Saya ingin bercerita sedikit, ketika manajer kampanye salah seorang cagub DKI 
dalam suatu suasana santai  menanyakan kepada saya tentang akan majunya 
beberapa cawagub asli Minangkabau. Dia menyoroti dua cawagub asal militer yang 
sama sama mengklaim didukung komunitas Minang di jakarta. Dia terheran heran 
kalau memang merasa mewakili masyarakat minang kenapa tidak salah satunya 
mundur dan membiarkan yang lain maju ini malah saling mengklaim dukungan yang 
tidak sehat padahal belum tentu kepilih. Saya hanya bisa nyengir dan memberikan 
jawaban yang saya tahu pasti tidak cukup memuaskan beliau.


  Ingin rasanya saya terus terang saja mengatakan bahwa organisasi yang 
dibawa-bawa oleh cawagub tersebut bukanlah reperesentatif masyarakat Minang 
jakarta sungguhan alias organisasi karbitan. Namun tidak jadi saya katakan 
karena hanya akan memperburuk stigma negatif orang minang dibenak orang lain.
  Saya pikir salah satu sumber ketidakberesan negeri ini adalah perilaku elite. 
 Mayoritas elite yang muncul saat ini berasal dari kelas menengah. Dalam buku 
"Kelas Menengah Digugat" (1993) terdapat tiga embrio kelas menengah baru 
Indonesia. Pertama, mereka yang menjadi kelas menengah baru karena keturunan. 
Ukurannya, mungkin warisan keluarga. Kedua, kelas menengah yang muncul karena 
hasil kolusi dengan birokrasi, yaitu mereka yang dekat dengan kekuasan. Ketiga, 
mereka yang menjadi kelas menengah karena tingkat pendidikan yang mereka 
tempuh. Sebagian dari kelas menengah ini, di kemudian hari menjadi bagian dari 
kelas elite. Merekalah yang mendapat semacam kewenangan untuk mengatur 
kehidupan kelas rendahan, yang memang mayoritas di Indonesia, baik karena 
terjun ke politik, atau karena mendekat ke elite politik.


  Elite-elit inilah yang kemudian ketika ada pesta pilkadal bermunculan sebagai 
kekuatan rakyat atau komunitas tertentu kemudian mengumpulkan massa atau 
membuat organisasi etnis tertentu. Dengan entengnya mereka menyatakan diri 
mewakili basis massa yang ribuan bahkan jutaan jumlahnya. Padahal semua orang 
tahu organisasi karbitan macam ini sama  sekali tidak berakar kebawah bahkan 
bagian dari etnis itu sendiri tidak mengetahui keberadaan organisasi tersebut. 
Istilah saya ini merupakan pemerkosaan terhadap identitas etnis oleh elite 
etnis itu sendiri. teknik pengelabuan masyarakat ini adalah perilaku busuk yang 
seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku terpelajar tersebut.


  Saya bukannya anti untuk mengangkat identitas etnis dalam pilkada jakarta 
ini. yang saya anti adalah teknik pengelabuan masyarakat yang terjadi saat ini. 
adalah sah saja kalau sekiranya komunitas Minangkabau secara realitas satu 
suara dan memberkan dukungan ril kepada salah satu kandidat tertentu dengan 
deal deal tertentu misalnya. Namun jangan sampai mengorbakan citra dari 
identitas keminangkabau itu sendiri jadi butuh strategi dan kebijakan yang 
terukur dalam hal ini tidak asal sradak sruduk saja.


  kesimpulannya, perilaku elite Minang ini harus kita kendalikan sehingga 
teknik pengelabuan masyarakat ini tidak terus menerus terulang dan meninggalkan 
noda dalam bangunan peradaban yang susah payah kita bangun .
   
   
   
  
       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke