Hmm...Tanggapan yang bagus, objektif, saya senang itu.

Saya bisa mengerti dengan semua itu. Makanya saya
hanya menyesalkan sikap, pak kepsek sesuai dengan
cerita saya kemaren(menghalang2i saya, cukuplah beliau
hanya tidak mengizinkan saya, tetapi jangan usaha saya
dihalang-halangi, bahkan sampai memfitnah saya dengan
hal-hal yang tidak pernah terlintas dibenak, apalagi
terbayangkan sama sekali, dengan alasan saya kalau
dikasih lagi tugas belajar, maka saya akan selamanya
di Kairo, bekerja di kedutaan bersama suami saya).
Inaalillahiwainaailaihi raaji'uun. Dalam pikiran saya,
ngapain saya menerima tawaran PNS ini dulunya, kalau
tidak karena saya memang bertujuan untuk kembali ke
"Indonesia Raya".

Untuk diketahui, asal muasal saya menjadi PNS ini,
memang saya sengaja dipanggil oleh Depag Pusat, agar
bisa menjadi PNS. Karena dengan terikatnya saya
menjadi PNS, mau tak mau, saya dan beberapa teman
lainnya, kami beberapa orang mahasiswa/i ketika itu
akan kembali ke Indonesia. Karena dulu itu cukup
terkenal mahasiswa/i Indonesia keasyikan dinegara
Mesir itu karena memang suasananya cukup menyenangkan,
walaupun hidup makan senin kamis, istilah orang.

Ketika itu, saya ngak mau PNS,dengan alasan saya masih
menulis S2, lagian suami saya bekerja di Kairo, saya
ngak mau pisah dengannya, mana anak-anak masih kecil2
semuanya. itu alasan saya. Tetapi ketika itu, saya dah
dijanjikan, akan tetap melanjutkan sekolah saya, bila
telah diurus 100% PNSnya, asalkan kembali aja dulu ke
Indonesia, setahun, atau dua tahun.Dan saya
dipersilahkan, sebelum selesai S2, memilih dulu tempat
di lingkungan MAN, dimana saja, asal di Indonesia, dan
dalam lingkungan DEPAG.Tidak di lingkungan DIKNAS,
dimana saja, setelah S2 baru bisa pindah ke PT.Dari PT
baru ambil S3.

Saya ok.kan dengan berat hati ketika itu.Namun, sampai
setelah 6 bulan CPNS saya keluar, saya masih ragu,
ngak mau pulang, ngak mau ambil PNS, yang paling berat
bagi saya, itu tadi, pisah dengan suami, anak2 masih
kecil sekali, mana S2 saya bisa terlantar saya
pikir.Tapi atas dorongan suami serta begitu banyak
pihak, saya pulang juga ke Indonesia bersama
anak-anak. Urus semua kelengkapan administrasi di
Indonesia, setelah itu, masih ragu, sebulan di
Indonesia, kerja saya menangis terus, ingat suami tiap
saat, ngak biasa saya hidup sendirian tanpa suami
mengurus anak 3 org benar2 masih sangat kecil
semuanya, memangis sepanjang malam. Akhirnya suami
suruh saya lagi pulang ke Kairo. 

Hampir semua Diplomat, pejabat, bahkan suami sendiri,
terus mendorong saya ambil saja PNS itu, orang susah
cari kerja, sementara saya malah lulus PNS dengan cara
dipanggil begitu, kenapa tidak disyukuri. Yah..berapa
bulan di Kairo, pulang dan saya pilihlah SUMBAR, yaitu
di MAN 2 ini. Jadi saya memang bukan diusulkan oleh
daerah, atau MAN dua PNSnya, tetapi memilih sendiri
tempat itu dulunya.

Lantas kenapa setelah S2 saya ngak pindah ke PT, baru
ambil S3?. Saya dah berusaha untuk itu, tetapi Kepsek
tidak mengizinkan saya pindah, walaupun sudah
bertahun2 di MAN itu, makanya saya berfikir, kalau
begini caranya, ngak ada jalan lain, saya harus ambil
S3 lagi, karena saya tahu, kalau jalan ini
dilarangnya, justru berat kedianya. Kalau pindah, saya
tau, akan sulit, karena alasan mereka juga banyak,
saya baru bertugaslah, dan kami membutuhkannyalah, dan
macam2lagi.

September 2000 saya mulai bertugas, mengajar, status
pegawai, tetapi tugas mengajar, karena saya ngak punya
akta 4, saya bukan jurusan tarbiyah. Agustus 2001,
saya LPJ(Latihan Pra Jabatan), sebagai kelengkapan
syarat PNS. setelah sebulan 100% saya langsung
mengurus tugas belajar, jadi sejak September
2001(sewaktu mengurus tugas belajar S2 ini, ngak
menemui kesulitan, karena kepseknya mengizinkan,
bahkan mendorong).

Selesai baru Desember 2006, pulang ke Indonesia
bertugas kembali Januari 2007.
Sewaktu saya tugas belajar, sebahagian gaji saya, saya
sumbangkan untuk kepentingan sekolah. Namun setahun
sebelum selesai S2, saya mendnegar berita, ternyata
gaji sumbangan dari saya tidak dipakai untuk
kepentingan sekolah, Allahu'alam kemana, yang pasti
uang diterima  tiap bulan sama Pak kepsek yang
sekarang, itu yang saya dengar. 

Mendengar hal ini, saya merasa, kepsek tidak amanah,
tidak sama dengan kepsek yang lama, akhirnya saya buat
surat agar sumbangan saya diputuskan. Hanya saja,
tidak pernah diputuskan sampai saya pulang. Ketika
saya tanya sama bendahara, kenapa masih dipotong gaji
saya, kan saya sudah bilang jangan dipotong lagi,
zakat profesi sayapun ngak jelas kemana larinya. Saya
hanya ingin tau kemana uang tersebut dipergunakan,
Bendahara menjawab, ngak tau, sama pak kepala. Dan
kenapa masih dipotong juga meski sudah ada surat resmi
dari saya? Jawab bendahara, ia membaca surat saya
tetap dipotong koq. Saya bilang, mana surat itu, mari
kita baca bersama-sama. Repot dia saya desak begitu,
datang kepada kerpsek, akhirnya diserahkan surat itu,
saya bilang, silahkan dibaca ulang. Apa jawabnya:" Oh
iyah..ngak terbaca"(apa ngak gila tuh, masak ngak
kebaca)Saya tanya kepala TU, apa dulu beliau membaca
surat saya, dan apa isinya. Kepala TU saja bilang,
iyah, saya baca, jangan dipotong lagi gaji saya. Nah
lho, saya bilang bendahara bilang lain dari yang ibu
bilang.(ada yang aneh memang, tapi saya diam biarlah
berapalah uang segitu, 6 bulan koq).

Setelah saya mengabdikan diri saya berapa bulan,
banyak hal-hal yang saya kritik, terutama masalah
keuangan, murid2 tiap bulan bayar, uang pembangunan
bayar tiap tahun, tapi kemana hasilnya, pembangunan
ngak ada, kemana uang? mana kalau guru pegawai ada
rapel, atau apa gitu, sellau dipotong dengan alasan
untuk sumbangan ke KPKN. Saya kritik secara langsung
kepada kepsek, mana ada sumbangan yang ditetapkan
jumlahnya Pak, lagian kenapa harus menyogok ke KPKN?
Jawab kepksek ketika itu:"Agar urusan lancar"Saya
bilang, kalau ngak kasih uang, apa urusan tidak
selesai? Jawabnya: "Kamu ini aneh, silahkanlah kamu
urusan di Indonesia ini, kalau kamu tidak keluar
uang". Dan masih banyak kritikan yang memang semuanya
hampir berubah, seperti, kepanitiaan, saya heran aja,
masak tiap ada acara, panitianya itu keitu saja terus,
ngak ada pergantian, yah, orang-orang itu sajalah yang
banyak terima uangnya, panitia UANlah, inilah, itulah,
begitulah seterusnya. Apa jawab Pak kepsek, ketika hal
ini saya pertanyakan: " Kenapa mereka ngak minta jadi
panitia, coba kalau mereka minta, kan saya kasih".
Saya bilang aja: " Pak,..kerjaan, ngak usah diminta,
tetapi agar adil, semua kebagian rezeki, digilirlah
Pak, seganlah mereka minta Pak?". Ok, kata Pak kepsek,
karena saat itu dirapat disampaikan, akhirnya setelah
itu, memang digilirlah semuanya, jadi semua kebagian
rezeki. 

Dan sekarangpun administrasi keuangan cukup terbuka,
dimana pembangunan pun sudah ada, meski dikit.Dari
uang pembangunan yang dibayarkan murid2. yah..cukup
banyak memang, walaupun, resikonya, disaat saya
berurusan, pak Kepsek, menghalangi saya, ingin
membuktikan pada saya, silahkan berurusan di Indonesia
ini, kalau ngak pakai uang. Dan ngak usah saya
sebutkan, jangan marah yang mereka ortu atau dirinya
jadi kepsek, ada yang untuk jadi kepsek, menyogok
kandepag, atau atasan lainnya, ada..di Indonesia ini,
tidak semuanya koq, jangan khawatir, saya ngak bilang
semua kepsek toh?, tetapi ada, dan biasanya itu sudah
menjadi rahasia umum, hampir rata-rata orang dah tau
itu.

Secara logika, memang, apa-apa kesulitan yang saya
hadapi ini, sudah bisa diprediksi sebelumnya, jadi
saya dah siap untuk itu. Bahakan saya pernah bilang,
dipecatpun saya untuk menyampaikan kebenaran itu,
silahkan saja, saya tidak takut, yang penting saya
tau, apa yang saya lakukan benar adanya.

Siapa sih bilang, orang yang tugas belajar itu
korupsi?. Mana landasannya yah?

Kemudian, enak sekali yah, kalau dilihat dari kisah
saya, PNS ini, gaji jalan terus, mana belajar terus,
bisa kumpul sama suami lagi. Hehehe..ini secara nikmat
Allah saja pada saya, Allah dah takdirkan tugas suami
saya, memang dimana tempat saya belajar.

 Saya dari S1, memang di Mesir, dan sangat diharapkan
oleh Depag dari awal saya diminta untuk PNS ini,
sampai S3nya juga di Mesir. Jadi kloplah nikmat Allah
itu pada saya, memang nghak semua orang bisa
mendapatkan nikmat semacam ini. Kalaupun tugas belajar
saya di Eropah, dan harus pisah dengan suami, saya
akan tetap ambil S3 itu, sepanjang masih ada jenjang
pendidikan lebih tinggi lagi, akan saya capai terus,
tanpa mengenal lelah. Kata Bung Karno, "Capailah atau
gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang
dilangit".(tentu semampu manusia itu juga, karena
keputusan akhir tetap ditangan Allah, manusia hanya
bisa berusaha dan berdo'a saja).

Untuk diketahui, dah berapa kali, Pak Kepsek berusaha
menggagalkan usaha saya untuk ambil S3 ini. Dengan
menyuruh saya ambil S2 dibidang lain lagilah, dengan
menyuruh saya bahkan telah mengusulkan saya untuk jadi
gurulah, sertifikasi guru yang gajinya dua kali
lipatlah, dan macam-macam lagi. Namun saya tetap tidak
mau. Saya tetap bilang, : " Ngak Pak, saya mau belajar
lagi, itu saja, ngak perlu untuk saat ini gaji saya
besar, nantik setelah S3, benar-benar ngak ada beban
dikepala saya lagi yang menggantung saya gara-gara
sekolah belum sampai titik akhir secara formalnya,
baru saya pikirin masalah ini.Mo gaji besar, kecil,
saya ngak peduli itu, karena saya merasa dari gaji
suami sekarang saja yang kita hemat-hematkan, sehingga
tidak ada lagi image orang kalau menjadi ustadzah itu
kere(miskin), dan ngak ada lagi usaha keras untuk cari
uang kesana-kemari, karena kebutuhan hidup, sampai
mengorbankan murid, atau siswa, yang mana saya dengar
ada beberapa dosen yang suka mengeruk keuntungan
material dari mahasiswanya. dan saya tidak
menginginkan itu, saya ingin kelak, hidup saya cukup
dengan gaji apa yang ada, cukup makan, karena biaya
buat yang penting-penting sekali dah dihematkan dari
sekarang, dari gaji suami saya. Dan gaji yang saya
terimapun saat ini, untuk beli buku-buku, juga
benar-benar buat sekolah, saya juga ke Mesir pakai
ongkos, saya menulis juga pakai biaya, ngak jauh
bedanya gaji yang saya terima dengan mereka yang
mendapatkan bea siswa.Masak untuk sekolah saya S2,
atau S3 ini pakai gaji suami juga, bukankah hasilnya
kelak, negara juga yang menikmatinya?.

Ketika saya sampaikan alasan2 saya ini, Pak Kepsek
hanya diam saja. Dan anehnya sekarang, setelah saya
sampai diBKT, saya serahkan SK tugas belajar itu,
Kepsek berusaha ada sahamnya disana atas keberhasilan
usaha saya dapat tugas belajar ini, dengan mengatakan
:" Saya yang menyuruh Sekjen menelpon Kakanwil".
Cepat saya tangkas yang saya kira itu kebohongan
beliau, dengan perkataan saya : " Pak,..Saya tau
sekali saat itu, Kakanwil ditelpon sebelum menelpon
Bapak, Kakanwil di telpon paginya, bapak sorenya dan 
nomor HP Bapak, saya yang memberikannya ke Jakarta".
Wah, kaget dia, ternyata saya tau, kalau kepsek
ditelpon siapa saja dari Jakarta itu, karena memang,
orang Jakarta langsung ngomong kesaya, kalau mereka
akan menelpon Pak Kepala lagi, setelah menelpon
Kakanwil ini.Jadi semua keberhasilan ini benar-benar
atas Rahmat Allah buat saya Pak, yang menolong sayapun
datang dari Jogya, sejujurnya saya sendiri ngak
mengenalnya, saya hanya mengenal Pak Fauzan, Pak
Quraish, namun, itupun belum kelihatan hasilnya,
bagitupun dorongan mereka itu sangat saya hargai
sekali.

Dan orang kuat di Sumbar yang menolong sayapun,
bukanlah bertitel doktor atau profesor, atau pejabat
Depag, hanya saja, kata-kata beliau mendapat perhatian
dari masyarakat Sumbar ini, boleh dikatakan didengar
fatwa-fatwanya.Dan orang tersebut memang sangat dekat
dengan saya dan keluarga suami saya, sama-sama
mengalami suka duka di Mesir dulunya. 

Jadi semuanya memang sudah diatur yang maha kuasa.
Yang mengatur segala urusan nasib hidup manusia
beserta liku-liku jalannya sesuai dengan
firman-firmanNya.Dan perlu diketahui juga, titik akhir
dari usaha saya, surat saya tulis langsung ditujukan
ke MENAG. Disanalah mulai nampak titik terang, karena
MENAG telah mensetujuinya, hanya saja tetap proses
harus dimlai dari awal, dan awal kali ini, bukan dari
Kepsek, cukup dari Kanwil saja lagi, jadi tingkat
kesulitan dah berkurang. Saya langsung datang ke
Jakarta mengantarkan surat yang saya ketik sendiri
tersebut, yang mana sebelumnya pernah juga saya ajukan
ke Sekjen, tapi ngak ada tanda-tanda titik terang,
saya pikir lagi ajukan langsunglah ke Menag.Suami saya
aja bingung, tanya beliau, berani nantik ke Jakarta
menemui Menag? Saya jawab aja: " Berani, kenapa tidak,
kalau perlu ke Pak Presiden?".Sayakan minta sekolah,
bukan minta yang macam-macam, makanya saya berani saya
bilang, kalau saya minta yang aneh-aneh, iyalah, mana
saya berani, saya tau apa yang harus saya lakukan. 

Yah..alhamdulilah suami mendukung, kirim uang kesaya
untuk mengurus ke jakarta itu lagi, ngak papa,
silahkan kata beliau, sampai dimana Ima maunya, uda
akan dukung, tetapi tetap harus bisa menerima hasil
akhir apapun. Ok. saya bilang, hasil; akhir, yah..cuti
diluar tanggungan negara. Hanya saja Allah berpihak
kepada saya, saya yakin, Allah ngak pernah
mensia-siakan usaha hambaNya sepanjang apa yang
diinginkannya dalam koridor yang benar disisiNya.

SK keluar sejak 14 Nopember 2007- 2010.Menurut
ketentuan yang ambil S3 ke LN, jatahnya 4 thn, tapi
saya tiga tahun, yang mena kelak, diperpanjang aja
kata kepegawaiannya, kalau bisa cepat selesai, sangat
diharapkan, kalau tidak silahkan diperpanjang sesuai
jatah saya. Itu saja pesan mereka. Dan bila berhasil
kelak saya tetap ditempatkan dilingkungan Depag, tidak
boleh kemana-mana. Kelak tergantung yang menerima,
siapa cepat, dia yang dapat. Kalau Jakarta lebih cepat
menarik saya, maka ke Jakartalah saya, kalau Sumbar
lambat menarik saya kembali, itu bukan kesalahan saya
lagi. Dari awal sekali Pak Quraish pernah mengingatkan
saya, untuk keilmuan dibidang saya tepatnya di
Jakarta, tetapi itu tergantung di Sumbarnya, bila
lambat menarik saya, maka saya ngak bisa buat apa-apa
untuk itu, karena kalau saya dah selesai, saya rasa
sepenuhnya diri saya, ilmu saya buat kepentingan
Depag.

Sekarang justru tugas berat mulai menanti saya, saya
mulai akan kosentrasikan selama di Indonesia ini
mengumpulkan bahan-bahan.Thesis tetap berbahasa Arab,
walau berkaitan dengan Indonesia, khususnya Sumbar.

Wassalamu'alaikum. Bukittinggi, 21-11-2007 Rahima. 







--- [EMAIL PROTECTED] wrote:

> Ass. Wr. Wb.
> 
> Pernyataan nan samo jo Da Riri, kalau boleh komentar
> (mungkin boleh ya, 
> karena ini di milist),
> Talapeh dari sagalo kesulitan nan di alami, ado
> carito almarhum bapak 
> ambo.
> Bapak ambo dulu kapalo sekola juo, kadang persoalan
> disekolah acok juo 
> baliau bacarito carito dirumah.
> Kaitan nan samo jo kasusko, dulu ado guru nan minta
> pindah, dalam 
> penyampaian minta pindah itu, guru tersebut terkesan
> intimidasi, dia 
> bicara kenal dengan kanwil, dan beberapa pejabat
> kanwil.
> Bapak saya merasa ter intimidasi juga dan secara
> manusiawi jadi ikut 
> emosi, Bapak saya bilang, ya sudah kalau ibu mau
> pindah silahkan minta 
> memo ke kanwil.
> Keluh kesah bapak saya dirumah, "sebenarnya kalau
> ngomongnya baik2 tidak 
> pakai intimidasi bapak saya akan memberi ijin pindah
> tersebut", bapak saya 
> nggak mau juga memberi ijin karena kesan bapak saya
> takut sama kanwil.
> 
> Hal yang sama juga untuk guru minta ijin sekolah,
> waktu itu ada juga guru 
> yang baru pulang sekolah terus sekitar 1,5 thn
> ngajar minta ijin untuk 
> sekolah lagi.
> Dirumah bapak saya berkeluh kesah,  "Kadang orang
> itu mikirnya gimana ya!, 
> dia sekolah 3thn di biayai negara baru mengajar 1,5
> th sudah minta ijin 
> lagi pergi sekolah, yg didapat sewaktu sekolah dulu
> saja belum kelihatan 
> hasilnya ke murid dia minta ijin sekolah lagi ini
> kepentingan sekolah apa 
> kepentingan pribadi", Kalau ini kepentingan sekolah
> mestinya kan sejalan 
> dengan tujuan sekolah, targetnya buat sekolah apa ?.
> Kalau kepentingan 
> pribadi bukankah ini salah satu bentuk korupsi juga,
> Korupsi itu kan tidak 
> selalu memotong anggaran, ini bentuk korupsi juga".
> 
> Beberapa minggu setelah itu bapak saya memberi ijin
> guru tersebut ijin 
> sekolah, karena tujuan dia pergi sekolah sekalian
> mau mengurus ibu nya yg 
> sudah sakit2an. Sekolah bukan tujuan utama tetapi
> menjaga ibunya yg 
> sakit2an. Bapak saya nggak tega juga. Bapak saya
> berkomentar, 
> Sakitu dulu carito nan dapek ambo tanggapi, diliek
> dari sisi kapalo 
> sekolah.
> Tantu sadonyo tapulang ka diri surang2 untuak
> manilai.
> 
> Salam
> Is St Marajo 38+ 
> 
> 
> 
> 
> 
> Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> 
> Sent by: [email protected]
> 16/11/2007 09:04
> Please respond to
> [email protected]
> 
> 
> To
> [email protected]
> cc
> 
> Subject
> [EMAIL PROTECTED] Re: Alhamdulillah :"Sengsara itu
> membawa Nikmat"
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Waalaikumsalam wr.wb.
>  
> Rumit juga kelihatannya, dan mungkin ini satu dari
> sangat sedikut PNS yang 
> sekolah di LN mengalami kerumitan seperti ini.
> Alhamdulillah, semuanya 
> memang telah selesai. 
>  
> Cuma, kalau boleh komentar (mungkin boleh ya, karena
> ini di milist), 
> menurut saya "kata kunci"nya ada di paragraf ketiga
> tulisan sanak itu. 
> Waktu melapor ke atasan.
>  
> Pada dasanya tidak ada orang yang suka
> "direndahkan". Sanak meng quote 
> Dirjen? Reksinya, kalau jaman dulu mungkin pejabat2
> "kecil" ketakutan. 
> Tapi sekarang - pengamatan saya - ini justru "bunuh
> diri". Apalagi kalau 
> atasan anda itu tahu persis (atau setidaknya dia
> yakin) bahwa pak Dirjen 
> anda itu tidak akan secara gampang memecat dia,
> menurunkan pangkatnya dst 
> dst.
>  
> Kedekatan sanak dengan "orang2 atas" itu -umumnya-
> merupakan suatu 
> keuntungan kompetitif, asal digunakan secara "wise".
> Wise maksud saya, 
> kepada siapa, kapan, dan bagaimana cara
> menungkapkan.
>  
> Kalau menurut saya sih, sanak "terlalu cepat"
> menyebut2 Dirjen, mungkin 
> ceritanya akan beda kalau sanak mencari tahu
> bagaimana peraturan 
> sebenarnya (toh atasan sanak itu mengatakan "seingat
> saya" ..., artinya - 
> pada waktu itu - omongannya bukan "harga mati").
>  
> Wasalam,
>  
>  
> Riri
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Assalamu�alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh
> Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta
> anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika
> anak-anak
> di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta,
> karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi
> Ijazah,
> kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah
> selesai
> pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana
> kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen
> Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan
> saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat
> keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana,
> serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni
> dimulai
> dari dimana tempat kita bekerja.
> 
> Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat
> aku
> bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai
> memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan
> pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali,
> karena
> sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu
> jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni
> Ilmu-ilmu hadits.
> 
> Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku.
> Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi
> setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi,
> kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan
> pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak
> percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan,
> ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu
> saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja
> koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas
> katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi
> darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa
> kesaya,
> dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta
> mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak
> berwenang
> untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat
> Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, �Mintalah
dulu
> secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu,
> kalau mereka menyetujuinya�. 
> 
> Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu
> orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita
> mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu
> berasal
> dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah
> juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya.
> Mereka
> merasa aneh juga.
> 
> 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke