-----Original Message-----
From: Boy Mass'AbeedDeen [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 30 Agustus 2007 23:25
SUDAGAR MINANG, BADAGANG JO "MANGGALEH"
Oleh : Buya H. Mas'oed Abidin
"Badagang" bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap
"identik dengan sebutan yang melekat kepada "Orang Minang".
Bagi orang Minang, "Badagang" adalah suatu kebaikan.
Satu idaman dan bukan suatu celaan.
Di Minangkabau kata‑kata "dagang" menyimpan banyak makna.
Terkandung fasafah hidup yang utuh dan hidup.
Dagang di Minangkabau, tidak hanya berarti "bussiness" (bisnis) tok.
Kata ini bisa mengandung makna "marantau".
Tujuannya pasti "mencari". Bisa dalam arti sem-pit, sekedar mencari bekal
untuk hidup sementara, bisa berarti mencari "kehidupan" dalam arti yang
luas.
Jelas tidak hanya terbatas kebiasaan menyangkut (menggaet) materi semata.
Bussines is only bussiness, kurang melekat di Minangkabau.
Di "Ranah" ini, anak dagang tidak dianggap orang buangan.
Dia dihormati sebagaimana adanya seorang manusia.
Punya hak‑hak tertentu.
Mereka tidak akan dihardik atau dipermalukan.
Dibuatkan "surau" tersendiri, bahkan diberi nama "surau dagang".
Penilaian orang Minang terhadap orang dagang, tidak terbatas kepada "negeri
asal" si anak da-gang, tetapi kepada "kebaikan perilakunya di ranah ini,
serta hasil karya‑karyanya yang diterima sebagai "menantu" atau bahkan
dipercayakan memikul tugas‑tugas didalam "negeri".
Duduak samo‑randah, tagak samo tinggi.
Penilaian "orang Minang" ini, karena suka "badagang".
Badagang, juga berarti "berdagang" dalam arti yang sering dipakai di tangah
balai", "manggaleh".
Bajua-bali, tukar‑menukar, badagang, babelok, bertoko, bakadai,
baniago, basudagar, dengan seluruh transaksi sehat, mencakup
"rugi‑laba".
"MANGGALEH", suatu kosa‑kata jarang tersua dalam penggunaan bahasa
lain di Nusantara. Tersua dalam penggunaan istilah orang‑Minang.
Merupakan kata‑kata yang "khas". Dari mana asalnya, kapan mulai
penggunaannya, apa‑apa saja yang terkandung dalam pesan kata ini,
belum sempa diselidiki secara tuntas. Mungkin suatu ketika perlu dibahas,
tentang "aspek manggaleh bagi orang Minang".
Manggaleh di dalam paham orang Minang, adalah memeli-hara sebuah amanah.
Mungkin, asal katanya dari "galeh" atau gelas", yang diyakini sebagai satu
produk "pecah‑belah".
Sebagai mana lazimnya, sebuah produk pecah‑belah, sudah pasti "mau
pecah" dan "bisa belah". Lebih jauh bisa berserakan, sudah hancur
berantakan, maka tidak mungkin dipertautkan lagi.
Karena itu, memegang gelas (manggaleh) perlu ada kiat, yakni
"hati‑hati" dan "selalu pandai memelihara".
Maklumlah yang dibawa adalah "barang yang mudah pecah, mudah pula hancur",
perlu sekali "ketelitian".
Kepada "Orang Minang" yang akan memulai "badagang", dalam arti yang luas,
dipesankan sebuah petuah dari orang tua‑tua "HIYU BALI, BALANAK BALI,
IKAN PANJAG BALI DAHULU, (dihulu)", yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah
pesan (falsafah hidup), "IBU CARI, DUNSANAK CARI, INDUAK SAMANG CARI
DAHULU".
Terkandung sebuah kaedah merantau bagi setiap putra Minang. Kalau di kampung
halaman ditinggalkan ibu, maka di tanah perantauan ibupun harus dicari.
Pelaja-rannya ialah, pandai menghormati "orang‑tua" di mana saja.
Selanjutnya "dunsanak" dengan pengertian "teman sejawat", teman sama besar
"sepergaulan", bahkan "sesama tempat tugas", harus dianggap sebagai saudara
sendiri".
Makanya, telah menjadi kenyataan selama diperantauan itu, orang itu, orang
Minang sering berkata "urang lain (terasa akrab) Labiah dari dunsanak
(dikampung sendiri)". Kemudian yang berikut, diperlukan "induak samang" yang
erat kaitan-nya dalam istilah Bussiness‑man, ialah
"teman‑berusaha".
Selama pesan‑pesan ini kita anggap sebagai falsafah "badagang" bagi
orang Minang, maka terlihat bahwa orang Minang tidak berdagang dengan
membawa "modal fasilitas" atau "kartebeletje".
Urang Minang indak manjadi sudagar, dengan terlebih dulu "menggadai"
dan "menjual" harta pusaka, sebagai "modal akumulasi". Sama sekali tidak
tersua hal seperti ini. Setidak‑tidaknya semasa‑doeloe.
Orang Minang dalam "badagang" dengan arti "manggaleh", memulai dari yang
kecil menuju besar. Bukan dari besar, dengan manggulung dan melahap sesama
besar.
Almarhum AA.NAVIS (Singga-lang, No. 6187 Tahun XXIII, Sabtu 3 Agustus 1991/
22 Muharram 1412, sebagai pengungkapan "moral bisnis", dalam wawancara
eksklusif, bahwa "Orang Minang Tak Pandai Bisnis Besar".
Benarkah itu ?. Tidak selamanya. Walau ketika itu, AA. Navis berkata "URANG
MINANG ITU PAIBO".
Namun, orang Minang pandai manggaleh, pandai badagang, atau menjaga
keseimbangan, pandai baniago, yaitu tahu kondisi pasar, pandai pulo
bajua-balim artinya yang di jualnya yang bisa dibeli lagi, pandai pulo
bakadai, pandai berpromosi, dan juga pandai babelok, man - jojo - kan barang
dagangannya, malah sampai ke manca negara.
Caranya, ialah "SENTENG BABILAI, SINGKEK BA‑ULEH, BATUKA
BA‑ANJAK, BARUBAH BASAPO".
Prinsipnya, sama‑sama bekerja mencapai tujuan, bekerja sma mengangkat
beban, saling mau perbaikan jika terlihat satu kesilapan.
Kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih "esensial" (mendasar) kata
orang kini. "ANGGANG JO KEKEK CARI MAKAN, TABANG KA‑PANTAI
KADUO‑NYO, PANJANG JO SINGKEK PA‑ULEH‑KAN, MAKO‑NYO
SAMPAI NAN DICITO".
Semua potensi yang ada, dalam hidup (badagang) digali dan dipertemukan,
untuk mencapai suatu "kesuksesan" tanpa harus mengorbankan rasa
persaudaraan, bahkan selalu menghargai "existensi"
sebagaimana adanya.
Karena itu, orang Minang" masih mema-kai kaedah‑kaedah pergaulan yang
nyaman, seperti "ADAIK HIDUIK TOLONG MANOLONG, ADAIK MATI JANGUAK
MANJANGUAK, ADAIK LAI BARI MAMBARI, ADAIK TIDAK SALING MANYALANG
(BA‑SELANG‑TENGGANG)".
Dan bagaimanapun kemelut yang terjadi, "sikap‑paibo" itu, masih
tercermin dalam peri‑kehidupan bermasyarakat luas ("PAWAG BIDUAK NAK
RANG TIKU? PANDAI MANDAYUANG MANALUNGKUIK, BASILANG KAYU DALAM TUNGKU
DISINAN API MANGKO KA‑IDUIK", karenanya masyarakat Minang secara umum
dengan kaedah/falsafah ini, hanya mengenal "kompetisi"
(perlombaan rensi", maju sendiri dengan menjatuhkan semua seteru (apa itu
kawan bahkan lawan).
Dikunci dengan satu perhatian : INGEK SABALUN KANAI, KALIMEK SABALUN ABIH,
INGEK‑INGEK NAN KA‑PAI, AGAK‑AGAK NAN KATINGGA !!! Jeli
dan jelimet dengan perhitungan matang tentang manfaat sebuah tindakan, bagi
yang badagang (manggaleh) maupun korong kampung yang ditinggalkan.
Teranglah sudah, disini kita menemui suatu "mental‑climate", suatu
iklim (suasana) sikap jiwa yang indah, subur dan bersih. Manusia Minang
tidak hanya berpandangan sebagai "homo‑ekonomicus" semata dengan
mengabaikan "nilai‑nilai budaya" yang diwarisinya. Bahkan tidak
eco-nomics‑animals.
Namun, tidaklah pula bearti, bahwa "orang Minang" tertutup untuk menerima
semua sistem yang dari luar, selama sistem itu baik, berguna dan menunjang
pencapaian suatu keberhasilan, selama dapat dikaitkan kepada "pantas" dan
"patut".
Sudagar Minang "badagang" dengan sebuah kompas yang terarah.
"DIMA BUMI DI‑PIJAK, DI‑SINAN LANGIK DI‑JUNJUNG", artinya
penyesuaian, situasional dan kondi-sional.
Karena ini, mereka maju dan berkiprah disegala bidang. Sebuah
mental‑climate yang benar‑benar indah, sesuai dengan "agama" dan
adatnya. Syara' mamutuih, adat mangato.
Badagang jo Manggaleh, bagi putra Minangkabau sejak dahulu, dimulai dengan
apa yang ada. Yang ada itu, ialah "alam" (alam takambang jadi guru), dan
potensi‑manusiawi. Secara awal ditanamkan "percaya diri"
untuk melaksanakan idea "self‑help", kata para ekonomi dewasa ini.
Mencukupkan dari apa yang ada, "tulang delapan karat"
dan "moralitas" dengan panduan "Agama" serta "Adat". Adat dan Agama berjalin
berkelindan membentuk watak yang produktif , menuju "self‑help"
(menolong diri sendiri).
Kemudian meningkat kepada "mutual‑help", berkiprah saling membantu
orang keliling. TA'AA WANUU'ALAL BIRRI (bantu‑membantu, ta'awun
mutual‑help) dalam pembagian pekerjaan (albirri/kebaikan). Membentuk
suatu division of labour menurut keahlian masing‑masing, jelas ini
akan berdampak percepatan mutu yang dihasilkan.
Kemudian akan menuju "take‑off" dengan serba keberhasilan.
Kerjasama yang terjalin rapi, dengan memfungsikan potensi yang riil, sungguh
merupakan "kiat" keberhasilan manajemen.
TUKANG NAN TIDAK MAMBUANG KAYU, NAN BUNGKUAK KA‑SINGKA BAJAK, NAN
LURUIH KA‑TANGKAI SAPU, SA‑TAMPOK KA‑PAPAN TUAI, NAN KETEK
PA‑PASAK SUNTIANG".
Konklusinya, tidak ada yang terbuang, semua dapat dimanfaatkan sesuai
kematangan dan kemampuan masing‑masing, akan mengangkat "orang Minang"
nan‑badagang dari self‑help kepada mutual‑help itu.
Manajemen seperti ini, terlihat nyata dalam usaha "lapau nasi" yang sangat
digandrungi oleh pedagang Minang.
Sejak dari "dapur", hingga ke lemari pajangan, sampai "kemeja hidangan" yang
terakhir "penerimaan uang" (banking/accounting).
Seluruhnya berjalan secara otomatis, teratur, sama‑sama bekerja (sama
mempunyai kewajiban), dan dengan kerjasama itu, akhirnya kelak berhak
mendapatkan pembagian, sesuai dengan modalnya masing‑masing (tenaga,
waktu dan uang).
Tanpa exploitasi, tapi mutual‑help dalam arti hakiki. Bentuk inilah
yang secara akademis, kelak berkembang , dan dikembangkan menjadi satu
bentuk "kopera-si", dan sejarah Indonesia mencatat, mungkin bukan secara
kebetulan, kalau Bapak Koperasi Indonesia adalah putra Minangkabau, MOHAMMAD
HATTA (allahuyarham).
Kiat mutual‑help, sesuai sekali dengan bentuk ideal perekonomian
menentang kapitalis (materi untuk materi), yang jelas dinegara kita ini
sikap menumpuk modal hanya pada satu tangan dan untuk kemakmuran pihak
konglomerat saja, pasti tidak akan diterima keberadaannya.
Ada dua "pemeo" yang paling menyakitkan hati orang Minang, yaitu kalau dia
dituduh badagang‑cino". Sebuah usaha tanpa memperhatikan
kaedah‑kaedah, terbenam dalam usaha mencari hidup dan berebut hidup,
dan tidak ada kampung tempat pulang. Terbenam diperantauan, tidak ingat lagi
anak kemenakan, tidak pernah berbuat baik ke‑korong kampung, tidak
pula mau tahu dengan lingkungan.
Untuk mengantisipasi pemeo ini, dipesankan melalui petuah "HUJAN AMEH DI
NAGARI URANG, HUJAN BATU DI NAGARI AWAK, KAMPUANG HALAMAN DIKANA JUO".
Karena itu, materi hasil "badagang" tidaklah untuk kesejahteraan sendiri,
pemilik modal, tetapi harus dinik-mati juga oleh "orang kampung" nan jauah
di mato.
Pemeo kedua, yang menyakitkan itu, ialah "di‑pagaleh‑kan urang".
Yakni kehilangan jati‑diri, yang bisa beraki-bat lebih fatal terhadap
orang Minang itu sendiri (nan‑di‑pagalehkan urang), bisa berbuat
"menjual kampung halaman" untuk kepentingan orang lain
(penjajah/kolonial) dimasa itu.
Jelaslah sudah, bahwa "badagang" jo "manggaleh" bagi orang Minang, punya
falsafah mendalam, dan berurat berakar baginya dalam memilih secara teliti
penerapan kiat manaje-men yang tengah berkembang.
Karena akhir dari keberhasilan seseorang yang "badagang"
atau "manggaleh" adalah "selfess help", yaitu kesediaannya membantu orang
lain (kampung halaman dan karib kerabat) dengan cara ikhlas
(ihsan) tanpa memerlukan balasan apa‑apa.
Sebagai kata orang "INDAK BA‑UDANG DIBALIK BATU", itulah selfess help,
menu-rut istilabh orang berilmu.
Sesuai dengan Firman Allah, "WA AHSIN KAMAA AHSANAL-LAHU ILAIKA WALAA TABHIL
FASAA DA FIL ARDHI", artinya "Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk)
sebagaimana Allah (yang menciptakan manusia) telah memberikan segala bentuk
kebaikan kepada kamu, (yakni berbuat selfless‑help, membantu tanpa
mengharapkan balasan). Dan Ingatlah, jangan sekali‑kali kamu menjadi
penabur bencana dipermukaan bumi; (Q.S. XXVIII Al‑Qashash, ayat 77).
Urang Minang masakini mesti mampu mengulang sejarah. Mengelola Bisnis Besar,
seperti masa lalu.
Kenyataannya, tidaklah mustahil, kalau ada kemauan dan punya kesempatan.
"MAMUTIAH CANDO RIAK DANAU, TAMPAK NAN DARI MUKO‑MUKO,
BATAHUN‑TAHUN DIDALAM LUNAO, NAMUN NAN INTAN BACAYO JUO".
Alhamdulillah, orang Minang sampai kini, masih memi-liki "piala" yang belum
berpindah ke tangan orang lain, yaitu orang Minang masih "pandai hidup",
"ALAH BAKARIH SAMPORONO, BINGKISAN RAJO MAJO‑PAIK, TUAH BASARAB
BAKARA-NO, DEK PANDAI BATENGGANG DI NAN RUMIK".
Kuncinya, pertajamlah observasi, tingkat-kan daya‑fikir, dinamiskan
daya‑gerak, perhalus raso pareso, perkembang daya‑cipta, dan
bangkitlah kembali kemauan.
Insya Allah, "Innallaha ma'ana", Allah akan selalu menyertai kita.
Amin.
Wassalam, Buya H. Mas'oed Abidin
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---