Kagum dengan "tibrungan" dan "tambal sulam"nya Mul. Semoga hawa pegunungan di 
Seberang Sana tetap menambah kesejukan alam pikiran dari Jauh.
Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif


--- In [email protected], Indra Jaya Piliang <pi_liang@...> wrote:
>
> Luar biasa, Pak Mul. Batambah perspektif ambo 
> 
> Sent from my iPad
> 
> On 17 Okt 2012, at 22:02, "Muljadi Ali Basjah" <muljadi@...> wrote:
> 
> > Assalamualaikum Wr.Wb. Yth.Bapak Indra J. Piliang.
> > 
> > Maaf saya yang awam hanya mau ikutan "nimbrung" saja, sekadar mengisi waktu 
> > saya yang lagi sedikit renggang, menambal sulam yang pak Indra tulis.
> > 
> >> 
> >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority 
> >> (minoritas
> >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> >> komponen yang paling aktif dalam sejar>ah pergerakan Indonesia, sejak 
> >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> >> banyak, seiring dengan penambahan >jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> >> daerah.
> > 
> > Dulu Mahasiswa2nya mempunyai ethika2 dan komplexitas volume rintangan yang 
> > berbeda dengan yang zaman sekarang. 
> > Lazimnya, Kwantitas tidak musti selalu proporsi dengan Kwalitas. 
> > Disisi lain apakah jumlah angka kelahiran/kematian, begitu juga angka2 
> > Mahasiswa luarnegeri apakah ditoleransi dalam menghitung  perbandingan 
> > struktur konvergenz mahasiswa(i)2 ini? Singkatnya sejak sebelum PD II 
> > hingga era sekarang??
> > Godaan2 materialnya sangatlah bervariasi, bercabang, amat jauh sekali 
> > perbedaannya antara sekarang dengan era tempoe doeleoe. Misalkan saja 
> > antara era Radio dan Televisi lalu sekarang Dunia Cyber yang 
> > mengglobalisasi.
> > Ini adalah rintangan2 yang mengakibatkan babak penyisihan2 yang berat 
> > sekali bagi sang calon2 Mahasiswa(i)/kader2 Intellektual yang dimaksud.
> > Belum lagi korsi2 empuk, sudah dimonopoli dan diaantri oleh sekelompok2 
> > golongan2 tertentu yang mendominasi, yang tentu saja mencetak matrix2 
> > mereka, secara sytematis. 
> > Parallel dengan ini Sponsor2 juga tidak bakal diam, baik didalam maupun 
> > yang diluar Negeri, menginvestasikan kemauannya, dengan sytem kapitalismus 
> > yang sangat menjerat kuat.
> > 
> > 
> >> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> >> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak kemahasiswaan 
> >> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik. Tidak 
> >> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil dalam 
> >> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> >> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> >> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> >> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> >> pengaruh yang baik.
> > 
> > Ada benarnya, contoh mantan  Joschka Fischer (1998-2005 Menteri LuarNegeri 
> > Jerman Barat/Wakil Kanselor & sejak 1. Januar 1999 - 30. Juni 1999 
> > Präsident Parlement Europ Union)
> > 
> > 
> >> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
> >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> >> depan.  
> >> 
> >> Beberapa daerah di Indonesia sudah 
> >> dipimpin oleh purnawirawan TNI dan Polri, termasuk Presiden RI sejak 
> >> tahun 2004. Sejumlah jabatan strategis juga dipegang oleh purnawirawan 
> >> TNI dan Polri. Tentu di dalamnya juga terdapat alumni kampus-kampus 
> >> terkenal di dalam dan luar negeri, termasuk aktivis mahasiswa di 
> >> zamannya. Dari sini, sebetulnya, formulasi kepemimpinan nasional yang 
> >> bersifat kolektif bisa disusun. Blok-blok kepentingan yang kini muncul, 
> >> semakin hari semakin bersandar kepada kepentingan keluarga, lalu 
> >> berkembang jadi kepentingan faksi di dalam politik. Ujungnya adalah 
> >> blok-blok kepentingan antar partai politik.
> > 
> > Logis, tentu saja Militer mendekati kaumnya, dimana sumpah keMiliteran yang
> > sangat dipegang dengan erat, dibanding dengan kaum Sipil yang kurang 
> > struktur dan loyalitas. Kendatipun demikian, masing2 Komandant tetap siaga 
> > mengawasi Poros2 strategis yang difokus mereka. Contoh,Mesir sebelum 
> > terjadi peristiwa Musim Seminya. Kenapa insident ini terjadi? Ini adalah 
> > thema lain.
> > 
> > 
> >> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> >> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin sedikit
> >> manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 
> >> massal yang mengancam kehidupan spesies manusia dan masa depan bumi. 
> >> Sistem pertahanan masing-masing negara juga semakin dieleminir dari 
> >> sistem persenjataan moderen, Sekalipun terjadi produksi senjata-senjata 
> >> jenis baru, namun lebih pada bentuk pengembangan teknologi, ketimbang 
> >> usaha untuk memunculkan efek kematian secara massal sebagaimana terjadi 
> >> dalam Perang Dunia Kedua.
> > Saya rasa Senjata yang terampuh dan paling mutlak adalah nilai-tukar 
> > Uang/Obligasi. Adapun percaturan Ekonomi Dunia terutama dalam Perbankan 
> > bisa membuat suatu Negara ataupun suatu Badan-hukum bangkrut total, tanpa 
> > membunuh fisik manusianya secara langsung. Contoh Irland, dan Goldman Sachs 
> > pencipta Bom yang mengakibat banyak Bank2 diDunia ini terkicuh, yang mana 
> > akhirnya seperti biasa, Hutang ataupun kerugian bank2 tersebut yang 
> > di-subvensi/eliminasi oleh Negara, mengakibatkan rakyat semakin banyak 
> > beban, karena hutang Negara semakin membengkak. 
> > Pemegang2 saham yang relativ kecil tergilas, sebaliknya yang besar tidak 
> > merugi, sedangkan Manager2 yang kelas Kakap diatas, tetap seperti biasa 
> > mendapatkan Bonus2 jerih payah mereka, secara legal dan demokrasi.
> > Kelihatan reaksi perdagangan tersebut, korban2 hanyalah manusianya saja, 
> > sedangkan Gedung2 dan Perumahan disekelilingnya masih tidak tercidera. 
> > Inilah adalah Bom Neutron yang Abstrakt, tetapi sangat mangkus.
> > Saya tidak jelas apakah UU Perbankan di Indonesia membatasi antara Bank2 
> > Invest dan yang non Invest, juga sampai mana, kaitan UU antara Bank2 Swasta 
> > dan Bank Negara Indonesia.
> > 
> >> 
> >> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
> >> dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> >> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat yang 
> >> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi aktivis 
> >> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> >> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden Soeharto: 
> >> "Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> >> intelektual." Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur militer
> >> dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> >> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari kalangan
> >> intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> >> perencanaan. 
> >>> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
> >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> >> depan.
> > 
> > Maaf.... , sejarah bisa2 saja ber(di)ubah, ini adalah hasil karya2 
> > Penulis/Penerbit/Penyiar Media yang cermat seizin Sponsor yang mengikuti 
> > Zaman dan situasi Politik yang ada. 
> > Aslinya hanya mungkin seberapa manusia yang mempunyai perspektiv tinggi dan 
> > kacamata jarak jangkau jauh yang bisa membaca/menerka diantara yang 
> > tertulis atau yang terberita diantara banyak sudut blok2 media (Koran2, TV2 
> > dari segala penjuru Dunia) serta menganalisa dengan sedemikian baik. 
> > Analog nilai penunjuk kesukssesan seseorang sebagai pemagang Mandat tidak 
> > bisa dilihat dari angka se-mata2, maupun dari statistik ini dan itu. Ini 
> > musti diismpulkan perumusannya oleh gabungan intelektualitas segala 
> > fakultas, Medis, Ekonomie, Teknik, Sosial, Agama, Hukum, dll dll.
> > Contoh, misal angka kematian, bisa lebih kecil dari tahun sebelumnya, 
> > tetapi apa sebab kematian kan belum tentu diterakan dalam laporan tersebut. 
> > Disamping itu, yang bisa menilai angka kemtian tersebut adalah orang Medis 
> > dan Farmaka, karena merekalah expert yang faham. Bukan orang Jura ataupun 
> > disiplin lainnya. 
> > Begitu juga tentang MiGas,dll.dsb.
> > 
> >> Kini terjadi semacam kekosongan generasi (empty generation) dalam mengisi
> >> lapisan kepemimpinan nasional. Barangkali ini dampak dari NKK/BKK tahun
> >> 1980-an. Generasi mahasiswa 1970-an yang banyak mengisi 
> >> lapisan kepemimpinan nasional, termasuk yang berasal dari AKABRI. 
> >> Makanya tidak banyak yang berubah dari kepesertaan pilpres 1999, 2004 
> >> dan 2009. Empat nama yang kini disebut lembaga survei untuk Pilpres 
> >> 2014, yakni Megawati Soekarnoputri (jebolan Unpad), Prabowo Subianto 
> >> (lulusan AKABRI 1974), Aburizal Bakrie (lulusan ITB 1973) dan Jusuf 
> >> Kalla (lulusan Unhas 1967), juga bisa disebut berasal dari angkatan 
> >> (mahasiswa) 1960-an dan 1970-an.  
> > 
> >> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> >> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan kembali?
> >> Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya...
> > Kekosongan Generasi, bisa timbul seperti dugaan Pak IJP, yakni NKK/BKK 
> > (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan). 
> > Ini bisa didelegasi, yang penting dananya ada. Bisa juga timbul dari effekt 
> > kejenuhan2, atau kombinasi  semua berkonsolidasi dengan NeoFeodalismus.
> > 
> >> Ada beberapa nama dari 
> >> angkatan 1980-an, namun kebanyakan hanya menjadi pelapis kedua atau 
> >> ketiga dari sejumlah tokoh. Presiden SBY, misalnya, lebih banyak 
> >> mengambil staf khusus dari generasi 1990-an yang barangkali lebih mudah 
> >> berinteraksi dengan dua orang putranya, ketimbang dengan generasi 
> >> 1970-an dan 1980-an.
> > SBY lebih banyak mengambil staf khusus dari generasi 90an, tentu saja 
> > logis, karena hukum alam... mudaan umumnya lebih lentur dari yang lebih 
> > tua-an, kasarnya mudaan lebih mudah didelegasi.
> > 
> > 
> >> 
> >> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> >> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan kembali?
> >> Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya...
> > Lahhh....sooner or later... hukum alam berlaku, pergolakan... bakal terjadi 
> > seandaiknya ketimpangan makin berlarut2 , seperti balon suatu waktu, saat2 
> > kesetimbangan tiada... ya meletus. door.....
> > Nahh... terjadilah konsolidasi secara alami, ingin tak ingin masa bodoh.
> > Mau tulis atau tidak terserah masing2..... figurativ apa masih sempat dan 
> > berguna? 
> > 
> > Wassalam,
> > Muljadi Ali Basjah
> > 
> > 
> > 
> > XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
> > -------- Original-Nachricht --------
> >> Datum: Wed, 17 Oct 2012 02:02:24 -0700 (PDT)
> >> Von: Indra Jaya Piliang <pi_liang@...>
> >> An: Lisi <[email protected]>
> >> Betreff: [R@ntau-Net] Perang Suksesi Generasi
> > 
> >> http://indrapiliang.co> 
> >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority 
> >> (minoritas
> >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> >> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> >> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> >> daerah. 
> >> m/2012/10/17/perang-suksesi-generasi/ 
> >> 
> >> Rabu, 17 October 2012Perang Suksesi Generasi
> >> 
> >> Oleh
> >> 
> >> Indra J Piliang *) 
> >> 
> >> Saya
> >> menulis skripsi dengan judul "Koreksi Demi Koreksi: Aktivisme Gerakan 
> >> Mahasiswa Pasca Malari sampai NKK/BKK (1974-1980)". Di dalam skripsi 
> >> itu, terdapat banyak nama tokoh-tokoh mahasiswa di zamannya. Misalnya: 
> >> Hariman Siregar, Syahrir (almarhum), Mochtar Pabottingi, Dipo Alam, 
> >> Yusril Ihza Mahendra, Lukman Hakim, Indro Tjahjono, Hery Achmadi dan 
> >> lain-lain. Biografi kemahasiswaan ini penting, setelah demokrasi membuka
> >> diri. 
> >> 
> >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority 
> >> (minoritas
> >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> >> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> >> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> >> daerah. 
> >> 
> >> Karena nama-nama aktor mahasiswa era 1970-an dan 1980-an
> >> itu sudah tidak asing di benak saya, maka secara tidak langsung saya 
> >> juga memperhatikan sepak terjang mereka. Teori minoritas kreatif semakin
> >> menemukan bukti, mengingat nama-nama itu tetap berada di puncak 
> >> pemberitaan media, paling tidak di bidangnya masing-masing, terutama 
> >> terkait dengan ilmu pengetahuan, pemerintahan dan politik. Gelombang 
> >> arus aksi demonstrasi mahasiswa 1998 paling tidak juga melibatkan 
> >> mahasiswa-mahasiswa periode sebelumnya ini. Ketika rezim Orde Baru 
> >> tumbang, mereka juga yang muncul ke permukaan dengan posisi 
> >> masing-masing. 
> >> 
> >> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> >> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak kemahasiswaan 
> >> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik. Tidak 
> >> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil dalam 
> >> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> >> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> >> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> >> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> >> pengaruh yang baik. 
> >> 
> >> *** 
> >> 
> >> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
> >> dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> >> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat yang 
> >> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi aktivis 
> >> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> >> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden Soeharto: 
> >> "Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> >> intelektual." Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur militer
> >> dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> >> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari kalangan
> >> intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> >> perencanaan. 
> >> 
> >> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
> >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> >> depan.  
> >> 
> >> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> >> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin sedikit
> >> manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 


-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke