Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Mak Ngah ditapi Tabek Laweh.

Iyo banalah apuang2an Mak Ngah ka ambo urang Gunuang iko, itu hanyo pangatahuan 
umum dasar sajonyo Mak Ngah, satiok urang pasti bisa/tahu. Cuma nan diambo, 
bahasonyo sajo nan agak ganjia, maklumlah urang Gunuang.
Baa kaba Mak Angah, lai elok2 sain, tampaknyo ransanak ambo lai maju2 
pandidiakanyo yoo.
Sakitu sajolah dulu bla bla dari ambo Mak Ngah, bisuak lah sinayan loo hari mah 
yoo..

Wassalam,
Muljadi Ali Basjah. 
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Thu, 18 Oct 2012 09:53:16 -0000
> Von: "sjamsir_sjarif" <[email protected]>
> An: [email protected]
> Betreff: Re: [R@ntau-Net] Perang Suksesi Generasi

> Kagum dengan "tibrungan" dan "tambal sulam"nya Mul. Semoga hawa pegunungan
> di Seberang Sana tetap menambah kesejukan alam pikiran dari Jauh.
> Salam,
> -- MakNgah
> Sjamsir Sjarif
> 
> 
> --- In [email protected], Indra Jaya Piliang <pi_liang@...> wrote:
> >
> > Luar biasa, Pak Mul. Batambah perspektif ambo 
> > 
> > Sent from my iPad
> > 
> > On 17 Okt 2012, at 22:02, "Muljadi Ali Basjah" <muljadi@...> wrote:
> > 
> > > Assalamualaikum Wr.Wb. Yth.Bapak Indra J. Piliang.
> > > 
> > > Maaf saya yang awam hanya mau ikutan "nimbrung" saja, sekadar mengisi
> waktu saya yang lagi sedikit renggang, menambal sulam yang pak Indra tulis.
> > > 
> > >> 
> > >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> > >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
> (minoritas
> > >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> > >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang
> sebagai 
> > >> komponen yang paling aktif dalam sejar>ah pergerakan Indonesia, sejak
> > >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi
> pemuncak 
> > >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> > >> banyak, seiring dengan penambahan >jumlah perguruan tinggi di
> pelbagai 
> > >> daerah.
> > > 
> > > Dulu Mahasiswa2nya mempunyai ethika2 dan komplexitas volume rintangan
> yang berbeda dengan yang zaman sekarang. 
> > > Lazimnya, Kwantitas tidak musti selalu proporsi dengan Kwalitas. 
> > > Disisi lain apakah jumlah angka kelahiran/kematian, begitu juga angka2
> Mahasiswa luarnegeri apakah ditoleransi dalam menghitung  perbandingan
> struktur konvergenz mahasiswa(i)2 ini? Singkatnya sejak sebelum PD II hingga
> era sekarang??
> > > Godaan2 materialnya sangatlah bervariasi, bercabang, amat jauh sekali
> perbedaannya antara sekarang dengan era tempoe doeleoe. Misalkan saja
> antara era Radio dan Televisi lalu sekarang Dunia Cyber yang mengglobalisasi.
> > > Ini adalah rintangan2 yang mengakibatkan babak penyisihan2 yang berat
> sekali bagi sang calon2 Mahasiswa(i)/kader2 Intellektual yang dimaksud.
> > > Belum lagi korsi2 empuk, sudah dimonopoli dan diaantri oleh
> sekelompok2 golongan2 tertentu yang mendominasi, yang tentu saja mencetak 
> matrix2
> mereka, secara sytematis. 
> > > Parallel dengan ini Sponsor2 juga tidak bakal diam, baik didalam
> maupun yang diluar Negeri, menginvestasikan kemauannya, dengan sytem
> kapitalismus yang sangat menjerat kuat.
> > > 
> > > 
> > >> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> > >> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak
> kemahasiswaan 
> > >> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik.
> Tidak 
> > >> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil
> dalam 
> > >> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> > >> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> > >> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> > >> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> > >> pengaruh yang baik.
> > > 
> > > Ada benarnya, contoh mantan  Joschka Fischer (1998-2005 Menteri
> LuarNegeri Jerman Barat/Wakil Kanselor & sejak 1. Januar 1999 - 30. Juni 1999
> Präsident Parlement Europ Union)
> > > 
> > > 
> > >> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> > >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana
> Bogor,
> > >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> > >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> > >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang
> adalah 
> > >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> > >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak
> > >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> > >> depan.  
> > >> 
> > >> Beberapa daerah di Indonesia sudah 
> > >> dipimpin oleh purnawirawan TNI dan Polri, termasuk Presiden RI sejak 
> > >> tahun 2004. Sejumlah jabatan strategis juga dipegang oleh
> purnawirawan 
> > >> TNI dan Polri. Tentu di dalamnya juga terdapat alumni kampus-kampus 
> > >> terkenal di dalam dan luar negeri, termasuk aktivis mahasiswa di 
> > >> zamannya. Dari sini, sebetulnya, formulasi kepemimpinan nasional yang
> > >> bersifat kolektif bisa disusun. Blok-blok kepentingan yang kini
> muncul, 
> > >> semakin hari semakin bersandar kepada kepentingan keluarga, lalu 
> > >> berkembang jadi kepentingan faksi di dalam politik. Ujungnya adalah 
> > >> blok-blok kepentingan antar partai politik.
> > > 
> > > Logis, tentu saja Militer mendekati kaumnya, dimana sumpah keMiliteran
> yang
> > > sangat dipegang dengan erat, dibanding dengan kaum Sipil yang kurang
> struktur dan loyalitas. Kendatipun demikian, masing2 Komandant tetap siaga
> mengawasi Poros2 strategis yang difokus mereka. Contoh,Mesir sebelum terjadi
> peristiwa Musim Seminya. Kenapa insident ini terjadi? Ini adalah thema
> lain.
> > > 
> > > 
> > >> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> > >> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin
> sedikit
> > >> manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 
> > >> massal yang mengancam kehidupan spesies manusia dan masa depan bumi. 
> > >> Sistem pertahanan masing-masing negara juga semakin dieleminir dari 
> > >> sistem persenjataan moderen, Sekalipun terjadi produksi
> senjata-senjata 
> > >> jenis baru, namun lebih pada bentuk pengembangan teknologi, ketimbang
> > >> usaha untuk memunculkan efek kematian secara massal sebagaimana
> terjadi 
> > >> dalam Perang Dunia Kedua.
> > > Saya rasa Senjata yang terampuh dan paling mutlak adalah nilai-tukar
> Uang/Obligasi. Adapun percaturan Ekonomi Dunia terutama dalam Perbankan bisa
> membuat suatu Negara ataupun suatu Badan-hukum bangkrut total, tanpa
> membunuh fisik manusianya secara langsung. Contoh Irland, dan Goldman Sachs
> pencipta Bom yang mengakibat banyak Bank2 diDunia ini terkicuh, yang mana
> akhirnya seperti biasa, Hutang ataupun kerugian bank2 tersebut yang
> di-subvensi/eliminasi oleh Negara, mengakibatkan rakyat semakin banyak beban, 
> karena
> hutang Negara semakin membengkak. 
> > > Pemegang2 saham yang relativ kecil tergilas, sebaliknya yang besar
> tidak merugi, sedangkan Manager2 yang kelas Kakap diatas, tetap seperti biasa
> mendapatkan Bonus2 jerih payah mereka, secara legal dan demokrasi.
> > > Kelihatan reaksi perdagangan tersebut, korban2 hanyalah manusianya
> saja, sedangkan Gedung2 dan Perumahan disekelilingnya masih tidak tercidera.
> Inilah adalah Bom Neutron yang Abstrakt, tetapi sangat mangkus.
> > > Saya tidak jelas apakah UU Perbankan di Indonesia membatasi antara
> Bank2 Invest dan yang non Invest, juga sampai mana, kaitan UU antara Bank2
> Swasta dan Bank Negara Indonesia.
> > > 
> > >> 
> > >> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
> > >> dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> > >> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat
> yang 
> > >> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi
> aktivis 
> > >> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> > >> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden
> Soeharto: 
> > >> "Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> > >> intelektual." Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur
> militer
> > >> dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> > >> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari
> kalangan
> > >> intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> > >> perencanaan. 
> > >>> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> > >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana
> Bogor,
> > >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> > >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> > >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang
> adalah 
> > >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> > >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak
> > >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> > >> depan.
> > > 
> > > Maaf.... , sejarah bisa2 saja ber(di)ubah, ini adalah hasil karya2
> Penulis/Penerbit/Penyiar Media yang cermat seizin Sponsor yang mengikuti Zaman
> dan situasi Politik yang ada. 
> > > Aslinya hanya mungkin seberapa manusia yang mempunyai perspektiv
> tinggi dan kacamata jarak jangkau jauh yang bisa membaca/menerka diantara yang
> tertulis atau yang terberita diantara banyak sudut blok2 media (Koran2, TV2
> dari segala penjuru Dunia) serta menganalisa dengan sedemikian baik. 
> > > Analog nilai penunjuk kesukssesan seseorang sebagai pemagang Mandat
> tidak bisa dilihat dari angka se-mata2, maupun dari statistik ini dan itu.
> Ini musti diismpulkan perumusannya oleh gabungan intelektualitas segala
> fakultas, Medis, Ekonomie, Teknik, Sosial, Agama, Hukum, dll dll.
> > > Contoh, misal angka kematian, bisa lebih kecil dari tahun sebelumnya,
> tetapi apa sebab kematian kan belum tentu diterakan dalam laporan tersebut.
> Disamping itu, yang bisa menilai angka kemtian tersebut adalah orang Medis
> dan Farmaka, karena merekalah expert yang faham. Bukan orang Jura ataupun
> disiplin lainnya. 
> > > Begitu juga tentang MiGas,dll.dsb.
> > > 
> > >> Kini terjadi semacam kekosongan generasi (empty generation) dalam
> mengisi
> > >> lapisan kepemimpinan nasional. Barangkali ini dampak dari NKK/BKK
> tahun
> > >> 1980-an. Generasi mahasiswa 1970-an yang banyak mengisi 
> > >> lapisan kepemimpinan nasional, termasuk yang berasal dari AKABRI. 
> > >> Makanya tidak banyak yang berubah dari kepesertaan pilpres 1999, 2004
> > >> dan 2009. Empat nama yang kini disebut lembaga survei untuk Pilpres 
> > >> 2014, yakni Megawati Soekarnoputri (jebolan Unpad), Prabowo Subianto 
> > >> (lulusan AKABRI 1974), Aburizal Bakrie (lulusan ITB 1973) dan Jusuf 
> > >> Kalla (lulusan Unhas 1967), juga bisa disebut berasal dari angkatan 
> > >> (mahasiswa) 1960-an dan 1970-an.  
> > > 
> > >> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> > >> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan
> kembali?
> > >> Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya...
> > > Kekosongan Generasi, bisa timbul seperti dugaan Pak IJP, yakni NKK/BKK
> (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan).
> Ini bisa didelegasi, yang penting dananya ada. Bisa juga timbul dari effekt
> kejenuhan2, atau kombinasi  semua berkonsolidasi dengan NeoFeodalismus.
> > > 
> > >> Ada beberapa nama dari 
> > >> angkatan 1980-an, namun kebanyakan hanya menjadi pelapis kedua atau 
> > >> ketiga dari sejumlah tokoh. Presiden SBY, misalnya, lebih banyak 
> > >> mengambil staf khusus dari generasi 1990-an yang barangkali lebih
> mudah 
> > >> berinteraksi dengan dua orang putranya, ketimbang dengan generasi 
> > >> 1970-an dan 1980-an.
> > > SBY lebih banyak mengambil staf khusus dari generasi 90an, tentu saja
> logis, karena hukum alam... mudaan umumnya lebih lentur dari yang lebih
> tua-an, kasarnya mudaan lebih mudah didelegasi.
> > > 
> > > 
> > >> 
> > >> Lalu, apa yang dapat dilakukan dengan 
> > >> potret semacam ini? Perlukah semacam konsolidasi antar angkatan
> kembali?
> > >> Biar masing-masing sosok menulis di buku agendanya...
> > > Lahhh....sooner or later... hukum alam berlaku, pergolakan... bakal
> terjadi seandaiknya ketimpangan makin berlarut2 , seperti balon suatu waktu,
> saat2 kesetimbangan tiada... ya meletus. door.....
> > > Nahh... terjadilah konsolidasi secara alami, ingin tak ingin masa
> bodoh.
> > > Mau tulis atau tidak terserah masing2..... figurativ apa masih sempat
> dan berguna? 
> > > 
> > > Wassalam,
> > > Muljadi Ali Basjah
> > > 
> > > 
> > > 
> > > XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
> > > -------- Original-Nachricht --------
> > >> Datum: Wed, 17 Oct 2012 02:02:24 -0700 (PDT)
> > >> Von: Indra Jaya Piliang <pi_liang@...>
> > >> An: Lisi <[email protected]>
> > >> Betreff: [R@ntau-Net] Perang Suksesi Generasi
> > > 
> > >> http://indrapiliang.co> 
> > >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> > >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
> (minoritas
> > >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> > >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang
> sebagai 
> > >> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> > >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi
> pemuncak 
> > >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> > >> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai
> > >> daerah. 
> > >> m/2012/10/17/perang-suksesi-generasi/ 
> > >> 
> > >> Rabu, 17 October 2012Perang Suksesi Generasi
> > >> 
> > >> Oleh
> > >> 
> > >> Indra J Piliang *) 
> > >> 
> > >> Saya
> > >> menulis skripsi dengan judul "Koreksi Demi Koreksi: Aktivisme Gerakan
> > >> Mahasiswa Pasca Malari sampai NKK/BKK (1974-1980)". Di dalam skripsi 
> > >> itu, terdapat banyak nama tokoh-tokoh mahasiswa di zamannya.
> Misalnya: 
> > >> Hariman Siregar, Syahrir (almarhum), Mochtar Pabottingi, Dipo Alam, 
> > >> Yusril Ihza Mahendra, Lukman Hakim, Indro Tjahjono, Hery Achmadi dan 
> > >> lain-lain. Biografi kemahasiswaan ini penting, setelah demokrasi
> membuka
> > >> diri. 
> > >> 
> > >> Sejak jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, saya sadari betapa
> > >> perubahan digerakkan oleh apa yang dikenal sebagai creative minority
> (minoritas
> > >> kreatif). Jumlahnya sedikit, namun bisa memberi dampak 
> > >> kepada kehidupan orang banyak. Apalagi mahasiswa yang dipandang
> sebagai 
> > >> komponen yang paling aktif dalam sejarah pergerakan Indonesia, sejak 
> > >> awal abad ke-20. Dulu, jumlah mahasiswa hanya sedikit, menjadi
> pemuncak 
> > >> dalam piramida sosial era kolonial. Kini, jumlah mahasiswa semakin 
> > >> banyak, seiring dengan penambahan jumlah perguruan tinggi di pelbagai
> > >> daerah. 
> > >> 
> > >> Karena nama-nama aktor mahasiswa era 1970-an dan 1980-an
> > >> itu sudah tidak asing di benak saya, maka secara tidak langsung saya 
> > >> juga memperhatikan sepak terjang mereka. Teori minoritas kreatif
> semakin
> > >> menemukan bukti, mengingat nama-nama itu tetap berada di puncak 
> > >> pemberitaan media, paling tidak di bidangnya masing-masing, terutama 
> > >> terkait dengan ilmu pengetahuan, pemerintahan dan politik. Gelombang 
> > >> arus aksi demonstrasi mahasiswa 1998 paling tidak juga melibatkan 
> > >> mahasiswa-mahasiswa periode sebelumnya ini. Ketika rezim Orde Baru 
> > >> tumbang, mereka juga yang muncul ke permukaan dengan posisi 
> > >> masing-masing. 
> > >> 
> > >> Bagi saya, kiprah seseorang yang kemudian 
> > >> mencatatkan diri dalam sejarah, tidak terlepas dari jejak
> kemahasiswaan 
> > >> mereka. Fase kemahasiswaan membentuk diri seseorang dengan baik.
> Tidak 
> > >> semua orang yang dikenal sebagai macan kampus, misalnya, berhasil
> dalam 
> > >> tahap kehidupan pasca mahasiswa. Namun, sebagian besar yang menjadi 
> > >> aktivis mahasiswa, rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang baik 
> > >> untuk menempuh kehidupan pasca mahasiswa. Pengalaman, karakter, 
> > >> jaringan, pengetahuan dan kematangan intelektual dan mental memberi 
> > >> pengaruh yang baik. 
> > >> 
> > >> *** 
> > >> 
> > >> Jelang suksesi kepemimpinan 2014
> > >> dan 2019, semakin terlihat geliat perang antar generasi (terutama 
> > >> mahasiswa) di zamannya masing-masing. Alur sejarah memberi tempat
> yang 
> > >> baik bagi lahirnya para pemimpin yang pernah menempa diri jadi
> aktivis 
> > >> mahasiswa. Dalam otobiografi BJ Habibie – yang juga diperkuat oleh 
> > >> otobiografi Daoed Joesoef – terdapat kalimat pendek Presiden
> Soeharto: 
> > >> "Saya akan memberikan kepemimpinan nasional berikutnya kepada kaum 
> > >> intelektual." Presiden Soeharto sama sekali tidak menyebut unsur
> militer
> > >> dan terlihat alergi dengan politisi. Proses suksesi yang abnormal 
> > >> memang menempatkan BJ Habibie sebagai presiden berikutnya, dari
> kalangan
> > >> intelektual. Janji Presiden Soeharto dijalankan, tetapi tampak tanpa 
> > >> perencanaan. 
> > >> 
> > >> Bandingkan dengan Presiden SBY. Pernyataan Presiden
> > >> SBY dalam pertemuan dengan alumni AKABRI Angkatan 1970 di Istana
> Bogor,
> > >> tanggal 3 Oktober 2012 lalu, bagi saya mengejutkan dan memunculkan 
> > >> tanda tanya. Presiden SBY dengan terang-terangan mendukung kalangan 
> > >> purnawirawan TNI untuk aktif di politik praktis. Betul, sekarang
> adalah 
> > >> era multi-partai dan sekaligus demokrasi deliberatif. Masalahnya, 
> > >> generasi purnawirawan TNI berada pada fase yang idealnya lebih banyak
> > >> berada di belakang generasi alumni aktivis mahasiswa, bukan malah di 
> > >> depan.  
> > >> 
> > >> Ancaman Indonesia ke depan tidak lagi lahir dari skema 
> > >> Perang Dingin antara Blok Komunis versus Blok Kapitalis. Semakin
> sedikit
> > >> manusia di muka bumi yang mendukung pengembangan senjata pemusnah 
> 
> 
> -- 
> -- 
> .

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke