Cckk.....cckkk.....ck ckckckckckkckckckck.....
"Tuangalah, Ale...." (meniru logat teman saya pelaut asal Saparua, Maluku).
"Ternyata banyak 'mutiara dalam lumpur' yang terpendam dalam komunitas
r@ntau-net ini".

Tarimo kasi, Pak Mulyadi. 

Nan Apak tulih samakin manambah "gudang pangana" ambo dalam maliek &
manyikapi kurenah urang-urang bapolitik di nagari "hamparan zamrud di
khatulistiwa" nangko.

Agiah taruih, Dinda IJP....!!!!

"Nan tatulih abadi, nan takacek-an hilang" (kato Rang Latin).

Salam.............................,
mm***

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Muljadi Ali Basjah
Sent: Wednesday, October 17, 2012 10:02 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Perang Suksesi Generasi

Assalamualaikum Wr.Wb. Yth.Bapak Indra J. Piliang.

Maaf saya yang awam hanya mau ikutan "nimbrung" saja, sekadar mengisi waktu
saya yang lagi sedikit renggang, menambal sulam yang pak Indra tulis.

> 
> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
(minoritas
> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> komponen yang paling aktif dalam sejar>ah pergerakan Indonesia, sejak 
> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> banyak, seiring dengan penambahan >jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> daerah. 
> 

Dulu Mahasiswa2nya mempunyai ethika2 dan komplexitas volume rintangan yang
berbeda dengan yang zaman sekarang. 
Lazimnya, Kwantitas tidak musti selalu proporsi dengan Kwalitas. 
Disisi lain apakah jumlah angka kelahiran/kematian, begitu juga angka2
Mahasiswa luarnegeri apakah ditoleransi dalam menghitung  perbandingan
struktur konvergenz mahasiswa(i)2 ini? Singkatnya sejak sebelum PD II hingga
era sekarang??
Godaan2 materialnya sangatlah bervariasi, bercabang, amat jauh sekali
perbedaannya antara sekarang dengan era tempoe doeleoe. Misalkan saja antara
era Radio dan Televisi lalu sekarang Dunia Cyber yang mengglobalisasi.
Ini adalah rintangan2 yang mengakibatkan babak penyisihan2 yang berat sekali
bagi sang calon2 Mahasiswa(i)/kader2 Intellektual yang dimaksud.
Belum lagi korsi2 empuk, sudah dimonopoli dan diaantri oleh sekelompok2
golongan2 tertentu yang mendominasi, yang tentu saja mencetak matrix2
mereka, secara sytematis. 
Parallel dengan ini Sponsor2 juga tidak bakal diam, baik didalam maupun yang
diluar Negeri, menginvestasikan kemauannya, dengan sytem kapitalismus yang
sangat menjerat kuat.


> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak kemahasiswaan 
> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik. Tidak 
> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil dalam 
> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> pengaruh yang baik. 
> 

Ada benarnya, contoh mantan  Joschka Fischer (1998-2005 Menteri LuarNegeri
Jerman Barat/Wakil Kanselor & sejak 1. Januar 1999 - 30. Juni 1999 Präsident
Parlement Europ Union)


> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
>  SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
>  tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> depan.  
> 
> Beberapa daerah di Indonesia sudah 
> dipimpin oleh purnawirawan TNI dan Polri, termasuk Presiden RI sejak 
> tahun 2004. Sejumlah jabatan strategis juga dipegang oleh purnawirawan 
> TNI dan Polri. Tentu di dalamnya juga terdapat alumni kampus-kampus 
> terkenal di dalam dan luar negeri, termasuk aktivis mahasiswa di 
> zamannya. Dari sini, sebetulnya, formulasi kepemimpinan nasional yang 
> bersifat kolektif bisa disusun. Blok-blok kepentingan yang kini muncul, 
> semakin hari semakin bersandar kepada kepentingan keluarga, lalu 
> berkembang jadi kepentingan faksi di dalam politik. Ujungnya adalah 
> blok-blok kepentingan antar partai politik. 
> 

Logis, tentu saja Militer mendekati kaumnya, dimana sumpah keMiliteran yang
sangat dipegang dengan erat, dibanding dengan kaum Sipil yang kurang
struktur dan loyalitas. Kendatipun demikian, masing2 Komandant tetap siaga
mengawasi Poros2 strategis yang difokus mereka. Contoh,Mesir sebelum terjadi
peristiwa Musim Seminya. Kenapa insident ini terjadi? Ini adalah thema lain.


> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin sedikit
>  manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 
> massal yang mengancam kehidupan spesies manusia dan masa depan bumi. 
> Sistem pertahanan masing-masing negara juga semakin dieleminir dari 
> sistem persenjataan moderen, Sekalipun terjadi produksi senjata-senjata 
> jenis baru, namun lebih pada bentuk pengembangan teknologi, ketimbang 
> usaha untuk memunculkan efek kematian secara massal sebagaimana terjadi 
> dalam Perang Dunia Kedua. 
> 
Saya rasa Senjata yang terampuh dan paling mutlak adalah nilai-tukar
Uang/Obligasi. Adapun percaturan Ekonomi Dunia terutama dalam Perbankan bisa
membuat suatu Negara ataupun suatu Badan-hukum bangkrut total, tanpa
membunuh fisik manusianya secara langsung. Contoh Irland, dan Goldman Sachs
pencipta Bom yang mengakibat banyak Bank2 diDunia ini terkicuh, yang mana
akhirnya seperti biasa, Hutang ataupun kerugian bank2 tersebut yang
di-subvensi/eliminasi oleh Negara, mengakibatkan rakyat semakin banyak
beban, karena hutang Negara semakin membengkak. 
Pemegang2 saham yang relativ kecil tergilas, sebaliknya yang besar tidak
merugi, sedangkan Manager2 yang kelas Kakap diatas, tetap seperti biasa
mendapatkan Bonus2 jerih payah mereka, secara legal dan demokrasi.
Kelihatan reaksi perdagangan tersebut, korban2 hanyalah manusianya saja,
sedangkan Gedung2 dan Perumahan disekelilingnya masih tidak tercidera.
Inilah adalah Bom Neutron yang Abstrakt, tetapi sangat mangkus.
Saya tidak jelas apakah UU Perbankan di Indonesia membatasi antara Bank2
Invest dan yang non Invest, juga sampai mana, kaitan UU antara Bank2 Swasta
dan Bank Negara Indonesia.

> 
> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
>  dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat yang 
> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi aktivis 
> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden Soeharto: 
> “Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> intelektual.” Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur militer
>  dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari kalangan
>  intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> perencanaan. 
> > Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
>  SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
>  tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> depan. 

Maaf.... , sejarah bisa2 saja ber(di)ubah, ini adalah hasil karya2
Penulis/Penerbit/Penyiar Media yang cermat seizin Sponsor yang mengikuti
Zaman dan situasi Politik yang ada. 
Aslinya hanya mungkin seberapa manusia yang mempunyai perspektiv tinggi dan
kacamata jarak jangkau jauh yang bisa membaca/menerka diantara yang tertulis
atau yang terberita diantara banyak sudut blok2 media (Koran2, TV2 dari
segala penjuru Dunia) serta menganalisa dengan sedemikian baik. 
Analog nilai penunjuk kesukssesan seseorang sebagai pemagang Mandat tidak
bisa dilihat dari angka se-mata2, maupun dari statistik ini dan itu. Ini
musti diismpulkan perumusannya oleh gabungan intelektualitas segala
fakultas, Medis, Ekonomie, Teknik, Sosial, Agama, Hukum, dll dll.
Contoh, misal angka kematian, bisa lebih kecil dari tahun sebelumnya, tetapi
apa sebab kematian kan belum tentu diterakan dalam laporan tersebut.
Disamping itu, yang bisa menilai angka kemtian tersebut adalah orang Medis
dan Farmaka, karena merekalah expert yang faham. Bukan orang Jura ataupun
disiplin lainnya. 
Begitu juga tentang MiGas,dll.dsb.

> Kini terjadi semacam kekosongan generasi (empty generation) dalam mengisi
> lapisan kepemimpinan nasional. Barangkali ini dampak dari NKK/BKK tahun
> 1980-an. Generasi mahasiswa 1970-an yang banyak mengisi 
> lapisan kepemimpinan nasional, termasuk yang berasal dari AKABRI. 
> Makanya tidak banyak yang berubah dari kepesertaan pilpres 1999, 2004 
> dan 2009. Empat nama yang kini disebut lembaga survei untuk Pilpres 
> 2014, yakni Megawati Soekarnoputri (jebolan Unpad), Prabowo Subianto 
> (lulusan AKABRI 1974), Aburizal Bakrie (lulusan ITB 1973) dan Jusuf 
> Kalla (lulusan Unhas 1967), juga bisa disebut berasal dari angkatan 
> (mahasiswa) 1960-an dan 1970-an.  
> 

> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan kembali?
>  Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya... 
> 
Kekosongan Generasi, bisa timbul seperti dugaan Pak IJP, yakni NKK/BKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan). Ini
bisa didelegasi, yang penting dananya ada. Bisa juga timbul dari effekt
kejenuhan2, atau kombinasi  semua berkonsolidasi dengan NeoFeodalismus.

> Ada beberapa nama dari 
> angkatan 1980-an, namun kebanyakan hanya menjadi pelapis kedua atau 
> ketiga dari sejumlah tokoh. Presiden SBY, misalnya, lebih banyak 
> mengambil staf khusus dari generasi 1990-an yang barangkali lebih mudah 
> berinteraksi dengan dua orang putranya, ketimbang dengan generasi 
> 1970-an dan 1980-an. 
> 
SBY lebih banyak mengambil staf khusus dari generasi 90an, tentu saja logis,
karena hukum alam... mudaan umumnya lebih lentur dari yang lebih tua-an,
kasarnya mudaan lebih mudah didelegasi.


> 
> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan kembali?
>  Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya... 
> 
Lahhh....sooner or later... hukum alam berlaku, pergolakan... bakal terjadi
seandaiknya ketimpangan makin berlarut2 , seperti balon suatu waktu, saat2
kesetimbangan tiada... ya meletus. door.....
Nahh... terjadilah konsolidasi secara alami, ingin tak ingin masa bodoh.
Mau tulis atau tidak terserah masing2..... figurativ apa masih sempat dan
berguna? 

Wassalam,
Muljadi Ali Basjah



XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Wed, 17 Oct 2012 02:02:24 -0700 (PDT)
> Von: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
> An: Lisi <[email protected]>
> Betreff: [R@ntau-Net] Perang Suksesi Generasi

> http://indrapiliang.co> 
> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
(minoritas
> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> daerah. 
> m/2012/10/17/perang-suksesi-generasi/ 
> 
> Rabu, 17 October 2012Perang Suksesi Generasi
> 
> Oleh
> 
> Indra J Piliang *) 
> 
> Saya
>  menulis skripsi dengan judul “Koreksi Demi Koreksi: Aktivisme Gerakan 
> Mahasiswa Pasca Malari sampai NKK/BKK (1974-1980)”. Di dalam skripsi 
> itu, terdapat banyak nama tokoh-tokoh mahasiswa di zamannya. Misalnya: 
> Hariman Siregar, Syahrir (almarhum), Mochtar Pabottingi, Dipo Alam, 
> Yusril Ihza Mahendra, Lukman Hakim, Indro Tjahjono, Hery Achmadi dan 
> lain-lain. Biografi kemahasiswaan ini penting, setelah demokrasi membuka
>  diri. 
> 
> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
(minoritas
> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang sebagai 
> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi pemuncak 
> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai 
> daerah. 
> 
> Karena nama-nama aktor mahasiswa era 1970-an dan 1980-an
>  itu sudah tidak asing di benak saya, maka secara tidak langsung saya 
> juga memperhatikan sepak terjang mereka. Teori minoritas kreatif semakin
>  menemukan bukti, mengingat nama-nama itu tetap berada di puncak 
> pemberitaan media, paling tidak di bidangnya masing-masing, terutama 
> terkait dengan ilmu pengetahuan, pemerintahan dan politik. Gelombang 
> arus aksi demonstrasi mahasiswa 1998 paling tidak juga melibatkan 
> mahasiswa-mahasiswa periode sebelumnya ini. Ketika rezim Orde Baru 
> tumbang, mereka juga yang muncul ke permukaan dengan posisi 
> masing-masing. 
> 
> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak kemahasiswaan 
> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik. Tidak 
> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil dalam 
> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> pengaruh yang baik. 
> 
> *** 
> 
> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
>  dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat yang 
> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi aktivis 
> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden Soeharto: 
> “Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> intelektual.” Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur militer
>  dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari kalangan
>  intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> perencanaan. 
> 
> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
>  SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana Bogor,
>  tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang adalah 
> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak 
> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> depan.  
> 
> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin sedikit
>  manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 
> massal yang mengancam kehidupan spesies manusia dan masa depan bumi. 
> Sistem pertahanan masing-masing negara juga semakin dieleminir dari 
> sistem persenjataan moderen, Sekalipun terjadi produksi senjata-senjata 
> jenis baru, namun lebih pada bentuk pengembangan teknologi, ketimbang 
> usaha untuk memunculkan efek kematian secara massal sebagaimana terjadi 
> dalam Perang Dunia Kedua. 
> 
> Beberapa daerah di Indonesia sudah 
> dipimpin oleh purnawirawan TNI dan Polri, termasuk Presiden RI sejak 
> tahun 2004. Sejumlah jabatan strategis juga dipegang oleh purnawirawan 
> TNI dan Polri. Tentu di dalamnya juga terdapat alumni kampus-kampus 
> terkenal di dalam dan luar negeri, termasuk aktivis mahasiswa di 
> zamannya. Dari sini, sebetulnya, formulasi kepemimpinan nasional yang 
> bersifat kolektif bisa disusun. Blok-blok kepentingan yang kini muncul, 
> semakin hari semakin bersandar kepada kepentingan keluarga, lalu 
> berkembang jadi kepentingan faksi di dalam politik. Ujungnya adalah 
> blok-blok kepentingan antar partai politik. 
> 
> Kita perlu mencatat 
> dengan baik, seberapa berhasil atau gagalkah kepemimpinan politik hari 
> ini? Studi kualitatif diperlukan, demi memberikan bobot kepada 
> masing-masing pihak dengan latar-belakang berbeda itu. Perumusan juga 
> diperlukan pada ancaman dan tantangan Indonesia hari ini, baik di level 
> daerah maupun pusat, dalam satu spektrum keindonesiaan dan sekaligus 
> bingkai geopolitik dan geostrategisnya masing-masing. Upaya ini tentulah
>  memerlukan para ilmuan, bukan hanya pelaku-pelaku politik praktis yang 
> terpenjara oleh aktivitas harian. 
> 
> *** 
> 
> Di beberapa negara
>  yang gagal melakukan regenerasi kepemimpinan nasional, berakhir tragis.
>  Kita mencatat kejatuhan Saddam Husein di Irak, Hosni Mobarak di Mesir 
> dan Moammar Khadafi di Libya. Tragis. Tapi kita juga masih mencatat 
> posisi Fidel Castro di Kuba yang tidak tergantikan. Indonesia mencatat 
> sejarah kejatuhan tragis para pemimpin nasional seperti Soekarno, 
> Soeharto dan Abdurrahman Wahid, serta penolakan laporan 
> pertanggungjawaban BJ Habibie. Hanya Megawati Soekarno Putri yang bisa 
> melewati masa kepresidenannya dengan mulus, malah bisa maju ke dua 
> pemilihan presiden berikutnya. Apabila Presiden SBY bisa mempersiapkan 
> suksesi 2014 dengan baik, berarti inilah ketiga-kalinya suksesi bisa 
> berlangsung baik, setelah 2004 dan 2009. 
> 
> Masalahnya, upaya mengarah ke masa depan belum terlalu terlihat. Partai
> Golkar mempersiapkanblue print Indonesia tahun 2045, namun belum begitu
fokus
> membicarakan 
> kepemimpinan di tahun yang sama. Partai-partai yang lain diisi lapisan 
> pemimpin yang memiliki tali darah dengan tokoh-tokoh kuncinya. Bukan 
> masalah besar, sebetulnya, mengingat di negara demokrasi seperti Amerika
> Serikatpun nama-nama besar selalu ada. Demokrasi menerabas asal-muasal 
> kepemimpinan, termasuk memberi tempat kepada keluarga-keluarga tertentu 
> yang memang membentuk diri menjadi politisi. 
> 
> Kini terjadi semacam kekosongan generasi (empty generation) dalam mengisi
> lapisan kepemimpinan nasional. Barangkali ini dampak dari NKK/BKK tahun
> 1980-an. Generasi mahasiswa 1970-an yang banyak mengisi 
> lapisan kepemimpinan nasional, termasuk yang berasal dari AKABRI. 
> Makanya tidak banyak yang berubah dari kepesertaan pilpres 1999, 2004 
> dan 2009. Empat nama yang kini disebut lembaga survei untuk Pilpres 
> 2014, yakni Megawati Soekarnoputri (jebolan Unpad), Prabowo Subianto 
> (lulusan AKABRI 1974), Aburizal Bakrie (lulusan ITB 1973) dan Jusuf 
> Kalla (lulusan Unhas 1967), juga bisa disebut berasal dari angkatan 
> (mahasiswa) 1960-an dan 1970-an.  
> 
> Ada beberapa nama dari 
> angkatan 1980-an, namun kebanyakan hanya menjadi pelapis kedua atau 
> ketiga dari sejumlah tokoh. Presiden SBY, misalnya, lebih banyak 
> mengambil staf khusus dari generasi 1990-an yang barangkali lebih mudah 
> berinteraksi dengan dua orang putranya, ketimbang dengan generasi 
> 1970-an dan 1980-an. 
> 
> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan kembali?
>  Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya... 
> 
> 
> *) Sekjen Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Indonesia
> (IKAHIMSI-1995-1997), 
> Koordinator Wilayah Sumatera dan Jawa Forum Komunikasi Senat Mahasiswa 
> se-Indonesia  (FKSMI-1996-1997) dan Pendiri Forum Komunikasi Senat 
> Mahasiswa Jakarta (FKSMJ-1996)
> 
> -- 
> -- 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/



-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke