Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.Rupanya yang terdengar issue diluar selama ini bhw dep AGAMA tidak kalah HEBAT
Pada tanggal 15/11/07, Rahima <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh > Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta > anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika anak-anak > di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta, > karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi Ijazah, > kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah selesai > pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana > kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen > Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan > saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat > keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana, > serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni dimulai > dari dimana tempat kita bekerja. > > Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat aku > bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai > memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan > pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali, karena > sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu > jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni > Ilmu-ilmu hadits. > > Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku. > Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi > setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi, > kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan > pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak > percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan, > ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu > saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja > koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas > katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi > darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa kesaya, > dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta > mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak berwenang > untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat > Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, "Mintalah dulu > secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu, > kalau mereka menyetujuinya". > > Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu > orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita > mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu berasal > dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah > juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya. Mereka > merasa aneh juga. > > Akhirnya sesampai di tempat kerja, saya sampaikan hal > tersebut. Saya minta surat Pengantar, karena saya > mengajukan permohonan secara resmi, pakai surat, maka > sayapun meminta balasannya secara tertulis juga, > diizinkan ataupun tidak, diizinkan, saya tetap meminta > balasan secara tertulis juga. Beliau ngak mau > memberikannya, malah menyuruh saya agar pergi ke > Padang, tanyakan pada atasan disana. > > Innaalillaahiwainnaailaihi raaji'uun, dasar manusia > saya pikir, sewaktu saya sedang dalam perjalanan ke > Padang menemui atasan tersebut, rupanya beliau dah > menelpon atasan itu agar tidak memberikan saya surat > izin apapun. Dan ini saya ketahui tanpa disadarinya, > dia mengatakan bahwa atasan yang di Padang menelpon > dia sepulang saya dari Padang menuju BKT, agar tidak > memberikan surat izin kepada saya. Saya seakan-akan > dipermainkan olehnya. Tetapi saya tenang dan sabar > saja, minimal saya tau gelagat licik orang pada saya > bagaimana. > > Semenjak kejadian itu, tidak sedikitpun saya mau > berterusterang dan mengatakan secara jujur apa dan > sedang apa yang saya lakukan, saya banyak diam saja, > kalaupun dipancingnya saya keluar, dan cuek saja. > Dalam berurusan, memang saya ngak mengenal lelah, saya > menelpon beberapa orang yang saya kira cukup > berpengaruh di Depag itu, yang saya cukup mengenal > mereka, salah satunya adalah Bapak Prof. Dr. > Fauzan.MA, mantan kakanwil Sumbar, mantan rektor IAIN > Padang, juga mantan Sekjen Depag pusat, juga mantan > direktur urusan Timteng, dimana saat ini beliau > sebagai guru besar UIN Ciputat. Saya ceritakan > semuanya. Akhirnya beliau menelpon atasan saya > langsung dari HP pribadinya.Beliau meminta pada atasan > saya agar beliau memberikan surat izin Pengantar > mengambil S3 ke Mesir, karena S3 justru dicari-cari > saat ini, kenapa kita malah menghalanginya."Atasan > merasa kaget, dan mengatakan secara tidak jujur: " > Iyah Pak, bukan ngak diizinkan, tetapi Rahima saja > baru mengajukan surat secara tertulis itu kepada > saya". Benar-benar gila, padahal dah lama hal ini > diketahuinya. > > Akhirnya Pak Fauzan mengerti akan kebohongan beliau, > lantas beliau menelpon saya agar tenang saja, beliau > ngak ingin saya diapa-apakan oleh atasan saya karena > mengadukan hal ini kepadanya. Beliau berpesan pada > saya, kalau ditanya atasan saya, bilang aja, saya ngak > tau menahu sama Pak fauzan, beliau tau urusan saya > saya ngak tau itu. > > Jelang berapa hari itu, saya dah mulai pasrah. Saya > sampaikan pada suami saya di Kairo, :" Bagaimana nih > uda, kepala sekolah dan kepala mapendais ngak kasih > surat Pengantar itu. Mereka mengatakan, kalau mau > tugas belajar harus bea siswa dari Depag.Saya katakan > bea siswa untuk S3 ke LN dari Madrasah belum ada Pak > selama ini, kalaupun ada untuk PT. Kalau saya minta > pada PT, agar saya diberi kesempatan bea siswa itu > bagaimana? Apa jawabnya:" Ohh..tidak boleh" Saya > katakan lagi, apa memang pegawai Madrasah ngak boleh > mengambil jenjang Pendidikan sampai S3? Apa jawab > beliau,: " Untuk apa ambil S3 lagi", Kalau mau ambil > silahkan aja, ambil cuti diluar tanggungan Negara, > gaji kamu tidak jalan, dan kamu belum tentu diterima > lagi di instansi ini." > > Saya benar-benar down ketika itu, pulang dari Padang > ke BKT dengan perasaan yang amat sedih dan kecewa, > hampir keluar air mata saya diatas mobil travel yang > saya tumpangi, namun saya berfikir, kenapa harus > mengeluarkan air mata, masih ada Allah. Diatas langit > masih ada langit lagi. "mereka membuat tipu daya, maka > tipu daya Allah lebih baik lagi. Jika Allah memberi, > tak ada satu makhlukpun bisa melarangnya, kalau Allah > tak ingin memberi rezeki itu, tak ada satu makhlukpun > bisa memberinya. Saya yakin sekali akan semua ini. Dan > ngak satu jalan ke Roma, asal kita mau berusaha, semua > pasti bisa, keputusan terakhir saya pasrahkan pada > Allah, itu saja saya pikir, yang penting saya tetap > berusaha. > > Ketika saya mengadukan pada suami saya, beliau > menjawab:" Sudahlah kalau gitu, Ima ambil cuti diluar > tanggungan Negara saja lagi, tapi urus dulu IIIC nya." > Saya diam, saya ngak mau berhenti sampai disitu saja. > Saya menelpon Pak Quraish Shihab sebagai mantan > Menteri Agama, saya ingin tau peraturan sebenarnya. > Saya kerumah beliau juga di Jakarta. Jawab beliau, : > "InsyaAllah akan saya bantu, dan bukan sekedar tugas > belajar saja, tetapi dapat bea siswa juga, saya akan > bicara hal ini secara langsung pada Menag, tapi lihat > waktunya yang pas dulu. Dalam kepegawaian ini ada tiga > hal, untuk mereka melanjutkan studynya" Pertama. Izin > belajar, biasanya bagi mereka yang ambil pendidikan > lagi, tetapi di dalam negeri, dan ini harus masuk > kerja. Kedua tugas belajar, ini ngak masuk kerja, tapi > gaji jalan, semata-mata belajar saja, dan ini > belajarnya di LN, ketiga cuti diluar tanggungan > Negara, ini gaji ngak jalan sama sekali. Yang akan > kita ambil adalah yang tugas belajar itu.InsyaAllah > diusahakan, jawab beliau. > > Sementara menunggu jawaban tersebut, saya ngak mau > juga berhenti sampai disitu saja, saya telpon suami > akan hal ini. Beliau mulai semangat lagi. Beliau > sarankan pada saya, coba aja telpon seseorang yang > cukup terpandang di Sumbar itu, mana tau beliau bisa > bantu untuk urusan surat Pengantar dari Kanwil Sumbar. > Alhamdulillah jalan ini ampuh juga, ketika saya datang > ke kakanwil, beliau langsung saja menyuruh bawahannya, > kepala kepegawaian untuk memberikan saya surat > Pengantar untuk ambil S3 ini. Tetapi dasar ujian lagi, > ketika di kepala kepegawaiannya, ada-ada aja alasannya > untuk hal ini. Banyak pertanyaannya dengan suara > lantang dan kalau saja orang punya sakit jantung bisa > meninggal saat itu. Dengan nada kemarahan mengatakan > pada saya:" Dari mana kamu bisa lulus untuk > melanjutkan kuliyah S3 di Al Azhar itu tanpa melalui > Depag, kamukan pegawai Negeri?" > > Saya jawab:"Melalui suami saya Pak". Dikatakannya > lagi: " Saya tidak Tanya suami kamu, siapa suami kamu, > dimana kerjanya, bukan itu yang saya tanyakan".Saya > jawab lagi:"Saya juga bukan mengatakan siapa suami > saya Pak, tapi tadi Bapak bertanya, darimana saya bisa > masuk di Al Azhar, tentu saya jawab secara jujur, via > suami Pak?" Akhirnya beliau terdiam. Banyak lagi > alasannya, :Siapa yang membiayai kamu?" Saya > jawab"Biaya atas dana suami Pak". Nah..ini yang tidak > boleh, kata beliau, Biaya harus dari instansi, bukan > pribadi". Ok Pak, kalau itu yang menjadi > penghalangnya, akan saya cari instansi penyandang dana > saya. > > Disaat menunggu/mencari instansi penyandang dana itu, > datang telpon dari suami mengatakan : "Ada teman kami > dulu yang kuliyah di Al Azhar sedang berada di Mesir, > beliau dosen di Yogya, bapak ini punya teman yang > cukup berpengaruh di Depag pusat itu", kata suami saya > > Alhamdulillah, mulai nampak titik terang. Ketika > sampai di Jogya, teman dari teman suami saya itu ke > Jakarta menemui temannya dan juga Sekjen di Depag. > Urusan mulanya repot, sampai beliau menelpon saya: > "Bu..tolong Bantu dengan do'a, saya dengan usaha, dan > minta nomor telpon kepala sekolah ibu". Akhirnya saya > kasih no HP pak kepala sekolah saya. > jakarta langsung menepon kakanwil Sumbar, juga Pak > kepala agar mempermudah urusan saya, jangan > mempersulit saya.Pak Kakanwil mengatakan, saya dari > awal dah mempermudahnya koq, apapun yang dimintanya > saat ini, akan saya berikan(kalaupun minta pindah jadi > dosen). Akhirnya keesokan harinya saya datang ke > Kanwil lagi menemui kepala kepegawaian, tidak ada > masalah lagi, urusan dah mulai ringan. Bahkan > beliau-beliau semua berbalik 80% baik luar biasa dan > manis nya Allahu Rabbi. Kalau dengan kepala > kepegawaian, masih bisa saya terima, namun pada Pak > kepala, sulit saya melupakan kejahatannya pada saya. > Saya bukan hanya sekedar tidak dikasih izin, tetapi > dihalanginya usaha saya, dia menelpon siapa saja yang > saya hubungi juga, pantasan dia tanya, siapa-siapa > saja yang saya hubungi. Saya orang yang polos dan > jujur ketika itu menyampaikan saja dengan sejujurnya, > pada siapa saja saya berurusan. Tetapi ini rupanya > menjadi modal atau makanan empuk baginya untuk > menghalangi saya. > > Setelah kejadian itu, sedikitpun saya tak mau lagi > berterus terang dan jujur kepadanya, dan ia merasakan > perubahan saya ini, tetapi saya cuek saja, karena > selain dihalangi, saya bahkan difitnah. Dikatakan, > kelak saya setelah S3 minta pindah tugas kerja saya > kekedutaan. Padahal seingat saya dia dulu yang > menyarankan hal ini,. Ternyata semua ini hanyalah > permainan dan akal licik semata, untuk menjatuhkan dan > menghalangi niat baik saya melanjutkan S3 di Al Azhar. > Saya benar-benar kecewa dengan sikap licik seorang > pejabat di Depag tammatan sekolah Islam ini.Tapi semua > saya serahkan saja pada Allah, Allahlah yang membalasi > semua kejahatan orang pada saya, saya pikir begitu > saja. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur, akan > memberikan balasan setimpal atas kejahatan seseorang > pada orang lain. Itu saja keyakinan saya.Dan saya > yakin firman Allah Ta'ala: " Barang siapa yang > bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikan jalan > keluar yang terbaik, dan memebrikan rezeki pada > hambaNya dari jalan yang tidak diduga hamba itu sama > sekali. > > Siapa yang bisa menduga, ada teman suami saya yang > datang ke Mesir, dan teman itu punya teman yang mana > bertugas di jabatan cukup penting di Depag Jakarta > itu. Akhirnya Sengsara benar-benar membawa Ni'mat. > Dengan segala ujian dan kesulitan yang saya hadapi, > saya banyak mengambil hikmahnya, juga justru jadi bisa > dekat dengan Kakanwil Sumbar, bisa dekat dengan kepala > kepegawaian di Sumbar juga kepegawaian di Jakarta, > juga beberapa pejabat penting di Jakarta itu, yang > justru insyaAllah akan mempermudah urusan apa saja > kedepannya kelak. Alhamdulillah, MasyaAllah. > > Setelah mendapatkan surat pengantar dari kanwil > Sumbar, saya berangkat ke Jakarta, langsung > kepegawaiannya, dan sebelumnya saya dah menelpon > kepegawaian, berkas saya kirimkan via TIKI, sementara > yang asli kelak saya bawakan langsung ke Jakarta. > Namun beliau meminta juga surat penyandang dana harus > dari instansi, bukan pribadi. Saya mulai bingung, > ingat Pak Quraish sebagai ketua Ilmu AlQuran, dan > beliau bersedia memberikan surat tersebut. Tapi ada > perasaan segan dan malu sama beliau, saya masih > berusaha berfikir mencari jalan yang termudah. Entah > kenapa, otak saya jalan ketika itu, saya ingat di > Mesir kan ada organisasi Minang, KMM, juga ada > organisasi Mahasiswa yang khusus Bea Siswa. Yang > dibutuhkan adalah surat dari organisasi. Akhirnya saya > utarakan niat ini sama suami saya. Suami saya bilang, > :"Apa bisa?", Saya jawab aja:"Yah bisalah, kenapa > tidak, kan yang diminta adalah organisasi?". Ok, ngak > sampai dua hari, surat dah saya terima via email, dan > saya scan, saya kirimkan via TIKI ke Jakarta. > Alhamdulillah dengan semua syarat-syarat dah > terpenuhi, SK dah bisa keluar. > > Meskipun begitu, anehnya Kepala sekolah masih belum > yakin, antara percaya dan tidak dia dengan usaha saya > tersebut bisa berhasil, karena sampai detik-detik > terakhir, ia masih berusaha menggagalkannya, saya juga > heran, secara diam-diam, dia tau semua urusan saya > sampai dimana, padahal dia tak pernah tanya kesaya > lagi, dan saya dah banyak diam. Saya mengetahui semua > usahanya ini dari kepegawaian sendiri, sampai > kepegawaian bilang, nampaknya kepala sekolah ibu, > sangat sentimen terhadapIbu.Tapi Ibu tenang aja, > karena sekarang dia dah merasa malu, Pejabat Jakarta > sendiri dah menelponnya, dan KaKanwil saja mempermudah > Ibu, walaupun ia berusaha mempengaruhi > bawahan-bawahan(petugas-petugas, pegawai-pegawai yang > lumayan berpengaruh) di kanwil tersebut, yang namanya > keputusan tetap berada ditangan yang diatas. > > Saking tak inginnya saya mendapat tugas belajar > tersebut, tentu ia merasa malu, usahanya gagal, > sementara saya yang bawahannya usaha saya berhasil. > Sampai-sampai saya seakan-akan sangat dibutuhkan > disekolah itu, terbukti saya disuruhnya untuk tugas > menjadi pembicara dalam seminar tiga hari untuk > membimbing guru-guru se Bkt, dalam perpaduan antara > ilmu umum dan agama, yang semuala, setau saya dialah > yang mempromosikan dirinya mampu melakukan tugas > tersebut, dan saya yang dijadikan tumbal, untuk > mengerjakan tugas tersebut, tetapi dia yang > menyampaikan di khalayak ramai, dari hasil kerja saya. > > > Saya ngak bodoh, tugas yang diberikannya saya > kerjakan, saya berikan ayat-ayat, hadits yang > berkaitan dengan hubungan antara semua bidang keilmuan > umum dan agama, tetapi hanya kunci-kuncinya saja, > sementara isinya ada dikepala saya. Tentu bingung > dianya, dimintanya agar saya memberikan keringkasan > serta point-point juga isinya secara ringkas saja. > Sampai-sampai dia mengejek saya, dengan pernyatannya:" > Rahima, ada ngak AlQuran digital di lap top kamu, saya > jawab, ngak ada Pak, ", jawabnya dengan nada > merendahkan saya:" Aneh, orang Mesir ngak punya > AlQuran digital di lap topnya, gimana kalau orang > bertanya sama kamu, dengan apa kamu menjawabnya". Saya > jawab saja dengan santai:" Pak...AlQuran memang ngak > ada di komputer saya, tetapi dia adanya dikepala dan > hati saya, jadi kalau orang mau bertanya, silahkan > bertanya langsung pada saya"(terdiam dan malu). > > Akhirnya, sepertinya pak kepsek benar-benar kehilangan > akal menghadapi saya yang tetap tenang menghadapinya, > tetapi cukup menghanyutkan itu. Maka langsung petugas > Diknas yang meminta saya untuk jadi pembicara inti > dalam acara selama tiga hari tersebut. Saya bilang > sama Kepsek, kenapa koq acara tiga hari lagi, mendadak > diberitahu kesaya, saya jadi pembicara inti, bukankah > Bapak yang semula menjadi pembicara intinya, bukan > saya, saya ngak siap Pak, silahkan Bapak saja, toh > yangmempromosikan diri sanggup awalnya pada pak > walikotakan bukan saya, tetapi Bapak. Saya pribadi, > ngak mau mempromosikan diri saya dan menyanggupi suatu > kerjaan, dimana saya yakin betul, saya bukan bidang > itu, dan saya ngak mampu untuk tugas itu. > > Akhirnya Pak Kepsek bilang, silahkan pikir-pikir dulu, > karena SK langsung dikeluarkan oleh Walikota". Saya > pikir, meski Presiden sekalipun yang men Sk kan tugas > tersebut, kalau saya ngak mampu buat apa? Buat apa > kita bergaya, pamer diri dimana kita tak mampu > melaksanakannya, lebih baik di tolak aja?, akhirnya > dengan kesal, dia bilang :" kenapa kamu ngak menolak > langsung saat diminta petugas Diknas tadi? Saya jawab: > "saya dah kejar dia, dia dah menghilang, dan saya > sampaikan ini langsung pada Bapak, karena setau saya > Bapak dulu tidak bilang kesaya, saya adalah pembicara > intinya". Akhirnya dengan kesal, dibilangnya > kesaya:"terserah kamulah".(yah sudah, terserah > saya,saya pikir, saya diam aja), dan keesokan harinya > saya ambil cuti saya yang tersisa, saya berangkat ke > Jakarta, dan ambil SK tugas belajar tersebut. > Alhamdulillah selesai juga. Walau beberapa minggu, > setelah semua dah pada tau, saya dah dapat surat dari > Kakanwil, mulai sikap Kepsekpada saat itu luar biasa > baiknya. > > Tetapi sayang sekali, bagi saya buat apalah kebaikan > semua itu, kalau hanya ada maunya, didepan kita manis, > dibelakang kita, kita dihancurkan, buat apa lagi > berbaik sama saya, setelah semua urusan saya selesai, > kenapa saat saya butuh, saya malah dihina, dicaci > maki, diejek, bahkan dihalangi usaha saya, difitnah > yang macam-macam. Kalau tidak diizinkan, ngak kasih > surat, cukuplah sampai disana saja, tetapi kenapa, > sudah tidak diizinkan, bahkan dihalang-halangi, dan > difitnah untuk menggagalkan rencana saya tersebut?, > Dan kenapa setelah saya berhasil. Sikap berbalik baik > 80 %? yah..sudahlah namanya juga manusia saya pikir, > semoga ini menjadi pengalaman dan dapat saya petik > hikmahnya,bagi saya. > > Dengan adanya tantangan dari kepsek tersebut, justru > baik buat saya pribadi, saya lebih menjadi banyak > kenal dengan pejabat-pejabat penting di Depag itu, > yang justru mempermudah urusan saya kedepannya. Inilah > yang dinamakan :" Sengsara membawa Nikmat", karena ini > semua atas Do'a, dan usaha serta bantuan moril dari > teman-teman suami saya dan berbagai pihak yang sangat > banyak sekali berperan membantu saya dalam hal ini, > saya berterimakasih untuk mereka semua, dan saya yakin > Semua atas Izin Allah juga, karena saya yakin akan > firmanNya dan janji-janjiNya.Dan > khusus(spesial)terimakasih untuk suamiku yang terus > mendukung saya.Saya menjadi orang kuat semacam ini, > sebenarnya dari didikannya yang tidak pernah > menjadikan saya sebagai istri yang terlalu manja, > tetapi menjadikan saya istri yang bisa mandiri, tabah, > sabar, tenang, tidak egois dan tidak cepat emosi atau > terbawa arus sikap orang lain pada saya. > > Semoga cerita kepahitan saya dalam berurusan di > Indonesia ini, bisa diambil manfaatnya bagi kita > semua.Apa yang saya alami sebenarnya, jauh lebih pahit > dari apa yang ada didalam cerita ini, dan dalam hal > ini, suami saya sendiri tidak saya beritahukan, karena > saya tak terbiasa mengadukan segala-gala hal yang > pahit, kecuali bila persoalan tersebut telah saya > selesaikan dengan baik. > > Terkadang anak-anak sakit parahpun, uang ngak adapun, > saya terbiasa mencoba menyelesaikannya dulu dengan > baik, saya tak ingin menyusahkan suami saya yang sudah > setumpuk pula pekerjaan dan problemanya dikantor, > setelah saya mulai bisa sedikit menyelesaikannya, baru > saya ceritakan, dan minta pendapatnya bagaimana jalan > keluar yang terbaik, kalau mengenai anak-anak, > anak-anak dah mulai sembuh, baru saya ceritakan > kemaren anak sakit parah sebenarnya, tetapi sekarang > dah baikan, kalau dengan begitu, suami tentu tidak > menjadi pikiran sekali. Saya melakukan semua ini, > karena ingat cerita sahabiah Rasulullah, anak dan > meninggal, suami dikasih makan dulu, dilayani > baik-baik, baru keesokannya diceritakan musibah pahit > tersebut, dan saya ingin meneladani sifat baik para > istri sahabat tersebut semampu saya. > > Wassalamu'alaikum. Jakarta 15 Nopember 2008. Rahima > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Get easy, one-click access to your favorites. > Make Yahoo! your homepage. > http://www.yahoo.com/r/hs > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
