Hmm...Tanggapan yang bagus, objektif, saya senang itu. Saya bisa mengerti dengan semua itu. Makanya saya hanya menyesalkan sikap, pak kepsek sesuai dengan cerita saya kemaren(menghalang2i saya, cukuplah beliau hanya tidak mengizinkan saya, tetapi jangan usaha saya dihalang-halangi, bahkan sampai memfitnah saya dengan hal-hal yang tidak pernah terlintas dibenak, apalagi terbayangkan sama sekali, dengan alasan saya kalau dikasih lagi tugas belajar, maka saya akan selamanya di Kairo, bekerja di kedutaan bersama suami saya). Inaalillahiwainaailaihi raaji'uun. Dalam pikiran saya, ngapain saya menerima tawaran PNS ini dulunya, kalau tidak karena saya memang bertujuan untuk kembali ke "Indonesia Raya".
Untuk diketahui, asal muasal saya menjadi PNS ini, memang saya sengaja dipanggil oleh Depag Pusat, agar bisa menjadi PNS. Karena dengan terikatnya saya menjadi PNS, mau tak mau, saya dan beberapa teman lainnya, kami beberapa orang mahasiswa/i ketika itu akan kembali ke Indonesia. Karena dulu itu cukup terkenal mahasiswa/i Indonesia keasyikan dinegara Mesir itu karena memang suasananya cukup menyenangkan, walaupun hidup makan senin kamis, istilah orang. Ketika itu, saya ngak mau PNS,dengan alasan saya masih menulis S2, lagian suami saya bekerja di Kairo, saya ngak mau pisah dengannya, mana anak-anak masih kecil2 semuanya. itu alasan saya. Tetapi ketika itu, saya dah dijanjikan, akan tetap melanjutkan sekolah saya, bila telah diurus 100% PNSnya, asalkan kembali aja dulu ke Indonesia, setahun, atau dua tahun.Dan saya dipersilahkan, sebelum selesai S2, memilih dulu tempat di lingkungan MAN, dimana saja, asal di Indonesia, dan dalam lingkungan DEPAG.Tidak di lingkungan DIKNAS, dimana saja, setelah S2 baru bisa pindah ke PT.Dari PT baru ambil S3. Saya ok.kan dengan berat hati ketika itu.Namun, sampai setelah 6 bulan CPNS saya keluar, saya masih ragu, ngak mau pulang, ngak mau ambil PNS, yang paling berat bagi saya, itu tadi, pisah dengan suami, anak2 masih kecil sekali, mana S2 saya bisa terlantar saya pikir.Tapi atas dorongan suami serta begitu banyak pihak, saya pulang juga ke Indonesia bersama anak-anak. Urus semua kelengkapan administrasi di Indonesia, setelah itu, masih ragu, sebulan di Indonesia, kerja saya menangis terus, ingat suami tiap saat, ngak biasa saya hidup sendirian tanpa suami mengurus anak 3 org benar2 masih sangat kecil semuanya, memangis sepanjang malam. Akhirnya suami suruh saya lagi pulang ke Kairo. Hampir semua Diplomat, pejabat, bahkan suami sendiri, terus mendorong saya ambil saja PNS itu, orang susah cari kerja, sementara saya malah lulus PNS dengan cara dipanggil begitu, kenapa tidak disyukuri. Yah..berapa bulan di Kairo, pulang dan saya pilihlah SUMBAR, yaitu di MAN 2 ini. Jadi saya memang bukan diusulkan oleh daerah, atau MAN dua PNSnya, tetapi memilih sendiri tempat itu dulunya. Lantas kenapa setelah S2 saya ngak pindah ke PT, baru ambil S3?. Saya dah berusaha untuk itu, tetapi Kepsek tidak mengizinkan saya pindah, walaupun sudah bertahun2 di MAN itu, makanya saya berfikir, kalau begini caranya, ngak ada jalan lain, saya harus ambil S3 lagi, karena saya tahu, kalau jalan ini dilarangnya, justru berat kedianya. Kalau pindah, saya tau, akan sulit, karena alasan mereka juga banyak, saya baru bertugaslah, dan kami membutuhkannyalah, dan macam2lagi. September 2000 saya mulai bertugas, mengajar, status pegawai, tetapi tugas mengajar, karena saya ngak punya akta 4, saya bukan jurusan tarbiyah. Agustus 2001, saya LPJ(Latihan Pra Jabatan), sebagai kelengkapan syarat PNS. setelah sebulan 100% saya langsung mengurus tugas belajar, jadi sejak September 2001(sewaktu mengurus tugas belajar S2 ini, ngak menemui kesulitan, karena kepseknya mengizinkan, bahkan mendorong). Selesai baru Desember 2006, pulang ke Indonesia bertugas kembali Januari 2007. Sewaktu saya tugas belajar, sebahagian gaji saya, saya sumbangkan untuk kepentingan sekolah. Namun setahun sebelum selesai S2, saya mendnegar berita, ternyata gaji sumbangan dari saya tidak dipakai untuk kepentingan sekolah, Allahu'alam kemana, yang pasti uang diterima tiap bulan sama Pak kepsek yang sekarang, itu yang saya dengar. Mendengar hal ini, saya merasa, kepsek tidak amanah, tidak sama dengan kepsek yang lama, akhirnya saya buat surat agar sumbangan saya diputuskan. Hanya saja, tidak pernah diputuskan sampai saya pulang. Ketika saya tanya sama bendahara, kenapa masih dipotong gaji saya, kan saya sudah bilang jangan dipotong lagi, zakat profesi sayapun ngak jelas kemana larinya. Saya hanya ingin tau kemana uang tersebut dipergunakan, Bendahara menjawab, ngak tau, sama pak kepala. Dan kenapa masih dipotong juga meski sudah ada surat resmi dari saya? Jawab bendahara, ia membaca surat saya tetap dipotong koq. Saya bilang, mana surat itu, mari kita baca bersama-sama. Repot dia saya desak begitu, datang kepada kerpsek, akhirnya diserahkan surat itu, saya bilang, silahkan dibaca ulang. Apa jawabnya:" Oh iyah..ngak terbaca"(apa ngak gila tuh, masak ngak kebaca)Saya tanya kepala TU, apa dulu beliau membaca surat saya, dan apa isinya. Kepala TU saja bilang, iyah, saya baca, jangan dipotong lagi gaji saya. Nah lho, saya bilang bendahara bilang lain dari yang ibu bilang.(ada yang aneh memang, tapi saya diam biarlah berapalah uang segitu, 6 bulan koq). Setelah saya mengabdikan diri saya berapa bulan, banyak hal-hal yang saya kritik, terutama masalah keuangan, murid2 tiap bulan bayar, uang pembangunan bayar tiap tahun, tapi kemana hasilnya, pembangunan ngak ada, kemana uang? mana kalau guru pegawai ada rapel, atau apa gitu, sellau dipotong dengan alasan untuk sumbangan ke KPKN. Saya kritik secara langsung kepada kepsek, mana ada sumbangan yang ditetapkan jumlahnya Pak, lagian kenapa harus menyogok ke KPKN? Jawab kepksek ketika itu:"Agar urusan lancar"Saya bilang, kalau ngak kasih uang, apa urusan tidak selesai? Jawabnya: "Kamu ini aneh, silahkanlah kamu urusan di Indonesia ini, kalau kamu tidak keluar uang". Dan masih banyak kritikan yang memang semuanya hampir berubah, seperti, kepanitiaan, saya heran aja, masak tiap ada acara, panitianya itu keitu saja terus, ngak ada pergantian, yah, orang-orang itu sajalah yang banyak terima uangnya, panitia UANlah, inilah, itulah, begitulah seterusnya. Apa jawab Pak kepsek, ketika hal ini saya pertanyakan: " Kenapa mereka ngak minta jadi panitia, coba kalau mereka minta, kan saya kasih". Saya bilang aja: " Pak,..kerjaan, ngak usah diminta, tetapi agar adil, semua kebagian rezeki, digilirlah Pak, seganlah mereka minta Pak?". Ok, kata Pak kepsek, karena saat itu dirapat disampaikan, akhirnya setelah itu, memang digilirlah semuanya, jadi semua kebagian rezeki. Dan sekarangpun administrasi keuangan cukup terbuka, dimana pembangunan pun sudah ada, meski dikit.Dari uang pembangunan yang dibayarkan murid2. yah..cukup banyak memang, walaupun, resikonya, disaat saya berurusan, pak Kepsek, menghalangi saya, ingin membuktikan pada saya, silahkan berurusan di Indonesia ini, kalau ngak pakai uang. Dan ngak usah saya sebutkan, jangan marah yang mereka ortu atau dirinya jadi kepsek, ada yang untuk jadi kepsek, menyogok kandepag, atau atasan lainnya, ada..di Indonesia ini, tidak semuanya koq, jangan khawatir, saya ngak bilang semua kepsek toh?, tetapi ada, dan biasanya itu sudah menjadi rahasia umum, hampir rata-rata orang dah tau itu. Secara logika, memang, apa-apa kesulitan yang saya hadapi ini, sudah bisa diprediksi sebelumnya, jadi saya dah siap untuk itu. Bahakan saya pernah bilang, dipecatpun saya untuk menyampaikan kebenaran itu, silahkan saja, saya tidak takut, yang penting saya tau, apa yang saya lakukan benar adanya. Siapa sih bilang, orang yang tugas belajar itu korupsi?. Mana landasannya yah? Kemudian, enak sekali yah, kalau dilihat dari kisah saya, PNS ini, gaji jalan terus, mana belajar terus, bisa kumpul sama suami lagi. Hehehe..ini secara nikmat Allah saja pada saya, Allah dah takdirkan tugas suami saya, memang dimana tempat saya belajar. Saya dari S1, memang di Mesir, dan sangat diharapkan oleh Depag dari awal saya diminta untuk PNS ini, sampai S3nya juga di Mesir. Jadi kloplah nikmat Allah itu pada saya, memang nghak semua orang bisa mendapatkan nikmat semacam ini. Kalaupun tugas belajar saya di Eropah, dan harus pisah dengan suami, saya akan tetap ambil S3 itu, sepanjang masih ada jenjang pendidikan lebih tinggi lagi, akan saya capai terus, tanpa mengenal lelah. Kata Bung Karno, "Capailah atau gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit".(tentu semampu manusia itu juga, karena keputusan akhir tetap ditangan Allah, manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a saja). Untuk diketahui, dah berapa kali, Pak Kepsek berusaha menggagalkan usaha saya untuk ambil S3 ini. Dengan menyuruh saya ambil S2 dibidang lain lagilah, dengan menyuruh saya bahkan telah mengusulkan saya untuk jadi gurulah, sertifikasi guru yang gajinya dua kali lipatlah, dan macam-macam lagi. Namun saya tetap tidak mau. Saya tetap bilang, : " Ngak Pak, saya mau belajar lagi, itu saja, ngak perlu untuk saat ini gaji saya besar, nantik setelah S3, benar-benar ngak ada beban dikepala saya lagi yang menggantung saya gara-gara sekolah belum sampai titik akhir secara formalnya, baru saya pikirin masalah ini.Mo gaji besar, kecil, saya ngak peduli itu, karena saya merasa dari gaji suami sekarang saja yang kita hemat-hematkan, sehingga tidak ada lagi image orang kalau menjadi ustadzah itu kere(miskin), dan ngak ada lagi usaha keras untuk cari uang kesana-kemari, karena kebutuhan hidup, sampai mengorbankan murid, atau siswa, yang mana saya dengar ada beberapa dosen yang suka mengeruk keuntungan material dari mahasiswanya. dan saya tidak menginginkan itu, saya ingin kelak, hidup saya cukup dengan gaji apa yang ada, cukup makan, karena biaya buat yang penting-penting sekali dah dihematkan dari sekarang, dari gaji suami saya. Dan gaji yang saya terimapun saat ini, untuk beli buku-buku, juga benar-benar buat sekolah, saya juga ke Mesir pakai ongkos, saya menulis juga pakai biaya, ngak jauh bedanya gaji yang saya terima dengan mereka yang mendapatkan bea siswa.Masak untuk sekolah saya S2, atau S3 ini pakai gaji suami juga, bukankah hasilnya kelak, negara juga yang menikmatinya?. Ketika saya sampaikan alasan2 saya ini, Pak Kepsek hanya diam saja. Dan anehnya sekarang, setelah saya sampai diBKT, saya serahkan SK tugas belajar itu, Kepsek berusaha ada sahamnya disana atas keberhasilan usaha saya dapat tugas belajar ini, dengan mengatakan :" Saya yang menyuruh Sekjen menelpon Kakanwil". Cepat saya tangkas yang saya kira itu kebohongan beliau, dengan perkataan saya : " Pak,..Saya tau sekali saat itu, Kakanwil ditelpon sebelum menelpon Bapak, Kakanwil di telpon paginya, bapak sorenya dan nomor HP Bapak, saya yang memberikannya ke Jakarta". Wah, kaget dia, ternyata saya tau, kalau kepsek ditelpon siapa saja dari Jakarta itu, karena memang, orang Jakarta langsung ngomong kesaya, kalau mereka akan menelpon Pak Kepala lagi, setelah menelpon Kakanwil ini.Jadi semua keberhasilan ini benar-benar atas Rahmat Allah buat saya Pak, yang menolong sayapun datang dari Jogya, sejujurnya saya sendiri ngak mengenalnya, saya hanya mengenal Pak Fauzan, Pak Quraish, namun, itupun belum kelihatan hasilnya, bagitupun dorongan mereka itu sangat saya hargai sekali. Dan orang kuat di Sumbar yang menolong sayapun, bukanlah bertitel doktor atau profesor, atau pejabat Depag, hanya saja, kata-kata beliau mendapat perhatian dari masyarakat Sumbar ini, boleh dikatakan didengar fatwa-fatwanya.Dan orang tersebut memang sangat dekat dengan saya dan keluarga suami saya, sama-sama mengalami suka duka di Mesir dulunya. Jadi semuanya memang sudah diatur yang maha kuasa. Yang mengatur segala urusan nasib hidup manusia beserta liku-liku jalannya sesuai dengan firman-firmanNya.Dan perlu diketahui juga, titik akhir dari usaha saya, surat saya tulis langsung ditujukan ke MENAG. Disanalah mulai nampak titik terang, karena MENAG telah mensetujuinya, hanya saja tetap proses harus dimlai dari awal, dan awal kali ini, bukan dari Kepsek, cukup dari Kanwil saja lagi, jadi tingkat kesulitan dah berkurang. Saya langsung datang ke Jakarta mengantarkan surat yang saya ketik sendiri tersebut, yang mana sebelumnya pernah juga saya ajukan ke Sekjen, tapi ngak ada tanda-tanda titik terang, saya pikir lagi ajukan langsunglah ke Menag.Suami saya aja bingung, tanya beliau, berani nantik ke Jakarta menemui Menag? Saya jawab aja: " Berani, kenapa tidak, kalau perlu ke Pak Presiden?".Sayakan minta sekolah, bukan minta yang macam-macam, makanya saya berani saya bilang, kalau saya minta yang aneh-aneh, iyalah, mana saya berani, saya tau apa yang harus saya lakukan. Yah..alhamdulilah suami mendukung, kirim uang kesaya untuk mengurus ke jakarta itu lagi, ngak papa, silahkan kata beliau, sampai dimana Ima maunya, uda akan dukung, tetapi tetap harus bisa menerima hasil akhir apapun. Ok. saya bilang, hasil; akhir, yah..cuti diluar tanggungan negara. Hanya saja Allah berpihak kepada saya, saya yakin, Allah ngak pernah mensia-siakan usaha hambaNya sepanjang apa yang diinginkannya dalam koridor yang benar disisiNya. SK keluar sejak 14 Nopember 2007- 2010.Menurut ketentuan yang ambil S3 ke LN, jatahnya 4 thn, tapi saya tiga tahun, yang mena kelak, diperpanjang aja kata kepegawaiannya, kalau bisa cepat selesai, sangat diharapkan, kalau tidak silahkan diperpanjang sesuai jatah saya. Itu saja pesan mereka. Dan bila berhasil kelak saya tetap ditempatkan dilingkungan Depag, tidak boleh kemana-mana. Kelak tergantung yang menerima, siapa cepat, dia yang dapat. Kalau Jakarta lebih cepat menarik saya, maka ke Jakartalah saya, kalau Sumbar lambat menarik saya kembali, itu bukan kesalahan saya lagi. Dari awal sekali Pak Quraish pernah mengingatkan saya, untuk keilmuan dibidang saya tepatnya di Jakarta, tetapi itu tergantung di Sumbarnya, bila lambat menarik saya, maka saya ngak bisa buat apa-apa untuk itu, karena kalau saya dah selesai, saya rasa sepenuhnya diri saya, ilmu saya buat kepentingan Depag. Sekarang justru tugas berat mulai menanti saya, saya mulai akan kosentrasikan selama di Indonesia ini mengumpulkan bahan-bahan.Thesis tetap berbahasa Arab, walau berkaitan dengan Indonesia, khususnya Sumbar. Wassalamu'alaikum. Bukittinggi, 21-11-2007 Rahima. --- [EMAIL PROTECTED] wrote: > Ass. Wr. Wb. > > Pernyataan nan samo jo Da Riri, kalau boleh komentar > (mungkin boleh ya, > karena ini di milist), > Talapeh dari sagalo kesulitan nan di alami, ado > carito almarhum bapak > ambo. > Bapak ambo dulu kapalo sekola juo, kadang persoalan > disekolah acok juo > baliau bacarito carito dirumah. > Kaitan nan samo jo kasusko, dulu ado guru nan minta > pindah, dalam > penyampaian minta pindah itu, guru tersebut terkesan > intimidasi, dia > bicara kenal dengan kanwil, dan beberapa pejabat > kanwil. > Bapak saya merasa ter intimidasi juga dan secara > manusiawi jadi ikut > emosi, Bapak saya bilang, ya sudah kalau ibu mau > pindah silahkan minta > memo ke kanwil. > Keluh kesah bapak saya dirumah, "sebenarnya kalau > ngomongnya baik2 tidak > pakai intimidasi bapak saya akan memberi ijin pindah > tersebut", bapak saya > nggak mau juga memberi ijin karena kesan bapak saya > takut sama kanwil. > > Hal yang sama juga untuk guru minta ijin sekolah, > waktu itu ada juga guru > yang baru pulang sekolah terus sekitar 1,5 thn > ngajar minta ijin untuk > sekolah lagi. > Dirumah bapak saya berkeluh kesah, "Kadang orang > itu mikirnya gimana ya!, > dia sekolah 3thn di biayai negara baru mengajar 1,5 > th sudah minta ijin > lagi pergi sekolah, yg didapat sewaktu sekolah dulu > saja belum kelihatan > hasilnya ke murid dia minta ijin sekolah lagi ini > kepentingan sekolah apa > kepentingan pribadi", Kalau ini kepentingan sekolah > mestinya kan sejalan > dengan tujuan sekolah, targetnya buat sekolah apa ?. > Kalau kepentingan > pribadi bukankah ini salah satu bentuk korupsi juga, > Korupsi itu kan tidak > selalu memotong anggaran, ini bentuk korupsi juga". > > Beberapa minggu setelah itu bapak saya memberi ijin > guru tersebut ijin > sekolah, karena tujuan dia pergi sekolah sekalian > mau mengurus ibu nya yg > sudah sakit2an. Sekolah bukan tujuan utama tetapi > menjaga ibunya yg > sakit2an. Bapak saya nggak tega juga. Bapak saya > berkomentar, > Sakitu dulu carito nan dapek ambo tanggapi, diliek > dari sisi kapalo > sekolah. > Tantu sadonyo tapulang ka diri surang2 untuak > manilai. > > Salam > Is St Marajo 38+ > > > > > > Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> > Sent by: [email protected] > 16/11/2007 09:04 > Please respond to > [email protected] > > > To > [email protected] > cc > > Subject > [EMAIL PROTECTED] Re: Alhamdulillah :"Sengsara itu > membawa Nikmat" > > > > > > > Waalaikumsalam wr.wb. > > Rumit juga kelihatannya, dan mungkin ini satu dari > sangat sedikut PNS yang > sekolah di LN mengalami kerumitan seperti ini. > Alhamdulillah, semuanya > memang telah selesai. > > Cuma, kalau boleh komentar (mungkin boleh ya, karena > ini di milist), > menurut saya "kata kunci"nya ada di paragraf ketiga > tulisan sanak itu. > Waktu melapor ke atasan. > > Pada dasanya tidak ada orang yang suka > "direndahkan". Sanak meng quote > Dirjen? Reksinya, kalau jaman dulu mungkin pejabat2 > "kecil" ketakutan. > Tapi sekarang - pengamatan saya - ini justru "bunuh > diri". Apalagi kalau > atasan anda itu tahu persis (atau setidaknya dia > yakin) bahwa pak Dirjen > anda itu tidak akan secara gampang memecat dia, > menurunkan pangkatnya dst > dst. > > Kedekatan sanak dengan "orang2 atas" itu -umumnya- > merupakan suatu > keuntungan kompetitif, asal digunakan secara "wise". > Wise maksud saya, > kepada siapa, kapan, dan bagaimana cara > menungkapkan. > > Kalau menurut saya sih, sanak "terlalu cepat" > menyebut2 Dirjen, mungkin > ceritanya akan beda kalau sanak mencari tahu > bagaimana peraturan > sebenarnya (toh atasan sanak itu mengatakan "seingat > saya" ..., artinya - > pada waktu itu - omongannya bukan "harga mati"). > > Wasalam, > > > Riri > > > > > > > Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu�alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh > Desember 2007 yang lalu, aku dan suamiku beserta > anak-anakku pulang ke Indonesia, dan ketika > anak-anak > di Siantar, aku berdua dengan suamiku ke Jakarta, > karena ada beberapa urusan, pertama Akreditasi > Ijazah, > kedua melapor pada Depag Pusat, kalau aku dah > selesai > pendidikan S2. Saat itu kami menanyakan bagaimana > kemungkinan untuk mengambil S3 kembali. Pak Dirjen > Depag ketika itu menjawab, boleh, didukung, silahkan > saja, asalkan syaratnya lengkap, yaitu ada surat > keterangan dari kuliyah, dan juga penyandang dana, > serta urusan dimulai dari awal kembali, yakni > dimulai > dari dimana tempat kita bekerja. > > Beberapa bulan setelah mengabdikan diriku ditempat > aku > bekerja, hampir setahun aku di Indonesia, aku mulai > memikirkan untuk kembali ke Kairo menyelesaikan > pendidikan S3ku di Al Azhar University kembali, > karena > sejak S1pun aku berkutit disana, dan dalam satu > jurusan yang sama sejak dari awal pendidikan, yakni > Ilmu-ilmu hadits. > > Mulailah aku menyampaikan hal ini pada atasanku. > Beliau dengan manisnya mengatakan, silahkan, tetapi > setahu saya, ngak boleh melanjutkan kuliyah lagi, > kecuali setelah mengabdi 5 tahun setelah pendidikan > pertama, karena itu peraturan PNS. Aku seakan ngak > percaya dengan alasan tersebut, lantas kusampaikan, > ngak mungkinlah Pak, karena berapa bulan yang lalu > saja, kita menanyakan pada Dirjen, boleh-boleh saja > koq. Dia terdiam, ngak bisa bilang apa-apa, lantas > katanya, silahkan aja minta surat rekomondasi > darinya(dari Dirjen di Depag pusat), baru bawa > kesaya, > dan kalau Perlu silahkan aja langsung di Jakarta > mengeluarkan SK tugas belajarnya, saya ngak > berwenang > untuk itu. Saya jawab, tetapi Pak, saya butuh surat > Pengantar dari Bapak.Beliau menjawab, �Mintalah dulu > secarik kertas ajapun pada Dirjen di Jakarta itu, > kalau mereka menyetujuinya�. > > Saya ke Jakarta ada beberapa urusan, namun saat itu > orang di Jakarta mengatakan, ngak mungkinlah Bu kita > mengeluarkan surat, atas dasar apa, karena ibu > berasal > dari daerah, maka surat harus berasal dari daerah > juga. Saya ceritakan akan kemauan atasan saya. > Mereka > merasa aneh juga. > > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Jika anda, kirim email kosong ke >>: berhenti >> [EMAIL PROTECTED] Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] digest: >> [EMAIL PROTECTED] terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
