Ass.
Menurut saya, teman yang menganalisa suku jawa dan
sunda itu terlalu terburu-buru dan tendensius.
Ada beberapa falsafah Jawa yang menurut saya tidak
dimiliki oleh suku seperti :
"Aji Ning Raga Ing Busana, Aji Ning Diri Marga Saka
Obhahing Lati" artinya kurang lebih begini, kebaikan
jasmani itu terletak pada penampilan (busana),
kebaikan diri, tergantung pada mulut (yang terucap).
Dengan adanya falsafah tersebut menunjukan bahwa teman
kita itu telah melanggar falsafah ini serta
bermain-main dengan asumsi juga cenderung menyesatkan.
Lebih daripada itu, bahwa budaya apapun di Negeri ini
harus dihormati sebagai sebuah khasanah, bukan sebagai
siasat untuk saling mencemooh.

Wass.
Eddy Piliang


--- Khairul Yanis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kutipan dari milis sebelah tentang mentalitas suku
> tetangga kita.
> 
> Bagaimanakah dengan suku minangkabau?
> 
> Salam,
> KY
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> From: said sungkar <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 27-May-2007 12:36
> Subject: [IYE!] Mentalitas Jawa dan Sunda
> To: [EMAIL PROTECTED]
> 
>    Oleh : Zaim Uchrowi
> 
>  ''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman.
> ''Kenapa?'' tanya saya.
> ''Sebab, lebih dari 70 persen penduduknya adalah
> Jawa dan Sunda,'' jawabnya.
> Saya ternganga, sampai ia menjelaskan lebih lanjut.
> 
> Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda
> bukan mentalitas orang
> yang siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang
> banyak dipakai
> orang-orang dari kedua suku ini. Orang-orang Jawa
> disebutnya sering menyebut
> kata ''*nek*'' atau ''*gek*'', yang berarti
> ''kalau'' sebagai sebuah
> pengandaian tentang sesuatu yang mungkin terjadi di
> masa depan. Orang Jawa
> sering mengucap ''*nek ngono mengko piye* ...'',
> ''*nek ngene mengko
> piye*...'' yang berarti ''kalau begitu nanti
> bagaimana...'', ''kalau
> begini nanti
> bagaimana....''
> 
> Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh
> kemungkinan di masa depan
> telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal
> tersebut baik. Banyak
> persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut
> akibat yang mungkin
> terjadi. Dengan demikian, jika akibat itu benar
> terjadi, mereka telah siap
> untuk menghadapinya.
> 
> Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang
> dipikirkan di masa depan
> sering membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak
> punya rumah yang tak
> kunjung punya rumah karena takut memikirkan
> kemungkinannya di masa depan.
> Bagaimana kalau gentingnya bocor, bagaimana kalau
> ada pencuri, apalagi kalau
> rumah itu habis terbakar. Begitu banyak kemungkinan
> yang dipikirkan hingga
> orang itu tak berani melangkah untuk punya rumah.
> 
> Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari.
> Sebagian besar orang Jawa
> pasrah pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak
> akan berusaha keras
> mengejar sesuatu karena kalau gagal akan terasa
> sangat menyakitkan. Mereka
> tidak siap gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata
> orang Jawa kalah bila
> dibanding etnis lainnya. Misalnya dengan rata-rata
> pencapaian orang Batak,
> apalagi dengan keturunan Tionghoa.
> 
> Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat
> khawatir keliru. Itu membuat
> komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak
> pandai mengekspresikan
> perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan
> tidak. ''Bagaimana nanti
> kalau orangnya tersinggung.'' Kalimat demikian
> banyak diucapkan. Orang Jawa
> menuntut orang lain paham bahasa isyarat. Kalau
> terpaksa harus mengomentari
> orang lain, paling dengan cara menyindir. ''Jadi,
> bagaimana orang Jawa bisa
> maju?''
> 
> Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir
> panjang. Istilah yang
> banyak dikatakan adalah, ''*kumaha engke ...*'' yang
> berarti ''bagaimana
> nanti ....'' Jalani dan nikmati hidup seadanya
> seperti air mengalir yang
> akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu
> diatur-atur. Ingin sekolah ya
> sekolah, ingin main ya main, ingin kerja ya cari
> kerja kalau dapat. Kalau
> tidak dapat ya sudah, ''*can nasib*'' atau ''belum
> nasibnya''.
> 
> Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya.
> Uang habis tidak apa-apa.
> Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara.
> Tidak berhasil tidak
> apa-apa. ''*Can nasib*.'' Ingin kawin, ya kawin saja
> biar pun pekerjaan
> belum mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin
> lagi, ya kawin lagi
> saja. Kan boleh dalam agama. Anak banyak,
> bermunculan saban dua tahun, tidak
> apa-apa. Tak perlu ada kesiapan buat merencanakan
> masa depannya. ''*Kumaha
> Gusti wae ....*'' Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi,
> bagaimana orang Sunda bisa
> maju?''
> 
> Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang
> sangat besar tak kunjung
> berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten
> dan Betawi sebagai
> kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar
> biasa. Anehnya, kita
> menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang
> malah menganggapnya
> sebagai sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan
> agama. Padahal, ''pasrah
> pada nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada
> Allah''.
> 
> Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan
> hidup sebaik-baiknya,
> bekerja keras untuk mewujudkan perencanaan itu,
> serta selalu optimistis
> terhadap hasil yang akan diberikan Tuhan pada kita.
> *Reshuffle* kabinet
> boleh-boleh saja. Tapi, bila sungguh-sungguh ingin
> membuat bangsa ini dan
> bangkit sesuai semangat Hari Kebangkitan Nasional,
> rombak dulu mentalitas
> bangsa ini secara revolusioner. Untuk itu perlu
> revolusi mentalitas orang
> Jawa dan Sunda sebagai mayoritas penduduk bangsa
> ini.
> 
>  __._,_.___
> 
>
> 
> 


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke