedi. Di Bagian ortopedi rumah sakit umum di medan
pasien ini didiagnosis sebagai spondylitis TBC dengan komplikasi bongkok
setinggi dada (dengan derajat kebongkokan 100 derajat). Oleh dr ahli
ortopedinya penderita ini direncanakan dilakukan operasi dan pasien setuju.
Masalah yang berikutnya muncul adalah masalah biaya dan fasilitas yang tidak
memungkinkan dilakukan operasi di RSUD di Medan. Beruntung dr ahli
ortopedinya kenal dengan salah satu yayasan yang mau memberangkatkan
penderita ini ke jakarta atas biaya yayasan. Dan dikirimlah penderita ini di
RSUP di jakarta. Pasien ini saya terima di Jakarta dan saya melakukan
pemeriksaan fisik, pemeriksaan imaging, dan laboratorium sesuai dengan
standar pelayanan diagnostik tertinggi di jakarta. Sebagian besar biaya di
tanggung askeskin dan sebagian lagi ditanggung oleh yayasan dan sebagian
kecil ditanggung oleh tim dokter yang menangani. Pasien ini kemudian kita
rencanakan operasi. Dalam diskusi kami dibagian ortopedi di putuskan memakai
suatu implant buatan luar negeri (setahu saya di Indonesia belum ada) dan
harganya kurang lebih 14 jt (implantnya saja). Pertimbangan dan
argumentasinya adalah implant ini yang paling baik diketahui untuk mencapai
koreksi yang optimal. Implant lain masih dibawahnya termasuk implant buatan
dalam negeri seperti PSSW (pedicle screw sublaminary wire, patent prof
Subroto Sapardan). Masalah muncul dalam pendanaan implant ini. Pada saat itu
askeskin tidak mau membiayai implant ini dengan alasan macam versi mereka
sendiri, yayasan (yang memberangkatkan) juga tidak mau membiayai dengan
alasan tidak punya biaya. Lantas bagaimana???? Awalnya pasien ini akan saya
pulangkan saja kembali ke medan dengan alasan apa adanya, namun sayang juga.
Kemudian saya pikir apa kita layani sesuai dengan alat yang ada saja yang
kita sudah tahu capaiannya tidak optimal. Atau dioperasi dengan konsekwensi
alat tidak ada yang mau bayar, dokter di kejar tukang kredit dsb. Pasien ini
akhirnya kami putuskan (dengan pertimbangan yang memusingkan kepala) tetap
dioperasi sesuai dengan alat yang kami yakini mencapai hasil yang optimal.
Sesuai dengan perkiraan awal, masalah yang akhirnya timbula adalah masalah
pembiayaan alat dan operasi. Masalah pembiayaan sampai sekarang sedang
dilakukan lobi antara dokter ortopedi, rumah sakit, dan yang punya alat.
Sedang in progress.....(belum tau akhirnya seperti apa). Yang penting saat
saat ini adalah bahwa penderita ini sudah mendapatkan pelayanan yang optimal
dengan koreksi bongkok yang memuaskan (yang abalnya sudut bongkoknya 100
derajat akhirnya menjadi 5 derajat).

 

Saya kira di bidang lain pun penyakit jantung, penyakit dalam, anak, bedah,
dsb fenomena ini sama dimana Indonesia mempunyai ilmu dan teknologi
kedokteran yang sudah cukup maju (saya optimis sudah menyamai australia,
singapore, taiwan, bahkan jepang). Yang jadi persoalan kan masyarakat kita
ini belum mampu menyentuh pelayanan SITKMI itu. Disinilah peran pemerintah
mendorong, membantu agar masayarakat mampu menyentuhnya. Satu-satunya cara
pemerintah menurut saya (dan ini sangat saya rekomendasikan) adalah membuat
regulasi bagaimana masayarakat bisa menikmati pelayanan itu; tidak dengan
melakukan terobosan menurunkan standar pelayanan, membuat alat kes atau obat
dengan cara memanfaatkan kelebihan kapasitas. Untuk obat pun saya kira
demikian, para praktisi kedokteran dan praktisi farmasi diberikan kebebasan
berinovasi, berkompetisi, dan berimprovisasi menuju kepada suatu pelayanan
kesehatan SITKMI.  Pemerintah seharusnya tidak ikut2an beriklan obat dan
memaksakan sesuatu kepada para praktisi kedokteran dan praktisi farmasi. 

 

Saya kira adanya program obat serba rp 1000 tidak mengacu kepada konsep
pelayanan seperti ini. Ada kesan karena kondisi ekonomi maka standar
pelayanan ideal di turunkan. Konsep ini jelas tidak berpihak kepada rakyat.
Sekali lagi saya katakan program ini memiliki landasan yang rapuh dan tidak
mempunyai argumentasi yang kuat untuk membantu masyarakat menengah kebawah
di bidang kesehatan (apatah lagi untuk meningkatkan taraf kesehatan
masayarakat menengah ke bawah). Masih jauh panggang dari api.

 

 Nah,  "Program Obat Rakyat Murah dan Berkualitas" ini merupakan cerita
tersendiri. Kalaupun ada kaitannya dengan program peningkatan kesehatan
masyarakat, share nya mungkin minim.

 

Tujuannya - kata Menkes - untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan
keterjangkauan obat murah dan berkualitas bagi masyarakat," dan "untuk
mencegah peredaran obat palsu dan obat substandar yang dapat membahayakan
ksehatan masyarakat di pasaran; (Kalau obatnya dibuat murah, keuntungan
pelaku pemalsuan obat kian sedikit sehingga lama-lama mereka akan
menghilang).

 

Kalau yang saya tangkap, prinsipnya adalah menyediakan produk (obat bebas)
dengan harga yang lebih murah.

 

===> Slogan ”Program obat rakyat murah dan berkualitas” adalah mirip slogan
jualan baju di tanah abang. Tidak mendidik dan cenderung membodohi. Pendapat
saya persoalan kesehatan harus dilihat dari kacamata kesehatan tidak dilihat
dari kaca mata ekonomi. Pelayanan kesehatan memiliki aturan yang ketat.
Konsepnya pun jelas. Kebijakan-kebijakan ekonomi di bidang kedokteran
seharusnya tidak mengintervensi sampai pada konsep2 ideal dalam pelayanan
kesehatan yang akan terus  berkembang. Konsekwensi dari perkembangan
pelayanan itu sudah pasti berpengaruh kepada ekonomi (high cost). Tinggal
kita menyikapi dan memilih mau pelayanan seperti apa....

 

 

 

 

Siapakah yang diuntungkan? Yang jelas pengguna yang yakin bahwa obat murah
itu sama khasiatnya dengan obat bermerk "besar". Harganya murah bukan karena
isinya beda, tapi karena banyak biaya2 yang terpangkas dengan program ini.

 

Yang juga beruntung adalah pabrikan (sekarang baru 1 BUMN) yang memanfaatkan
kelebihan kapasitas produksinya.

 

Keuntungan pemerintah, daya beli masyarakat untuk obat tersebut meningkat.
Dan seperti kata Menkes, membuat pemalsu "malas".

 

 ===> Pernyataan ini masih dalam asumsi-asumsi ekonomi. Dan masih perlu
evaluasi..

 

Pemerintah tidak perlu takut rugi karena tidak punya database (lagi2, ini
dalam konteks program obat murah, bukan konteks peningkatan kesehatan
masyarakat), karena itu urusan pengusaha untuk mencari tahu sendiri, berapa
tingkat produksi yang diperlukan dan bagaimana jalur distribusinya.

 

 

===> Database yang akurat adalah suatu hal yang sangat penting dan mutlak
harus ada. Kalau Depkes tidak memiliki database yang akurat maka semua
program yang diluncurkan adalah program bualan belaka. Bagaimana kita
melakukan evaluasi kalau kita tidak memiliki data base. Bagaimana kita mau
mengatakan program ini berjalan dengan baik atau macet kalau kita tidak
memiliki dababase.

Dua tahun yang lalu saya pernah melakukan penelitian mengenai angka
spondylitis TBC di Indonesia. Karena saya menemukan penderita spondylitis
TBC ini cukup tinggi di Jakarta. Saya mencoba mencari ke Depkes, dan
beberapa sumber yang saya anggap punya ternyata tidak ada yang punya.
Akhirnya saya menggunakan rujukan dari negara lain yang sudah memiliki data
itu. Bisa dibayangkan kalau saya menggunakan angka orang lain (data orang
lain) dalam mengevaluasi suatu fenomena di negeri ini.

Kalau kita mengandalkan pengusaha.... saya sangat pesimis dan skeptis......

 

Usul saya sebagai praktisi terhadap program obat serba rp 1000 ini adalah

1. kaji ulang dan buat database kesehatan dan kesakitan masyarakat Indonesia
yang akurat 

2. program obat serba rp 1000 sebaiknya di tunda saja

3. Optimalkan RSUP, RSUD sampai kepada puskesmas di daerah.

4. Dorong farmasi dan pengusaha alkes untuk memperkecil pengambilan
untungnya (ngambil untung yang wajar)

5. Berikan kesempatan kepada praktisi kedokteran melakukan upaya deteksi
penyakit sampai kepada peralatan canggih 

6. Berikan kesempatan kepada praktisi kedokteran melakukan upaya pengobatan
sampai pada pelayanan dengan capaian yang paling baik yang dapat dilakukan
di Indonesia.

7. Dorong masyarakat untuk mau menggunakan pelayanan kesehatan SITKMI

 

Demikian. Banyak maaf. Segala kesalahan datang dari saya dan saya bersedia
untuk diperbaiki dan memperbaiki. Kebenaran datangnya dari Allah SWT

 

Rahyussalim


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.6.8/800 - Release Date: 5/11/2007
7:34 PM
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke