Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Di rantau inyiak parajan lo tadanga, urang manembaki anak sikola, manembaki urang sadang babalanjo di mall......
Mungkin baraja ka urang awak lo no jo caro mangamuak pakai badia tu gak no du ndak nyiak... Wassalamu'alaikum Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi Lahir : Zulqaidah 1370H, Jatibening - Bekasi ________________________________ From: sjamsir_sjarif <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, March 28, 2012 7:49 AM Subject: Re: [R@ntau-Net] AWAS MACET ............! Sedikit gambaran istilah budaya amuk ini antara lain-lain lihat di http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html AMOK, AMUK, NGAMUK! Sunday, 06 March 2011 15:17 Oleh: Ayu Sutarto Beberapa bulan terakhir ini wilayah Jember dan sekitarnya (Lumajang dan Bondowoso) sarat dengan berita kekerasan. Ada pengendara motor dibacok perampok; ada perampokan disertai pembunuhan; ada perampok dibakar hidup-hidup; ada orang sedang tidur dibantai; ada perempuan muda digorok; ada kiai pergi belanja dilempar dengan bahan peledak jenis bondet. Dan lain-lainnya. Dan lain-lainnya. Mengapa orang begitu gampang mengamuk di Negeri Nyiur Melambai yang pernah dikenal dunia sebagai negeri dengan selaksa senyum dan hospitality ini? Harus diakui, secara historis, kekerasan memang bukan barang baru, tetapi barang basi. Paradoks memang. Negeri ini sering bermuka ganda: penuh kelembutan, tetapi juga penuh kekerasan. Jangan kaget. Kata amuk, ngamuk, dan mengamuk sudah lama dikenal oleh masyarakat dunia. Masyarakat dunia mengenal kata amok yang berasal dari kata amuk. Di negeri yang oleh sastrawan Mochtar Lubis digelari Land under the Rainbow ini, kekerasan sudah dikenal bukan hanya di tingkat penguasa, tetapi juga di kalangan masyarakat. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, di sini sudah dikenal budaya yang oleh pengamat asing dikenal sebagai budaya "amok" (amuk, mengamuk). Istilah ini masuk ke dalam bahasa Perancis tahun 1832, namun sebelumnya sudah ada penggambaran tentang "main amok" (jouoit a Moqua) yang dapat dibaca melalui kesaksian J.B. Tavernier di Banten tahun 1648. Kesaksian tersebut berkisah tentang seorang Banten yang berkeliaran di jalanan dan membunuh siapa saja yang ditemuinya sampai akhirnya ia sendiri terbunuh. Menurut Professor Henk Schulte Nordholt dari Universitas Amsterdam, pemerintahan kolonial Belanda memberi sumbangan yang cukup berarti kepada tumbuhnya budaya amuk/kekerasan di Indonesia. Antara tahun 1885-1910 sebanyak 100.000-125.000 orang tewas menjadi korban tentara kolonial. Korban paling banyak tercatat di Aceh karena Belanda mengirimkan pasukan Marsose ke sana dan menewaskan sekitar 75.000 rakyat Aceh atau sekitar 15 persen penduduk wilayah tersebut. Haruskah kita berkesimpulan bahwa kita telah diajari amuk oleh sebuah bangsa yang pernah menjajah kita? Bisa jadi, mungkin. Tapi ingat, kekerasan sudah pernah terjadi sebelum Belanda mencengkeram negeri ini. Kita bisa mundur ke belakang sampai ke zaman Tunggul Ametung, pada abad ke-13 Masehi; ketika itu terjadi intrik di istana Tumapel, yang berakhir dengan terbunuhnya Sang Raja. Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung bebas berkeliaran, bahkan menjadi raja, sedangkan Kebo Ijo yang difitnah mendapat hukuman. Selama berabad-abad kita juga disuguhi cerita tentang Damarwulan, utusan Ratu Kencanawungu dari Majapahit, yang membawa kepala Minak Jingga yang telah dibunuhnya, sebagai bukti bahwa raja "pemberontak" itu benar-benar telah dibunuh. Sampai sekarang, amuk masih bertumbuh bak cendawan di musim hujan. Dalam konteks Jember, berita amuk paling gres adalah insiden perkelahian (carok) antara dua orang bilal (pemandu khutbah Jumat) di Desa Penjagan, Kecamatan Jambesari. Hanya gara-gara rebutan menjadi bilal di Masjid Tarbiyatul Ulum, Salehudin, 32 dan Sarip, 50, berkelahi hingga keduanya masuk rumah sakit. Beberapa waktu sebelumnya, warga Krajan Kidul, Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, Kiai Muhammad Ismail, di lempar bondet oleh Busar, 40, yang masih tetangganya sendiri. Kiai tersebut dibondet pada saat yang bersangkutan hendak pergi berbelanja di sebuah toko tak jauh dari kediamannya. Sementara itu, amuk yang mewaskan Suprapti, 55, warga Jl. Kalimantan XIV Sumbersari, dan Widiastuti, 26, di Sukorambi juga belum menunjukkan titik terang. Betapa pun sulitnya, kita harus mencari akar berbagai amuk yang terjadi di sekitar kita. Senyatanya saya kurang setuju dengan banyaknya pernyataaan bahwa masyarakat kita sekarang ini sedang sakit. Namun demikian, melihat banyaknya kasus amuk/kekerasan di sekitar kita, mungkin benar pernyataan itu: kita sedang sakit jiwa. Kalau ini benar, kita harus segera menyembuhkan diri. Kita tak akan mampu membangun negeri ini apabila diri kita dalam keadaan sakit jiwa. Kita tak akan mampu menyelamatkan generasi penerus apabila banyak di antara kita yang menderita sakit jiwa. Jember adalah bagian penting dari Jawa Timur, dan Jawa Timur adalah bagian penting dari Indonesia. Memperbaiki Indonesia bisa dari mana saja, termasuk dari Jember. Sangat tidak adil apabila dunia hanya mengenal Indonesia dari amoknya. Ini jelas bukan tantangan biasa bagi kita yang sangat mencintai Indonesia! Sumber: http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html Nyiak Sunguik -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
