Sanak-sanak nan ambo hormati,
  Memang masalah pemberian gelar-gelar adat ini sudah cukup lama menjadi silang 
sengketa di berbagai tempat, seperti yang saya hadapi sejak awal 90an sampai 
hari ini. Bila saya simpulkan sementara waktu sebenarnya karena salah persepsi, 
yaitu pandangan masyarakat yang keliru bila seseorang bergelar maka kedudukan 
sosialnya adalah lebih baik. Padahal kedudukan gelar di Minangkabau adalah 
“jabatan profesional”, yaitu diberikan karena adanya amanah tertentu di 
dalamnya. Contoh, Datuk diberikan karena beliau merupakan kepala keluarga atau 
kaum, Tuanku/Angku dianugerahkan karena memegang wali agama, demikian 
seterusnya. Sehingga sungguh aneh bila gelar-gelaran itu diberikan karena balas 
jasa atau kehormatan.
  Gelar-gelar adat di Minangkabau berbeda penerapannya dengan daerah-daerah 
lainnya, termasuk juga dengan sistem budaya yang menggunakan istilah Datuk, 
seperti di Melayu pesisir timur dan Malaysia. Sehingga sebenarnya tidak boleh 
ada kebanggaan bagi yang menyandangnya, karena itu bersifat amanah atau tugas.
  Melihat pola yang ada, saya mensinyalir memang ada semacam mafia yang 
melakukan hal ini, malah sudah lintas nagari. Kemungkinan juga 4L. Motifnya 
memang ekonomi, politik, hingga dekadensi budaya. Alasannya bermacam-macam : 
untuk menarik perhatian elit politik, balas jasa, kepentingan ekonomi 
masyarakat, penghormatan tertentu, malah saya sampai menemukan alasan seperti 
ini: “galeh ko lah tajua, baa andak ati”. Sehingga tidak salah bila sanak 
menduga ada proses jual beli dalam hal ini.
  Dalam suatu perdebatan saya menemukan alasan seperti ini : “mari kita lihat 
manfaat dan mudlaratnya, mana lebih besar”. Sejauh pengalaman saya, ternyata 
mudlaratnya jauh lebih besar, karena pergunjingan yang tak selesai, dekadensi 
budaya, dan yang terpenting adalah telah memecah ikatan-ikatan keluarga. Yang 
terakhir ini sulit diobati dalam waktu lama.
  Belum lagi dalam proses maupun sesudahnya, terkadang melakukan teluh, santet, 
dan lain-lain, walaupun secara publik beliau itu dikenal sebagai tokoh agama 
atau sering menyelenggarakan ibadah-ibadah keagamaan. Pada umumnya 
beliau-beliau ini adalah tokoh-tokoh terhormat, sukses di perantauan, sehingga 
simbol-simbol adat itu adalah tantangan tertinggi untuk aktualisasi.
  Saya juga mengkritisi LKAAM, dulu saya melihat cukup kokoh untuk 
mempertahankan “adat nan sabatang panjang”, namun beberapa tahun terakhir ini 
melunak bahwa masalah itu adalah “adat salingkah nagari”. Saya juga ingin tahu 
pandangan LKAAM Solok dalam buku terbarunya, khususnya mengenai gelar 
kehormatan, mudah-mudahan ada sanak yang menginformasikan.
  Bila orang Minang menghargai seseorang adalah melalui budi bahasa, 
sebagaimana pituah mengatakan : “nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baiak 
budi, nan endah baso”. Tinggi sekali pandangan orang Minang terhadap budi baik 
seseorang.
  Untuk orang-orang di luar Minang caranya adalah dengan malakok, mangaku 
induak, menjadikan mereka menjadi sanak saudara kita. Dalam hal ini dapat 
ditempatkan di dalam suku, dan diberi gelaran adat bila telah menikah, sesuai 
dengan pituah “tabangnyo mancangkam, hinggoknyo basitumpu” dan “ketek banamo, 
gadang bagala”. Gelar disesuaikan dengan posisinya dalam kaum. Bagi kami di 
Sulit Air, telah diputuskan pada tahun 2001 bila untuk malakok atau mangaku 
induak itu harus tinggal menetap sekurang-kurangnya 2 minggu di Sulit Air, agar 
yang bersangkutan mengetahui adat budaya yang ada. Untuk hal terakhir ini 
tentunya lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya.
  Demikian sedikit pemahaman saya, dengan niatan "jaan jalan diasak urang 
manggaleh". Kalau berkenan silahkan yang terhormat Dt. Bagindo dan ninik mamak 
yang lain untuk menyampaikan pandangan.
  Wassalam,
  -datuk endang


Hendri Payobada <[EMAIL PROTECTED]> wrote:    Assalamualaikum...Sanak Boby 
Lukman nan resah jo keadaan...
   
  Sanak Boby, ambo satuju bana jo postingan sanak ko...memang baitu lah urang 
awa ko sanak,sagalo nyo bisa dipagalehan...tamasuak gala jo namo baiak. Alasan 
nyo tantu banyak, nan urang sumando lah, nan urang elok budi baiak laku lah dan 
sagalo macam alasan.
   
  Sia tu Syahrial Osman, sia Gubernur Lampuang tu apo jaso jo budi baiak nyo ka 
kampuang halaman awak alun banyak lai sanak, namun nan awak agiah ka mereka tu 
adalah hargo diri awak.
   
  Ciek lai sanak, memang nanti akan ado supermarket gelar adat, gelar sangsako, 
di Minang, karano apo, maklumlah sanak khan. Minang adalah etnis panggalas 
sanak, etnis pedagang, sagalo macam bisa dipagalehan, ndak terkecuali gala..
   
  Bisuak ko demi kepentingan politik, kampuang halaman tu bisa awak galehan ka 
urang mah, khan sanak hadir di acara SSM khan, pasti sanak tau a mukasuik acara 
tu dan sia penggagas nyo. Ambo hadir acara tu dek karano pulang kampuang dan 
manginap di hotel Pangerans dan ambo mancaliak pakaian panitia mamakai baju 
kuniang, sanak tau tando a tu ?, jaweknyo singkek sanak, Dek karano penggagas 
acara tu salah seorang elit di partai politik dan acara itu pasti ado mukasuik 
politiknyo..
   
  Kini ambo danga lo wacana kalau tahun muko SSM akan diadokan di Palembang, 
sia nan maurus kembali urang itu juo baliak. Ba'a kecek sanak Mantari Sutan, 
Ampek El.. (Lu lagi Lu Lagi)..Yo awak hrs maklum dek karano apo, karano memang 
minang ko khan etnis panjilek, etnis nan kecek sanak pragmatis. dan tambahan 
dek ambo etnis yang telah mengalami dekadensi budaya sarato kehilangan jati 
diri gara gara ulah elitnyo.
   
  Salam..
   
  Hen.
   
   
  

Boby Lukman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Mak Mulyadi, Mak Darul dan sanak di Palanta nan ambo hormati..
   
  Ambo sanang jo perdebatan iko Mak, biar jaleh bagi awak banyak ko soal 
mekanisme pemberian gelar baik gala adat pusako, maupun sangsako...
   
  Bagi ambo inti nan ambo kemukakan dalam postingan terdahulu adalah betapa 
pragmatisnya kita (orang Minang) ini dan tentu saja seperti kata yang 
lain,,telah terjadi Desakralisasi Gala.
   
  Bukan karano ambo indak punyo gala mako ambo manulis bantuak iko...iko hanya 
kegelisahan ambo kenapa begitu mudahnya kita memberikan gelar pada orang lain...
   
  Jangan bandingkan dengan gelar Dr.HC yang diberikan oleh sebuah 
Universitas/Institusi perguruan tinggi pada seorang tokoh, ini lain soalnya..
   
  Kalau gelar DR.HC itu khan setelah melalui kajian akademis yang sangat 
komprehensif dan ada dasarnya...sedang gala adat meski hanya gala sangsako 
tentu hrs ada kajian dan alasan juga...ambo khawatir di suatu saat nanti Minang 
akan jadi etalase dan supermarket gelar yang bisa saja dipergunakan untuk 
kepentingan politis tertentu. 
   
  Sungguh ini kekhawatiran saya dan mungkin banyak anak muda lainnya....
   
  Salam hormat dan banyak maaf......
   
  BLP
  (31 th) 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke