Mencari kisah sejarah yang netral memang sulit. Saya
melihat bahwa "perang" antara kaum Paderi dan kaum
Adat sampai sekarang masih berlanjut antara lain dalam
bentuk penulisan sejarah versi masing-masing pihak.

Ichwan

--- hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalammualaikum WR WB bapak datuk Endang dan bapak
> suryadi yth
>    
>   Kalau berkenan mohon penjelesan untuk kami nan
> indak mangarati tantang sejarah.
>    
>   Samuo hanifah manganggap perjuangan Paderi itu
> adolah perjuangan orang yang menganut agama islam
> melawan kaum adat yng mungkin belum islam. Tapi
> kalau disimak tulisan nan tantang Tuanku Rao nan
> suko main padusi (vulgar / tak senonoh) dan Tuanku
> Nan renceh yang hiiii sadiiiissss, hanifah jadi ragu
> apa benar kesimpulan hanifah di atas. Malah  yang
> terfikir adalah peperangan Paderi tersesbut seperti
> perang dalam cerita silat. Yang kuat ingin menguasai
> jagat raya  sesama pribumi.
>   Nah setelah datangnya Belanda yang orang asing,
> kita tau jangankan orang dari benua lain, dari pulau
> lain saja tidak mudah bagi kita untuk menerima orang
> lain.Muncullah semangat bela kampung eh bela negara
> ?  Oh ya yang menyatukan Indonesia waktu itu ? Maaf
> nilai sejarah wakatu sekolah paling tinggi tujuh.
>    
>   Wass
>    
>    
>   Hanifah Damanhuri
> 
> Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>     Sanak Nofend ysh,
>   Sungguh menarik ulasan sanak Suryadi mengenai
> Tuanku nan Renceh, suatu referensi yang relatif baru
> mengenai tokoh-tokoh di balik Perang Paderi yang
> saat ini mulai banyak terungkap. Diharapkan sanak
> Suryadi dapat mengembangkan usaha-usaha
> transliterasi dari berbagai sumber untuk melengkapi
> pengetahuan kita bersama.
>    
>   Saya memiliki beberapa catatan dari tulisan
> tersebut sebagai berikut :
>   Pemahaman terhadap profil tokoh hendaknya sudah
> mulai dapat dikaitkan dengan situasi kondisi pada
> masa itu. Saya sampai saat ini masih belum
> mendapatkan informasi tentang peralihan kepemimpinan
> di dalam pasukan Paderi, katakanlah mulai dari
> inisiatif “3 haji” kemudian menjadi “harimau nan
> salapan”, kemudian dikoordinasi oleh Tuanku
> Pamansiangan, kemudian “secara informal dan
> selanjutnya formal” di bawah komando Tuanku nan
> Renceh, hingga akhirnya kepada Tuanku Imam Bonjol.
>    
>   Pada peristiwa di Kototangah (1808/1809/1815?)
> disebutkan bila Tuanku nan Renceh menegur Tuanku
> Lintau; menunjukkan suatu hirarki telah terbentuk
> pada masa itu. Namun sejatinya Tuanku nan Renceh
> tidak pernah disebutkan sebagai pemegang komando
> tertinggi pasukan Paderi. Kepemimpinan tersebut
> justru mulai disebut ketika Tuanku Imam Bonjol
> memegang jabatan itu sekitar tahun 1820; atau di
> masa Tuanku nan Renceh telah berpulang. Mungkin ini
> menjawab kenapa peran Tuanku nan Renceh tidak pernah
> tersebut sejak Belanda mulai memasuki Minangkabau,
> termasuk perlu cek-ricek bila disebutkan meninggal
> tahun 1832.
>    
>   “Struktur komando” pasukan Paderi ini perlu
> mendapat perhatian, karena dapat menjelaskan misi
> dan bentuk perjuangan Paderi. Walaupun katanya
> Parlindungan (saya belum baca) menyebutkan ada suatu
> sistem hirarki dalam pasukan Paderi; namun terbukti
> bila perjuangan itu tidak mengakibatkan terbentuknya
> “daulah” atau sistem kenegaraan baru. Hal ini patut
> dipertimbangkan oleh para pemerhati sejarah bila
> ingin menarik kesimpulan tentang model atau bentuk
> perjuangan Paderi. Memperhatikan rentang waktu
> (1803-1821) sebenarnya sangat dimungkinkan hal
> tersebut terjadi, apalagi bila disebutkan bila dalam
> setiap peperangan selalu tercapai kemenangan bagi
> pasukan Paderi terhadap kaum adat. Mohon dapat
> dilihat tulisan terdahulu, dan sebelumnya.
>    
>   Untuk mendapatkan pengaruh apalagi bisa
> “mewariskan” kepemimpinan Paderi, saya kurang
> sependapat dengan penggambaran tokoh Islam radikal
> sebagaimana dituliskan. Satu alasan saya adalah
> penggambaran Tuanku nan Renceh sebagai pemimpin yang
> otoriter, selalu dapat mengarah pada pencapaian
> kekuasaan mutlak dalam suatu lingkup teritori; dan
> sebagaimana telah disebutkan terdahulu bila hal
> tersebut tidak terbukti dalam perjuangan Paderi.
> Termasuk juga “format” kepemimpinan Paderi
> 1803-1820.
>    
>   Hal lain adalah suatu pemahaman bila Rasulullah
> tidak mengubah watak para sahabatnya ke dalam suatu
> tipikal model kepemimpinan, sebagaimana dapat
> dilihat dari Abubakar – Utsman – Umar – Ali
> (bijaksana – pengasih – tegas – intelektual).
> Sehingga dalam suatu situasi tertentu, suatu sifat
> kepemimpinan bisa menjadi lebih menonjol, dan
> dibutuhkan. Bila tipikal itu negatif, tentunya ada
> perlawanan atau paling tidak resistensi; sebaliknya
> kita melihat pasukan Paderi terus terkonsolidasi
> hingga datangnya Belanda. Kita kembali perlu
> melakukan cek-ricek tentang informasi “negative
> traits” ini. 
>    
>   Selanjutnya bila naskah SKSJ merupakan catatan
> pendapat, maka tentunya berdasarkan penilaian
> subyektif penulisnya.
>    
>   Saya coba bentangkan suatu motif dari perjuangan
> Paderi, berdasarkan situasi benteng Bonjol dan
> kajian geografis, sebagaimana dapat dilihat dari
> tulisan terdahulu. Dan mudah-mudahan dapat menjawab
> beberapa pertanyaan dan gugatan yang selama ini
> muncul. Apalagi bila ada sanak yang berkenan
> menganalisis awal-mula munculnya gerakan Wahabi di
> Saudi Arabia, dalam konteks situasi politik pada
> masa itu (lokal dan makro). Bila berkenan kiranya
> dapat juga dihimbau sanak Suryadi untuk menyampaikan
> gambaran dari Lodewijk Horner serta berbagai catatan
> lainnya.
>    
>   Wassalam,
>   -datuk endang
> 
> 
> "Nofend St. Mudo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   
> Berikut ini dibawah, artikel mengenai Perang Paderi,
> yang ditulis dek
> sanak kito, Kanda Suryadi di Leiden babarapo hari
> nan lewat, sesuai
> link yang diberi kanda Suryad, beikutik di Copypaste
> ke RN.
> 
> Wassalam.
> =======
> 
> Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi
> (1826). Seorang
> panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur'an dalam
> kantong kain yang
> digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari
> kejauhan.
> 
> Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en
> uitbreiding den
> Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1,
> Amsterdam: P.N. van
> Kampen, 1849: menghadap hlm. 92
> 
> Oleh Suryadi
> 
> Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan
> pengalaman pahit
> akibat radikalisme agama. Di awal abad ke-19,
> demikian catatan
> sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah
> tahap lampu merah.
> Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali
> ke syariat,
> membasmi bid'ah dan khurafat. Mereka melakukannya
> dengan pendekatan
> persuasif melalui dakwah dan pengajian. Namun,
> kemudian muncullah
> seorang yang radikal dan militan di antara mereka:
> ia bersama
> pengikutnya memilih jalan kekerasan. Akibatnya,
> pertumpahan darah
> antara sesama orang Minangkabau tak terhindarkan,
> yang menorehkan
> lembaran hitam dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi
> ulama yang
> radikal itu kalau bukan Tuanku Nan Renceh.
> 
> Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang
> Paderi. Dialah
> panglima Paderi yang paling militan dan ditakuti.
> Sosoknya tidak
> sejelas namanya yang sudah begitu sering disebut
> dalam buku-buku
> sejarah. Tak banyak data historis mengenai dirinya.
> Hanya ada
> catatan-catatan fragmentris yang terserak di
> sana-sini. Tulisan ini
> mencoba merekonstruksi sosok Tuanku Nan Renceh
> berdasarkan berbagai
> catatan tersebut, baik yang berasal dari sumber
> asing (Belanda) maupun
> dari sumber pribumi sendiri.
> 
> Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang Ilia, Luhak
> Agam. Kurang jelas
> kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam
> paruh kedua tahun
> 1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa
> mudanya. Namun,
> sedikit banyak dapat direkonstruksi melalui satu
> sumber pribumi, yaitu
> Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) karangan
> Fakih 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke