Waalaikumsalam wr.wb. Rumit juga kelihatannya, dan mungkin ini satu dari sangat sedikut PNS yang sekolah di LN mengalami kerumitan seperti ini. Alhamdulillah, semuanya memang telah selesai. Cuma, kalau boleh komentar (mungkin boleh ya, karena ini di milist), menurut saya "kata kunci"nya ada di paragraf ketiga tulisan sanak itu. Waktu melapor ke atasan. Pada dasanya tidak ada orang yang suka "direndahkan". Sanak meng quote Dirjen? Reksinya, kalau jaman dulu mungkin pejabat2 "kecil" ketakutan. Tapi sekarang - pengamatan saya - ini justru "bunuh diri". Apalagi kalau atasan anda itu tahu persis (atau setidaknya dia yakin) bahwa pak Dirjen anda itu tidak akan secara gampang memecat dia, menurunkan pangkatnya dst dst. Kedekatan sanak dengan "orang2 atas" itu -umumnya- merupakan suatu keuntungan kompetitif, asal digunakan secara "wise". Wise maksud saya, kepada siapa, kapan, dan bagaimana cara menungkapkan. Kalau menurut saya sih, sanak "terlalu cepat" menyebut2 Dirjen, mungkin ceritanya akan beda kalau sanak mencari tahu bagaimana peraturan sebenarnya (toh atasan sanak itu mengatakan "seingat saya" ..., artinya - pada waktu itu - omongannya bukan "harga mati"). Wasalam, Riri Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakaatuh Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika anak-anak di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta, karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi Ijazah, kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah selesai pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana, serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni dimulai dari dimana tempat kita bekerja.
Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat aku bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali, karena sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni Ilmu-ilmu hadits. Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku. Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi, kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan, ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa kesaya, dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak berwenang untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, Mintalah dulu secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu, kalau mereka menyetujuinya. Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu berasal dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya. Mereka merasa aneh juga. Akhirnya sesampai di tempat kerja, saya sampaikan hal tersebut. Saya minta surat Pengantar, karena saya mengajukan permohonan secara resmi, pakai surat, maka sayapun meminta balasannya secara tertulis juga, diizinkan ataupun tidak, diizinkan, saya tetap meminta balasan secara tertulis juga. Beliau ngak mau memberikannya, malah menyuruh saya agar pergi ke Padang, tanyakan pada atasan disana. Innaalillaahiwainnaailaihi raajiuun, dasar manusia saya pikir, sewaktu saya sedang dalam perjalanan ke Padang menemui atasan tersebut, rupanya beliau dah menelpon atasan itu agar tidak memberikan saya surat izin apapun. Dan ini saya ketahui tanpa disadarinya, dia mengatakan bahwa atasan yang di Padang menelpon dia sepulang saya dari Padang menuju BKT, agar tidak memberikan surat izin kepada saya. Saya seakan-akan dipermainkan olehnya. Tetapi saya tenang dan sabar saja, minimal saya tau gelagat licik orang pada saya bagaimana. Semenjak kejadian itu, tidak sedikitpun saya mau berterusterang dan mengatakan secara jujur apa dan sedang apa yang saya lakukan, saya banyak diam saja, kalaupun dipancingnya saya keluar, dan cuek saja. Dalam berurusan, memang saya ngak mengenal lelah, saya menelpon beberapa orang yang saya kira cukup berpengaruh di Depag itu, yang saya cukup mengenal mereka, salah satunya adalah Bapak Prof. Dr. Fauzan.MA, mantan kakanwil Sumbar, mantan rektor IAIN Padang, juga mantan Sekjen Depag pusat, juga mantan direktur urusan Timteng, dimana saat ini beliau sebagai guru besar UIN Ciputat. Saya ceritakan semuanya. Akhirnya beliau menelpon atasan saya langsung dari HP pribadinya.Beliau meminta pada atasan saya agar beliau memberikan surat izin Pengantar mengambil S3 ke Mesir, karena S3 justru dicari-cari saat ini, kenapa kita malah menghalanginya.Atasan merasa kaget, dan mengatakan secara tidak jujur: Iyah Pak, bukan ngak diizinkan, tetapi Rahima saja baru mengajukan surat secara tertulis itu kepada saya. Benar-benar gila, padahal dah lama hal ini diketahuinya. Akhirnya Pak Fauzan mengerti akan kebohongan beliau, lantas beliau menelpon saya agar tenang saja, beliau ngak ingin saya diapa-apakan oleh atasan saya karena mengadukan hal ini kepadanya. Beliau berpesan pada saya, kalau ditanya atasan saya, bilang aja, saya ngak tau menahu sama Pak fauzan, beliau tau urusan saya saya ngak tau itu. Jelang berapa hari itu, saya dah mulai pasrah. Saya sampaikan pada suami saya di Kairo, : Bagaimana nih uda, kepala sekolah dan kepala mapendais ngak kasih surat Pengantar itu. Mereka mengatakan, kalau mau tugas belajar harus bea siswa dari Depag.Saya katakan bea siswa untuk S3 ke LN dari Madrasah belum ada Pak selama ini, kalaupun ada untuk PT. Kalau saya minta pada PT, agar saya diberi kesempatan bea siswa itu bagaimana? Apa jawabnya: Ohh..tidak boleh Saya katakan lagi, apa memang pegawai Madrasah ngak boleh mengambil jenjang Pendidikan sampai S3? Apa jawab beliau,: Untuk apa ambil S3 lagi, Kalau mau ambil silahkan aja, ambil cuti diluar tanggungan Negara, gaji kamu tidak jalan, dan kamu belum tentu diterima lagi di instansi ini. Saya benar-benar down ketika itu, pulang dari Padang ke BKT dengan perasaan yang amat sedih dan kecewa, hampir keluar air mata saya diatas mobil travel yang saya tumpangi, namun saya berfikir, kenapa harus mengeluarkan air mata, masih ada Allah. Diatas langit masih ada langit lagi. mereka membuat tipu daya, maka tipu daya Allah lebih baik lagi. Jika Allah memberi, tak ada satu makhlukpun bisa melarangnya, kalau Allah tak ingin memberi rezeki itu, tak ada satu makhlukpun bisa memberinya. Saya yakin sekali akan semua ini. Dan ngak satu jalan ke Roma, asal kita mau berusaha, semua pasti bisa, keputusan terakhir saya pasrahkan pada Allah, itu saja saya pikir, yang penting saya tetap berusaha. Ketika saya mengadukan pada suami saya, beliau menjawab: Sudahlah kalau gitu, Ima ambil cuti diluar tanggungan Negara saja lagi, tapi urus dulu IIIC nya. Saya diam, saya ngak mau berhenti sampai disitu saja. Saya menelpon Pak Quraish Shihab sebagai mantan Menteri Agama, saya ingin tau peraturan sebenarnya. Saya kerumah beliau juga di Jakarta. Jawab beliau, : InsyaAllah akan saya bantu, dan bukan sekedar tugas belajar saja, tetapi dapat bea siswa juga, saya akan bicara hal ini secara langsung pada Menag, tapi lihat waktunya yang pas dulu. Dalam kepegawaian ini ada tiga hal, untuk mereka melanjutkan studynya Pertama. Izin belajar, biasanya bagi mereka yang ambil pendidikan lagi, tetapi di dalam negeri, dan ini harus masuk kerja. Kedua tugas belajar, ini ngak masuk kerja, tapi gaji jalan, semata-mata belajar saja, dan ini belajarnya di LN, ketiga cuti diluar tanggungan Negara, ini gaji ngak jalan sama sekali. Yang akan kita ambil adalah yang tugas belajar itu.InsyaAllah diusahakan, jawab beliau. Sementara menunggu jawaban tersebut, saya ngak mau juga berhenti sampai disitu saja, saya telpon suami akan hal ini. Beliau mulai semangat lagi. Beliau sarankan pada saya, coba aja telpon seseorang yang cukup terpandang di Sumbar itu, mana tau beliau bisa bantu untuk urusan surat Pengantar dari Kanwil Sumbar. Alhamdulillah jalan ini ampuh juga, ketika saya datang ke kakanwil, beliau langsung saja menyuruh bawahannya, kepala kepegawaian untuk memberikan saya surat Pengantar untuk ambil S3 ini. Tetapi dasar ujian lagi, ketika di kepala kepegawaiannya, ada-ada aja alasannya untuk hal ini. Banyak pertanyaannya dengan suara lantang dan kalau saja orang punya sakit jantung bisa meninggal saat itu. Dengan nada kemarahan mengatakan pada saya: Dari mana kamu bisa lulus untuk melanjutkan kuliyah S3 di Al Azhar itu tanpa melalui Depag, kamukan pegawai Negeri? Saya jawab:Melalui suami saya Pak. Dikatakannya lagi: Saya tidak Tanya suami kamu, siapa suami kamu, dimana kerjanya, bukan itu yang saya tanyakan.Saya jawab lagi:Saya juga bukan mengatakan siapa suami saya Pak, tapi tadi Bapak bertanya, darimana saya bisa masuk di Al Azhar, tentu saya jawab secara jujur, via suami Pak? Akhirnya beliau terdiam. Banyak lagi alasannya, :Siapa yang membiayai kamu? Saya jawabBiaya atas dana suami Pak. Nah..ini yang tidak boleh, kata beliau, Biaya harus dari instansi, bukan pribadi. Ok Pak, kalau itu yang menjadi penghalangnya, akan saya cari instansi penyandang dana saya. Disaat menunggu/mencari instansi penyandang dana itu, datang telpon dari suami mengatakan : Ada teman kami dulu yang kuliyah di Al Azhar sedang berada di Mesir, beliau dosen di Yogya, bapak ini punya teman yang cukup berpengaruh di Depag pusat itu, kata suami saya Alhamdulillah, mulai nampak titik terang. Ketika sampai di Jogya, teman dari teman suami saya itu ke Jakarta menemui temannya dan juga Sekjen di Depag. Urusan mulanya repot, sampai beliau menelpon saya: Bu..tolong Bantu dengan doa, saya dengan usaha, dan minta nomor telpon kepala sekolah ibu. Akhirnya saya kasih no HP pak kepala sekolah saya. jakarta langsung menepon kakanwil Sumbar, juga Pak kepala agar mempermudah urusan saya, jangan mempersulit saya.Pak Kakanwil mengatakan, saya dari awal dah mempermudahnya koq, apapun yang dimintanya saat ini, akan saya berikan(kalaupun minta pindah jadi dosen). Akhirnya keesokan harinya saya datang ke Kanwil lagi menemui kepala kepegawaian, tidak ada masalah lagi, urusan dah mulai ringan. Bahkan beliau-beliau semua berbalik 80% baik luar biasa dan manis nya Allahu Rabbi. Kalau dengan kepala kepegawaian, masih bisa saya terima, namun pada Pak kepala, sulit saya melupakan kejahatannya pada saya. Saya bukan hanya sekedar tidak dikasih izin, tetapi dihalanginya usaha saya, dia menelpon siapa saja yang saya hubungi juga, pantasan dia tanya, siapa-siapa saja yang saya hubungi. Saya orang yang polos dan jujur ketika itu menyampaikan saja dengan sejujurnya, pada siapa saja saya berurusan. Tetapi ini rupanya menjadi modal atau makanan empuk baginya untuk menghalangi saya. Setelah kejadian itu, sedikitpun saya tak mau lagi berterus terang dan jujur kepadanya, dan ia merasakan perubahan saya ini, tetapi saya cuek saja, karena selain dihalangi, saya bahkan difitnah. Dikatakan, kelak saya setelah S3 minta pindah tugas kerja saya kekedutaan. Padahal seingat saya dia dulu yang menyarankan hal ini,. Ternyata semua ini hanyalah permainan dan akal licik semata, untuk menjatuhkan dan menghalangi niat baik saya melanjutkan S3 di Al Azhar. Saya benar-benar kecewa dengan sikap licik seorang pejabat di Depag tammatan sekolah Islam ini.Tapi semua saya serahkan saja pada Allah, Allahlah yang membalasi semua kejahatan orang pada saya, saya pikir begitu saja. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur, akan memberikan balasan setimpal atas kejahatan seseorang pada orang lain. Itu saja keyakinan saya.Dan saya yakin firman Allah Taala: Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik, dan memebrikan rezeki pada hambaNya dari jalan yang tidak diduga hamba itu sama sekali. Siapa yang bisa menduga, ada teman suami saya yang datang ke Mesir, dan teman itu punya teman yang mana bertugas di jabatan cukup penting di Depag Jakarta itu. Akhirnya Sengsara benar-benar membawa Nimat. Dengan segala ujian dan kesulitan yang saya hadapi, saya banyak mengambil hikmahnya, juga justru jadi bisa dekat dengan Kakanwil Sumbar, bisa dekat dengan kepala kepegawaian di Sumbar juga kepegawaian di Jakarta, juga beberapa pejabat penting di Jakarta itu, yang justru insyaAllah akan mempermudah urusan apa saja kedepannya kelak. Alhamdulillah, MasyaAllah. Setelah mendapatkan surat pengantar dari kanwil Sumbar, saya berangkat ke Jakarta, langsung kepegawaiannya, dan sebelumnya saya dah menelpon kepegawaian, berkas saya kirimkan via TIKI, sementara yang asli kelak saya bawakan langsung ke Jakarta. Namun beliau meminta juga surat penyandang dana harus dari instansi, bukan pribadi. Saya mulai bingung, ingat Pak Quraish sebagai ketua Ilmu AlQuran, dan beliau bersedia memberikan surat tersebut. Tapi ada perasaan segan dan malu sama beliau, saya masih berusaha berfikir mencari jalan yang termudah. Entah kenapa, otak saya jalan ketika itu, saya ingat di Mesir kan ada organisasi Minang, KMM, juga ada organisasi Mahasiswa yang khusus Bea Siswa. Yang dibutuhkan adalah surat dari organisasi. Akhirnya saya utarakan niat ini sama suami saya. Suami saya bilang, :Apa bisa?, Saya jawab aja:Yah bisalah, kenapa tidak, kan yang diminta adalah organisasi?. Ok, ngak sampai dua hari, surat dah saya terima via email, dan saya scan, saya kirimkan via TIKI ke Jakarta. Alhamdulillah dengan semua syarat-syarat dah terpenuhi, SK dah bisa keluar. Meskipun begitu, anehnya Kepala sekolah masih belum yakin, antara percaya dan tidak dia dengan usaha saya tersebut bisa berhasil, karena sampai detik-detik terakhir, ia masih berusaha menggagalkannya, saya juga heran, secara diam-diam, dia tau semua urusan saya sampai dimana, padahal dia tak pernah tanya kesaya lagi, dan saya dah banyak diam. Saya mengetahui semua usahanya ini dari kepegawaian sendiri, sampai kepegawaian bilang, nampaknya kepala sekolah ibu, sangat sentimen terhadapIbu.Tapi Ibu tenang aja, karena sekarang dia dah merasa malu, Pejabat Jakarta sendiri dah menelponnya, dan KaKanwil saja mempermudah Ibu, walaupun ia berusaha mempengaruhi bawahan-bawahan(petugas-petugas, pegawai-pegawai yang lumayan berpengaruh) di kanwil tersebut, yang namanya keputusan tetap berada ditangan yang diatas. Saking tak inginnya saya mendapat tugas belajar tersebut, tentu ia merasa malu, usahanya gagal, sementara saya yang bawahannya usaha saya berhasil. Sampai-sampai saya seakan-akan sangat dibutuhkan disekolah itu, terbukti saya disuruhnya untuk tugas menjadi pembicara dalam seminar tiga hari untuk membimbing guru-guru se Bkt, dalam perpaduan antara ilmu umum dan agama, yang semuala, setau saya dialah yang mempromosikan dirinya mampu melakukan tugas tersebut, dan saya yang dijadikan tumbal, untuk mengerjakan tugas tersebut, tetapi dia yang menyampaikan di khalayak ramai, dari hasil kerja saya. Saya ngak bodoh, tugas yang diberikannya saya kerjakan, saya berikan ayat-ayat, hadits yang berkaitan dengan hubungan antara semua bidang keilmuan umum dan agama, tetapi hanya kunci-kuncinya saja, sementara isinya ada dikepala saya. Tentu bingung dianya, dimintanya agar saya memberikan keringkasan serta point-point juga isinya secara ringkas saja. Sampai-sampai dia mengejek saya, dengan pernyatannya: Rahima, ada ngak AlQuran digital di lap top kamu, saya jawab, ngak ada Pak, , jawabnya dengan nada merendahkan saya: Aneh, orang Mesir ngak punya AlQuran digital di lap topnya, gimana kalau orang bertanya sama kamu, dengan apa kamu menjawabnya. Saya jawab saja dengan santai: Pak...AlQuran memang ngak ada di komputer saya, tetapi dia adanya dikepala dan hati saya, jadi kalau orang mau bertanya, silahkan bertanya langsung pada saya(terdiam dan malu). Akhirnya, sepertinya pak kepsek benar-benar kehilangan akal menghadapi saya yang tetap tenang menghadapinya, tetapi cukup menghanyutkan itu. Maka langsung petugas Diknas yang meminta saya untuk jadi pembicara inti dalam acara selama tiga hari tersebut. Saya bilang sama Kepsek, kenapa koq acara tiga hari lagi, mendadak diberitahu kesaya, saya jadi pembicara inti, bukankah Bapak yang semula menjadi pembicara intinya, bukan saya, saya ngak siap Pak, silahkan Bapak saja, toh yangmempromosikan diri sanggup awalnya pada pak walikotakan bukan saya, tetapi Bapak. Saya pribadi, ngak mau mempromosikan diri saya dan menyanggupi suatu kerjaan, dimana saya yakin betul, saya bukan bidang itu, dan saya ngak mampu untuk tugas itu. Akhirnya Pak Kepsek bilang, silahkan pikir-pikir dulu, karena SK langsung dikeluarkan oleh Walikota. Saya pikir, meski Presiden sekalipun yang men Sk kan tugas tersebut, kalau saya ngak mampu buat apa? Buat apa kita bergaya, pamer diri dimana kita tak mampu melaksanakannya, lebih baik di tolak aja?, akhirnya dengan kesal, dia bilang : kenapa kamu ngak menolak langsung saat diminta petugas Diknas tadi? Saya jawab: saya dah kejar dia, dia dah menghilang, dan saya sampaikan ini langsung pada Bapak, karena setau saya Bapak dulu tidak bilang kesaya, saya adalah pembicara intinya. Akhirnya dengan kesal, dibilangnya kesaya:terserah kamulah.(yah sudah, terserah saya,saya pikir, saya diam aja), dan keesokan harinya saya ambil cuti saya yang tersisa, saya berangkat ke Jakarta, dan ambil SK tugas belajar tersebut. Alhamdulillah selesai juga. Walau beberapa minggu, setelah semua dah pada tau, saya dah dapat surat dari Kakanwil, mulai sikap Kepsekpada saat itu luar biasa baiknya. Tetapi sayang sekali, bagi saya buat apalah kebaikan semua itu, kalau hanya ada maunya, didepan kita manis, dibelakang kita, kita dihancurkan, buat apa lagi berbaik sama saya, setelah semua urusan saya selesai, kenapa saat saya butuh, saya malah dihina, dicaci maki, diejek, bahkan dihalangi usaha saya, difitnah yang macam-macam. Kalau tidak diizinkan, ngak kasih surat, cukuplah sampai disana saja, tetapi kenapa, sudah tidak diizinkan, bahkan dihalang-halangi, dan difitnah untuk menggagalkan rencana saya tersebut?, Dan kenapa setelah saya berhasil. Sikap berbalik baik 80 %? yah..sudahlah namanya juga manusia saya pikir, semoga ini menjadi pengalaman dan dapat saya petik hikmahnya,bagi saya. Dengan adanya tantangan dari kepsek tersebut, justru baik buat saya pribadi, saya lebih menjadi banyak kenal dengan pejabat-pejabat penting di Depag itu, yang justru mempermudah urusan saya kedepannya. Inilah yang dinamakan : Sengsara membawa Nikmat, karena ini semua atas Do'a, dan usaha serta bantuan moril dari teman-teman suami saya dan berbagai pihak yang sangat banyak sekali berperan membantu saya dalam hal ini, saya berterimakasih untuk mereka semua, dan saya yakin Semua atas Izin Allah juga, karena saya yakin akan firmanNya dan janji-janjiNya.Dan khusus(spesial)terimakasih untuk suamiku yang terus mendukung saya.Saya menjadi orang kuat semacam ini, sebenarnya dari didikannya yang tidak pernah menjadikan saya sebagai istri yang terlalu manja, tetapi menjadikan saya istri yang bisa mandiri, tabah, sabar, tenang, tidak egois dan tidak cepat emosi atau terbawa arus sikap orang lain pada saya. Semoga cerita kepahitan saya dalam berurusan di Indonesia ini, bisa diambil manfaatnya bagi kita semua.Apa yang saya alami sebenarnya, jauh lebih pahit dari apa yang ada didalam cerita ini, dan dalam hal ini, suami saya sendiri tidak saya beritahukan, karena saya tak terbiasa mengadukan segala-gala hal yang pahit, kecuali bila persoalan tersebut telah saya selesaikan dengan baik. Terkadang anak-anak sakit parahpun, uang ngak adapun, saya terbiasa mencoba menyelesaikannya dulu dengan baik, saya tak ingin menyusahkan suami saya yang sudah setumpuk pula pekerjaan dan problemanya dikantor, setelah saya mulai bisa sedikit menyelesaikannya, baru saya ceritakan, dan minta pendapatnya bagaimana jalan keluar yang terbaik, kalau mengenai anak-anak, anak-anak dah mulai sembuh, baru saya ceritakan kemaren anak sakit parah sebenarnya, tetapi sekarang dah baikan, kalau dengan begitu, suami tentu tidak menjadi pikiran sekali. Saya melakukan semua ini, karena ingat cerita sahabiah Rasulullah, anak dan meninggal, suami dikasih makan dulu, dilayani baik-baik, baru keesokannya diceritakan musibah pahit tersebut, dan saya ingin meneladani sifat baik para istri sahabat tersebut semampu saya. Wassalamu'alaikum. Jakarta 15 Nopember 2008. Rahima ____________________________________________________________________________________ Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. http://www.yahoo.com/r/hs --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. === message truncated === --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Jika anda, kirim email kosong ke >>: berhenti >> [EMAIL PROTECTED] Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] digest: >> [EMAIL PROTECTED] terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
