[Bagian tiga dari empat tulisan] Suatu siang di akhir November 2004 di Radison Sanur Paradise Plaza Hotel di Sanur, Denpasar, Bali, tempat diselenggarakannya Konperensi Nasional menjelang berakhirnya masa kerja Program USAID Perform.
Setelah mendaftar ke Panitia, meminta kunci di resepsionis dan menaruh handbag di kamar, saya keluar untuk makan siang, karena Panitia baru menyediakan makan di hotel mulai malam nanti. Di perempatan, tidak jauh dari gapura hotel ketika hendak masuk tadi, saya melihat sebuah restoran cepat saji KFC. Saya langsung menuju ke sana. Dalam perjalanan singkat ke gerai KFC itu saya membatin tentang sikap petugas resepsionis yang kurang bersahabat setelah melihat KTP saya. Namun saya mencoba memakluminya. Saya pernah berada di Bali pada saat pariwisata Bali sedang mencapai puncaknya, karena salah satu kegiatan kantor kami di sebuah hotel di pantai Tuban, Bali, diselenggarakan kurang dari sepekan sebelum terjadinya tragedi Bom Bali Oktober 2002, tragedi yang ikut meluluhlantakkan pariwisata Bali. Dan walaupun peristiwa itu sudah dua tahun berselang, pada saat itu pariwisata Bali masih jauh dari pulih Baru sesuap dua suap menikmati makan siang saya, di meja di depan saya duduk rombongan yang terdiri dari empat orang; seorang pemuda berumur dua puluhan berpostur atletis, berkulit gelap dan berambut keriting dan dua anak sepuluh tahunan yang dari wajahnya terlihat merupakan adik dari pemuda tersebut, dan seorang perempuan berkulit putih berusia sekitar 35 tahun agak gemuk, yang terlihat membayar seluruh pengeluaran. (Sebagai mana diberitakan media beberapa waktu yang lalu, Gubernur Bali Mangku Pastika marah besar ketika mengatahui ada filem dokumenter yang dibuat oleh seorang sineas asing mengenai "pergigoloan di Bali"). Tetapi mau marah bagaimana? Sanur, Kuta, Nusa Dua dan lain-lain bukan Pattaya memang. Tetapi jelas, sebagian wisatawan laki-laki atau perempuan-tidak mewakili mayoritas- yang mengunjungi Bali tidak sekedar menikmati suasana pantai, keindahan alam atau budaya Bali saja. Pasangan-pasangan seperti yang duduk di depan saya itu jelas bukan pemandangan yang terlalu langka. Dan tidak sulit mencari pelacur laki-laki, pelacur perempuan dan pelacur untuk sesama jenis di sana. Konon sebagian besar pelacur itu bukan orang Bali. Cara perempuan Bali memaknai ketelanjangan memang agak berbeda dengan orang kita, tetapi sepanjang yang saya ketahui perempuan-perempuan Bali lebih suka jadi pekerja kasar daripada melacurkan dirinya. Bali relatif cukup saya kenal, bukan hanya karena sudah tujuh kali ke sana. Pada kunjungan pertama ke sana di tahun 1992, saya sampai ke Buleleng di Utara. Dalam beberapa kunjungan berikutnya di tahun 1996, saya sempat turun ke salah satu fyord-fyord kecil yang bertebaran di Pecatu di ujung selatan Bali-yang ketika itu direncanakan akan dikembangkan menjadi resor internasional kelas wahid-serta mengunjungi beberapa objek wisata di Badung dan Tabanan. Kegiatan-kegiatan Program Perform umumnya dilakukan di hotel-hotel bintang empat, termasuk di Bali. Jadi saya cukup mengetahui gemerlapannya pariwisata Bali. Sebaliknya ketika diundang ke Bali oleh seorang kenalan yang minta advis saya untuk penyelesaian pekerjaannya, saya juga pernah menginap di tempat kenalan itu menginap: sebuah warung makan merangkap losmen di Sanur. Di SMK di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, tempat saya bersekolah dulu, banyak juga anak-anak dari Bali. Salah seorang dari mereka, Widja, siswa ikatan dinas yang berkasta Sudra merupakan sahabat dekat saya dan beberapa kali menginap di rumah [*]. Dari mereka saya memperoleh beberapa pengetahuan mengenai agama Hindu dan budaya Bali. Oleh sebab itu, jika saya mengatakan tidak ingin Sumatra Barat seperti Bali, bukan karena saya benci Bali, alih-alih saya sangat mencintai Bali dan masyarakatnya. Juga bukan benci kepada para turis asing yang berbondong-bondong setiap tahun mengunjungi Bali sembari membawa kebiasaan-kebiasaan mereka di negara asal masing-masing, hanya karena kulit mereka berbeda dengan kulit saya. Alasannya sederhana saja: karena saya seorang yang ANTIRASISME-RASISME atawa sentimen SARA dengan alasan atau kemasan apapun-karena RASISME itu bertentangan dengan Islam (Lihat QS 49:13) dan merupakan awal dari berbagai kejahatan kemanusiaan. Yang saya sangat tidak suka-walaupun apalah awak ini-ialah, cara pengelolaan pariwisata di Bali yang sangat berorientasi pasar, pariwisata yang liberalistik-kapitalistik dan sangat rakus, pariwisata yang hanya memakmurkan para pemodal besar yang umumnya pendatang dari luar, dan pada saat yang bersamaan meminggirkan dan memiskinkan rakyat badarai. Malah ada yang menginginkan agar sebagian petani di Pulau Bali ditransmigrasikan saja ke pulau lain, agar lahan yang ditinggalkannya dapat digunakan untuk membangun berbagai sarana dan prasarana pariwisata Bali. Mengutip Bung Hatta, sistem kapitalisme berpijak di atas dasar perjuangan yang kuat bertambah kuat dan yang lemah menjadi musnah. Pembagian hasil yang adil antara produsen, konsumen, dan saudagar tak pernah tercapai dalam kapitalisme. Ekonomi rakyat dapat dengan mudah dikuasai produsen karena ekonomi rakyat tak tersusun (Fadli Zon, Kompas, 11 Agustus 2012 Karena itu tidak mengherankan bahwa IPM, bahkan PDRB per kapita Bali, data 2009, masih di bawah angka-angka Sumatra Barat-yang notabene masih sangat-sangat banyak memerlukan pembenahan-di tahun yang sama. Dan Bali tidak sendiri di sini. Coba lihat Raja Ampat yang mampu menarik pesohor-pesohor dari belahan negeri datang mengunjunginya (Kompas, 01/11/2011), siapa penerima manfaat terbesar dari gugusan pulau di kepulauan Wayag yang menyuguhkan panorama surga bahari yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata itu. Rakyat badarai kah? [*] Setelah lulus kami kehilangan kontak, terakhir saya mendengar ia memperoleh PhD di Australia. Wassalam, HDB-SBK (L, 69) -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
