ASS…………wr….br.……………………………….

Dengan hormat,

Kepada lakinda  yang tercinta di perantauan………………………!

Bersama surat ini bininda sampaikan bahwasanya kami sekeluarga bersama anak
anak kita ada dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa dan begitu pulalah
hendaknya lakinda di pulau jawa sini amiiiiiin….YBA

.

Lakinda yang jauh dimata dekat dihati…………………………………………………………!

Didalam surat ini ada yang hendak bininda sampaikan yang terkilan kilan
dihati tersuat-suat dimata beberapa hari ini..

Yang pertama mengenai anak kita si ujang yang hampir setiap hari merengek
terus membuat sempit kalang bininda, dikarenakan si ujang belum punya
serawa seperti teman temannya yang lain sementara hari raya sudah semakin
dekat juga…kemudian anak kita si gadih juga begitu, insyallah tahun dimuka
sudah mau masuk Tsanawiyah di pakan kemis tetapi sampai sekarang juga belum
punya baju kurung dan kerudung, sedangkan telakung saja kami ciat berdua
saja selama ini..

Kemudian yang sangat merumuk di hati bininda ketika melihat hasil sawah
kita yang di subarang parit, binida tercengang sekali melihat padi kita
tandas di lalah mancit..begitu juga sawah kita yang di kubu kerambil luluh
lantak sama jawi mak pado…sehingga waktu musim menyabit kemarin hasilnya
sangat jauh dari yang bininda harapkan.

Waktu tahun lalu semasa dipagang mak malin, hasilnya sampai sepuluh sumpit
lebih se sukat, tetapi kini hanya boleh dihitung gentang saja..benar benar
berlantas angan mancit sama kita..

Kemudian seterusnya yang lebih mencengangkan lagi.parak lada kita yang di
puhun lansano juga habis sama pianggang sehingga hasilnya merangas
semua..begitu  juga parak pisang yang di ujung lurah , semuanya juga
dilantuang burung berabah dan kulik lawar.. benar benar malang  pertahunan
kita musim ini….tidak ada lagi yang bisa diharapkan, kalau lakinda mencalik
waktu mau menyabit di musim menggaro benar benar sebesar dangau burung
pipit dan tidak cukup disitu saja, datang lagi angin limbubu yang meluluh
lantakkan semuanya.

Sekiranya lakinda mencalik pohon cubadak kita yang di atas dangau parak
enau dulu mungkin tidak ketuan yang akan disebut, karena dulu buahnya
begitu bergeduyun dan masak masak semua…….

Tetapi sekarang boleh dihitung sama jari saja dan itu juga banyak yang jadi
kelakai dan kalau ada yang besar, itu juga pada sudah pada  cempong oleh
tupai, sama benar nasib kita seperti nasib mak palimo, yang mana sewaktu
mau kesawah dilihat benihnya di persumayan sudah tandeh di kakas ayam,
sampai sampai itikpun berketincak disana..

Banyak orang yang teraung dikampung, dikarenakan tanaman tidak ada yang
jadi, entah kutuk apa namanya ini, kalau musim panas benar benar
kelimpasingan semuanya, sedangkan kalau musim hujan semua pada mencerutu
kedinginan.



Lakinda yang jauh di jawa……………………………………………………………..!

Bininda benar benar tidak bisa lagi bersalang tenggang di kampung karena
hutang sudah sebalit pinggang, apalagi yang harus bininda kerjakan untuk
mencari uang, kemarin ini bininda ikut jula jula sama teman teman se
pengajian dan bininda sudah mendapat tetapi sekarang sudah tandas semua
untuk pembeli lada dan garam.

Kemana lagi bininda akan mengadu.? Mau mengadu sama tan Kari , bininda
calik hidupnya merasai pula, baitu pula tan pono sama sama di arak untung
perasaiyan, usahlagi untuk belanja ke pakan , sedangkan untuk memasak saja
sudah tidak ada kayu yang akan disurungkan ketungku. mau beli minyak tanah
saja, harganya  sudah semahal tuba  dan kalau begini terus alamat akan
kurus kering saja kami jadinya, seperti kerakap tumbuh dibatu, hidup segan
mati tak amuh tantu akan kajang saja kami beranak pinak jadinya.

Bininda tau dan maklum sekali keadaan lakinda di jawa sini, yang katanya
acapkali di buru buru pak kamtib, karena lakinda menggalas dan berjualan di
muka orang, sewaktu bininda menonton tv dirumah mak pado, bininda mencalik
sekali bagaimana pak kamtib itu melacut dan melambut orang yang menggalas,
serupa melacut banting saja.

Benar benar tidak dihingga sedikit juga..bahkan ada juga yang di tumbuk  dan
di lokok se amuh amuhnya, baitu juga waktu bininda melihat pak kamtib
merazia peminta sedekah di tepi jalan, ada yang di irik irik sampai
terkencing kencing di serawa sedangkan yang anak anaknya meraung raung dan
mengaih ngaih  sampai terpacur cirik biar tidak di angkut, tapi tetap juga
di irik iriknya seperti me irik kambing ke air saja.

Itu yang selalu tampak tampak di mata bininda, kalau kalau lakinda kena
seperti itu pula..

Lakinda yang jauh dimata dekat dihati………………………………………………………!

            Dimalam yang hening dan lengang ini, bininda selalu berdoa pada
Tuhan, semoga lakinda  lepas dari marabahaya, dan selalu diteguhkan imanya,
dan tidak tergaduh dan tergoda dengan perbuatan syetan syetan itu. Semoga
lakinda tabah dan kuat.

Kalau bininda baca di surat kabar, banyak benar peristiwa yang sangat
menyakitkan kita sebagai orang kecil. bagaimana bapak bapak awak yang
diatas sana merajalela menciluk uang Negara kita, seperti menciluk buah
rambutan diparak saja, malahan ada yang menggadaikan pulau juga.

Tetapi yang agak tercengang bininda, kok ada orang sampai masuk kandang
situmbin hanya disebabkan main suap suapan saja. kalu begitu bininda
jadi  takut
takut menyuapi si ujang. nanti bininda dikadukan orang pula ke atas sana.

Binida tidak habis pikir....mengapa si Enji (ANGGIE) itu ditangkap pula
begitu juga si Rosa , hanya karena main suap suapan sama si Nazar...itukan
keterlaluan......

Sekarang bininda benar benar menjadi ketakutan mau berbuat apa2...takut
menyalahi aturan undang undang pula nantinya.

Lakinda yang selalu bininda harap harapkan…………………………………………………..

 Sebelumnya bininda mintak maaf karena ada yang hendak bininda tanyakan,
yaitu tentang  pergunjingan orang orang dikampung yang katanya lakinda
sudah kawin dengan orang sekampung di jawa sini, benar benar terkejut
binida mendengar, lakida kuat mengawini orang sekampung…masyaallah, katanya
lakinda sudah ber doan doan kemari pai…denga orang sekampung itu.

Sewaktu bininda tanyakan sama mamak Yanto Jambak waktu beliau pulang
dulu…beliau memang membisikkan pada binida kalau Ajo itu memang sudah kawin
dengan orang sekampung dan beliau berpesan jangan disampaikan pula kalau
beliau yang mengatakan…..

Kalau memang iya, berarti lakinda sudah mengicuh bininda habis habisan
selama ini..lakinda tidak tau bagaimana malunya bininda di gunjiangkan
orang sepanjang labuh.. apalagi waktu perhelatan si ros anak mak datuk
melenggang kepatang. habis bininda di cimeehkan orang.

Tidak tantu yang akan bininda sebut lagi.muncung orang benar benar tidak
bisa dihambat. semuanya berlantas angan sementang mentang bininda jadi
orang bansat.

Benar benar tidak kuat binida menghadapi cerita dan perkataan orang orang
sekeliling.

Bininda benar benar meremas perut dan menggerumas jantung  selama ini.
tidak kuat lagi rasanya bininda untuk hidup, kalau tidak menenggang si
ujang dan si gadih anak kita, amuh rasanya binida minum enderin biarlah
bininda mati berkalang tanah daripada hidup berputih mata.

Bininda tidak dapat membayangkan bagamana lakinda berpagut pagut
bergoncengan Honda dengan sempalah orangtu.

Lakinda  yang sangat bininda cintai……………………………………

Mengapa lakinda melupakan bininda begitu saja……..??

Apa lakinda tidak mengana masa masa kita berpacaran dulu??

Waktu kita masih ber intaian, bagamana lakinda merayu dan mengatakan kalau
bininda satu satunya orang yang paling lakinda cintai..

Sekarang binida serahkan semuanya kepada lakida…………..yang jelas cinta laki
da tak se manis yang dulu lagi…………..?? kalau semua gunjingan itu benar,
maka mungkin ini adalah surat penghabisan dari binida….jangan lagi lakida
me ingat ingat kami dikampung, biarlah kami dengan untungnya….dan tolong
kirimkan saja surat talak serumpun betung biar lakida puas…dan biar tidak
bisa rujuk lagi…tidak perlu lakida bersilat lidah dan menyanggah perkataan
binida ini…ternyata lakida benar benar mata keranjang selama ini…pantang
melihat kanying yang tercelak…..

Hanya ini saja yang dapat binida sampaikan pada surat terkhir ini.
Seterusnya terserah lakida saja..karena lakida juga yang akan berdosa..

Terakhir…………….

Empat kali empat enam belas

Sempat tidak sempat harap balas



Kunyit bahu daun langkuas

Kerambil dipangur jua

Sakit hatiku bagai di remas

Mendengar lakida telah mendua.



            Tidak disangka si rigo rigo

            Pipit sinandung makan padi

            Tidak disangka seperti iko

Lakida tercinta meracun hati.



Wassalam……………………………..binida di bilik kesunyian.



NB.

Kalau tergerak hati lakida membalas surat binida ini, tolong saja
dikirimkan sama mak Yanto Jambak yg diradio Pusako Minang itu. Karena
menurut kabar kabar angin beliau akan pulang membawa  oto prah di hari
menjelang puasa nanti..

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke