Ketika mendaftar siang tadi saya diberitahu bahwa ada paket berbuka di hotel dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tetapi karena menunya standar, saya bermaksud mencari masakan khas Solo di luar.
Tepat berseberangan dengan hotel ada restoran mie, namun saya tidak begitu tertarik karena kurang mengenyangkan. Karena itu setelah menyeberang jalan saya berbelok ke kanan menyusur jalan. Tidak lama saya bertemu dengan sebuah gang. Karena pinggir jalan sesudah gang tersebut mulai dipenuhi pedagang kaki lima saya bermaksud untuk berjalan di 'trotoar' yang saya lihat di keremangan karena penerangan jalan terhalang oleh tenda-tenda pedagang. Ketika menjejakan kaki di 'trotoar' tersebut badan saya serasa melayang dan dalam bilangan detik tubuh saya bagian depan membentur dan tengkurap di atas benda keras, dasar sebuah saluran yang gelap dan dalam, diikuti rasa sakit yang sangat di sekujur tubuh, terutama di bagian muka dan tulang kering sebelah kanan. Astagfirullah, apa yang sangkakan 'trotoar' itu adalah saluran air limbah sedalam 2 meter yang belum berfungsi yang yang basah bekas hujan dan belum diberi tutup oleh kontraktor pelaksananya . Sekalipun demikian saya tetap bersyukur, bahwa saya tidak kehilangan kesadaran sedetikpun dan tidak merasa pusing-pusing serta tidak merasa ada tulang saya yang patah atau retak. Saya segera mendudukkan diri di dasar saluran tersebut, dengan perasaan sedih, sendiri, karena di kota ini saya tidak punya seorangpun kenalan atau kerabat, serta tidak lagi bekerja pada sebuah perusahaan yang akan mengurus dan menanggung kalau terjadi sesuatu pada diri saya. Sementara itu saya merasakan darah mengucur dari hidung membasahi kemeja dan rasa asin di mulut yang disebabkan darah yang berasal dari bibir atas bagian dalam saya yang pecah di dalam. Saya lalu bertanya kepada diri, apakah ini hanya cobaan atau peringatan dari Illahi Rabbi? Tetapi benarkah saya sendirian? Tidak lama saya mendengar keramaian di atas sana, lalu beberapa orang turun membantu saya berdiri dan kemudian mengangkat saya ke atas. Ketika berdiri itu saya baru bahwa saluran itu dalamnya sekitar dua meter, dan sektar 30 senti meter lebih tinggi daripada saya ke permukaan Seseorang yang masih tinggal di bawah-yang kemudian saya ketahui seorang tukang becak-membantu mencari dan menemukan kacamata dan sendal saya yang terlepas. Telepon genggam yang biasa saya taruh di saku celana saya rasakan masih berada di sana. Yang terpikir oleh saya ketika itu adalah kembali ke hotel dan minta perawatan dari dokter atau tenaga medis Akan tetapi Mas Tukang Becak itu menawarkan dan minta izin kepada orang ramai membawa saya ke Rumah Sakit Kasih Ibu, yang rupanya memang tidak terlalu jauh dari sana, masuk dari gang yang baru saya lewati. Setibanya di gerbang rumah sakit Satpam yang berjaga di depan menyuruh Mas Tukang Becak membawa saya langsung ke UGD. Para tenaga medis yang bertugas segera memberi perawatan, memberikan beberapa suntikan, membersihkan luka-luka dan mulai menjahit bibir dalam saya yang pecah dan tulang kering yang menderita luka robek. Ketika perasaan saya mulai agak nyaman. Saya lalu minta izin sejenak untuk mengubungi teman saya ke Salatiga dengan menggunakan tetepon genggam, tetapi tidak diangkat. SMS pun tidak dibalas. Si Mas Tukang Becak yang ikut menunggu di samping saya juga membantu melakukan hal yang sama tanpa hasil. Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih satu setengah jam, saya diperbolehkan pulang setelah menebus obat dan membayar biaya perawatan di kasir. Sebelum keluar ruang UGD yang membuat kesalahan dengan mendengus, yang langsung ditegur seorang petugas:"Bapak jangan begitu, nanti hidung Bapak berdarah lagi. Betul saja, rembesan darah mulai mengalir pelan dari hidung. Saya agak terkejut juga ketika diberitahu bahwa biaya perawatan plus obat yang harus saya bayar "hanya" sebesar Rp200 ribu, karena tahu itu rumah sakit swasta. Tetapi sayangnya tidak bisa dibayar pakai kartu kredit. Uang tunai di dompet hanya Rp150 ribu karena saya memang selalu keluar malam membawa uang seperlunya saja.Usul saya agar saya dapat membawa obat dengan meninggalkan KTP ditolak petugas. Akhirnya saya kembali ke hotel dan minta tolong kepada Mas Tukang Becak untuk mengambil obat. Sejenak terpikir oleh saya, mengapa saya tidak ikut saja. Bagaimana kalau Mas Tukang Becak terus pergi. Tapi saya pasrah saja, bagaimana nanti. Tidak terlalu lama, Mas Tukang Becak muncul dengan kantong plastik berisi obat di tangnnya. Saya mengucapkan terima kasih sambil mengepalkan uang Rp50 ribu ke tangannya, yang diterimanya dengan perasaan sukacita. Setelah meminum obat saya segera mengganti pakaian dengan yang bersih. Ketika membuka T-shirt yang saya kenakan, melihat darah kering yang mulai membeku di kemeja bagian depan baru saya sadar berapa banyak saya kehilangan darah yang keluar dari luka di hidung saya. Hanya karena kemeja itu berwarna biru tua, tidak begitu kentara. Walaupun darah masih menetes pelan yang sesekali saya bersihkan dengan tisu, saya merasa kondisi saya semakin baik. Setelah itu saya salat magrib dengan duduk di atas kursi yang jamak dengan salat Isya. Saya kemudian merasa lapar karena selain air meneral yang saya teguk ketika membatalkan puasa belum ada sesuatu yang mengisi perut saya. Saya menghubungi restoran dengan penuh harap bahwa masih ada persediaan bubur ayam. Alhamdulillah dijawab ada. Tidak lama petugas restoran mengantar semangkok besar bubur ayam hangat dan segar, yang tampaknya dimasak baru. Ketika saya tanya mana rekeningnya, dijawab bahwa ini merupakan servis khusus hotel, jadi saya hanya memberi tip (kemudian saya ketahui, ketika melewati front office, Mas Tukang Becak memberi tahu resepsionis apa yang terjadi dengan saya). Tanpa mengalami kesukaran sedikit pun, mangkok bubur itu dapat segera saya kosongkan. Selesai makan perasaan saya semakin tenang, apalagi saya tidak merasa pusing atau mual-mual yang merupakan pertanda bahwa saya tidak mengalamani gegar otak, dan mulai berfikir mengenai besok. Dengan pertimbangan tidak banyak yang dapat saya lakukan besok di Solo dengan kondisi seperti ini, saya memutuskan akan pulang dengan pesawat pagi. Saya segera menghubungi Garuda. Sebagai pemegang GFF Card, permintaan pemajuan jadwal dengan cepat disetujui. Saya lalu menghubungi front office, memberi tahu bahwa saya besok tidak berpuasa (karena harus minum obat), minta dibangunkan jam 5 pagi dan dipesankan taksi ke bandara. Setelah itu saya menelepon ke rumah memberi tahu, bahwa saya pulang lebih cepat. Ditanya kenapa, saya jawab pekerjaan sudah selesai lebih awal. Jika saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya, Kur pasti akan menangis semalaman. Tidak lama teman saya menelepon, minta maaf tadi tidak dapat menjawab dan membalas SMS karena sedang bertarawih, yang membuat saya agak malu karena tidak menyangka dia sedang bertarawih, karena dia seorang mualaf. Saya menceritakan apa yang terjadi. Dia menanyakan apakah dia perlu ke Solo besok pagi. Saya jawab tidak perlu karena saya sudah pesan taksi ke bandara. Saya hanya minta tolong agar data-data yang masih kurang dikirimkan ke Depok melalui pos. Karena tisu di kamar sudah habis untuk menyeka darah yang masih merembes dari hidung, saya menghubungi bagian housekeeping untuk dikirimi yang baru. Dan kemudian merebahkan diri berusah untuk tidur sembari melafazkan zikir dalam hati. Ketika keesokan harinya tiba di ruang kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta saya lihat sang belahan jiwa sudah menunggu di luar, ketika saya mendekat kepadanya, dia langsung bertanya karena curiga melihat memar di bibir atas atas, dan geleng-geleng kepala mendengar seluruh cerita saya. Wassalam, HDB-SBK (L, 69) -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
