Mak Rahmat yang ambo hormati, Berarti agama memang harus dipisah dari kekuasaan dong? Bukankah itu sekularisme?
Wassalam Mantari --- In [EMAIL PROTECTED], "Rahmatullah Sjamsudin" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Tarimo kasih atas pencerahannyo. > > Memang saya hampir berkesimpulan jika agama dicapurkan dengan > kekuasaan atau mungkin lebih tepat jika kekuasaan berkedok agama maka > (seperti banyak fakta sejarah diseluruh dunia) akan banyak melahirkan > kezaliman. > > On Nov 19, 2007 12:20 PM, Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Berikut ini dibawah, artikel mengenai Perang Paderi, yang ditulis dek > > sanak kito, Kanda Suryadi di Leiden babarapo hari nan lewat, sesuai > > link yang diberi kanda Suryad, beikutik di Copypaste ke RN. > > > > Wassalam. > > ======= > > > > Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi (1826). Seorang > > panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur'an dalam kantong kain yang > > digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari kejauhan. > > > > Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en uitbreiding den > > Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1, Amsterdam: P.N. van > > Kampen, 1849: menghadap hlm. 92 > > > > Oleh Suryadi > > > > Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit > > akibat radikalisme agama. Di awal abad ke-19, demikian catatan > > sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. > > Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, > > membasmi bid'ah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan > > persuasif melalui dakwah dan pengajian. Namun, kemudian muncullah > > seorang yang radikal dan militan di antara mereka: ia bersama > > pengikutnya memilih jalan kekerasan. Akibatnya, pertumpahan darah > > antara sesama orang Minangkabau tak terhindarkan, yang menorehkan > > lembaran hitam dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi ulama yang > > radikal itu kalau bukan Tuanku Nan Renceh. > > > > Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang Paderi. Dialah > > panglima Paderi yang paling militan dan ditakuti. Sosoknya tidak > > sejelas namanya yang sudah begitu sering disebut dalam buku-buku > > sejarah. Tak banyak data historis mengenai dirinya. Hanya ada > > catatan-catatan fragmentris yang terserak di sana-sini. Tulisan ini > > mencoba merekonstruksi sosok Tuanku Nan Renceh berdasarkan berbagai > > catatan tersebut, baik yang berasal dari sumber asing (Belanda) maupun > > dari sumber pribumi sendiri. > > > > Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang Ilia, Luhak Agam. Kurang jelas > > kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam paruh kedua tahun > > 1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa mudanya. Namun, > > sedikit banyak dapat direkonstruksi melalui satu sumber pribumi, yaitu > > Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) karangan Fakih Saghir, salah > > seorang ulama Paderi dari golongan moderat (lihat transliterasi SKSJ > > oleh E. Ulrich Kratz dan Adriyetti Amir: Surat Keterangan Syeikh > > Jalaluddin Karangan Fakih Saghir. Kuala Lumpur: DBP, 2002). > > > > Menurut SKSJ (yang ditulis sebelum tahun 1829), di masa remaja Tuanku > > Nan Renceh, di darek (pedalaman Minangkabau) muncul seorang lama > > berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, Ampat Angkat. Banyak > > orang belajar agama kepadanya, yang datang dari berbagai nagari di > > Minangkabau, termasuk pemuda (Tuanku) Nan Renceh. Murid-murid Tuanku > > Nan Tuo yang sebaya dengan Tuanku nan Renceh antara lain Fakih Saghir. > > Mangaraja Onggang Parlindungan dalam bukunya yang kontroversial, > > Tuanku Rao ([Djakarta]: Tandjung Pengharapan, [1964]:129) mengatakan > > bahwa Tuanku Nan Renceh juga belajar agama Islam ke Ulakan. > > > > Tahun-tahun terakhir abad ke-18 Tuanku Nan Renceh sudah aktif > > berdakwah bersama sahabatnya, Fakih Saghir. Mereka "berhimpun...dalam > > masjid Kota Hambalau di nagari Canduang Kota Lawas" (Kratz & Amir: > > 23). Mereka telah berdakwah selama empat tahun lamanya sebelum > > kemudian Haji Miskin (salah seorang pencetus Gerakan Paderi) pulang > > dari Mekah pada tahun 1803 (ibid.:25). Berarti, paling tidak Tuanku > > Nan Renceh, yang waktu itu masih seorang ulama muda, sudah aktif > > berdakwah sejak tahun 1799, beberapa tahun sebelum gerakan Paderi > > resmi dimulai oleh Haji Miskin, Haji Sumaniak, dan Haji Piobang. > > > > Tampaknya bintang Tuanku Nan Renceh cepat bersinar, dan itu karena > > satu hal: sikapnya yang sangat radikal dan militan. Ia segera > > melibatkan diri sepenuh hati dan jiwa ke dalam Gerakan Paderi. Ini > > mungkin karena berita tentang Negeri Mekah yang didengarnya dari tiga > > haji yang baru pulang dari sana. Tak ada bukti bahwa Tuanku Nan Renceh > > pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tapi sudah biasa terjadi dalam > > soal Islam bahwa pendengar jadi lebih fanatik daripada yang mengalami > > sendiri pergi ke Mekah. > > > > Di awal tahun 1820-an Tuanku Nan Renceh sudah menjadi salah seorang > > komandan perang Kaum Paderi yang menguasai lima nagari, yaitu Kamang, > > Bukik, Salo, Magek, dan Kota Baru. Ia dan pasukannya sangat ditakuti: > > bila mereka menyerang suatu nagari dapat dipastikan bahwa nagari itu > > menderita. Tarup (lumbung padi) dan rumah dibakar, penduduk yang > > melawan dibunuh atau ditawan. Fakih Saghir dalam SKSJ menggambarkan > > aksi bengis pasukan Tuanku Nan Renceh ketika menyerang nagari > > Tilatang: "Maka sampailah habis nagari Tilatang dan banyaklah [orang] > > berpindah dalam nagari; dan sukar menghinggakan ribu laksa rampasan, > > dan orang terbunuh dan tertawan lalu kepada terjual, dan [wanita] > > dijadikannya gundi'nya [gundiknya]". Yang melakukan perbuatan kejam > > itu kebanyakan pengikut Tuanku Nan Renceh dari Salo, Magek, dan Kota > > Baru, sehingga pihak lawan menghina mereka dengan istilah "kerbau yang > > tiga kandang" (Kratz & Amir: 37), sebab perbuatan mereka dianggap > > sudah sama dengan perilaku binatang. > > > > Fakih Saghir menyebutkan bahwa Tuanku Nan Renceh "kecil tubuhnya" > > (Kratz & Amir: 24), yang memang bersesuaian dengan namanya (kata > > Minang renceh berarti kecil, lincah, dan bersemangat). H.A. Steijn > > Parvé dalam "De secte der Padaries in de Padangsche Bovenlanden" > > (Indisch Magazijn [selanjutnya IM]1, 1e Twaalftal, No.4:21-40) > > menyebutkan bahwa Tuanku Nan Renceh bertubuh kecil, kurus, bertabiat > > bringasan, dan memiliki sinar mata yang berapi-apicerminan dari sifat > > radikal dan keras hatinya. Pakaiannya mungkin seperti pakaian > > kebanyakan pengikut Paderi, seperti yang dideskripsikan oleh P.J. Veth > > dalam "De Geschiedenis van Sumatra," (De Gids 10e Jrg., Januarij: > > 1850, hal. 21), Thomas Stamford Raffles dalam Memoir of of the Life > > and the Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles editan Lady > > Sofia Raffles (Singapore: Oxford University Press, 1991 [reprinted > > ed.]: 349-50), atau sketsa visual oleh [E.] Francis dalam "Korte > > Beschrijving van het Nederlandsch Grondgebied ter Westkust Sumatra > > 1837" (Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië [selanjutnya TNI] 2-1, > > 1839: 28-45, 90-111, 131-154, hal. [141]): rambut dicukur, jenggot > > dipanjangkan, tasbih dan pedang selalu jadi 'pakaian', sorban dan > > jubah panjang hingga bawah lutut berwarna putih, membawa Al-Quran yang > > ditaruh dalam kantong merah yang digatungkan di leher (ini hanya > > khusus buat ulama/panglima Paderi) (lihat ilustrasi). > > > > Tak ada riwayat apapun tentang keluarga Tuanku Nan Renceh. Nama > > kecilnya juga tidak diketahui. Hanya ada sedikit kisah tragis bahwa ia > > memulai jihadnya dengan cara sadis: ia menyuruh bunuh bibinya > > sendirimenurut Mangaraja Onggang Parlindungan (op cit.:134) ibu > > Tuanku Nan Renceh sendiri yang bergelar "orang kaya" (urang kayo)yang > > tidak mau mengikuti perintahnya berhenti makan sirih, yang dianggap > > kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam. Mayatnya tidak dikuburkan > > tapi dibuang ke hutan karena dianggap kafir (lihat: Muhamad Radjab, > > Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838), Djakarta: Perpustakaan > > Perguruan Kementerian P.P. dan K., 1954:18-19; Christine Dobbin, > > Kebangkitan Islam dan Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra > > Tengah 1784-1847, terj. Lilian D. Tedjasudhana. Jakarta INIS, 1992: > > 158). Dengan begitu, Tuanku Nan Renceh cepat mendapat pengikut dari > > mereka yang berjiwa militan. > > > > Naskah SKSJ mencatat bahwa akhirnya Tuanku Nan Renceh memusuhi Tuanku > > Nan Tuo yang tetap memegang sikap moderat dalam memperjuangan > > cita-cita Gerakan Paderi. Tuanku Nan Tuo mengecam cara-cara di luar > > peri kemanusiaan yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya > > terhadap penduduk nagari-nagari yang mereka taklukkan. Tuanku Nan > > Renceh menghina ulama kharismatik yang dituakan di darek itu dengan > > menyebutnya sebagai "rahib tua" dan Fakih Saghir, sahabat dan bekas > > teman seperguruannya, digelarinya "Raja Kafir" dan "Raja Yazid" (Kratz > > & Amir: 41). > > > > Perpecahan di kalangan pemimpin Paderi tak terelakkan: Tuanku Nan > > Renceh membentuk kelompok sendiri yang terkenal dengan sebutan > > "Harimau Nan Salapan" yang militan, yaitu Tuanku di Kubu Sanang, > > Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galuang, > > Tuanku di Kota Hambalau, Tuanku di Lubuk Aur, Tuanku di Bansa dan > > Tuanku Nan Renceh sendiri (Kratz & Amir: 39). Mereka memisahkan diri > > dari Tuanku Nan Tuo dan mencari patron (imam besar) yang baru, yaitu > > Tuanku di Mansiang. Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya pun beberapa > > kali berusaha membunuh Tuanku Nan Tuo. Ia menganggap mantan gurunya > > itu menghalang-halangi tujuannya dan terus-menerus mengeritik jalan > > radikal yang ditempuhnya bersama pengikutnya. Namun, seperti > > diceritakan Fakih Saghir dalam SKSJ, upaya pembunuhan itu gagal. > > > > Seperti diuraikan oleh seorang penulis berinisial v.D.H. dalam > > artikelnya "Oorsprong der Padaries (Eene secte op de Westkust van > > Sumatra)" (TNI 1.I, 1838: 113-132), Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya > > yang militan kemudian menjadi lebih terkenal, meredupkan pamor > > kelompok moderat (Tuanku Nan Tuo dan pengikutnya). Dalam tahun > > 1820-an, pengikut golongan radikal itu makin banyak di Luhak Nan Tigo. > > Mereka mewajibkan kaum lelaki memelihara jenggot, yang mencukurnya > > didenda 2 suku [1 suku = 0,5 Gulden); memotong gigi didenda seekor > > kerbau; lutut terbuka didenda 2 suku; wanita yang tidak pakai burka > > didenda 3 suku; memukul anak didenda 2 suku; menjual/mengkonsumsi > > tembakau didenda 5 suku; memanjangkan kuku, jari dipotong; merentekan > > uang didenda 5 shilling; meninggalkan shalat pertama kali didenda 5 > > suku, jika mengulanginya dihukum mati (lihat: B.d., "De Padries op > > Sumatra", IM 2e Twaalftal, No. 5&6, 1845 [1827]:167-180, hal.172). > > > > Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya menjadi momok besar bagi masyarakat > > Minang waktu itu, khususnya Kaum Adat. Semakin meluasnya pengaruh > > faksi radikal Kaum Paderi yang dibidani oleh Tuanku Nan Renceh telah > > mendorong Kaum Adat minta bantuan kepada Belanda. Pada 21 Februari > > 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek kepada Kompeni dalam > > perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai kompensasi kepada > > Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Ikut "mengundang" > > sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah > > yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku > > Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815. > > > > Namun saya tidak menemukan data sejarah yang menunjukkan bahwa Tuanku > > Nan Renceh pernah berhadapan langsung dengan Belanda di medan > > pertempuran. Dalam penyerangan ke Kamang pada 1822 Belanda hanya > > berhadapan dengan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan Gapuak. > > Catatan-catatan fragmentaris dalam dokumentasi Belanda terhadap Tuanku > > Nan Renceh lebih didasarkan atas cerita-cerita orang Minang sendiri, > > bukan dari pertemuan langsung dengan panglima Paderi itu. Harap > > dicatat bahwa apa yang terjadi di pedalaman Minangkabau tetap masih > > gelap bagi orang Eropa sampai akhirnya Thomas Stamford Raffles > > berkunjung ke Pagaruyung pada 16-30 Juli 1818. Sebelumnya, orang > > Inggris dan Belanda di pantai memang mendengar ada perseteruan > > antarsesama orang Minang di pedalaman, tapi mereka hanya dapat kabar > > berita dari para pedagang yang pergi ke pantai tanpa menyaksikan > > sendiri dengan mata-kepala mereka apa sesungguhnya yang terjadi di > > pedalaman. Mungkin karena itu pula sampai akhir hayatnya, sosok Tuanku > > Nan Renceh tetap lebih banyak mengandung misteri, sebab tak banyak > > sumber Belanda yang mencatatnya. > > > > [Vigelius] dalam "Fragmenten eener beschrijving van Sumatra's > > Westkust." (TNI 13.II, Afl.7, 1851: 7-16, hal.11) dan E. Francis dalam > > Herinneringen uit den levensloop van een 'Indish' Ambtenaar van 1815 > > tot 1851, Vol.3 (Batavia: H.M. van Dorp, 1859, hal. 73) mengatakan > > bahwa Tuanku Nan Renceh wafat tahun 1832 di 'Medjang', sebuah desa > > dalam wilayah Laras Bukit, Luhak Agam (mungkin yang dimaksud adalah > > desa Mejan di Kamang). Menurut Naskah Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan > > Renceh wafat karena sakit: "Kemudian daripada itu maka tersebut pula > > perkataan [berita; Suryadi] Tuanku Nan Renceh dapat sakit. Dengan > > takdir Allah taala tidak berapa lamanya dalam sakit itu dan > > berpulanglah [ia] ke rahmatullah adanya" (Naskah hal.58 dalam Sjafnir > > Aboe Nain [tansliterator], Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM, 2004, > > hal. 48). Pada tahun wafatnya Tuanku Nan Renceh, pusat Gerakan Paderi > > sudah pindah ke Bonjol, dengan pemimpin utamanya Tuanku Imam Bonjol, > > salah seorang panglima Paderi yang 'dibesarkan' oleh Tuanku Nan Renceh > > sendiri. > > > > Tahun-tahun berikutnya Benteng Bonjol dikepung Belanda, hingga > > akhirnya jatuh pada 17 Agustus 1837. Sumber-sumber pertama (bronnen) > > yang mencatat pengepungan itu pada tahun-tahun terakhir sebelum Bonjol > > jatuh dapat dibaca dalam karya Gerke Teitler, Het einde Padri Oorlog: > > het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: een > > bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan > > Bonjol 1834-1837; sebuah publikasi sumber]. Amsterdam: De Bataafsche > > Leeuw, 2004). Di dalam buku itu antara lain terdapat "Journaal van de > > expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 > > Gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher > > C.P.A. de Salis" (hal.59-183). Dalam laporan itu dicatat pergerakan > > harian pasukan Belanda mendekati bonjol. Laporan itu dihiasi dengan > > banyak sketsa mengenai sistem pertahanan Kaum Paderi. > > > > Sulit untuk dibantah bahwa sepak terjang golongan radikal dalam Kaum > > Paderi yang dibidani Tuanku Nan Renceh telah semakin memperkuat > > keinginan Kaum Adat untuk minta bantuan kepada Belanda, karena mereka > > betul-betul merasa dihinakan oleh orang-orang yang masih satu > > sukubangsa dengan mereka sendiri. > > > > Tuanku Nan Renceh adalah sosok kontroversial: seorang penganjur agama > > Islam tapi dalam melakukan misinya sudah melewati dogma-dogma Islam > > sendiri. Tangannya terlalu banyak berlumur darah sudara-saudaranya > > sendiri sesama orang Minang. Masih untung kekeliruan ini akhirnya > > disadari oleh Tuanku Imam Bonjol, ulama Paderi penerus Tuanku Nan > > Renceh (lihat Sjafnir Aboe Nain, op cit., hal. 39, Naskah). Jika > > Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya tidak bersikap radikal, mungkin > > jalan sejarah Minangkabau (Perang Paderi) akan jadi lain. > > > > Masa lalu tak akan kembali. Tapi "jangan sekali-kali melupakan > > sejarah", kata almarhum Presiden Sukarno. Untuk konteks kekinian > > masyarakat kita, kisah Tuanku Nan Renceh patut menjadi cermin sejarah > > bagi generasi Minangkabau dan generasi Indonesia pada umumnya, baik > > kini maupun masa depan, terutama bagi mereka yang tangannya > > menggenggam kekuasaan, yang tak sadar apa akibatnya jika dengan sikap > > radikal dan taklid menjadikan agama sebagai komoditas politik. > > > > ---------------------- > > Suryadi, dosen dan peneliti pada Talen en Culturen van Zuidoost-Azië > > en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda (homepage: > > www.indonesisch.leidenuniv.nl; [EMAIL PROTECTED]) > > > > http://naskahkuno.blogspot.com/2007/11/kontroversi-kaum-paderi-jika-bukan.html > > 16.11.07 > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Jika anda, kirim email kosong ke >>: berhenti >> [EMAIL PROTECTED] Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] digest: >> [EMAIL PROTECTED] terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
