Alaikum salam waraahmatullahi wabarakatuhu

Mungkin iyo kiyoh Angku Lembang? Rantau Inyiak ko dijuluki New World sadangkan 
dunia awak dinamokan Old World... Tantu Dunia Gaek pulo dapek dipasalah. 
Caliaklah, sabana Ibo awak maagak-i kajadian di Kandahar patang ko. Bara urang 
garan, 24 urang sakali diamuakino, tamasuak urang gaek-gaek, padusi jo 
anak-anak. Sudah tu dibakano  lo kampuang urang ...

O iyo profil panulih amuak dalam postiang sabalun ko caliak:
http://ayusutarto.com/about-joomla.html

Salam,
--Nyiak Sunguik
--- In [email protected], Muhammad Dafiq Saib <stlembang_alam@...> 
wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
> 
> Di rantau inyiak parajan lo tadanga, urang manembaki anak sikola, manembaki 
> urang sadang babalanjo di mall...... 
> 
> Mungkin baraja ka urang awak lo no jo caro mangamuak pakai badia tu gak no du 
> ndak nyiak...
> 
> Wassalamu'alaikum
> 
>  
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H, 
> Jatibening - Bekasi
> 
> 
> ________________________________
>  From: sjamsir_sjarif <hambociek@...>
> To: [email protected] 
> Sent: Wednesday, March 28, 2012 7:49 AM
> Subject: Re: [R@ntau-Net] AWAS MACET ............!
>  
> Sedikit gambaran istilah budaya amuk ini antara lain-lain lihat di
> http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html
> 
> AMOK, AMUK, NGAMUK! 
> Sunday, 06 March 2011 15:17
> 
> Oleh: Ayu Sutarto
> 
> Beberapa bulan terakhir ini wilayah Jember dan sekitarnya (Lumajang dan 
> Bondowoso) sarat dengan berita kekerasan. Ada pengendara motor dibacok 
> perampok;  ada perampokan disertai pembunuhan; ada perampok dibakar 
> hidup-hidup;  ada orang sedang tidur dibantai; ada perempuan muda digorok; 
> ada kiai pergi belanja dilempar dengan bahan peledak jenis bondet. Dan 
> lain-lainnya. Dan lain-lainnya.
> 
> Mengapa orang begitu gampang mengamuk di Negeri Nyiur Melambai yang pernah 
> dikenal dunia sebagai negeri dengan selaksa senyum dan hospitality ini? Harus 
> diakui, secara historis, kekerasan memang bukan barang baru, tetapi barang 
> basi. Paradoks memang. Negeri ini sering bermuka ganda: penuh kelembutan, 
> tetapi juga penuh kekerasan. Jangan kaget. Kata amuk, ngamuk, dan mengamuk 
> sudah lama dikenal oleh masyarakat dunia. Masyarakat dunia mengenal kata amok 
> yang berasal dari kata amuk.
> 
> Di negeri yang oleh sastrawan Mochtar Lubis digelari Land under the Rainbow 
> ini, kekerasan sudah dikenal bukan hanya di tingkat penguasa, tetapi juga di 
> kalangan masyarakat. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, di sini sudah dikenal 
> budaya yang oleh pengamat asing dikenal sebagai budaya "amok" (amuk, 
> mengamuk). Istilah ini masuk ke dalam bahasa Perancis tahun 1832, namun 
> sebelumnya sudah ada penggambaran tentang "main amok" (jouoit a Moqua) yang 
> dapat dibaca melalui   kesaksian J.B. Tavernier di Banten tahun 1648. 
> Kesaksian tersebut berkisah tentang seorang Banten yang berkeliaran di 
> jalanan dan membunuh siapa saja yang ditemuinya sampai akhirnya ia sendiri 
> terbunuh.
> 
> Menurut Professor Henk Schulte Nordholt dari Universitas Amsterdam, 
> pemerintahan kolonial Belanda memberi sumbangan yang cukup berarti kepada 
> tumbuhnya budaya amuk/kekerasan di Indonesia. Antara tahun 1885-1910 sebanyak 
> 100.000-125.000 orang tewas menjadi korban tentara kolonial. Korban paling 
> banyak tercatat di Aceh karena Belanda mengirimkan pasukan Marsose ke sana 
> dan menewaskan sekitar 75.000 rakyat Aceh atau sekitar 15 persen penduduk 
> wilayah tersebut.
> 
> Haruskah kita berkesimpulan bahwa kita telah diajari amuk oleh sebuah bangsa 
> yang pernah menjajah kita? Bisa jadi, mungkin. Tapi ingat, kekerasan sudah 
> pernah terjadi sebelum Belanda mencengkeram negeri ini. Kita bisa mundur ke 
> belakang sampai ke zaman Tunggul Ametung, pada abad ke-13 Masehi; ketika itu 
> terjadi intrik di istana Tumapel, yang berakhir dengan terbunuhnya Sang Raja. 
> Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung bebas berkeliaran, bahkan menjadi 
> raja, sedangkan Kebo Ijo yang difitnah mendapat hukuman. Selama berabad-abad 
> kita juga disuguhi cerita tentang Damarwulan, utusan Ratu Kencanawungu dari 
> Majapahit, yang membawa kepala Minak Jingga yang telah dibunuhnya, sebagai 
> bukti bahwa raja "pemberontak" itu benar-benar telah dibunuh.
> 
> Sampai sekarang, amuk masih bertumbuh bak cendawan di musim hujan. Dalam 
> konteks Jember, berita amuk paling gres adalah insiden perkelahian (carok) 
> antara dua orang bilal (pemandu khutbah Jumat) di Desa Penjagan, Kecamatan 
> Jambesari. Hanya gara-gara rebutan menjadi bilal di Masjid Tarbiyatul Ulum, 
> Salehudin, 32 dan Sarip, 50, berkelahi hingga keduanya masuk rumah sakit. 
> Beberapa waktu sebelumnya, warga Krajan Kidul, Desa Rojopolo, Kecamatan 
> Jatiroto, Kiai Muhammad Ismail, di lempar bondet oleh Busar, 40, yang masih 
> tetangganya sendiri. Kiai tersebut dibondet pada saat yang bersangkutan 
> hendak pergi berbelanja di sebuah toko tak jauh dari kediamannya.  Sementara 
> itu, amuk yang mewaskan Suprapti, 55, warga Jl. Kalimantan XIV Sumbersari, 
> dan Widiastuti, 26, di Sukorambi juga belum menunjukkan titik terang.
> 
> Betapa pun sulitnya, kita harus mencari akar berbagai amuk yang terjadi di 
> sekitar kita. Senyatanya saya kurang setuju dengan banyaknya pernyataaan 
> bahwa masyarakat kita sekarang ini sedang sakit. Namun demikian,  melihat 
> banyaknya kasus amuk/kekerasan di sekitar kita, mungkin benar pernyataan itu: 
> kita sedang sakit jiwa. Kalau ini benar, kita harus segera menyembuhkan diri. 
> Kita tak akan mampu membangun negeri ini apabila diri kita dalam keadaan 
> sakit jiwa. Kita tak akan mampu menyelamatkan generasi penerus apabila banyak 
> di antara kita yang menderita sakit jiwa.
> 
> Jember adalah bagian penting dari Jawa Timur, dan Jawa Timur adalah bagian 
> penting dari Indonesia. Memperbaiki Indonesia bisa dari mana saja, termasuk 
> dari Jember. Sangat tidak adil apabila dunia hanya mengenal Indonesia dari 
> amoknya. Ini jelas  bukan tantangan biasa bagi kita yang sangat mencintai 
> Indonesia!
> Sumber: http://ayusutarto.com/features/58-amok-amuk-ngamuk.html
> 
> Nyiak Sunguik
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke