Assalamualaikum wr, wb. Da Elthaf dan Dunsanak kasadonyo , Salut Ambo ateh data Uda nan langkok bana, luar biasa itu kesan ambo katiko mambaconyo dan juo untuak rang gaek nan masih aktif , jauh dari dalam lubuak hati Ambo manyimpan kekaguman dan salut terhadap mereka , di usia yang senja seperti Pak Chaidir dan Pak Syaaf nan ambo kenal dakek umua labiah dari 70 tahun tapi masih sangat aktif dalam kegiatan dan pemikiran beliau yang cemerlang, di usia senja , masih sangat gesit partispasinya dalam setiap kegiatan dsb. Ambo sapandapek, etika dalam berkomunikasi harus dibiasokan , Adat Isitadat Minangkabau sangat kental dalam hal etika sopan santun , ado kato malereng , kato mandaki , kato manurun , cukup prihatin atas pergesaeran moral nan ado , mimpi ambo adolah bilo kito dapek memasyarakatkan adat istiadat kepada generasi muda , sudah saatnya untuk dimulai agar adat istiadat Minangkabau tidak hilang mata rantainya , diberikan penyegaran kembali kepada generasi muda minang. salam, Nuraini
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Elthaf (elthaf) Sent: Friday, January 25, 2008 1:53 PM To: [email protected]; hambociek Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: [EMAIL PROTECTED] Ber-RantauNet Ber-akhlakulkarimah Assalaamualaikum wr.wb., Nikmat nian saat kita membuka dan membaca mailing list Rantau net, ada nuansa kekeluargaan, ada nuansa kelembutan, rangkaian kata berbahasa yang santun dan saling menghargai, kental dengan implementasi dari tahu di nan ampek, mandaki, mandata, manurun jo malereang, serba positive thinking dan malah Rantau Net jadi Think Tank bagi geliat dinamika Minang, sangat sejuk, kondusif, konstruktif, persuasif, informatif dan edukatif. Tapi nuansa itu hanya tidak berlangsung lama, saat-saat sejuk dan indah, saat tidak ada lagi front ranah dan rantau, front PNS dan swasta, saat ini kembali terusik dengan adanya satu dua anak muda, katanya sih anak muda, dengan embel-embel keren di bawah namanya dan mewakili satu front dengan nama yang begitu keren dan malah ingin fantastis dan ingin mengkritisi setiap denyut jantung aktivitas berminang-minang, maaf saya pinjam istilah berminang-minang ini dari dia. Kita ingin milis yang laksana air yang jernih dan bersih, namun apalah arti air jernih jika tidak mampu menghilangkan dahaga, ibarat air di samudera luas, namun apalah artinya samudera luas jika tak mampu mengalir dan ombaknya tak mampu mencapai pantai karena terhalang karang. Pertama saya melihat anak-anak muda pintar yang sangat kita banggakan ini ingin sedikit mengembangkan daya imajinasi dan kreasinya, melepaskan spirit gemuruh jiwa muda nya yang bergelora, walaupun sedikit agak mencle-mencle saya tetap bangga, dan masih bisa menerima , haa ini dia anak muda harapan bangsa yang akan menggebrak dan akan berprestasi dan berkarya lebih dahsyat, dari tatanan emailnya dan energy kritisi anak muda ini nampak sekali begitu tingginya intelektualnya, begitu luasya wawasannya, dan begitu tinggi jenjang pendidikannya tapi lama-lama sepertinya anak muda ini lepas kendali, manapuak dado memproklamirkan jati dirinya dengan pongah, dibuktikan dari statement yang ditulis dibawah namanya pada setiap postingannya, dan pada puncaknya ada anak muda yang dengan garangnya dia MENGUSIR setiap orang tua yang mengeluh dengan berbagai beban (pulsa dan lama menunggu waktu ) saat membuka Rantau Net yang begitu besar memorinya sehingga harus maibo-ibo memohon belas kasihan, anak muda ini bukannya mengasihi malah mengusir, dengan congkaknya dia menyatakan dia berlangganan dengan puluhan mailing list dan menjudge Rantau net sebagai mailing list yang aneh dengan pelbagai aturan mengikat, dan tanpa belas kasihan sedikitpun mengusir orang tua yang begitu kita hormati, kita banggakan dan tempat kita bertanya dan minta nasehat .astaghfirullah. begitu ganaskah dunia ini sampai harus mengusir seorang tua renta yang tidak punya daya malah semangat untuk membuka Rantau net inipun adalah sisa-sisa semangat yang masih beliau punyai, yang kadang mungkin saja beliau untuk shalat saja harus shalat duduk dan mandipun harus bajarangan aia angek, betapa gemetarnya saya saat membuka mail dan membaca mail yang ditujukan pada beliau, bisa bayangkan bagaimana keadaan beliau dibaituan tanpa belas kasih. Ketahuilah, INDAK SALAMONYO DOH, sia bana awak, gagah bana awak, santiang bana awak, toh alam akan menggiring kita pada titik titik dimana kita sendiripun tidak menginginkan , siapa sih yang mau sakit, siapa sih yang mau tua, percayailah rukun iman ke enam akan selalu hinggap pada setiap manusia tanpa kecuali. Hai anak muda perlu juga saya sedikit bercerita tentang Rantau Net dan orang-orang yang ada di Rantau Net, alkisah, awal tahun 1990-an, sebelum ada rantau Net, ada beberapa orang Minang yang Alhamdulillah diberi oleh Allah SWT nikmat mempunyai Email, waktu itu belum bernama E-mail, masih bernama MCS, dan perusahaan yang memakaipun perusahaan besar kelas dunia, dengan adanya IT yang baru ini beliau-beliau ini mulai merintis silaturrahim di alam maya, beliau itu antara lain Mak Ngah Sjamsir di Amerika, Bundo Nismah di Caltex Pekanbaru, Pak Rumzi di Pekanbaru, Pak Arisman Adnan di Inggris, Pak Edi Santoso di Amerika, dan banyak lagi yang kita mohon bundi Nismah mau sedikit bercerita, yang saya percaya Bundo urangnya bukan suka membanggakan, tapi mudah-mudahan Bundo, pak Arisman dan beliau-beliau ini bisa sedikit bercerita awal mulany beliau berE-mail, dan dari beberapa dari beliau itu baru bisa ketemu setelah sekian tahun berhubungan dengan mail, beliau inipun ingin menjalin kisah-kisah beliau sekian tahun silam lewat email. Kalau Bundo Nismah, Pak Rumzi, Mak Ngah Sjamsir itu sudah berteman dari beliau sekolah di tahun 1950-an, dan Bundo Nismah dan Pak Rumzi pun telah beberapa kali ketemu dengan mak Ngah di Amerika di tahun 1970-an. Mak Ngah Sjamsir Sjarif baru ketemu dnegan Pak Arisman Adnan adalah tahun 2005, maaf kalau saya nggak salah di Hotel Pangeran di pekanbaru, dan saya pun hadir, dan saya alang kepalang kaget, saya pikir beliau beliau ini sudah sering ketemu di Amerika, ternyata ciek di ujuang ciek di puun. Saat itu Mak Ngah, Pak Arisman Adnan, Ibu Yenny Arisman (isteri Pak Arisman) , kakak ipar saya yang juga teman seperjuangan mak Ngah tahun 1960 di Sungayang Batusangka, 40-an tahun nggak pernah ketemu, beliau berdua ketemu pertamanya lagi di Mekkah Almukarramah, dan sayalah yang mempertemukan tali silaturrahim beliau dan ini juga berkat Rantau Net. Sedikit saya bercerita tentang mak Ngah Sjamsir, beliau ini satu kampuang dengan saya di Biaro, tahun 1963 beliau berangkat ke Amerika, dan bagi kami anak-anak kecil sebagai pelecut untuk maju dan bercita-cita ke Amerika seperti beliau, mak Ngah muda adalah seorang petualang dan salah seorang teman akrab beliau adalah pak Syamwil di Sungayang. Tahun 1989 saya menikah dnegan orang Sungayang yang ternyata adalah adiak ipar Pak Syamwil, pak Syamwil bercerita kalau teman beliau orang Biaro namanya pak Sjamsir Sjarif, waktu itu saya nggak terlalu ngopi karena beliau ini saya nggak kenal dan jauh di seberang lautan, tahun 1994 saya mendapat fasilitas semacam Email, tapi namanya bukan Email , masih bernama MCS, waktu itu baru seperempat dari pegawai yang punya MCS dan itupun setelah melalui penjaringan yang ketat dnegan sarat-sarat yang berat, alhamdulilah mendapat fasilitas itu, saya waktu itu sudah berlangganan mailing list apakabar yang penuh dnegan informasi yang berani dan tajam. Kemudian saya ikut mailing list rantau net, dan betapa kagetnya saya membaca ada nama Pak Sjamsir Sjarif, kemudian saya beranikan memeperkenalkan diri dan Alhamdulillah, ternyata beliau sangat responsif dan sangat welcome, beliau sangat mengenal keluarga besar saya di Biaro dan setiap suduik rumah gadang saya di kampuang. Kemudian beliau kaget setelah saya cerita tentang kakak ipar saya yang adalah teman lama beliau yang sudah lama tidak kontak, dan Alhamdulillah beliau ketemu di Makkah, subhannalah, dua orang konco palangkin berpisah tahun 1964, satu di AS dan satu di Batusangka, Allah mempertemukan beliau ini di Mekkah Almukarramah. Apa Lesson learnya anak muda, baiklah saya lanjutkan cerita ini. Beliau beliau yang punya Email ini sepakat membuat mailing list Rantau Net tahun 1996, dan berkat silaturrahim dan kepeduliaan dan yang pasti atas rahmat Allah yang maha kuasa jadilah Rantau net seperti sekarang. Kemudian siapa beliau-beliau ini, kalau Ibu Nismah saya udah kenal di Rumbai, beliau yang lainnya saya mulai mengenal beliau-beliau ini dari mailing list Rantau net. Saya mulai bergabung dengan Rantau Net tahun 1998, sekian tahun berjalan saya mengenal nama-nama Pak Syamsir Alam, Pak Sjamsir Sjarif di AS, Pak Darul, Pak Bandaro, Pak Arisman Adnan di Inggris, Pak Dafiq, Pak Ibnu Hajar di Belanda, Pak K. Suheimi, dan banyak lagi, pertamanya saya heran beliau-beliau ini kok maandokkan kuku, Nampak sekali beliau-beliau selalu memakai bahasa yang membumi, memakai dan selalu mencari bahasa Minang yang sudah jarang dipakai, jauh dari memakai bahasa Indonesia yang diadopt dari bahasa Inggris, pada hal beliau ini sehari-harinya memakai bahasa Inggris, paling nggaknya di kantornya, malah dari bahasa dan substansinya sepertinya sangat naïf, dan sederhana sekali, tidak ada kesan mamanggak atau show, jauah dari hariak-hariak dan selalu memakai bahasa santun, saya penasaran, siapa sih beliau-beliau ini, ibarat cerita Kho Ping Ho, mulailah saya ingin mencari dan mengenal beliau dan tentunya ingin sekali menjadikan beliau sebagi suhu saya. Anak Muda!, baiklah saya kenalkan satu persatu dari beliau-beliau ini, tentunya Mak Ngah dulu deh, beliau urang Biaro, tahun 1963 ke Amerika pada usia yang masih muda, beliau menyandang MA sekian tahun silam, pada usia beliau yang sudah 73 tahun beliau masih kuat berenang, tahun 2005 beliau ke Pekanbaru dan mampir ke rumah saya, kemudian beliau sendiri menjelajahi pedalaman Riau sampai ke Pasir Pangaraian, kemudian beliau sampai ke Myanmar dan ketemu sama pak Dino, manager Hotel di Yangoon, tahu nggak ?...mak Ngah menjelajah sendiri sampai ke kota kecil dimana Dino sendiri belum pernah ke sana. Dalam usia senja itu beliau sendiri mejelajah dunia, napak tilas di Agam dan kembali lagi ke Amerika seorang diri, beliau dikaruniai sepasang anak Mutiara dan . Lupo ambo namonyo. Mak Sati, adalah gelar dari seorang bapak yang bernama Pak Sjamsir Alam, umur beliau 73 th, masih gengnya Mak Ngah, tahun 2004 saya membawa keluarga saya mampir ke rumah beliau di Tabiang, Padang, pertama ketemu saya lengsung terkesima dan takjub dengan kebapakan beliau, tatapan mata beliau begitu sejuk dan penuh rasa sayang, tidak saya sangka beliau begitu menghargai kedatangan saya yang hanya anak muda biasa, mulailah beliau sedikit mengulas cerita rantau net dnegan hangat, beliau memperkenalkan isteri beliau dan menceritakan anak-anak beliau yang sebagian besar adalah alumni SMA 1 Bkt, beliau tahun 1961 sudah menjadi guru di SMA 1 Bukittinggi bersama dengan pak Sunariman Mustafa ynag telah melegenda sebagai pendidik yang sukses, Nampak sekali pak Sjamsir adalah tokoh pendidikan, banyak ide brillian beliau yang keluar, dan telah banyak beliau mencetak orang-orang yang berhasil, dan sampai sekarang murid-murid beliau itu masih sowan ke rumah beliau, dan terakhir beliau ikut sebagai founder Universitas Bung Hatta dan menjadi staf pengajar, hobby beliau mengutak ngutik mobil kuno khususnya Land Rover yang setiap sore selalu beliau elus-elus, mulai saat itu saya sangat respek dengan atensi, karya dan kepeduliaan beliau terhadap Minang ini, Alhamdulillah anak-anak beliau semua sudah berhasil, tapi beliau senang seperti saat ini, melihat anak cucu beliau di Bogor, Balikpapan dan kembali membuka Rantau net, jadi jangan dianggap beliau nggak mampu bayar pulsa, beliau orang hebat, beliau disegani oleh para pejabat di Sumatera Barat dan selalu dimintai nasehat oleh bapak-bapak itu, dari walikota Bukittinggi sampai pejabat di pusat, beiau teriak di Email itu hanyalah karena beliau kesal dengan netter yang melanggar komitmen dan aturan berRantau net. jangan coba-coba menganggu beliau, ribuan murid beliau yang lah jadi orang akan manjinjiang talingo si pengganggu Bundo Nismah, berasal dari Payakumbuh, beliau pensiunan Caltex dulunya di Bagian Komputer sebagi programmer, saya mengenal beliau karena etek saya sati departemen dnegan beliau, sekarang beliau berdua assignment jadi MC di Dallas untuk beberapa bulan Pak Dafiq Suaib St Lembang Alam, kamanakan dari Gubernur Jambi pertama , pak Jamin Dt. Bagindo, cucu dari Sech Ahmad Taher seorang ulama besar di Saudi Arabia di tahun 1920-an beliau seorang geologist dari ITB dan baru pensiun dari Total, saya pertama bertemu dnegan beliau di rumah adik beliau di Pekanbaru tahun 2000, banyak tulisan beliau yang saya simpan, termasuk carito mak Marah yang pulang dari Jakarta. Pak Bandaro, nama beliau Pak Amzar Bandaro, tahun 1971 beliau bekerja sebagi trainee di PT Caltex Pacific Indonesia, beliau masuk penggemblengan yang luar biasa keras, 6 bulan pertama belajar bahasa Inggris 8 jam satu hari 5 hari seminggu dnegan native speaker, kemudian dilanjutkan hampir dua tahun training khusus dengan disiplin ilmunya, yaitu ambil spesialisasi akunting, mechanic, welding, electric, training ini juga 8 jam sehari dan 5 hari seminggu, Pak Bandaro mengambil training Electrical khusus belajar listrik saja, tanpa belajar ilmu pengetahun lainnya, tidak ada disleingi pelajaran bahasa Indonesia, PPKN dsbnya, bayangkan betapa tingginya skill beliau hanya satu bidang ilmu selama hampir dua tahun dan malah disambung dnegan belajar malam, karena sistemnya gugur, kalau gagal jadilah sebagai pegawai dengan grade sesuai lulusan SMA, alhamdulillah beliau lulus dengan nilai bagus dan disesuaikan gradenya dnegan training, kemudia beliau dikirim ke Amerika juga memperdalam tantang electrical, beberapa tahun sepulang dari Amerika beliau minta berhenti dan pindah ke pelbagai perusahaan seperti Arco dsbnya. Di usia senja beliau masih tetap energik, saya beberapa kali ketemu beliau di Bogor dan Pekanbaru dan beliau berkenan mampir ke rumah saya serta ikut di acara HBH alumni SMA 1 bkt di Pekanbaru. Mak Darul, delapan belas tahun beliau mengharungi dunia ini sebagai kapten kapal, telah banyak dunia yang beliau singgahi, di usia senja beliau masih sempat mengambil S2 beliau, beliau telah dua kali mampir ke rumah saya di pekanbaru dan tahun 2003 beliau bersilaturahim dengan urang rantau Net di Pekanbaru seperti dengan Pak Madahar, Pak Taufiq Rasjid, pak Kasman dsbnya, banyak pemikiran brillian beliau yang kami dapatkan terutama bagaimana mengoptimalkan potensi SDM di Minang itu sendiri, beliau lah yang membawa dan memperkenalkan saya dnegan banyak orang rantau Net di lapangan RSAU Halim. Pak Suheimi, tahun 1998 beliau sudah ikut di Rantau net kemudian karena kesibukan sempat istrihat dan sekarang beliau sangat banyak memberikan pencerahan di rantau net, pertama saya kenal beliau tahun 1998 saat beliau berkunjung ke Pekanbaru di toko beliau di Jl. Imam Bonjol, saya kaget orang yang saya kagumi itui begitu baik dan sangat baik kepada saya anak muda yang tidak ada apa-apanya, hubungan kami terus berlanjut sampai beliau mengundang saya untuk menghadiri acara pengukuhan beliau sebagai guru besar, ada satu yang sangat berkesan bagi saya, tahun 2002, saat saya mengisi BBM di By pass Bukittinggi saya melihat seorang tua sebagai kasir di sebuah SPBU, dan malah ada saya melihat seorang supir oplet yang sedikit kesal karena pitih baliaknyo lamo bana dek lambek maetongnyo, orang tua ini hanya senyum-senyum saja, siapa beliau ternyata beliau adalah ownernya yang ingin mengetahui bagaimana menjadi kasir, menjadi operator dari satu usaha, beliau telah melakoni perbagai usaha, mulai dari manggaleh es tong-tong di tahun 1950-an di Bukittinggi sampai beliau pemilik beberapa usaha yang sudah menggurita. Saya berhasil beratatap muka dan beberapa kali basuo dan bersilaturrahim dengan banyak urang Rantau Net, dengan Pak Hanif Husein ketemu di Bogor , Pak Asmardi, Ronald, Pak Mulyadi, Miko, Raf, Dokter yang di Kopassus, lupa saya namanya. Pak Asadi, pak Mulyadi di pekanbaru, Rahima, Firdaus HB, Reza, Bobbi Lukman, Pak Syaaf, pak Chaidir, pak Nofrins, Kanda Ridwan Sirin di Jeddah, Junaidi di Spr, Ibu Nuraini di Pekanbaru dan Padang, Sanak Bandaro Labiah di Bgr, Bkt dan Padang, Razi, Pak Arisman yang sudah kontak Email sejak tahun 1998 ketemu setelah beliau di pekanbaru bersama-sama dnegan Mak Ngah, dan banyak lagi dan semua itu sangat mengesankan dan saya sangat memahami arti dari sebuah silaturrahim, dan malah barusan saya mancigok mail mail saya tahun 1998 yang masih tersimpan rapi di satu folder, dan salah satu mail saya di rantau net tahun 200 saya kopikan di sini, lihat ini, ada mail turut berduka dari seorang member rantau net, kala itu belum di Googlegroups.com -----Original Message----- From: Sent: Monday, July 24, 2000 1:10 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Rantau-Net] Berita Duka Di milis ini sangat kental hubungan keluarganya, tidak hanya sebagi rasa kekeluargaan tapi yang betul betul keluarga secara hubungan darah juga banyak, ada yang anak dengan bapak, kakak adik, mertua dan mantu, saya tahunya setelah banyak kopi darat dengan beliau ternyata semua saling punya hubungan, minilam sama sekolah dan konco saparangai wakatu ketek, ada yang membuat kita bangga ialah Netter rantau net dnegan bangga membawa saudara kenalannya untuk ikut di mailing list, seperti Pak Mulyadi paling banyak mengajak orang untuk ikut di Rantau net, bayangkan beliau mempertaruhkan supremasi dan nama baik Rantau net, beliau mengajak dan memberikan referensi, dan yang beliau ajak itu bukanlah orang yang suka bermilis-milis karena beliau beliau itu tidak punya waktu yang banyak untuk bermilis-milis, makanya saya jadi heran kok ada orang yang bisa bermilis-milis begitu banyak, apa nggak ada kerjaan. Selain pak Mulyadi banyak anggota RN ini mengajak sobat dan saudaranya ikut di Rantau net, Setelah beliau-beliau masuk di rantau Net beliau sangat senang karena di sini tercapture tentang Minang secara integrated, apakah beliau harus unsubscribe hanya dengan postingan kita yang tak bakaruncingan ini?. Makanya ada baiknya postingan kita ke mailing list Rantau net adalah postingan yang membuat si netter sejuk dan ada korelasinya dengan tata tertib di Rantau net. Setiap kerjaan ini ada SOPnya, di Rantau Net juga ada SOP dan juga ada aturannya, jaan disamoratoaan saja, makanya saya jadi heran kalau sampai muncul istilah yang kurang tepat di RN ini seperti hot hot chickenshit, komisi ., .. Watch dsbnya, yang kadang sepertinya tumpahan kekesalannya kok harus ke mailing list ini, kenapa harus menumpahkannya ke mailing list ini, saya mengerti ada yang tidak puas tapi apakah di sini DPOnya, apa tidak ada media lainnya, kita yang tidak tahu menahu ini kenapa sepertinya harus kena damprat. Silahkan saja buat milis Rantau net reformasi, RN Perjuangan, RN Abad ke duapuluh satu, RN abu abu, dsbnya, mungkin saja netter RN ini akan eksodus dan masuk ke milis yyang baru yang mungkin sangat responsive dengan kamauan netter yang ingin seperti berdemokrasi yang demokrasi itu sendiri sudah dipertanyaakan dan lah kalimpasingan. Jangankan saya, pak Syaafruddin saja yang seorang jenderal harus terbirit-birit dan mengangkat bendera putih tinggi tinggi membaca istilah komisi itu, sebagai seorang mantan anggota Komnas HAM yang jelas-jelas ada kata-kata komisinya harus membalik-balik buku tebal Komnas HAM dimana komisi propaganda ini terdaftar dan mungkin saja beliau harus mencari ke kementerian hukum dan HAM apakah ada di sana terselipnya. Begitu pula istilah angek angek cirik ayam, ayam saja sekarang nggak sempat beol lagi karena harus tungganglanggang menyelamatkan diri diburu-buru karena dianggap sebagai teroris yang telah menyebarkankan bom virus H5N1 Sebainya berkarya dululah, tunjukkan hasil karya kita sebelum mengkritis orang lain. Membuat hati orang tua taibo adalah dosa, sebelum pintu maaf tertutup ada baiknya minta maaf, karena bagaimanapun namanya maut tidak memandang bulu. Doa kami semua, Jadilah anak muda harapan bangsa, harapan kita semua, menjadi anak muda hebat, brillian, yang santun, yang taat, hebat di dunia dan dan surga menunggu di akhir masa. Duhai Rantau Net . Engkau telah mencuri hati ku Engkau berkilau laksana permata Wanginya laksana wewangian syuhada Rangkaian kata-katanya laksana bunga yang mekar dan mejadi sumber air yang jernih. Lihatlah kala tetesan hujan menempel di dedaunan, nampak elok, indah dan kemilau Bila RN ini adalah air, ingin ku segera meminumnya Bila RN ini udara ingin aku menghirupnya Bila RN ini pantai, ingin aku segera berlabuh Engkau laksana bunga mawar semerbak membias Dan aku mendengar desiran syair syair yang dituliskan netter Bagaikan simponi indah yang melenakan. Duhai Rantau net, abadilah kau sampai keabadian itu tak bermakna lagi, amiin.. Wassalam, Elthaf --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Peraturan yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
