Kompas, Senin, 29 November 2010 | 02:48 WIB

Bambang Susantono 

Gagasan koridor ekonomi yang tengah digodok pemerintah sekarang ini
sebenarnya bukanlah pendekatan yang sama sekali baru. KE menggabungkan
pendekatan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dalam suatu struktur
ruang spasial atau kewilayahan.

Pengembangan KE dimaksudkan untuk mendapatkan tatanan praktis penggabungan
pola pembangunan yang bersifat kewilayahan (regional) dengan pola
pembangunan sektoral.

Karena itu, suatu rencana induk KE akan berlaku sebagai pedoman dalam
merencanakan pengembangan investasi di satu wilayah. Melalui rencana induk
KE, akan diperlihatkan potensi pengembangan komoditas, rencana pengembangan
kawasan, serta rencana pengembangan infrastruktur di satu wilayah.

Sederhananya dicontohkan bahwa untuk meningkatkan keunggulan dari batubara
dan mineral sebagai komoditas andalan di Kalimantan, perlu dikembangkan
kawasan-kawasan terkait yang didukung keandalan infrastruktur, seperti
jaringan jalan, jalan kereta api, pelabuhan, bandara, listrik, dan
telekomunikasi.

Di dalam KE terdapat sejumlah pusat kegiatan dan pertumbuhan perekonomian
berupa hubs dan nodes. Hubs biasanya merupakan pusat akumulasi finansial,
sedangkan nodes umumnya berupa pusat pengembangan komoditas, seperti
perkebunan, kawasan industri, dan kawasan pertambangan. Sebuah nodes juga
dapat berupa kawasan industri, atau kawasan ekonomi khusus. Antara hubs dan
nodes ini dihubungkan oleh jejaring infrastruktur.

Enam koridor

Terkait dengan hal ini, Pemerintah Indonesia tengah menyelesaikan rencana
induk (master plan) bagi enam koridor ekonomi di Indonesia, yang meliputi
(1) koridor timur Sumatera dan utara Jawa Barat, (2) koridor pantai utara
(pantura) Jawa, (3) koridor Kalimantan, (4) koridor Sulawesi, (5) koridor
Papua, serta (6) koridor timur Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Dalam merancang
rencana induk KE ini, dilakukan sejumlah analisis yang diawali dengan kajian
tata ruang dan rencana pengembangan wilayah. Dalam hal ini Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional merupakan acuan awal dalam rangka mengidentifikasi
potensi pengembangan suatu wilayah.

Di samping itu, jenis komoditas yang menjadi kekayaan suatu daerah juga
dianalisis dengan mengkaji perkembangan kondisi pasar, termasuk kondisi
permintaan (demand) serta kecenderungan (trend) dari komoditas tersebut di
pasar internasional.

Hasil analisis tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan analisis potensi
Indonesia untuk mengisi segmen pasar tertentu, termasuk perencanaan terhadap
infrastruktur yang perlu disediakan untuk meningkatkan kemampuan daya
saingnya. Rangkaian analisis ini dikembangkan lebih lanjut dengan melihat
kemungkinan pembentukan suatu kawasan ekonomi yang bersifat khusus pada
suatu wilayah.

Sebagai tahap awal pembangunan KE di Indonesia akan dikembangkan koridor
timur Sumatera utara Jawa Barat (TSUJB) dan koridor pantai utara Jawa
(pantura) sebagai percontohan. Dalam mengembangkan koridor TSUJB, akan
disusun sejumlah simpul-simpul logistik sesuai rencana pemanfaatan dari
komoditas andalan utama pada koridor ini, yang meliputi kelapa sawit, karet,
dan batu bara.

Akses ke kawasan komoditas akan dibangun melalui pembangunan sejumlah proyek
infrastruktur pelabuhan, jalan, dan jalur kereta api. Dengan demikian,
pusat-pusat ekonomi akan saling terhubung dan dapat bersinergi dengan daerah
sekitar.

 

Simpul jalur logistik

Pengembangan kawasan komoditas di koridor harus didukung simpul-simpul jalur
logistik yang tentunya diharapkan menghasilkan sejumlah spill over effect
dan kemudian dimaksimalkan dampaknya dengan konektivitas dari jalur-jalur
logistik tersebut.

Sejumlah proyek infrastruktur yang menyambungkan simpul-simpul logistik yang
teridentifikasi pada koridor ini antara lain meliputi pelabuhan-pelabuhan di
Medan, Dumai, dan Palembang, pembangunan jalur KA trans-Sumatera dan jalur
KA batu bara di Sumatera Selatan.

Perkiraan awal menunjukkan, dengan mengembangkan koridor ini, akan terdapat
potensi peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) dari kawasan
tersebut, dari semula 74 miliar dollar AS tahun 2008 menjadi lebih dari dua
kali lipat, yaitu 154 miliar dollar AS tahun 2020, dan bahkan 273 miliar
dollar AS tahun 2030.

Untuk pengembangan koridor TSUJB, idealnya diperlukan 44 proyek
infrastruktur dengan prakiraan nilai 52,9 miliar dollar AS dengan rincian
kebutuhan antara lain pengembangan jalan KA 17,1 miliar dollar AS, jalan tol
18,1 miliar dollar AS, infrastruktur transportasi mencakup bandara,
pelabuhan, dan fasilitas logistik darat 4,3 miliar dollar AS, serta
infrastruktur pendukung lain.

Sedikit berbeda dengan pengembangan koridor di TSUJB, untuk pengembangan
koridor pantura, fokus pengembangan simpul logistik akan menitikberatkan
pada pembangunan pelabuhan, jaringan jalan bebas hambatan, dan jalur KA
double track. Hal ini mengingat komoditas andalan utama pada koridor ini
meliputi hasil berbagai industri antara lain peralatan dan mesin. Koridor
pantura akan terhubungkan empat hub utama dengan tingkat aglomerasi paling
tinggi, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Dengan pertimbangan tersebut, simpul-simpul jalur logistik yang akan
dikembangkan akan meliputi pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Tanjung Priok
dan Surabaya, pembangunan jalur jalan bebas hambatan trans-Jawa, serta
pembangunan jalur KA trans-Jawa.

Simpul-simpul ini akan didukung pembangunan infrastruktur utama lain seperti
pembangkit listrik di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Rencana induk koridor
pantura memperlihatkan bahwa idealnya dibutuhkan 65 proyek infrastruktur
senilai 36,2 miliar dollar AS. Diharapkan dengan koridor ini, akan dapat
dilipatgandakan PDRB kawasan ini hingga empat kali lipat dalam 20 tahun ke
depan, dari 178 miliar dollar AS tahun 2008 menjadi 770 miliar dollar AS
pada tahun 2030.

Dengan kebutuhan pengembangan infrastruktur yang sedemikian besar untuk
kedua koridor (90 miliar dollar AS), dan belum lagi kebutuhan untuk empat
koridor lain, perlu dicari terobosan untuk memperbesar peran swasta dalam
membangun infrastruktur. Saat ini memang telah tersedia berbagai instrumen
fiskal, seperti infrastructure fund dan guarantee fund untuk mempermudah
skema pembiayaan infrastruktur.

Namun, pengalaman menunjukkan, diperlukan penyiapan proyek yang memenuhi
standar keuangan yang berlaku (bankable), agar kepastian (certainty) dan
kejelasan (clarity) dari semua aspek yang memengaruhi risiko proyek bagi
swasta dapat dikelola dengan baik.

Bambang Susantono Wakil Menteri Perhubungan

http://cetak.kompas.com/read/2010/11/29/02484656/koridor.ekonomi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke