Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.Rupanya yang terdengar issue
diluar selama ini bhw dep AGAMA tidak kalah HEBAT

Pada tanggal 15/11/07, Rahima <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>
> Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh
> Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta
> anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika anak-anak
> di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta,
> karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi Ijazah,
> kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah selesai
> pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana
> kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen
> Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan
> saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat
> keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana,
> serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni dimulai
> dari dimana tempat kita bekerja.
>
> Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat aku
> bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai
> memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan
> pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali, karena
> sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu
> jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni
> Ilmu-ilmu hadits.
>
> Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku.
> Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi
> setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi,
> kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan
> pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak
> percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan,
> ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu
> saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja
> koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas
> katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi
> darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa kesaya,
> dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta
> mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak berwenang
> untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat
> Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, "Mintalah dulu
> secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu,
> kalau mereka menyetujuinya".
>
> Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu
> orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita
> mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu berasal
> dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah
> juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya. Mereka
> merasa aneh juga.
>
> Akhirnya sesampai di tempat kerja, saya sampaikan hal
> tersebut. Saya minta surat Pengantar, karena saya
> mengajukan permohonan secara resmi, pakai surat, maka
> sayapun meminta balasannya secara tertulis juga,
> diizinkan ataupun tidak, diizinkan, saya tetap meminta
> balasan secara tertulis juga. Beliau ngak mau
> memberikannya, malah menyuruh saya agar pergi ke
> Padang, tanyakan pada atasan disana.
>
> Innaalillaahiwainnaailaihi raaji'uun, dasar manusia
> saya pikir, sewaktu saya sedang dalam perjalanan ke
> Padang menemui atasan tersebut, rupanya beliau dah
> menelpon atasan itu agar tidak memberikan saya surat
> izin apapun. Dan ini saya ketahui tanpa disadarinya,
> dia mengatakan bahwa atasan yang di Padang menelpon
> dia sepulang saya dari Padang menuju BKT, agar tidak
> memberikan surat izin kepada saya. Saya seakan-akan
> dipermainkan olehnya. Tetapi saya tenang dan sabar
> saja, minimal saya tau gelagat licik orang pada saya
> bagaimana.
>
> Semenjak kejadian itu, tidak sedikitpun saya mau
> berterusterang dan mengatakan secara jujur apa dan
> sedang apa yang saya lakukan, saya banyak diam saja,
> kalaupun dipancingnya saya keluar, dan cuek saja.
> Dalam berurusan, memang saya ngak mengenal lelah, saya
> menelpon beberapa orang yang saya kira cukup
> berpengaruh di Depag itu, yang saya cukup mengenal
> mereka, salah satunya adalah Bapak Prof. Dr.
> Fauzan.MA, mantan kakanwil Sumbar, mantan rektor IAIN
> Padang, juga mantan Sekjen Depag pusat, juga mantan
> direktur urusan Timteng, dimana saat ini beliau
> sebagai guru besar UIN Ciputat. Saya ceritakan
> semuanya. Akhirnya beliau menelpon atasan saya
> langsung dari HP pribadinya.Beliau meminta pada atasan
> saya agar beliau memberikan surat izin Pengantar
> mengambil S3 ke Mesir, karena S3 justru dicari-cari
> saat ini, kenapa kita malah menghalanginya."Atasan
> merasa kaget, dan mengatakan secara tidak jujur: "
> Iyah Pak, bukan ngak diizinkan, tetapi Rahima saja
> baru mengajukan surat secara tertulis itu kepada
> saya". Benar-benar gila, padahal dah lama hal ini
> diketahuinya.
>
> Akhirnya Pak Fauzan mengerti akan kebohongan beliau,
> lantas beliau menelpon saya agar tenang saja, beliau
> ngak ingin saya diapa-apakan oleh atasan saya karena
> mengadukan hal ini kepadanya. Beliau berpesan pada
> saya, kalau ditanya atasan saya, bilang aja, saya ngak
> tau menahu sama Pak fauzan, beliau tau urusan saya
> saya ngak tau itu.
>
> Jelang berapa hari itu, saya dah mulai pasrah. Saya
> sampaikan pada suami saya di Kairo, :" Bagaimana nih
> uda, kepala sekolah dan kepala mapendais ngak kasih
> surat Pengantar itu. Mereka mengatakan, kalau mau
> tugas belajar harus bea siswa dari Depag.Saya katakan
> bea siswa untuk S3 ke LN dari Madrasah belum ada Pak
> selama ini, kalaupun ada untuk PT. Kalau saya minta
> pada PT, agar saya diberi kesempatan bea siswa itu
> bagaimana? Apa jawabnya:" Ohh..tidak boleh" Saya
> katakan lagi, apa memang pegawai Madrasah ngak boleh
> mengambil jenjang Pendidikan sampai S3? Apa jawab
> beliau,: " Untuk apa ambil S3 lagi", Kalau mau ambil
> silahkan aja, ambil cuti diluar tanggungan Negara,
> gaji kamu tidak jalan, dan kamu belum tentu diterima
> lagi di instansi ini."
>
> Saya benar-benar down ketika itu, pulang dari Padang
> ke BKT dengan perasaan yang amat sedih dan kecewa,
> hampir keluar air mata saya diatas mobil travel yang
> saya tumpangi, namun saya berfikir, kenapa harus
> mengeluarkan air mata, masih ada Allah. Diatas langit
> masih ada langit lagi. "mereka membuat tipu daya, maka
> tipu daya Allah lebih baik lagi. Jika Allah memberi,
> tak ada satu makhlukpun bisa melarangnya, kalau Allah
> tak ingin memberi rezeki itu, tak ada satu makhlukpun
> bisa memberinya. Saya yakin sekali akan semua ini. Dan
> ngak satu jalan ke Roma, asal kita mau berusaha, semua
> pasti bisa, keputusan terakhir saya pasrahkan pada
> Allah, itu saja saya pikir, yang penting saya tetap
> berusaha.
>
> Ketika saya mengadukan pada suami saya, beliau
> menjawab:" Sudahlah kalau gitu, Ima ambil cuti diluar
> tanggungan Negara saja lagi, tapi urus dulu IIIC nya."
> Saya diam, saya ngak mau berhenti sampai disitu saja.
> Saya menelpon Pak Quraish Shihab sebagai mantan
> Menteri Agama, saya ingin tau peraturan sebenarnya.
> Saya kerumah beliau juga di Jakarta. Jawab beliau, :
> "InsyaAllah akan saya bantu, dan bukan sekedar tugas
> belajar saja, tetapi dapat bea siswa juga, saya akan
> bicara hal ini secara langsung pada Menag, tapi lihat
> waktunya yang pas dulu. Dalam kepegawaian ini ada tiga
> hal, untuk mereka melanjutkan studynya" Pertama. Izin
> belajar, biasanya bagi mereka yang ambil pendidikan
> lagi, tetapi di dalam negeri, dan ini harus masuk
> kerja. Kedua tugas belajar, ini ngak masuk kerja, tapi
> gaji jalan, semata-mata belajar saja, dan ini
> belajarnya di LN, ketiga cuti diluar tanggungan
> Negara, ini gaji ngak jalan sama sekali. Yang akan
> kita ambil adalah yang tugas belajar itu.InsyaAllah
> diusahakan, jawab beliau.
>
> Sementara menunggu jawaban tersebut, saya ngak mau
> juga berhenti sampai disitu saja, saya telpon suami
> akan hal ini. Beliau mulai semangat lagi. Beliau
> sarankan pada saya, coba aja telpon seseorang yang
> cukup terpandang di Sumbar itu, mana tau beliau bisa
> bantu untuk urusan surat Pengantar dari Kanwil Sumbar.
> Alhamdulillah jalan ini ampuh juga, ketika saya datang
> ke kakanwil, beliau langsung saja menyuruh bawahannya,
> kepala kepegawaian untuk memberikan saya surat
> Pengantar untuk ambil S3 ini. Tetapi dasar ujian lagi,
> ketika di kepala kepegawaiannya, ada-ada aja alasannya
> untuk hal ini. Banyak pertanyaannya dengan suara
> lantang dan kalau saja orang punya sakit jantung bisa
> meninggal saat itu. Dengan nada kemarahan mengatakan
> pada saya:" Dari mana kamu bisa lulus untuk
> melanjutkan kuliyah S3 di Al Azhar itu tanpa melalui
> Depag, kamukan pegawai Negeri?"
>
> Saya jawab:"Melalui suami saya Pak". Dikatakannya
> lagi: " Saya tidak Tanya suami kamu, siapa suami kamu,
> dimana kerjanya, bukan itu yang saya tanyakan".Saya
> jawab lagi:"Saya juga bukan mengatakan siapa suami
> saya Pak, tapi tadi Bapak bertanya, darimana saya bisa
> masuk di Al Azhar, tentu saya jawab secara jujur, via
> suami Pak?" Akhirnya beliau terdiam. Banyak lagi
> alasannya, :Siapa yang membiayai kamu?" Saya
> jawab"Biaya atas dana suami Pak". Nah..ini yang tidak
> boleh, kata beliau, Biaya harus dari instansi, bukan
> pribadi". Ok Pak, kalau itu yang menjadi
> penghalangnya, akan saya cari instansi penyandang dana
> saya.
>
> Disaat menunggu/mencari instansi penyandang dana itu,
> datang telpon dari suami mengatakan : "Ada teman kami
> dulu yang kuliyah di Al Azhar sedang berada di Mesir,
> beliau dosen di Yogya, bapak ini punya teman yang
> cukup berpengaruh di Depag pusat itu", kata suami saya
>
> Alhamdulillah, mulai nampak titik terang. Ketika
> sampai di Jogya, teman dari teman suami saya itu ke
> Jakarta menemui temannya dan juga Sekjen di Depag.
> Urusan mulanya repot, sampai beliau menelpon saya:
> "Bu..tolong Bantu dengan do'a, saya dengan usaha, dan
> minta nomor telpon kepala sekolah ibu". Akhirnya saya
> kasih no HP pak kepala sekolah saya.
> jakarta langsung menepon kakanwil Sumbar, juga Pak
> kepala agar mempermudah urusan saya, jangan
> mempersulit saya.Pak Kakanwil mengatakan, saya dari
> awal dah mempermudahnya koq, apapun yang dimintanya
> saat ini, akan saya berikan(kalaupun minta pindah jadi
> dosen). Akhirnya keesokan harinya saya datang ke
> Kanwil lagi menemui kepala kepegawaian, tidak ada
> masalah lagi, urusan dah mulai ringan. Bahkan
> beliau-beliau semua berbalik 80% baik luar biasa dan
> manis nya Allahu Rabbi. Kalau dengan kepala
> kepegawaian, masih bisa saya terima, namun pada Pak
> kepala, sulit saya melupakan kejahatannya pada saya.
> Saya bukan hanya sekedar tidak dikasih izin, tetapi
> dihalanginya usaha saya, dia menelpon siapa saja yang
> saya hubungi juga, pantasan dia tanya, siapa-siapa
> saja yang saya hubungi. Saya orang yang polos dan
> jujur ketika itu menyampaikan saja dengan sejujurnya,
> pada siapa saja saya berurusan. Tetapi ini rupanya
> menjadi modal atau makanan empuk baginya untuk
> menghalangi saya.
>
> Setelah kejadian itu, sedikitpun saya tak mau lagi
> berterus terang dan jujur kepadanya, dan ia merasakan
> perubahan saya ini, tetapi saya cuek saja, karena
> selain dihalangi, saya bahkan difitnah. Dikatakan,
> kelak saya setelah S3 minta pindah tugas kerja saya
> kekedutaan. Padahal seingat saya dia dulu yang
> menyarankan hal ini,. Ternyata semua ini hanyalah
> permainan dan akal licik semata, untuk menjatuhkan dan
> menghalangi niat baik saya melanjutkan S3 di Al Azhar.
> Saya benar-benar kecewa dengan sikap licik seorang
> pejabat di Depag tammatan sekolah Islam ini.Tapi semua
> saya serahkan saja pada Allah, Allahlah yang membalasi
> semua kejahatan orang pada saya, saya pikir begitu
> saja. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur, akan
> memberikan balasan setimpal atas kejahatan seseorang
> pada orang lain. Itu saja keyakinan saya.Dan saya
> yakin firman Allah Ta'ala: " Barang siapa yang
> bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikan jalan
> keluar yang terbaik, dan memebrikan rezeki pada
> hambaNya dari jalan yang tidak diduga hamba itu sama
> sekali.
>
> Siapa yang bisa menduga, ada teman suami saya yang
> datang ke Mesir, dan teman itu punya teman yang mana
> bertugas di jabatan cukup penting di Depag Jakarta
> itu. Akhirnya Sengsara benar-benar membawa Ni'mat.
> Dengan segala ujian dan kesulitan yang saya hadapi,
> saya banyak mengambil hikmahnya, juga justru jadi bisa
> dekat dengan Kakanwil Sumbar, bisa dekat dengan kepala
> kepegawaian di Sumbar juga kepegawaian di Jakarta,
> juga beberapa pejabat penting di Jakarta itu, yang
> justru insyaAllah akan mempermudah urusan apa saja
> kedepannya kelak. Alhamdulillah, MasyaAllah.
>
> Setelah mendapatkan surat pengantar dari kanwil
> Sumbar, saya berangkat ke Jakarta, langsung
> kepegawaiannya, dan sebelumnya saya dah menelpon
> kepegawaian, berkas saya kirimkan via TIKI, sementara
> yang asli kelak saya bawakan langsung ke Jakarta.
> Namun beliau meminta juga surat penyandang dana harus
> dari instansi, bukan pribadi. Saya mulai bingung,
> ingat Pak Quraish sebagai ketua Ilmu AlQuran, dan
> beliau bersedia memberikan surat tersebut. Tapi ada
> perasaan segan dan malu sama beliau, saya masih
> berusaha berfikir mencari jalan yang termudah. Entah
> kenapa, otak saya jalan ketika itu, saya ingat di
> Mesir kan ada organisasi Minang, KMM, juga ada
> organisasi Mahasiswa yang khusus Bea Siswa. Yang
> dibutuhkan adalah surat dari organisasi. Akhirnya saya
> utarakan niat ini sama suami saya. Suami saya bilang,
> :"Apa bisa?", Saya jawab aja:"Yah bisalah, kenapa
> tidak, kan yang diminta adalah organisasi?". Ok, ngak
> sampai dua hari, surat dah saya terima via email, dan
> saya scan, saya kirimkan via TIKI ke Jakarta.
> Alhamdulillah dengan semua syarat-syarat dah
> terpenuhi, SK dah bisa keluar.
>
> Meskipun begitu, anehnya Kepala sekolah masih belum
> yakin, antara percaya dan tidak dia dengan usaha saya
> tersebut bisa berhasil, karena sampai detik-detik
> terakhir, ia masih berusaha menggagalkannya, saya juga
> heran, secara diam-diam, dia tau semua urusan saya
> sampai dimana, padahal dia tak pernah tanya kesaya
> lagi, dan saya dah banyak diam. Saya mengetahui semua
> usahanya ini dari kepegawaian sendiri, sampai
> kepegawaian bilang, nampaknya kepala sekolah ibu,
> sangat sentimen terhadapIbu.Tapi Ibu tenang aja,
> karena sekarang dia dah merasa malu, Pejabat Jakarta
> sendiri dah menelponnya, dan KaKanwil saja mempermudah
> Ibu, walaupun ia berusaha mempengaruhi
> bawahan-bawahan(petugas-petugas, pegawai-pegawai yang
> lumayan berpengaruh) di kanwil tersebut, yang namanya
> keputusan tetap berada ditangan yang diatas.
>
> Saking tak inginnya saya mendapat tugas belajar
> tersebut, tentu ia merasa malu, usahanya gagal,
> sementara saya yang bawahannya usaha saya berhasil.
> Sampai-sampai saya seakan-akan sangat dibutuhkan
> disekolah itu, terbukti saya disuruhnya untuk tugas
> menjadi pembicara dalam seminar tiga hari untuk
> membimbing guru-guru se Bkt, dalam perpaduan antara
> ilmu umum dan agama, yang semuala, setau saya dialah
> yang mempromosikan dirinya mampu melakukan tugas
> tersebut, dan saya yang dijadikan tumbal, untuk
> mengerjakan tugas tersebut, tetapi dia yang
> menyampaikan di khalayak ramai, dari hasil kerja saya.
>
>
> Saya ngak bodoh, tugas yang diberikannya saya
> kerjakan, saya berikan ayat-ayat, hadits yang
> berkaitan dengan hubungan antara semua bidang keilmuan
> umum dan agama, tetapi hanya kunci-kuncinya saja,
> sementara isinya ada dikepala saya. Tentu bingung
> dianya, dimintanya agar saya memberikan keringkasan
> serta point-point juga isinya secara ringkas saja.
> Sampai-sampai dia mengejek saya, dengan pernyatannya:"
> Rahima, ada ngak AlQuran digital di lap top kamu, saya
> jawab, ngak ada Pak, ", jawabnya dengan nada
> merendahkan saya:" Aneh, orang Mesir ngak punya
> AlQuran digital di lap topnya, gimana kalau orang
> bertanya sama kamu, dengan apa kamu menjawabnya". Saya
> jawab saja dengan santai:" Pak...AlQuran memang ngak
> ada di komputer saya, tetapi dia adanya dikepala dan
> hati saya, jadi kalau orang mau bertanya, silahkan
> bertanya langsung pada saya"(terdiam dan malu).
>
> Akhirnya, sepertinya pak kepsek benar-benar kehilangan
> akal menghadapi saya yang tetap tenang menghadapinya,
> tetapi cukup menghanyutkan itu. Maka langsung petugas
> Diknas yang meminta saya untuk jadi pembicara inti
> dalam acara selama tiga hari tersebut. Saya bilang
> sama Kepsek, kenapa koq acara tiga hari lagi, mendadak
> diberitahu kesaya, saya jadi pembicara inti, bukankah
> Bapak yang semula menjadi pembicara intinya, bukan
> saya, saya ngak siap Pak, silahkan Bapak saja, toh
> yangmempromosikan diri sanggup awalnya pada pak
> walikotakan bukan saya, tetapi Bapak. Saya pribadi,
> ngak mau mempromosikan diri saya dan menyanggupi suatu
> kerjaan, dimana saya yakin betul, saya bukan bidang
> itu, dan saya ngak mampu untuk tugas itu.
>
> Akhirnya Pak Kepsek bilang, silahkan pikir-pikir dulu,
> karena SK langsung dikeluarkan oleh Walikota". Saya
> pikir, meski Presiden sekalipun yang men Sk kan tugas
> tersebut, kalau saya ngak mampu buat apa? Buat apa
> kita bergaya, pamer diri dimana kita tak mampu
> melaksanakannya, lebih baik di tolak aja?, akhirnya
> dengan kesal, dia bilang :" kenapa kamu ngak menolak
> langsung saat diminta petugas Diknas tadi? Saya jawab:
> "saya dah kejar dia, dia dah menghilang, dan saya
> sampaikan ini langsung pada Bapak, karena setau saya
> Bapak dulu tidak bilang kesaya, saya adalah pembicara
> intinya". Akhirnya dengan kesal, dibilangnya
> kesaya:"terserah kamulah".(yah sudah, terserah
> saya,saya pikir, saya diam aja), dan keesokan harinya
> saya ambil cuti saya yang tersisa, saya berangkat ke
> Jakarta, dan ambil SK tugas belajar tersebut.
> Alhamdulillah selesai juga. Walau beberapa minggu,
> setelah semua dah pada tau, saya dah dapat surat dari
> Kakanwil, mulai sikap Kepsekpada saat itu luar biasa
> baiknya.
>
> Tetapi sayang sekali, bagi saya buat apalah kebaikan
> semua itu, kalau hanya ada maunya, didepan kita manis,
> dibelakang kita, kita dihancurkan, buat apa lagi
> berbaik sama saya, setelah semua urusan saya selesai,
> kenapa saat saya butuh, saya malah dihina, dicaci
> maki, diejek, bahkan dihalangi usaha saya, difitnah
> yang macam-macam. Kalau tidak diizinkan, ngak kasih
> surat, cukuplah sampai disana saja, tetapi kenapa,
> sudah tidak diizinkan, bahkan dihalang-halangi, dan
> difitnah untuk menggagalkan rencana saya tersebut?,
> Dan kenapa setelah saya berhasil. Sikap berbalik baik
> 80 %? yah..sudahlah namanya juga manusia saya pikir,
> semoga ini menjadi pengalaman dan dapat saya petik
> hikmahnya,bagi saya.
>
> Dengan adanya tantangan dari kepsek tersebut, justru
> baik buat saya pribadi, saya lebih menjadi banyak
> kenal dengan pejabat-pejabat penting di Depag itu,
> yang justru mempermudah urusan saya kedepannya. Inilah
> yang dinamakan :" Sengsara membawa Nikmat", karena ini
> semua atas Do'a, dan usaha serta bantuan moril dari
> teman-teman suami saya dan berbagai pihak yang sangat
> banyak sekali berperan membantu saya dalam hal ini,
> saya berterimakasih untuk mereka semua, dan saya yakin
> Semua atas Izin Allah juga, karena saya yakin akan
> firmanNya dan janji-janjiNya.Dan
> khusus(spesial)terimakasih untuk suamiku yang terus
> mendukung saya.Saya menjadi orang kuat semacam ini,
> sebenarnya dari didikannya yang tidak pernah
> menjadikan saya sebagai istri yang terlalu manja,
> tetapi menjadikan saya istri yang bisa mandiri, tabah,
> sabar, tenang, tidak egois dan tidak cepat emosi atau
> terbawa arus sikap orang lain pada saya.
>
> Semoga cerita kepahitan saya dalam berurusan di
> Indonesia ini, bisa diambil manfaatnya bagi kita
> semua.Apa yang saya alami sebenarnya, jauh lebih pahit
> dari apa yang ada didalam cerita ini, dan dalam hal
> ini, suami saya sendiri tidak saya beritahukan, karena
> saya tak terbiasa mengadukan segala-gala hal yang
> pahit, kecuali bila persoalan tersebut telah saya
> selesaikan dengan baik.
>
> Terkadang anak-anak sakit parahpun, uang ngak adapun,
> saya terbiasa mencoba menyelesaikannya dulu dengan
> baik, saya tak ingin menyusahkan suami saya yang sudah
> setumpuk pula pekerjaan dan problemanya dikantor,
> setelah saya mulai bisa sedikit menyelesaikannya, baru
> saya ceritakan, dan minta pendapatnya bagaimana jalan
> keluar yang terbaik, kalau mengenai anak-anak,
> anak-anak dah mulai sembuh, baru saya ceritakan
> kemaren anak sakit parah sebenarnya, tetapi sekarang
> dah baikan, kalau dengan begitu, suami tentu tidak
> menjadi pikiran sekali. Saya melakukan semua ini,
> karena ingat cerita sahabiah Rasulullah, anak dan
> meninggal, suami dikasih makan dulu, dilayani
> baik-baik, baru keesokannya diceritakan musibah pahit
> tersebut, dan saya ingin meneladani sifat baik para
> istri sahabat tersebut semampu saya.
>
> Wassalamu'alaikum. Jakarta 15 Nopember 2008. Rahima
>
>
>
>       
> ____________________________________________________________________________________
> Get easy, one-click access to your favorites.
> Make Yahoo! your homepage.
> http://www.yahoo.com/r/hs
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke