Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh
Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta
anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika anak-anak
di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta,
karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi Ijazah,
kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah selesai
pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana
kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen
Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan
saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat
keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana,
serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni dimulai
dari dimana tempat kita bekerja.

Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat aku
bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai
memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan
pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali, karena
sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu
jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni
Ilmu-ilmu hadits.

Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku.
Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi
setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi,
kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan
pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak
percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan,
ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu
saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja
koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas
katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi
darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa kesaya,
dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta
mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak berwenang
untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat
Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, “Mintalah dulu
secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu,
kalau mereka menyetujuinya”. 

Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu
orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita
mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu berasal
dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah
juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya. Mereka
merasa aneh juga.

Akhirnya sesampai di tempat kerja, saya sampaikan hal
tersebut. Saya minta surat Pengantar, karena saya
mengajukan permohonan secara resmi, pakai surat, maka
sayapun meminta balasannya secara tertulis juga,
diizinkan ataupun tidak, diizinkan, saya tetap meminta
balasan secara tertulis juga. Beliau ngak mau
memberikannya, malah menyuruh saya agar pergi ke
Padang, tanyakan pada atasan disana.

Innaalillaahiwainnaailaihi raaji’uun, dasar manusia 
saya pikir, sewaktu saya sedang dalam perjalanan ke
Padang menemui atasan tersebut, rupanya beliau dah
menelpon atasan itu agar tidak memberikan saya surat
izin apapun. Dan ini saya ketahui tanpa disadarinya,
dia mengatakan bahwa atasan yang di Padang menelpon
dia sepulang saya dari Padang menuju BKT, agar tidak
memberikan surat izin kepada saya. Saya seakan-akan
dipermainkan olehnya. Tetapi saya tenang dan sabar
saja, minimal saya tau gelagat licik orang pada saya
bagaimana.

Semenjak kejadian itu, tidak sedikitpun saya mau
berterusterang dan mengatakan secara jujur apa dan
sedang apa yang saya lakukan, saya banyak diam saja,
kalaupun dipancingnya saya keluar, dan cuek saja.
Dalam berurusan, memang saya ngak mengenal lelah, saya
menelpon beberapa orang yang saya kira cukup
berpengaruh di Depag itu, yang saya cukup mengenal
mereka, salah satunya adalah Bapak Prof. Dr.
Fauzan.MA, mantan kakanwil Sumbar, mantan rektor IAIN
Padang, juga mantan Sekjen Depag pusat, juga mantan
direktur urusan Timteng, dimana saat ini beliau
sebagai guru besar UIN Ciputat. Saya ceritakan
semuanya. Akhirnya beliau menelpon atasan saya
langsung dari HP pribadinya.Beliau meminta pada atasan
saya agar beliau memberikan surat izin Pengantar
mengambil S3 ke Mesir, karena S3 justru dicari-cari
saat ini, kenapa kita malah menghalanginya.”Atasan
merasa kaget, dan mengatakan secara tidak jujur: “
Iyah Pak, bukan ngak diizinkan, tetapi Rahima saja
baru mengajukan surat secara tertulis itu kepada
saya”. Benar-benar gila, padahal dah lama hal ini
diketahuinya.

Akhirnya Pak Fauzan mengerti akan kebohongan beliau,
lantas beliau menelpon saya agar tenang saja, beliau
ngak ingin saya diapa-apakan oleh atasan saya karena
mengadukan hal ini kepadanya. Beliau berpesan pada
saya, kalau ditanya atasan saya, bilang aja, saya ngak
tau menahu sama Pak fauzan, beliau tau urusan saya
saya ngak tau itu.

Jelang berapa hari itu, saya dah mulai pasrah. Saya
sampaikan pada suami saya di Kairo, :” Bagaimana nih
uda, kepala sekolah dan kepala mapendais ngak kasih
surat Pengantar itu. Mereka mengatakan, kalau mau
tugas belajar harus bea siswa dari Depag.Saya katakan
bea siswa untuk S3 ke LN dari Madrasah belum ada Pak
selama ini, kalaupun ada untuk PT. Kalau saya minta
pada PT, agar saya diberi kesempatan bea siswa itu
bagaimana? Apa jawabnya:” Ohh..tidak boleh” Saya
katakan lagi, apa memang pegawai Madrasah ngak boleh
mengambil jenjang Pendidikan sampai S3? Apa jawab
beliau,: “ Untuk apa ambil S3 lagi”, Kalau mau ambil
silahkan aja, ambil cuti diluar tanggungan Negara,
gaji kamu tidak jalan, dan kamu belum tentu diterima
lagi di instansi ini.”

Saya benar-benar down ketika itu, pulang dari Padang
ke BKT dengan perasaan yang amat sedih dan kecewa,
hampir keluar air mata saya diatas mobil travel yang
saya tumpangi, namun saya berfikir, kenapa harus
mengeluarkan air mata, masih ada Allah. Diatas langit
masih ada langit lagi. “mereka membuat tipu daya, maka
tipu daya Allah lebih baik lagi. Jika Allah memberi,
tak ada satu makhlukpun bisa melarangnya, kalau Allah
tak ingin memberi rezeki itu, tak ada satu makhlukpun
bisa memberinya. Saya yakin sekali akan semua ini. Dan
ngak satu jalan ke Roma, asal kita mau berusaha, semua
pasti bisa, keputusan terakhir saya pasrahkan pada
Allah, itu saja saya pikir, yang penting saya tetap
berusaha.

Ketika saya mengadukan pada suami saya, beliau
menjawab:” Sudahlah kalau gitu, Ima ambil cuti diluar
tanggungan Negara saja lagi, tapi urus dulu IIIC nya.”
Saya diam, saya ngak mau berhenti sampai disitu saja.
Saya menelpon Pak Quraish Shihab sebagai mantan
Menteri Agama, saya ingin tau peraturan sebenarnya.
Saya kerumah beliau juga di Jakarta. Jawab beliau, :
“InsyaAllah akan saya bantu, dan bukan sekedar tugas
belajar saja, tetapi dapat bea siswa juga, saya akan
bicara hal ini secara langsung pada Menag, tapi lihat
waktunya yang pas dulu. Dalam kepegawaian ini ada tiga
hal, untuk mereka melanjutkan studynya” Pertama. Izin
belajar, biasanya bagi mereka yang ambil pendidikan
lagi, tetapi di dalam negeri, dan ini harus masuk
kerja. Kedua tugas belajar, ini ngak masuk kerja, tapi
gaji jalan, semata-mata belajar saja, dan ini
belajarnya di LN, ketiga cuti diluar tanggungan
Negara, ini gaji ngak jalan sama sekali. Yang akan
kita ambil adalah yang tugas belajar itu.InsyaAllah
diusahakan, jawab beliau.

Sementara menunggu jawaban tersebut, saya ngak mau
juga berhenti sampai disitu saja, saya telpon suami
akan hal ini. Beliau mulai semangat lagi. Beliau
sarankan pada saya, coba aja telpon seseorang yang
cukup terpandang di Sumbar itu, mana tau beliau bisa
bantu untuk urusan surat Pengantar dari Kanwil Sumbar.
Alhamdulillah jalan ini ampuh juga, ketika saya datang
ke kakanwil, beliau langsung saja menyuruh bawahannya,
kepala kepegawaian untuk memberikan saya surat
Pengantar untuk ambil S3 ini. Tetapi dasar ujian lagi,
ketika di kepala kepegawaiannya, ada-ada aja alasannya
untuk hal ini. Banyak pertanyaannya dengan suara
lantang dan kalau saja orang punya sakit jantung bisa
meninggal saat itu. Dengan nada kemarahan mengatakan
pada saya:” Dari mana kamu bisa lulus untuk
melanjutkan kuliyah S3 di Al Azhar itu tanpa melalui
Depag, kamukan pegawai Negeri?”

Saya jawab:”Melalui suami saya Pak”. Dikatakannya
lagi: “ Saya tidak Tanya suami kamu, siapa suami kamu,
dimana kerjanya, bukan itu yang saya tanyakan”.Saya
jawab lagi:”Saya juga bukan mengatakan siapa suami
saya Pak, tapi tadi Bapak bertanya, darimana saya bisa
masuk di Al Azhar, tentu saya jawab secara jujur, via
suami Pak?” Akhirnya beliau terdiam. Banyak lagi
alasannya, :Siapa yang membiayai kamu?” Saya
jawab”Biaya atas dana suami Pak”. Nah..ini yang tidak
boleh, kata beliau, Biaya harus dari instansi, bukan
pribadi”. Ok Pak, kalau itu yang menjadi
penghalangnya, akan saya cari instansi penyandang dana
saya. 

Disaat menunggu/mencari instansi penyandang dana itu,
datang telpon dari suami mengatakan : “Ada teman kami
dulu yang kuliyah di Al Azhar sedang berada di Mesir,
beliau dosen di Yogya, bapak ini punya teman yang
cukup berpengaruh di Depag pusat itu”, kata suami saya

Alhamdulillah, mulai nampak titik terang. Ketika
sampai di Jogya, teman dari teman suami saya itu ke
Jakarta menemui temannya dan juga Sekjen di Depag.
Urusan mulanya repot, sampai beliau menelpon saya:
“Bu..tolong Bantu dengan do’a, saya dengan usaha, dan
minta nomor telpon kepala sekolah ibu”. Akhirnya saya
kasih no HP pak kepala sekolah saya.
jakarta langsung menepon kakanwil Sumbar, juga Pak
kepala agar mempermudah urusan saya, jangan
mempersulit saya.Pak Kakanwil mengatakan, saya dari
awal dah mempermudahnya koq, apapun yang dimintanya
saat ini, akan saya berikan(kalaupun minta pindah jadi
dosen). Akhirnya keesokan harinya saya datang ke
Kanwil lagi menemui kepala kepegawaian, tidak ada
masalah lagi, urusan dah mulai ringan. Bahkan
beliau-beliau semua berbalik 80% baik luar biasa dan
manis nya Allahu Rabbi. Kalau dengan kepala
kepegawaian, masih bisa saya terima, namun pada Pak
kepala, sulit saya melupakan kejahatannya pada saya.
Saya bukan hanya sekedar tidak dikasih izin, tetapi
dihalanginya usaha saya, dia menelpon siapa saja yang
saya hubungi juga, pantasan dia tanya, siapa-siapa
saja yang saya hubungi. Saya orang yang polos dan
jujur ketika itu menyampaikan saja dengan sejujurnya,
pada siapa saja saya berurusan. Tetapi ini rupanya
menjadi modal atau makanan empuk baginya untuk
menghalangi saya. 

Setelah kejadian itu, sedikitpun saya tak mau lagi
berterus terang dan jujur kepadanya, dan ia merasakan
perubahan saya ini, tetapi saya cuek saja, karena
selain dihalangi, saya bahkan difitnah. Dikatakan,
kelak saya setelah S3 minta pindah tugas kerja saya
kekedutaan. Padahal seingat saya dia dulu yang
menyarankan hal ini,. Ternyata semua ini hanyalah
permainan dan akal licik semata, untuk menjatuhkan dan
menghalangi niat baik saya melanjutkan S3 di Al Azhar.
Saya benar-benar kecewa dengan sikap licik seorang
pejabat di Depag tammatan sekolah Islam ini.Tapi semua
saya serahkan saja pada Allah, Allahlah yang membalasi
semua kejahatan orang pada saya, saya pikir begitu
saja. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur, akan
memberikan balasan setimpal atas kejahatan seseorang
pada orang lain. Itu saja keyakinan saya.Dan saya
yakin firman Allah Ta’ala: “ Barang siapa yang
bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikan jalan
keluar yang terbaik, dan memebrikan rezeki pada
hambaNya dari jalan yang tidak diduga hamba itu sama
sekali.

Siapa yang bisa menduga, ada teman suami saya yang
datang ke Mesir, dan teman itu punya teman yang mana
bertugas di jabatan cukup penting di Depag Jakarta
itu. Akhirnya Sengsara benar-benar membawa Ni’mat.
Dengan segala ujian dan kesulitan yang saya hadapi,
saya banyak mengambil hikmahnya, juga justru jadi bisa
dekat dengan Kakanwil Sumbar, bisa dekat dengan kepala
kepegawaian di Sumbar juga kepegawaian di Jakarta,
juga beberapa pejabat penting di Jakarta itu, yang
justru insyaAllah akan mempermudah urusan apa saja 
kedepannya kelak. Alhamdulillah, MasyaAllah.

Setelah mendapatkan surat pengantar dari kanwil
Sumbar, saya berangkat ke Jakarta, langsung
kepegawaiannya, dan sebelumnya saya dah menelpon
kepegawaian, berkas saya kirimkan via TIKI, sementara
yang asli kelak saya bawakan langsung ke Jakarta.
Namun beliau meminta juga surat penyandang dana harus
dari instansi, bukan pribadi. Saya mulai bingung,
ingat Pak Quraish sebagai ketua Ilmu AlQuran, dan
beliau bersedia memberikan surat tersebut. Tapi ada
perasaan segan dan malu sama beliau, saya masih
berusaha berfikir mencari jalan yang termudah. Entah
kenapa, otak saya jalan ketika itu, saya ingat di
Mesir kan ada organisasi Minang, KMM, juga ada
organisasi Mahasiswa yang khusus Bea Siswa. Yang
dibutuhkan adalah surat dari organisasi. Akhirnya saya
utarakan niat ini sama suami saya. Suami saya bilang,
:”Apa bisa?”, Saya jawab aja:”Yah bisalah, kenapa
tidak, kan yang diminta adalah organisasi?”. Ok, ngak
sampai dua hari, surat dah saya terima via email, dan
saya scan, saya kirimkan via TIKI ke Jakarta.
Alhamdulillah dengan semua syarat-syarat dah
terpenuhi, SK dah bisa keluar.

Meskipun begitu, anehnya Kepala sekolah masih belum
yakin, antara percaya dan tidak dia dengan usaha saya
tersebut bisa berhasil, karena sampai detik-detik
terakhir, ia masih berusaha menggagalkannya, saya juga
heran, secara diam-diam, dia tau semua urusan saya
sampai dimana, padahal dia tak pernah tanya kesaya
lagi, dan saya dah banyak diam. Saya mengetahui semua
usahanya ini dari kepegawaian sendiri, sampai
kepegawaian bilang, nampaknya kepala sekolah ibu,
sangat sentimen terhadapIbu.Tapi Ibu tenang aja,
karena sekarang dia dah merasa malu, Pejabat Jakarta
sendiri dah menelponnya, dan KaKanwil saja mempermudah
Ibu, walaupun ia berusaha mempengaruhi
bawahan-bawahan(petugas-petugas, pegawai-pegawai yang
lumayan berpengaruh) di kanwil tersebut, yang namanya
keputusan tetap berada ditangan yang diatas.

Saking tak inginnya saya mendapat tugas belajar
tersebut, tentu ia merasa malu, usahanya gagal,
sementara saya yang bawahannya usaha saya berhasil.
Sampai-sampai saya seakan-akan sangat dibutuhkan
disekolah itu, terbukti saya disuruhnya untuk tugas
menjadi pembicara dalam seminar tiga hari untuk
membimbing guru-guru se Bkt, dalam perpaduan antara
ilmu umum dan agama, yang semuala, setau saya dialah
yang mempromosikan dirinya mampu melakukan tugas
tersebut, dan saya yang dijadikan tumbal, untuk
mengerjakan tugas tersebut, tetapi dia yang
menyampaikan di khalayak ramai, dari hasil kerja saya.


Saya ngak bodoh, tugas yang diberikannya saya
kerjakan, saya berikan ayat-ayat, hadits yang
berkaitan dengan hubungan antara semua bidang keilmuan
umum dan agama, tetapi hanya kunci-kuncinya saja,
sementara isinya ada dikepala saya. Tentu bingung
dianya, dimintanya agar saya memberikan keringkasan
serta point-point juga isinya secara ringkas saja.
Sampai-sampai dia mengejek saya, dengan pernyatannya:”
Rahima, ada ngak AlQuran digital di lap top kamu, saya
jawab, ngak ada Pak, “, jawabnya dengan nada
merendahkan saya:” Aneh, orang Mesir ngak punya
AlQuran digital di lap topnya, gimana kalau orang
bertanya sama kamu, dengan apa kamu menjawabnya”. Saya
jawab saja dengan santai:” Pak...AlQuran memang ngak
ada di komputer saya, tetapi dia adanya dikepala dan
hati saya, jadi kalau orang mau bertanya, silahkan
bertanya langsung pada saya”(terdiam dan malu).

Akhirnya, sepertinya pak kepsek benar-benar kehilangan
akal menghadapi saya yang tetap tenang menghadapinya,
tetapi cukup menghanyutkan itu. Maka langsung petugas
Diknas yang meminta saya untuk jadi pembicara inti
dalam acara selama tiga hari tersebut. Saya bilang
sama Kepsek, kenapa koq acara tiga hari lagi, mendadak
diberitahu kesaya, saya jadi pembicara inti, bukankah
Bapak yang semula menjadi pembicara intinya, bukan
saya, saya ngak siap Pak, silahkan Bapak saja, toh
yangmempromosikan diri sanggup awalnya pada pak
walikotakan bukan saya, tetapi Bapak. Saya pribadi,
ngak mau mempromosikan diri saya dan menyanggupi suatu
kerjaan, dimana saya yakin betul, saya bukan bidang
itu, dan saya ngak mampu untuk tugas itu.

Akhirnya Pak Kepsek bilang, silahkan pikir-pikir dulu,
karena SK langsung dikeluarkan oleh Walikota”. Saya
pikir, meski Presiden sekalipun yang men Sk kan tugas
tersebut, kalau saya ngak mampu buat apa? Buat apa
kita bergaya, pamer diri dimana kita tak mampu
melaksanakannya, lebih baik di tolak aja?, akhirnya
dengan kesal, dia bilang :” kenapa kamu ngak menolak
langsung saat diminta petugas Diknas tadi? Saya jawab:
“saya dah kejar dia, dia dah menghilang, dan saya
sampaikan ini langsung pada Bapak, karena setau saya
Bapak dulu tidak bilang kesaya, saya adalah pembicara
intinya”. Akhirnya dengan kesal, dibilangnya
kesaya:”terserah kamulah”.(yah sudah, terserah
saya,saya pikir, saya diam aja), dan keesokan harinya
saya ambil cuti saya yang tersisa, saya berangkat ke
Jakarta, dan ambil SK tugas belajar tersebut.
Alhamdulillah selesai juga. Walau beberapa minggu,
setelah semua dah pada tau, saya dah dapat surat dari
Kakanwil, mulai sikap Kepsekpada saat itu luar biasa
baiknya. 

Tetapi sayang sekali, bagi saya buat apalah kebaikan
semua itu, kalau hanya ada maunya, didepan kita manis,
dibelakang kita, kita dihancurkan, buat apa lagi
berbaik sama saya, setelah semua urusan saya selesai,
kenapa saat saya butuh, saya malah dihina, dicaci
maki, diejek, bahkan dihalangi usaha saya, difitnah
yang macam-macam. Kalau tidak diizinkan, ngak kasih
surat, cukuplah sampai disana saja, tetapi kenapa,
sudah tidak diizinkan, bahkan dihalang-halangi, dan
difitnah untuk menggagalkan rencana saya tersebut?,
Dan kenapa setelah saya berhasil. Sikap berbalik baik
80 %? yah..sudahlah namanya juga manusia saya pikir,
semoga ini menjadi pengalaman dan dapat saya petik
hikmahnya,bagi saya. 

Dengan adanya tantangan dari kepsek tersebut, justru
baik buat saya pribadi, saya lebih menjadi banyak
kenal dengan pejabat-pejabat penting di Depag itu,
yang justru mempermudah urusan saya kedepannya. Inilah
yang dinamakan :” Sengsara membawa Nikmat”, karena ini
semua atas Do'a, dan usaha serta bantuan moril dari
teman-teman suami saya dan berbagai pihak yang sangat
banyak sekali berperan membantu saya dalam hal ini,
saya berterimakasih untuk mereka semua, dan saya yakin
Semua atas Izin Allah juga, karena saya yakin akan
firmanNya dan janji-janjiNya.Dan
khusus(spesial)terimakasih untuk suamiku yang terus
mendukung saya.Saya menjadi orang kuat semacam ini,
sebenarnya dari didikannya yang tidak pernah
menjadikan saya sebagai istri yang terlalu manja,
tetapi menjadikan saya istri yang bisa mandiri, tabah,
sabar, tenang, tidak egois dan tidak cepat emosi atau
terbawa arus sikap orang lain pada saya.

Semoga cerita kepahitan saya dalam berurusan di
Indonesia ini, bisa diambil manfaatnya bagi kita
semua.Apa yang saya alami sebenarnya, jauh lebih pahit
dari apa yang ada didalam cerita ini, dan dalam hal
ini, suami saya sendiri tidak saya beritahukan, karena
saya tak terbiasa mengadukan segala-gala hal yang
pahit, kecuali bila persoalan tersebut telah saya
selesaikan dengan baik. 

Terkadang anak-anak sakit parahpun, uang ngak adapun,
saya terbiasa mencoba menyelesaikannya dulu dengan
baik, saya tak ingin menyusahkan suami saya yang sudah
setumpuk pula pekerjaan dan problemanya dikantor,
setelah saya mulai bisa sedikit menyelesaikannya, baru
saya ceritakan, dan minta pendapatnya bagaimana jalan
keluar yang terbaik, kalau mengenai anak-anak,
anak-anak dah mulai sembuh, baru saya ceritakan
kemaren anak sakit parah sebenarnya, tetapi sekarang
dah baikan, kalau dengan begitu, suami tentu tidak
menjadi pikiran sekali. Saya melakukan semua ini,
karena ingat cerita sahabiah Rasulullah, anak dan
meninggal, suami dikasih makan dulu, dilayani
baik-baik, baru keesokannya diceritakan musibah pahit
tersebut, dan saya ingin meneladani sifat baik para
istri sahabat tersebut semampu saya.

Wassalamu'alaikum. Jakarta 15 Nopember 2008. Rahima


      
____________________________________________________________________________________
Get easy, one-click access to your favorites. 
Make Yahoo! your homepage.
http://www.yahoo.com/r/hs 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke