ABDUL GAFFAR ISMAIL : Menempuh Jalan Uzlah

Catatan   tentang  Allahu  yarham  Abdul  Gaffar  Ismail  ini  disalin
sepenuhnya,  tidak diubah ejaan maupun tulisannya, dari majalah tengah
bulanan  Daulah Islamyah pada edisi Agustus 1957. Majalah ini dipimpin
oleh  KH.  Isa Anshary, sedangkan tulisan tentang KH. A. Gaffar Ismail
ditulis  oleh Tamar Djaya, salah seorang karibnya. Redaksi majalah ini
terbilang  tokoh-tokoh  terkemuka  Muslim  Indonesia.  A. Hassan masuk
dalam  jajaran  redaktur,  begitu juga nama-nama lain seperti Moenawar
Chalil,  Rusjad  Nurdin,  Gaffar  Ismail  sendiri  dan  juga Rahmah el
Yunusiyah.

Berikut  salinannya:  Siapa  yang  tak mengenal A. Gaffar Ismail dalam
perdjuangan  Islam?  Salah  seorang tokoh politik dalam barisan kita
yang  telah  berdjuang  sedjak  puluhan  tahun  lampau,  tidak  pernah
berhenti  dari  tugasnya  memimpin  ummat.  Setelah seperempat abad ia
berdjuang  dimedan  politik,  achirnja  karena  merasa  ketjewa dengan
djalannja  partai  jang  dianutnja,  mengambil  djalan  sendiri diluar
kepartaian.  Sekarang  Gaffar  Ismail  aktif memberikan kulijah agama,
merupakan   tjeramah-tjeramah  tasauf  dan  kerohanian  jang  mendalam
dibeberapa tempat penting di Indonesia, jang diikuti oleh puluhan ribu
ummat   Islam.   Lapangan   ini   merupakan   langan  tersendiri  yang
ditjiptakannja,  dan  dengan  mengambil  djalan ini, ia merasa dirinja
lebih  berhasil membentuk djiwa ummat daripada aktif dalam partai jang
dianggapnja tidak murni lagi.

Ia  sekarang bertempat tinggal di Pekalongan. Setiap malam tertentu ia
memberikan  tjeramah  agama  dibeberapa tempat dikota ini, terutama di
Pekadjangan  jang  terkenal  perkembangan  kaum  muslimin  jang thaat.
Berpuluh  ribu  kaum muslimin menjadi pengikut kulijahnja. Makin lama,
makin  ramai  dan  makin  menarik.  Sekali  seminggu  ia  ke  Surabaja
memberikan  kulijah  agama  dalam bentuk jang sama, jang didukung oleh
puluhan  ribu  kaum  muslimin,  terutama  dari kalangan intelek Islam.
Sekali seminggu pula ia pergi ke Makassar dalam bentuk jang sama, jang
djuga didukung oleh puluhan ribu kaum muslimin.

Lapangan  ini  merupakan  satu  hal  jang  baru  dalam  dunia Islam di
Indonesia  jang  belum  pernah  terdjadi  sebelumnja.  Kalaupun pernah
diadakan  oleh  organisasi-organisasi  Islam  berbentuk  tabligh  atau
lainnja,  tapi  belum  pernah  mendapat sambutan seperti adanja Gaffar
Ismail ini.

Luar  biasa  dan sangat menarik perhatian. Kaum terpeladjar Islam yang
merasa dirinja masih kurang dalam keagamaan apalagi dalam ibadat serta
tuntunan rohani ke-Tuhanan, sangat gembira dengan langkah jang diambil
Gaffar  Ismail  ini. Mereka berdujun-dujun mendatangi tjeramah2 agama
jang diadakan Gaffar.

Pada  waktu  jang  achir2  ini,  nama  Gaffar Ismail terutama di Djawa
Tengah,  Djawa  Timur dan Sulawesi sangat populer, mendjadi buah bibir
orang ramai.

Saja rasa buat ketiga daerah itu sekarang, nama Gaffar Ismail terletak
dibaris  depan  sekali  diantara sekian banjak nama pemimpin dan ulama
jang dipudja mereka.

Mengapa  demikian?  Memang  harusnja  demikian.  Karena  Gaffar Ismail
adalah  seorang  pemimpin  jang  tahu  benar  djiwa masjarakat. Sedjak
dahulu  adalah  seorang  orator  (ahli  pidato) jang mahir dan bidjak.
Terlalu  pandai  menjusun kata2 jang indah dan menarik. Disamping itu,
ia  adalah  seorang  ulama  jang  mendalam, ahli pengetahuan Islam dan
diwaktu  jang  achir2  ini  lebih  mengutamakan  soal-soal tasawuf dan
kerohanian.  Dia  juga  seorang  pedjuang  jang ulet jang tidak pernah
melupakan arti  djihad  dalam djiwanja.

berikan  kulijah  agama  dalam  bentuk  jang  sama, jang didukung oleh
puluhan  ribu  kaum  muslimin,  terutama  dari kalangan intelek Islam.
Sekali seminggu pula ia pergi ke Makassar dalam bentuk jang sama, jang
djuga didukung oleh puluhan ribu kaum muslimin.

Lapangan  ini  merupakan  satu  hal  jang  baru  dalam  dunia Islam di
Indonesia  jang  belum  pernah  terdjadi  sebelumnja.  Kalaupun pernah
diadakan  oleh  organisasi-organisasi  Islam  berbentuk  tabligh  atau
lainnja,  tapi  belum  pernah  mendapat sambutan seperti adanja Gaffar
Ismail ini.

Luar  biasa  dan sangat menarik perhatian. Kaum terpeladjar Islam yang
merasa dirinja masih kurang dalam keagamaan apalagi dalam ibadat serta
tuntunan rohani ke-Tuhanan, sangat gembira dengan langkah jang diambil
Gaffar  Ismail  ini. Mereka berdujun-duj,un mendatangi tjeramah2 agama
jang diadakan Gaffar.

Pada  waktu  jang  achir2  ini,  nama  Gaffar Ismail terutama di Djawa
Tengah,  Djawa  Timur dan Sulawesi sangat populer, mendjadi buah bibir
orang ramai.

Saja rasa buat ketiga daerah itu sekarang, nama Gaffar Ismail terletak
dibaris  depan  sekali  diantara sekian banjak nama pemimpin dan ulama
jang dipudja mereka.

Mengapa  demikian?  Memang  harusnja  demikian.  Karena  Gaffar Ismail
adalah  seorang  pemimpin  jang  tahu  benar  djiwa masjarakat. Sedjak
dahulu  adalah  seorang  orator  (ahli  pidato) jang mahir dan bidjak.
Terlalu  pandai  menjusun kata2 jang indah dan menarik. Disamping itu,
ia  adalah  seorang  ulama  jang  mendalam, ahli pengetahuan Islam dan
diwaktu  jang  achir2  ini  lebih  mengutamakan  soal-soal tasawuf dan
kerohanian.  Dia  juga  seorang  pedjuang  jang ulet jang tidak pernah
melupakan arti  djihad  dalam djiwanja.

Karena  itu, djika ia mengambil djalan bertjeramah dimuka pengikutnja,
tidaklah   mengherankan  kalao  semua  orang  terpesona  dan  tertekun
mendengarkan  uraian2nja.  Seperti  dikatakan  diatas, kaum inteleklah
jang  paling  banjak  mendjadi  pengikutnja sekarang ini, jaitu orang2
jang  berilmu  dan  tjerdas berfikir. Orang2 inilah mendjadi  kadernja
jang  sedang  dibentuknja  dengan  giat.  Dan insja Allah usahanja ini
berhasil memuaskan sekali.

Riwajatnja:
Saja  dapat  mentjeritakan  sedikit  riwajat hidupnja dalam pergerakan
politik  sedjak  dahulu  sampai sekarang. Dizaman pendjadjahan sebelum
proklamasi,  orang  mengenal  PERMI  sebagai salah satu partai politik
Islam  jang radikal jang terpusat di Minangkabau. Empat partai politik
jang  dianggap  berbahaja  oleh  pemerintah kolonial Belanda ialah dua
dari partai Islam, dan dua dari partai Nasional. Jaitu PSII dan PERMI,
Partindo dan PNI.

Pemimpin2  keempat  partai politik ini kemudian dibuang. Jaitu Sukarno
dari  Partindo  ke  Endeh, Hatta dkk dari PNI ke Digul, H. Djalaluddin
Thaib  dkk  ke  Digul  dari Permi, dan Sabilal Rasjad dkk dari PSII ke
Digul djuga. PERMI jang begitu besar pengaruhnja terutama di Sumatera,
adalah  buah  tjip-taan  sdr.  Gaffar  Ismail bersama Ali Imran Djamil
almarhum  Jaitu  buah dari rnuktamar Sumatera Thawalib tahun 1930 jang
mendjelma  mendjadi partai PERMI. Disamping tokoh2 PERMI jang lain, A,
Gaffar Ismail termasuk tokoh utama dalam Permi. Ketjakapannja terutama
ialah   mendjadi   propagandis  partai.  Keliantjahan  dan  ketjakapan
berpidato  adalah  mendjadi  miliknja  jang  asasi.  Waktu  itu  dalam
berpidato,   ia   sedjadjar  dengan  Muchtar  Luthfi.  Berapi-api  dan
menjala-njala.

Kemudian,  ia  dikirim ke Djawa mendjadi propagandis PERMI, dan disini
ia  mendjalankan  pengaruhnja jang besar, sehingga namanja dalam waktu
jang singkat mendjadi populer sekali.

Seketika   partai2   politik   tersebut  tidak  mendapat  djalan  lagi
berhiibung  adanja  -Vergader  verbod dari pemerintah kolonial, Gaffar
tampil  dalam partai baru jang didirikan oleh Dr. Sukiman Partai Islam
Indonesia.  la  ikut mendjadi salah seorang tokoh penting dalam partai
ini.

Kemudjan setelah proklamasi, Gaffar ikut dalam Masjumi di Djokja Dalam
babak pertama, nama Gaffar tetap menduduki tempat penting dalam partai
ini.  Memang  buat  dia sebagai seorang pergerakan dan pedjuang Islam,
dirinja  sendiri  tidaklah  begitu  dipentingkannja.  la  hidup selalu
sederhana  dan  memadakan  apa  jang ada. la tidak ingin mewah, bahkan
seolah-olah lebih suka hidup menderita, menurut jang ditjontohkan Nabi
dalam perdjuangan fi Sabilillah ini.

Ia mengabdi partai setjara bersungguh2. Ketjakapannja berpidato sangat
besar  gunanja  bagi  suatu partai jang menghendaki pembangunan massa.
Berdjuang  baginja-bukanlah  barang  sambilan. Itu, saja ketahui benar
selama kita bergaul rapat semendjak Permi 1930 dahulu dan sampai waktu
jang achir didalam Masjumi.

Tapi  dengan  adil,  saja dapat menilai Gaffar ini, bahwa dia bukanlah
seorang  organisator.  Memimpin  partai setjara administratif ia tidak
bisa, dan bukanlah tempatnja djika pekerdjaan itu diberikan padanja.

Dia  dapat  dikemukakan  mendjadi  propagandas  dan penggugah semangat
rakjat  atau  pembentuk  kader.  Kalau  ini diberikan kepadanja, insja
Allah akan berhasil sebaik-baiknja.

Patah Hati
Suatu  kali pada tahun 1953 kami (saja dan Gaffar) berkundjung kerumah
sdr  Natsir  di  Djalan  Djawa.  Sdr. Gaffar mengemukakan pendapat2nja
mengenai  Masjumi.  Banjak  kritik  dilantjarkannja kepada ketua urnum
Masjumi  itu,  berdasarkan  fakta2  jang  djelas.  Dia melihat Masjumi
 belum  merupakan  suatu  partai perdjuangan jang radikal. Diketjamnja
sdr. Natsir jg (karena telah) mentjiptakan Tafsir Asas Masjumi, dimana
didalamnja sepatahpun tidak disebut2 kata2 Djihad.

Ia  ingin  Masjumi  itu  betu!2  partai  Islam  jg.  kuat  dan radikal
menentang  ideologie jg. hendak menghantjurkan Islam. Ia ingin Masjumi
mendjadi   pelopor    Negara  Islam   di  Indonesia.  la  mengemukakan
konsepsinja  didalam  rangka  memperhebat  tekad  perdjuangan. Apabila
Masjumi  diteruskan dalam tradisinja jang sudah2, dia pertjaja Masjumi
akan   mengalami  kekalahan  dan  tjita2  jang  dikandung  tidak  akan
tertjapai.  Berdjam-djam sdr. Gaffar mengada-kan koreksi dimuka Natsir
dan  saja  memperhatikan  kedua tokoh itu. Gaffar berkata dengan djiwa
jang  sebenar-benarnja  penuh  kelihatan. Bahkan achlr pembitjaraannja
menjatakan  kepada  Natsir  kira2  begini,  Saja bersedia untuk apapun
djuga  dipergunakan  dalam djihad fi sabilillah ini. Tugas apapun jang
diberikan  kepada  saja,  akan  saja  kerdjakan.   Gaffar  menjerahkan
dirinja bulat2 kepada Imam Masjumi Moh. Natsir.

Natsir  mendengarkan semua butir2 kata Gaffar dengan termenung. Natsir
tidak   memberikan  djawab  apa-apa.  Hanja  memutar2  rambutaja  jang
melambai dikening. Djawab tidak ada

la  achirnja  mengambil  keputusan sendiri. Meninggalkan Bogor (tempat
tinggalnja  waktu  itu)  dan pergi ke Pekalongan. Disana, telah banjak
menanti orang2 jang haus pimpinannja.

Dia  mengambil  djalan  menjendiri  (uzlah),  dengan  tidak  melupakan
kewadjiban  berdjuang.  Kalau dengan partai ia tidak bisa dipakai maka
ia   akan   mempergunakan  tenaga  dan  ketjakapannja  didalam  bidang
perdjuangan  Islam dalam tempat tertentu. Lebih baik ia menjusun suatu
barisan  dan  membentuk  kader dalam lapangan ketjil tapi dapat member
hasil,  daripada  mentjampuri  lapangan  besar  tapi sama sekali tidak
produktif.

Setelah  Pekalongan,  mengikut  pula  Surabaja  dan  kemudian Makassar
seperti  saja katakan diatas. Gaffar merasa puas dengan basil usahanja
ini,  karena  dengan  tjara  jang  dilakukannja  ini,  ia lebih banjak
mendapat  hasil. Gaffar menghilang dari permukaan Masjumi, dan Masjumi
sendiri seakan-akan tak hendak mau  tahu lagi padanja .

Inilah   akibatnja   briliant  jang  disia-siakan.  Dan  dia  sekarang
seolah-olah  atjuh  tak  atjuh  sadja lagi dengan Masjumi. Benar usaha
Gaffar ini tidak merugikan Masjumi setjara langsung, akan tetapi djika
usahanja  ini  disalurkan didalam rangka perdjuangan Masjumi, tentulah
akan lebih menguntungkan.

Salah satu tenaga kuat jang dianggap sepi. Dan bukan Gaffar sadja jang
telah uzlah (menjendiri) ini, tetapi banjak tenaga2 briliant lain jang
sudah  mengambil  sikap jang sama dengan Gaffar. Waktu almarhum H.Agus
Salim  hidup,  saja  pernah  datang ke rumahnya dan menanjakan, kenapa
beliau  memilih  djalan  tidak   berpartai   diachir hidupnya, padahal
beliau terkenal seorang pedjuang Islam sedjak dahulu?

Dengan   Sangat   terharu   beliau  mendjawab,   Waktu  Masjumi  mula2
didirikan,  saja  adalah  Masjumi.  Kemudian  Masjumi  petjah,  dengan
keluarnja  PSII  saja mau ditarik mendjadi PSII. Sedianja kedua partai
itu,  bagi  saja  sama  sadja, sebab sama2 berdasar Islam. Akan tetapi
praktik2  belakangan  ini  baik Masjumi maupun PSII, sama sekali tidak
dapat saja ikuti lagi. Karena itu saja menjatakan diri tidak berpartai
sadja. Apa boleh buat. 

Alangkah  sedihnja  utjapan  ini.  Tokoh  pemimpin  Islam  jang utama,
setjara  terus terang mengatakan  ketjewa  dengan praktik2 Masjumi dan
PSII.  Kemudian Jihat pula sikap jang diambil oleh sdr. Wali Al Fatah,
bekas  Wakil  Ketua  Masjumi  Pusat Djokja, dan bekas anggota Pimpinan
Partai  Masjumi 1952. Karena merasa ketjewa dengan sikap dan djalannja
perdjuangan  Masjumi,  achirnja  menjendiri dan membentuk gerakan baru
sendiri jang kini terkenal dengaa nama  Hidzbullah .

Al-Ustaz H.S.S. Djamaan Djamil, seorang ulama dan ahli flkir kita jang
djuga  tidak  asing  lagi, pun termasuk seorang jang hidup menjendiri,
dengan  hanja  menghadapi  murid2nja. Dahulu ia pernah mendjadi pemuka
dari Muhammadijah, termasuk ulama jang zuhud dan intelek.

Karena  praktik2  partai  jang dilihatnja sekarang sudah terlalu djauh
njeleweng,  achirnja  ia mendirikan perguruan sendiri jang, dinamainja
perguruan   Da wah  Is-lamijah   di  Tanah  Tinggi  Djakarta. Satu2nja
sekojah  Islam jang tetap mempertahankan sistem suraunja, dan mendapat
pengaruh jang besar dikalangan ummat Islam Djakarta.

Mungkin  para  pemuka2  Masjumi  jang  sekarang  menganggap kedjadian2
diatas,  sama  sekali  tidak penting untuk diperhatikan. Pergilah mana
jang akan pergi. Tapi satu hal harus kita pikirkan, bahwa djika sehari
demi  sehari, tokoh2 penting kita apalagi ulama2 kita jang berpengaruh
pergi satu persatu, akan bagaimanakah djadinja ini nanti?

Apakah  masih  dapat dijakinkain sekarang partai2 Islam itu benar akan
memperdjuangkan   Islam,   padahal   ulama2   jang   mengerti   Islam-
dikesampingkan,  dan  intelek  jang  hidjau  (masih  muda,  red) dalam
adjaran Islam diimamkan?

Dapatkah  ummat  Islam ber-IMAM kepada orang2 jang tak mengerti agama?
Terserah kepada penganut2 partai jang sekarang.

Menurut  jang  wadjar,  kalau  hendak  memperdjuangkan Islam, mestilah
dipimpin  oleh  orang2  jang mengerti Islam, bukan sebaliknja. Tjontoh
jang diperlihatkan oleh Gaffar Ismail, Wali al Fatah, H.Agus Salim dan
S.S. Djamaan saja kira masih banjak lagi dan akan masih terus terdjadi
djika  partai  kita  tidak  lekas-lekas  menjadari kebenaran ini. Pada
umumnja  dimana  partai Islam dipimpin oleh tenaga2 intelek kaum Ulama
dikesampingkan,  karena dianggap tak mengerti politik. Maka kembalitah
Ulama  kesuraunja  menghadapi  murid2nja,  dan  madjulah partai tanpa;
pengaruh  dikalangan  umat  jang  banjak,  mendjadi  partai jang tidak
berkaki.

  
 http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke