Fenomena amok (amuak) dalam masyarakat awak ko memang jauah tatanam dalam 
kenangan sejarah para penjajah. Banyak tulisan nan lah ditulih mengenai 
fenomena AMOK di kalangan urang Melayu. Salah sorang nan banyak manulih 
mengenai hal iko adalah Sir Frank Swettenham (untuk konteks British Malaya, 
kini Malaysia). Dalam catatan2 urang Eropa tu, kalau urang Malayu ko lah tabik 
AMOK (lah mangamuak), indak dapek aka lai: labiah elok lari sajo manjauah. 
Indak tantu piluru deknyo doh lai. Galok mato. Padang atau apo sajo sanjato di 
tangannyo manggalewa2 co caciang kanai paneh. Nyao ka abih indah takana lai. 
Manyosoh bantuak urang mamarang batang tabu. Emosi tibo di ubun2, diri indak 
takontrol lai. Dalam banyak kamus bhs Inggris acok ditemukan lema AMOK ko. Ambo 
liek di Advanced Leaner's English Dictionary oleh Collins Cobuild (2003), 
hlm.43 keterangannyo sbb: amok: 'If a person or animal runs amok, they behave 
in a violent and uncontrolled way'. 

 
Wassalam,
Suryadi

________________________________
Dari: sjamsir_sjarif <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Rabu, 28 Maret 2012 2:49
Judul: Re: [R@ntau-Net] AWAS MACET ............!

Sedikit gambaran istilah budaya amuk ini antara lain-lain lihat di
http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html

AMOK, AMUK, NGAMUK! 
Sunday, 06 March 2011 15:17

Oleh: Ayu Sutarto

Beberapa bulan terakhir ini wilayah Jember dan sekitarnya (Lumajang dan 
Bondowoso) sarat dengan berita kekerasan. Ada pengendara motor dibacok 
perampok;  ada perampokan disertai pembunuhan; ada perampok dibakar 
hidup-hidup;  ada orang sedang tidur dibantai; ada perempuan muda digorok; ada 
kiai pergi belanja dilempar dengan bahan peledak jenis bondet. Dan 
lain-lainnya. Dan lain-lainnya.

Mengapa orang begitu gampang mengamuk di Negeri Nyiur Melambai yang pernah 
dikenal dunia sebagai negeri dengan selaksa senyum dan hospitality ini? Harus 
diakui, secara historis, kekerasan memang bukan barang baru, tetapi barang 
basi. Paradoks memang. Negeri ini sering bermuka ganda: penuh kelembutan, 
tetapi juga penuh kekerasan. Jangan kaget. Kata amuk, ngamuk, dan mengamuk 
sudah lama dikenal oleh masyarakat dunia. Masyarakat dunia mengenal kata amok 
yang berasal dari kata amuk.

Di negeri yang oleh sastrawan Mochtar Lubis digelari Land under the Rainbow 
ini, kekerasan sudah dikenal bukan hanya di tingkat penguasa, tetapi juga di 
kalangan masyarakat. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, di sini sudah dikenal 
budaya yang oleh pengamat asing dikenal sebagai budaya "amok" (amuk, mengamuk). 
Istilah ini masuk ke dalam bahasa Perancis tahun 1832, namun sebelumnya sudah 
ada penggambaran tentang "main amok" (jouoit a Moqua) yang dapat dibaca 
melalui  kesaksian J.B. Tavernier di Banten tahun 1648. Kesaksian tersebut 
berkisah tentang seorang Banten yang berkeliaran di jalanan dan membunuh siapa 
saja yang ditemuinya sampai akhirnya ia sendiri terbunuh.

Menurut Professor Henk Schulte Nordholt dari Universitas Amsterdam, 
pemerintahan kolonial Belanda memberi sumbangan yang cukup berarti kepada 
tumbuhnya budaya amuk/kekerasan di Indonesia. Antara tahun 1885-1910 sebanyak 
100.000-125.000 orang tewas menjadi korban tentara kolonial. Korban paling 
banyak tercatat di Aceh karena Belanda mengirimkan pasukan Marsose ke sana dan 
menewaskan sekitar 75.000 rakyat Aceh atau sekitar 15 persen penduduk wilayah 
tersebut.

Haruskah kita berkesimpulan bahwa kita telah diajari amuk oleh sebuah bangsa 
yang pernah menjajah kita? Bisa jadi, mungkin. Tapi ingat, kekerasan sudah 
pernah terjadi sebelum Belanda mencengkeram negeri ini. Kita bisa mundur ke 
belakang sampai ke zaman Tunggul Ametung, pada abad ke-13 Masehi; ketika itu 
terjadi intrik di istana Tumapel, yang berakhir dengan terbunuhnya Sang Raja. 
Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung bebas berkeliaran, bahkan menjadi raja, 
sedangkan Kebo Ijo yang difitnah mendapat hukuman. Selama berabad-abad kita 
juga disuguhi cerita tentang Damarwulan, utusan Ratu Kencanawungu dari 
Majapahit, yang membawa kepala Minak Jingga yang telah dibunuhnya, sebagai 
bukti bahwa raja "pemberontak" itu benar-benar telah dibunuh.

Sampai sekarang, amuk masih bertumbuh bak cendawan di musim hujan. Dalam 
konteks Jember, berita amuk paling gres adalah insiden perkelahian (carok) 
antara dua orang bilal (pemandu khutbah Jumat) di Desa Penjagan, Kecamatan 
Jambesari. Hanya gara-gara rebutan menjadi bilal di Masjid Tarbiyatul Ulum, 
Salehudin, 32 dan Sarip, 50, berkelahi hingga keduanya masuk rumah sakit. 
Beberapa waktu sebelumnya, warga Krajan Kidul, Desa Rojopolo, Kecamatan 
Jatiroto, Kiai Muhammad Ismail, di lempar bondet oleh Busar, 40, yang masih 
tetangganya sendiri. Kiai tersebut dibondet pada saat yang bersangkutan hendak 
pergi berbelanja di sebuah toko tak jauh dari kediamannya.  Sementara itu, amuk 
yang mewaskan Suprapti, 55, warga Jl. Kalimantan XIV Sumbersari, dan 
Widiastuti, 26, di Sukorambi juga belum menunjukkan titik terang.

Betapa pun sulitnya, kita harus mencari akar berbagai amuk yang terjadi di 
sekitar kita. Senyatanya saya kurang setuju dengan banyaknya pernyataaan bahwa 
masyarakat kita sekarang ini sedang sakit. Namun demikian,  melihat banyaknya 
kasus amuk/kekerasan di sekitar kita, mungkin benar pernyataan itu: kita sedang 
sakit jiwa. Kalau ini benar, kita harus segera menyembuhkan diri. Kita tak akan 
mampu membangun negeri ini apabila diri kita dalam keadaan sakit jiwa. Kita tak 
akan mampu menyelamatkan generasi penerus apabila banyak di antara kita yang 
menderita sakit jiwa.

Jember adalah bagian penting dari Jawa Timur, dan Jawa Timur adalah bagian 
penting dari Indonesia. Memperbaiki Indonesia bisa dari mana saja, termasuk 
dari Jember. Sangat tidak adil apabila dunia hanya mengenal Indonesia dari 
amoknya. Ini jelas  bukan tantangan biasa bagi kita yang sangat mencintai 
Indonesia!
Sumber: http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html

Nyiak Sunguik
--- In [email protected], fashnoor2006@... wrote:
>
> Para dunsanak sapalanta yth.
> Perbedaan utama adalah pemahaman terhadap demokrasi dan penerapannya dalam 
> kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Amrik, sebesar-besarnya demo anti 
> perang Vietnam di awal tahun 1960an tidak ditujukan untuk menggulingkan 
> pemerintah yg sah. Skandal Watergate th 1972 dan Lewinskigate th 1998 
> diselesaikan melalui proses demokrasi formal. Di Indonesia, kekuatan politik 
> formal atau partai2, dan bahkan tentara, berperan aktif menggerakkan demo2 yg 
> pernah berhasil menggulingkan pemerintah yg sah.
> Salam,
> Fashridjal M. Noor Sidin
> Lk, 64, Bandung
> 
> -----Original Message-----
> From: "sjamsir_sjarif" <hambociek@...>
> Sender: [email protected]
> Date: Tue, 27 Mar 2012 23:56:59 
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [R@ntau-Net] AWAS MACET ............!
> 
> Ambo raso iyo ado beda paradaban; salah satu gejala tu adolsh nan dikenal 
> urang dalam literatur jo istilah "Amuk".
> -- Nyiak Sunguik
> 
> --- In [email protected], ajo duta <ajoduta@> wrote:
> >
> > Di rantau ambo banyak juo demo. Malah cuma bbrapa meter dari White
> > House orasi digelar. Tapi indak jalan macet, indak ado anarkhis, indak
> > ado pengerahan pasukan tantara. Baa tu? Padahal kato kita mereka
> > kapia.
> > 
> > Apokah iko dek perbedaan peradaban? Atau pendidikan yang lebih
> > memadai? Antahlah!
> > 
> > On 3/26/12, Jacky Mardono Tjokrodiredjo <jackymardono@> wrote:
> > > Ini Dia Pengalihan Arus Lalin Selama Demo BBM di Jakarta
> > > E Mei Amelia R- detikNews
> > >
> > > Selasa, 27/03/2012 05:07 WIB
> > >
> > > Jakarta
> > > Aksi demo kerap menimbulkan kemacetan


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke