Assalamu'alaykum Warahmatullaahi Wabarokaatuhu

sato sakaki ..
IMHO, sarancaknyo memang indak usah ditanggapi. Apolai cuma sebuah 
petisi, di internet pulak Kalau ditanggapi malah akan membuat yang 
memuat hal iko pertamo kali diinternet jadi ngelunjak dan bagadang hati. 
Umpannyo tamakan dek kito-kito....
Apolai seorang sekaliber Ayah Saaf, nanti sabana sanang hati urang batak 
tu..Gadang kapalonyo beko.

Kecuali kalau memang di forum resmi dan ilmiah, rasonyo memang indak 
salah kalau ado nan mengcounter dengan data-data ilmiah pulo. Idem Uda 
Arnold, kito indak tahu apo hidden agenda nan diosong paja tu.

Satantang Buya Imam Bonjol dan kawan-kawan beliau (semoga Allah Ta'ala 
membalas perjuangan beliau2 dengan surga), meminjam kato2 sanak Benni, 
kalaulah indak dek perjuangan beliau-beliau tu, mungkin sadang mangadu 
ayam pulo kami kini di galanggang .....:)

Mungkin anologi dari carito dibawah dapek kito ambiak manfaatnyo 
...(setalah mambacoko, ambo jadi paham manga ulama-ulama kito nan agak 
luruih indak terlalu menanggapi bana urang-urang nan mabaok ide-ide 
sekularisme dan liberalisme ka Indonesia - Ulil jo kawan2nyo, kalau 
ditanggapi bana bagadang hati inyo beko, padahal ide2nyo itu malah indak 
down to earth, manyalasaikan masalah ummat di tingkat grass root)

http://perisaidakwah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=30 
<http://perisaidakwah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=30>

Sepenggal Kenangan Bersama Ustadz. Hasan Al banna Dalam Mensikapi Pengkritik

Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang 
Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis 
oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan 
nilai-nilai Islam.

Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup 
auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan 
telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di 
tengah masyarakat Mesir.

 

Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan 
dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka 
mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel 
bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.

"Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?" tanya Mahmoud pada Sang Imam yang 
tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.

"Akhi..." Sang Imam menatap Mahmoud. "Artikelmu ini sangat bagus dan 
penuh argumentasi yang jitu. Tapi..."

"Tapi apa ya, Ustadz?" tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh 
itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangannya.

"Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia 
jadi dimuat," ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud.

"Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk 
hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu 
sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara 
keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius."

Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum 
paham maksud gurunya itu.

"Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan 
timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos artikel 
tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. 
Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca 
dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian 
masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan 
mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu 
kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya," 
tutur Sang Imam pelan. Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan 
itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

"Akhi, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN MEMANCING 
SIKAP KERAS KEPADA BAGI YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa 
ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA 
KESALAHANNYA. Ketahuilah, Akhi, si Fulan itu telah terpengaruh oleh 
sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, 
TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG 
MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN DENGAN CARA 
MENGHALALKAN SEGALA CARA."

Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih 
menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.

"Akhi, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat 
bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah 
menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN 
PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA 
JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru 
kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak 
ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang 
dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi?" 
Sang Imam menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin 
disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok 
yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara 
jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya 
yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, 
nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah 
dianugerahi bu'dunnazar (pandangan yang jauh ke depan), sesuatu yang 
jarang dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil 
tersenyum. "Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda."

Sang Imam pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam 
pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di 
tangannya saat itu.

***

Epilog

Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun 
berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. 
Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian 
yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di 
kancah dakwah.

Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah 
berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara 
mengurung jasadnya selama pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Ia telah 
mempersembahkan kepada ummat, tafsir Al-Quran  yang sangat luar biasa Fi 
Zilalil Quran, yang ia tulis selama di dalam penjara. Ia telah menjadi 
orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan 
menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan pada 
tanggal 29 Agustus 1966.

Dialah... Sayyid Quthb rahimahullah !

 


 




Arnoldison wrote:

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke