Assalamu'alaikumWW,
Pak Darwin dan sanak sapalanta yang ambo hormati,

1. Terimakasih atas tanggapan pak Darwin yang positif. Sebagai warga
Minang (walau di rantau) tentunya saya juga senang dengan mimpi2
jalan tol yang dikatakan oleh para petinggi Sumbar akan segera
direalisasikan. Yang penting setelah bermimpi tentunya sebaiknya kita
berfikir agak membumi kembali. Melihat pada program jalan tol Cikampek-
Palimanan, Yogya-Solo, Bawen- Solo, Bandung-Sumedang-Dawuan, Cileunyi-
Nagrek, Pandaan-Gempol, Palembang-Prabumulih, dll yang notabene
memiliki lalulintas harian rata2 yang cukup tinggi, medan yang relatif
tidak berat,  dan telah ada investornya sejak lama, ternyata
pelaksanaannya  terkendala oleh berbagai sebab. Ada jalan tol yang
pelaksanaannya bisa dipercepat karena adanya dorongan politik yang
kuat, seperti Cipularang dan (sekarang ini) jalan tol Benoa
(expressway diatas laut) di Bali.

2. Jalan tol otomatis tergolong expressway dengan akses jalan masuk/
keluar yang terkontrol (fully access control). Tapi sebaliknya sebuah
expressway tidaklah harus merupakan jalan tol, karena 'tol' hanyalah
merupakan cara pembiayaan pembangunan jalan tersebut. Dapatlah
diperkirakan bahwa andai jadi dibangun, tarif tol jalan ke Pekanbaru
ini akan menjadi cukup mahal karena biaya konstruksi yang juga relatif
mahal serta volume lalulintas yang masih rendah. Yang dibutuhkan untuk
menghubungkan Padang-Bukittinggi-Pekanbaru sekarang belumlah mutlak
sebuah expressway.  Tuntutan lalulintas sampai beberapa tahun kedepan
mungkin masih bisa dipenuhi oleh sebuah jalan dengan desain geometrik
dan perkerasan yang baik, katakanlah sekelas jalan Sawahtambang-
Muarobungo.

3. Minggu lalu saya sempat pulkam dan melepaskan keingintauan saya
atas jalan Sicincin-Malalak. Saya salut dengan keseriusan PU Sumbar
membangun rute menarik ini. Geometrik jalan cukup baik, marka jalan
ditangani secara serius, dan bahu jalan dibuat lebar dan sebagian
besar diperkeras (hard shoulder). Masih ada sejumlah jembatan kecil
yang belum diganti, serta penyempitan jalan disejumlah tempat yang
terkendala masalah pembebasan tanah. Permasalahan serius terdapat di
atas Malalak (dari arah Sicincin) ketika jalan harus melereng dibibir
perbukitan batu yang curam. Di sini jalan menjadi berbahaya dengan
kelongsoran yang masih terjadi di sana sini. Terdapat papan peringatan
bahwa dilarang liwat jika hari hujan. Bagi saya ini merupakan contoh
baik upaya terobosan untuk mengurai kemacetan jalan Padang-
Bukittinggi, walau sekarang belum tuntas. Di pertigaan Balingka
kendaraan harus belok kanan menuju Padangluar yang merupakan bottle
neck serius pada hari libur/pasar.

4. Upaya2 yang berorientasi pada pengurangan kemacetan ini sebenarnya
masih bisa dilakukan oleh sejumlah walikota yang bersedia untuk secara
serius membangun jalan bypass atau ringroad (tidak perlu berupa jalan
tol). Silahkan amati upaya walikota Padangpanjang.

5. Pak Gubernur  mengatakan : "...perekonomian Sumbar akan berlari
kencang bila
pemasaran hasil pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan Sumbar
ke
Riau lancar...". Jelas produk ini akan 'berlari kencang' diatas jalan
tol dengan design speed 100km/jam. Yang jadi masalah apakah petani
sudah bisa di sisi lain menggeluti bidangnya secara nyaman, dalam
pengertian pupuk & pestisida  bisa diperoleh dengan harga terjangkau,
tersedianya bibit yang baik, serta support ilmu, bimbingan,
permodalan, dan pemasaran yang memadai dari pemerintah Kabupaten/
Propinsi. Sebagai contoh simpel : sampai hari ini tanaman cabe tetap
tidak bisa tumbuh normal di sebagian besar wilayah Agam (mungkin juga
daerah lainnya). Tetap TIDAK ADA  upaya memadai dari pemerintah untuk
mengatasi virus yang katanya bernama 'virus kuning' ini. Petani
terpaksa menggunakan pestisida dalam jumlah yang tidak masuk akal guna
dapat memperoleh sedikit hasil dari cabe yang hanya bisa dipanen
beberapa kali ini saja. Mereka tetap hidup dalam ketidak tauan dan
ketidak berdayaannya. Di sisi lain UNAND punya fakultas pertanian, dan
terdapat beberapa lembaga penelitian pertanian di Sumbar. Pemerintah
daerah seharusnya bertanya (dan super serius mencari jawabannya)
kenapa Sumbar yang memiliki dataran tinggi yang luas, tetap belum
mampu bersaing dengan Brastagi untuk mensupply sayuran berkualitas ke
Singapura ?

6. Pak Darwin, yang ingin saya sampaikan pada intinya adalah bahwa ada
sejumlah permasalahan mendasar yang menyangkut harkat hidup masyarakat
di Sumbar yang tidak bisa diatasi dengan 'tongkat ajaib' sejenis jalan
tol dlsbnya yang seakan : simsalabim..semua permasalahan kemudian
tuntas secara mudah..... Sebagaimana kata orang bijak : kita
seyogianya dapat memilah mana yang kita inginkan dan mana yang kita
benar2 butuhkan.... Saya setuju bahwa kita menginginkan jalan tol.
Membutuhkannya ? Mari kita bersabar menunggu hasil Feasibility
Studynya...

Maaf & wasalam,

Epy Buchari

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke