Sanak Suryadi ysh,
  Saya rasa ungkapan sanak merupakan pendapat yang jujur mengenai lebih dan 
kurangnya kajian sejarah. Saya sendiri sebenarnya hanya pemerhati dan tidak 
memiliki pendidikan formal dan kurang referensi. Sedikit pengalaman bila 
beberapa waktu yang lalu saya mencoba melanjutkan pendidikan kajian sejarah di 
salah satu perguruan tinggi, namun dalam wawancara terjadi sedikit perdebatan 
dengan 5 orang guru besar, sehingga akhirnya mereka menyarankan agar saya 
mengambil kajian arkeologi, yang tentunya saya tolak.
  Saya baru memahami bila kajian sejarah sangat terpaku dengan data-data 
tertulis, dan untuk Indonesia disebutkan mengambil patokan abad 15. Namun untuk 
Minangkabau kita sebenarnya baru memulai sejak masa perang Paderi itu, atau era 
sebelum itu dapat disebut sebagai masa pra-sejarah.
  Namun sebenarnya pemahaman sejarah berkembang di dalam masyarakat, melalui 
kaba ataupun tambo, termasuk cara pewarisannya; namun sebagai seorang muslim 
sebenarnya adalah permohonan yang selalu kita panjatkan melalui tuntunan 
Alfatihah. Hingga sampai pada titik pemikiran untuk merumuskan jalan kato bagi 
setiap orang Minang.
  Sejujurnya saya juga mudah terjebak subyektivisme, karena metode yang belum 
teruji dan pendekatan yang tidak lazim. Setidaknya ada 2 hal yang saya coba 
lakukan: mendalami makna kato yang terwariskan, serta mencoba memahami konteks 
geografis yang membentuk budaya setempat; sehingga tepatlah penilaian para 
profesor itu bila itu bukanlah “kajian sejarah”. Bagi saya sendiri tidaklah 
terlalu peduli bila itu berada dalam domain sejarah ataupun bukan, setidaknya 
dapat mengajak sanak sekalian untuk menilai secara kritis terhadap informasi 
masa lalu, walaupun kita tidak berprofesi sebagai peneliti.
  Kembali kepada penilaian Paderi, satu hal yang menarik untuk mempelajari 
motif awal perjuangan Paderi. Bila sanak menyampaikan karena kemarahan terhadap 
kemaksiatan, saya menyetujui, dan sepertinya hal ini menjadi kesepakatan umum 
dalam berbagai kajian mengenai Paderi. Sehingga hal ini telah cukup menjawab 
terhadap suatu tuduhan belakangan ini, yang menyebutkan adanya keinginan 
membangun “Negara Islam Minangkabau, dst”.
  Hanya saya mencurigai terhadap beberapa hal sebagai berikut :
  1. Tahap awal perjuangan Paderi (1803-1820) terkonsolidasi sedemikian rupa, 
sehingga tidak sekedar menegakkan syariat Islam di Minangkabau, tetapi juga 
“semacam persiapan untuk perjuangan yang lebih besar”, melalui pematangan 
mental orang Minang. Karena itu saya pernah meminta perlunya kajian yang lebih 
mendalam terhadap konteks yang berlangsung di Timur Tengah hingga Eropah pada 
masa itu; juga mendalami awal mula gerakan Wahabi di Semenanjung Arabia. Hal 
ini tidak semata karena “ke-3 haji” baru pulang dari tempat tersebut, tetapi 
juga digunakannya persenjataan perang modern yang diimpor dari Turki. Untuk hal 
terakhir ini, akan terasa bila kita mempelajari sejarah Perang Aceh.
  2. Kecurigaan bila Belanda sebenarnya meletakkan strategi awalnya adalah 
menguasai Minangkabau dalam upaya menguasai Nusantara pada keseluruhannya. 
Mungkin dapat dilihat tulisan saya terdahulu.
  Bila sanak Suryadi berkesempatan untuk sekali waktu menemukan bahan-bahan 
terkait, tentunya sangat diharapkan.
  Saya mendukung sanak dalam upaya pemberantasan judi dan miras di Minangkabau, 
sebagai kelanjutan perjuangan Paderi yang belum selesai. Saya melihat bila hal 
itu tidak saja tidak patut, tetapi juga tidak pantas dilakukan orang Minang, 
walaupun mempertaruhkan teh telur. Panjang badan tidak sepanjang bayang. Tidak 
seukuran. Bila perlu hal ini bisa menjadi tolok ukur kinerja Pemda saat ini. 
Bila pemberantasan korupsi dan pelayanan satu atap bisa ternilai dalam kinerja 
nasional; bukankah sebaiknya pemberantasan judi dan miras akan lebih ternilai 
secara kultural?
  Sangan itu dulu sanak.
  Wassalam,
  -datuk endang


Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Assalamualaikum ww.wb.

Tarimo kasih atas apresiasi Kakak/Apak, Sanak Dt.
Endang, Hanifah, Ichwan, Nofendri, dll. ateh tulisan
ambo tentang Tuanku nan Renceh nan dimuek di weblog
Dr. Oman Fathurahman dan alah dipostingkan ka lapau
kito ko.

Komentar2 tu sangai bamanfaaik bagi ambo. Banang merah
nan ambo dapek: bahaso sejarah tak lepas dari
subjektifitas. Itu memang benar, tak terbantahkan.
Tapi sejauh seorang peneliti akademik sadar posisinya,
maka insya Allah akan muncul analisis yang tidak
hanyut dalam subjektifitas itu (sperti ambo tulih di
Kompas). Namun, untuk menghilangkan 100% subjektifitas
itu tentu tidak mungkin. Soalnya, data sejarah itu
sendiri, mungkin sudah mengangdung subjektifitas juga.

Ambo berusaha merekonstruksi Tuanku Nan Renceh
berdasarkan data2 sejarah itu, sambil tetap waspada
bahaso ambo sebagai urang Minang sendiri, dan sebagai
seorang Muslim, harus hati2 agar jangan sampai jatuh
pada subjektifitas tadi.

Komentar2 dunsanak tentang pola organisasi Gerakan
Paderi sebenarnya sangat menarik untuk dikaji lebih
lanjut. Analisis ambo sementara: Perjuangan kaum
Paderi itu tak sepenuhnya terorganisir, dalam arti tak
ada komando tertinggi yang terus-menerus dipatuhi,
meskipun ada bukti bahwa antara sesama pemimpin Paderi
ada korespondensi (seperti terefleksi dalam Naskah
Tuanku Imam Bonjol).

Kita tahu bahwa ciri geopolitik tradisional
Minangkabau tidak mengenal kekuasaaan terpusat
(seperti kerajaan2 di Jawa). Nagari adalah unit
politik yang merdeka, yang duduak samo randah, tagak
samo tinggi dengan nagari2 lainnya. Istana Pagaruyung
dan dinasti Raja Minangkabau tidak lebih sebagai
simbol saja. Seorang Belanda pada abad ke-17
menyaksikan seorang penduduk mintak api rokok kepada
raja Pagaruyung. Begitulah sikap demokratis orang
MInang itu. Kalau itu dilakukan di Jawa, alamiak ka
bacarai kapalo jo badan....

Dengan demikian potensi konflik antarnagari di
Minangkabau sangat besar (ini masih tersisa sampai
zaman modern ini: beberapa kali penduduk dua nagai
terlibat cakak banyak). Salah satu kebiasaan yang umum
terjadi di zaman lampau adalah apa yang disebut oleh
sumber2 Belanda sebagai PRANG BATOE (maksudnya: PARANG
BATU) yang sering terjadi antara dua nagari
bertetangga. Nagari TARAM di dekat Payakumbuh tercatat
sebagai salah satu nagari yang sering melakukan PARANG
BATU terhadap nagari2 tetangganya.

Bahwa seringnya terjadi aksi penghadangan oleh
penduduk suatu nagari terhadap DAGANG (dalam
pengertian PANGGALEH ataupun MUSAFIR) dari daerah lain
yang melintas atau lewat di suatu nagari dengan jelas
dilaporkan dalam HIKAYAT SYEKH JALALUDDIN. Kebiasaan
ini juga dilaporkan dalam sumber2 lain.

Kebiasaan judi dan madat juga merupakan salah satu
sifat masyarakat kita di masa lampau. Laporan
statistik Belanda menunjukkan bahwa di Pariaman dan
darek konsumsi CANDU/MADAT termasuk yang tertinggi di
Sumatra, malah di Hindia Belanda. Sabung ayam dan judi
adalah ikutannya. J.C. Boelhouwer, komandan militer
Belanda di Pariaman menggambarkan dalam bukunya (1841)
sifat laki2 Pariaman dan Minangkabau umumnya. Di
desa2, demikian kata Boelhouwer, wanita bekerja keras
di sawah dan ladang--bertanam, merawat tananam, dan
memanen. Lelaki tidak pernah bekerja. Seluruhnya
diserahkan kepada wanita. Sementara kaum wanitanya
bekerja di bawah terik matahari di sawah, para lelaki
mengepit ayam dan pergi ke pasar yang terdekat, dan
seringkali mereka kembali pulang dalam keadaan
bangkrut. Tetapi mereka tidak berniat meninggalkan
perjudian itu untuk menyelamatkan rumah tangga mereka.
Mereka kembali ke pasar dengan uang sedikit-banyaknya,
seringkali mampir dahulu ke tempat penjual madat, dan
tak jarang pada pagi hari mereka dijumpai masih
tertidur lelap untuk menghilangkan mabuknya (lihat:
J.C. Boelhouwer, Herrineringen van mijn verblijf op
Sumatra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834'
[Kenangan semasa saya tinggal di Sumatra Barat antara
tahun 1831-1834]. 's-Gravenhage: De Erven Doorman,
blz.40-1 [dikutip oleh Suryadi dalam Syair Sunur: Teks
dan konteks 'otobiografi' seorang ulama Minangkabau
abad ke-19. Padang: YDIKM & Citra Budaya, hlm. 124]).
Toh kisah SITI BAHERAM DAN SIJOKI adalah bukti jelas
sifat laki-laki Pariaman yang pejudi itu (Saya kira
banyak urang di lapau kito ko nan alah tahu kisah
tragis yang terjadi di awal abad ke-20 itu; laporannya
pernah saya baca di harian Sinar Sumatra).

Kondisi masyarakat Minang yang seperti itulah, menurut
hemat saya, yang ikut berkontribusi dalam melahirkan
Gerakan Paderi. Sayangnya gerakan itu sendiri membawa
ciri sifat orang Minang yang 'merdeka' itu, yang
kurang mau tunduk ke dalam satu koordinasi. Akibatnya,
ya, terjadilah tragedi itu: antara sesama orang Minang
saling berbunuhan. Bukan tidak mungkin penyerangan
kampung2 oleh Kaum Paderi itu, sadar atau tidak,
membawa dendam perseteruan antara nagari yang memang
sudah terinternalisasi dalam sistem geopolitik
Minangkabau, seperti telah saya sebutkan di atas.

Jadi, jika kita mabil hikmah historis dari kejadian
Gerakan Paderi itu: ada sisi baik dan ada sisi
jeleknya. Yang baik: revolusi agama itulah yang,
menurut saya, menyebabkan lelaki Minang sekarang jauh
lebih sadar akan tanggung jawab keluarganya (kalau
tidak, jan gan2 lelaki MInang kini masih ngepit ayam
ke pasar, kayak lelaki Bali, he he). Bukti2 historis
yang saya kumpulkan menunjukkan bahwa gerakan Paderi
sedikit banyak juga memberi kontribusi pada menguatnya
peran ayah dalam keluarga. Sisi jeleknya: Revolusi
Kaum Paderi itu meninggalkan trauma historis yang akut
dalam kollective memory orang Minang sampai sekarang.

yang jelas, masih banyak hal dari perisitwa sejarah
Minang itu yang maih harus diteliti. Misalnya, kenapa
kok akhirnya gelongan Radikal (Tuanku Nan Renceh dkk.)
yang mendapat angin dan naik daun, sehingga golongan
moderat dalam Gerakan Paderi (Tuanku Nan Tuo, Fakih
Saghir dll.) menjadi tersingkir. Apakah ada faktor2
internal dan eksternal yang mempengaruhinya? Para
cadian pandai di lapau ko mungkin labiah tahu dari
ambo.

Namun, lepas dari itu, hal yang paling penting adalah
menjaga agar peristiwa itu hendaknya jangan terulang
lagi di negeri ini (atau di negara ini). Setiap
gerakan radikal akan memakan anaknya sendiri. Itulah
antara lain pesan saya dalam tulisan mengenai Tuanku
nan Renceh yg dimuat di weblog Dr.Oman Fathurahman 
itu. Sebab ambo liek dari jauh, ado pulo nan mulai
mengembangkan sikap2 radikal nana barajo di hati
surang tu, babana ka pangka langan, dalam masyarakat
kita di Sumatra Barat.

Kito, dunasak kito, anak kamanan kito, urang kampuang
kito, harus diingatkan sebelum nasi barubah jadi
bubua.

Salam arek,
Suryadi yang daif

       
---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites.  Make Yahoo! your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke