Sebenarnya gak begitu juga Nal, klo kita cermati pemberian gelar adat kepada pejabat-pejabat yang lagi naik daun itu diprakarsai justru oleh elit-elit perantau. Pemberian gelar kepada Sultan Hamengkubuwono X silam misalnya, saya tahu persis diprakarsai oleh elit-elit perantau jogja yang dikomandani oleh ketua perkumpulan masyarakat Minang Jogja. Dan saya yakin pemberian gelar kepada Sutiyoso dan Sby juga di prakarsai oleh elit-elit perantau yang ada di jakarta ini. Motifnya tentu kita sama sama tahu tidak jauh dari bisnis, kekuasaan dan motif cari muka lainnya.
Secara logika saja kita agak kurang percaya sekiranya pemberian gelar adat itu diprakarsai oleh ninik mamak yang ada di Minang. Bagaimana mungkin ide itu sempat terpikir oleh mereka. Dan apa untungnya buat mereka ? saya cenderung menempatkan mereka sebagai pihak yang dibodoh2i justru oleh perantau yang pintar pintar. Dengan dalih memberikan gelar kehormatan yang memang ada di dalam adat Minang serta sehelai kain sarung bugis dan harapan bertemu pejabat penting bahkan presiden, ninik mamak itu langsung mengiyakan saja akal bulus elit2 perantau tersebut. Saya kok cenderung menempatkan masyarakat ranah itu sebagai korban dari arus peradaban yang sedemikian deras sehingga sendi budaya tercerabut dari akarnya. Kita yang perantau ini selalu berfikir masyarakat Minang antara lain penghulu atau ninik mamak itu bodoh dan tidak mau menerima perubahan. Mereka tidak mau menerima saran, kritikan maupun pemikiran perantau yang bagus2itu. Satu hal yang perlu kita sadari dan pahami bahwa mereka tidak bodoh tapi memang tidak sepintar kita yang dirantau ini. pendidikan masyarakat termasuk ninik mamak itu sekarang tak lebih dari tamat SMA bahkan hanya tamat SD. Sedang generasi yang beruntung mendapatkan pendidikan hingga jenjang sarjana lebih memilih mencari hidup dirantau. Jadi emmang ada jurang kesenjangan intelektual yang sangat dalam antara perantau dengan masyarakat di ranah. Meskipun begitu kita yang beruntung menjadi terdidik ini tidak bisa semena -mena menyalahkan mereka karena mereka toh korban dari mahalnya biaya pendidikan , kesehatan sehingga mereka tidak mendapat akses pendidikan yang layak. Wajar saja pemikiran kita tidak mampu dicerna oleh mereka. wajar saja kritikan kita tidak mereka terima karena kita menempatkan diri sebagai orang pintar dan mereka bodoh. Kita harus mempelajri psikologi orang minang terlebih dahulu sebelum memberikan pemikiran baru atau katakanlah ingin memberikan perubahan bagi sumatra barat. Sesungguhnya tanpa kita sadari peran perantau cukup besar dalam kemunduran minangkabau. Bisa kita lihat perantau yang terdidik tidak mau pulang kampung membangun nagarinya. Justru pulang kampung hanya untuk pamer kekayaan atau pangkat yang didapat di rantau. Ironisnya perantau berbondong-bondong pulang kampung untuk mengambil gelar adat persukuan mereka. padahal mereka tidak tinggal di kampung melainkan mewakilkan tugas mereka kepada "panungkek". Betapa egoisnya gelar kehormatan mereka ambil dan tugasnya ditinggalkan kepada kemenakan yang jangan sekolah buat mencari makan saja susah. Sebagai aktivis Gebu Minang loe tentu paham nal bagaimana organisasi Minang yang besar tersebut selalu terjebak kedalam kepentingan sesaat (baca ; sesat)pengurusnya. Lihat pilgub Sumbar kemaren betapa GM gencar sekali mengadakan pertemuan dengan calon gubernur (mgk seorang calon saja yg tidak ikut2an). Lihat bagaimana GM tersebut terlibat dukung mendukung calon gubernur alias terjun kepada politik praktis di jakarta ini. Saya ingin menggaris bawahi bahwa tidak selamanya perantau ini mampu menjadi obat bagi kemunduran Minangkabau justru seringkali perantaulah yang menjadi kucing garong, tidak jujur kalau kita menimpakan kesalahan kepada ninik mamak dan masyarakat terhadap kemunduran Minangkabau karena justru mereka adalah korban ketidak merataan pendapatan dan akses pendidikan yang hanya memihak orang berduit. Salam Ben Ronal Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Da bagaimana kalau saat pilkada sumbar beko awak dorong calon da Nof jadi BA 1. Tapi da nof syaratnya begitu jadi BA 1 harus berani buat petisi mengambil kembali gelar adat yang sudah diberikan oleh ninik mamak yang cari muka sama pejabat2 indonesia. Karena emang menurut saya harus ada pemangkasan generasi biar semua masalah sumbar bisa selesai. Sehingga jati diri urang minang tidak digadai kian kemari. Orang jawa aja gelarnya gak diobral2 kita ras yang selalu bangga dengan masa lalu dan kemana2 kumpul selalu nyebut2 bangganya masa lalu gelar adat kayak jualan kaki lima dibagi kesana kemari. Regards ROnal Chandra --------------------------------- Sucker-punch spam with award-winning protection. Try the free Yahoo! Mail Beta. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
