Saya setuju dengan Pak Saaf, bahwa analisis Pak Darwin Chalidi tentang Integritas Model GM sangat bermanfaat dan konstruktif untuk lebih mengoptimalkan GM.
Yang saya lihat selama ini, GM lebih banyak berkiprah sebagai lembaga kajian ketimbang akselerator perubahan sosial. Selayaknya fungsi sebagai lembaga kajian tetap diberikan kepada kampus, khususnya kampus-kampus yang menjadi mitra strategis GM dan atau memiliki kajian "Minangkabau studies". Output dari kajian-kajian akademis itu yang menjadi titik tolak bagi pengembangan program akselerasi pertumbuhan masyarakat Minang, khususnya di ranah/Sumatra Barat, sehingga posisi Sumbar dalam berbagai ukuran indeks (HDI, dll) selalu masuk dalam, misalnya, LIMA BESAR. (Dalam berapa tahun?). Jadi jika DKI dan 5 provinsi di Pulau Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur) yang dianggap lebih maju dari provinsi-provinsi luar Jawa (total 6 provinsi) maka Sumbar bisa "menganggu" konstelasi The Big 6 ini entah lewat literacy index (posisi berapakah Sumbar yang melahirkan Angkatan Balai Pustaka dalam indeks melek huruf nasional sekarang?), transparansi dan akuntabilitas Pemprov (Good Governance, bukan Good Government. Prof Emil Salim, asli Minang, sudah berbusa-busa mulutnya mengingatkan bahwa yang ditakar adalah Governance, cara dan proses pemerintahan, bukan "Pemerintahan yang baik"), dll. Kalau boleh saya menganalogikan GM dengan atlet olahraga, dan ABS SBK sebagai oksigen, maka yang dibutuhkan butuh seminar terus menerus tentang "Apa itu Oksigen dan Fungsinya Bagi Prestasi Atlet". Tidak perlu. Yang harus terus menerus diuji adalah: Bagaimana kondisi VO2max (= Volume Oxygen Max/maximum oxygen intake) bagi para atlet, sehingga ada korelasi khusus antara makin tinggi ya nilai VO2max dengan prestasi atlet, di bidang apa saja. Atlet yang pendek napas, gampang ngos-ngosan, tidak akan pernah berprestasi baik meski dia paham luar kepala apa fungsi oksigen, bagaimana struktur molekul oksigen, bagaimana cara (teoritis) respirasi yang baik, dll. Atlet yang kinerjanya under performance, pertama-pertama harus dibenahi perbaikan VO2max-nya dengan berbagai program yang sistematis dan terukur, sehingga kenaikan VO2max menjadi sesuatu yang obyektif-kuantitatif (baik berdasarkan skala Test Cooper atau Estimasi USOP/Uth-Sorensen-Overgaard-Pedersen) , yang pada gilirannya akan mendongkrak kinerja kualitatif para atlet. Menurut saya, Gebu Minang seharusnya mengambil posisi strategis seperti ini. Program-program apa yang bisa ditawarkan sehingga "VO2max" masyarakat Minang menjadi standar internasional? Apakah menjalin kerja sama dengan, atau mengadopsi model micro finance system Grameen yang diintrodusir Prof. Muhammad Yunus, yang sudah terbukti valid dan executable bahkan di struktur masyarakat Bangladesh yang "more or less" sama dengan kita? Ketimbang menghabiskan energi lagi membuat seminar "Mencari Format Ekonomi Rakyat Berbasis Nilai Luhur Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah Untuk Kegemilangan Ekonomi Masa Depan Minangkabau Di Era Globalisasi Yang Didominasi Bentuk-Bentuk Terobosan Ekonomi Digital", apakah tidak sebaiknya mengundang langsung Prof Yunus untuk menduplikasikan ilmunya di sini? Bagi semua orang yang sudah membaca format, visi misi Grameen, tak akan ada keraguan lain: Grameen ini "ABS SBK banget", bahkan "Islami sekali." Pilihan di tangan Gebu Minang: Mau terus melanjutkan strategi membincangkan "apa perlunya oksigen" dengan rangkaian seminar bertema sepanjang badan Mak Itam, atau mulai mengidentifikasi "program VO2max" apa yang bisa dilakukan GM sebagai organisasi besar yang sudah berumur 2 dasawarsa. Saya, dalam kapasitas sangat kecil dibandingkan Gebu Minang, hanya dalam kapasitas individual sebagai penulis berdarah Minang, memiliki strategi membuat "Program VO2max" di bidang kepenulisan lewat Antologi Ranah. Tak ada eksklusivitas dalam program ini, semua orang boleh ikut. Penulis profesional hayo, penulis amatir, monggo. Penulis pemula pun tak masalah. Justru dengan latar belakang "atlet Minang" yang beraneka ragam ini bisa jadi kekuatan baru dalam memperkaya khasanah literasi Minang (modern). Antologi Ranah adalah "Program VO2max" itu yang sudah pasti dipenuhi "oksigen ABS SBK" dalam 30 cerpen yang ada. Saya menghindari "kerja mubazir", misalnya dengan memberikan materi kepada cerpenis: "Teknik Menyisipkan Nilai-nilai ABS SBK ke Dalam Cerpen sebagai Karya Kreatif Inspiratif Dalam Membangun Solidaritas Sosial Minangkabau" dsb. Why should I? Para cerpenis malah akan mendapat beban, seakan-akan mereka diharuskan menjadi "ideolog" atau "penatar" (apa istilah khususnya?) seperti di jaman P4 dulu. Lepaskan saja kepada para cerpenis, yang sebagian besar dari mereka (kalau tidak semuanya) justru sudah menginternalisasi nilai-nilai ABS SBK sejak pertama kali hadir ke bumi. Bahkan cerpen yang menokohkan tokoh antagonis sekali pun (seperti cerpen pak Reflusmen Ramli tentang penipu di pacuan kuda) justru pada endingnya mengangkat pesan moral: jangan menipu, karena uang yang didapat dari menipu tidak akan pernah menjadi berkah, bahkan dalam keadaan terjepit dan harus membantu orang tua sekali pun. Jangan pernah sekali-sekali menipu. Bukankah ini pesan moral cerita yang sangat ABS SBK? Eloknya, tanpa ada sebaris kalimat pun yang eksplisit menyebut ABS SBK!) Pardon my ignorance, Pak Saaf. Saya mendeteksi sikap silent majority urang Minang terhadap ABS SBK sudah hampir sama dengan cara orang Indonesia memandang Pancasila: apatis. Bukan karena Pancasila/ABS SBK tidak baik. Tapi karena terlalu sering didengung-dengungkan, diseminarkan, dibahas lagi, tapi sulit ditemukan implementasinya di lapangan. Dan kita baru terkejut setelah membaca, misalnya keluhan Ibu Aisjah Prawiranegara di koran kemarin yang kaget melihat sekolah di Solok Selatan tahun 50-an (sesuai dgn ingatan beliau sebagai anak sulung Mr. Sjafruddin Prawiranegara) dengan yang dilihatnya kemarin. Apa hubungannya dengan ABS SBK? Jelas sekali ada karena bagi anak-anak Minang sejak kecil sudah diajarkan hadis Nabi di surau-surau, "Hari ini harus lebih baik dari kemarin ..." dst. Lha, kalau 60 tahun yang lalu sama dengan hari ini, kerugian macam apa yang diderita orang Minang itu? Apalagi jika ditambahkan dengan perkataan Imam Syafii (Atau Imam Maliki? Saya lupa, nanti bisa dicek lagi redaksinya yang pas). "Celakalah orang-orang yang berada di dalam satu lingkungan (kalau orang modern sekarang, dalam satu komplek perumahan) jika rumah-rumah mereka lebih bagus dari Rumah Allah." Kalau kita melihat Minang sebagai "Rumah Gadang Bersama", tak peduli apakah kita orang asli Solok Selatan atau bukan, dan melihat sekolah sebagai bagian dari "Rumah Allah" dalam arti luas, di mana tanda-tanda kebesaranNya diajarkan kepada anak didik oleh para guru yang berdedikasi tinggi, hidup pas-pasan, dsb, bagaimana kita bisa memahami orang-orang Minang yang sudah memasuki "klub milyarder" bahkan "klub trilyuner" tapi kampung-kampung mereka, tempat mereka dilahirkan yang mereka minum airnya dan makan hasil buminya, bisa semelarat itu? Mana bukti ABS SBK yang sudah memasuki abad ketiga sejak "dirumuskan" di Marapalam, berhasil meningkatkan marwah hidup rakyat Minang, terutama yang masih bermukim di dusun-dusun. (Posting jawaban Pak Wannofri Samry yang juga heran melihat Monument PDRI didirikan dengan biaya lebih dari Rp. 200 miliar padahal jalan ke Koto Tinggi masih "sulitnya Allahu Rabbi" menjadi tambahan bukti baru). Saat ini merupakan momentum terbaik bagi Gebu Minang untuk mengubah strategi dengan lebih memusatkan perhatian pada "Program VO2 max" ketimbang terus menerus, tanpa putus, hanya membicarakan tentang "fungsi oksigen bagi kehidupan" saja. Ini sumbangan saran saya Pak Saaf. Salam, Akmal N. Basral 44+, Cibubur Pada Jumat, 21 Desember 2012, Dr Saafroedin Bahar menulis: > ** > Terima kasih, Sanak Darwin Chalidi. Saran Sanak merupakan masukan yang > berharga utk penyusunan suatu wawasan yang lebih komprehensif dan mumpuni > ttg struktur kelembagaan sukubangsa Minangkabau secara menyeluruh. Setahu > saya hal ini belum pernah ditelaah selama ini. > Gebu Minang hanyalah salah satu lembaga saja dari demikian banyak lembaga > yg ada, yg umumnya bersifat independen satu sama lain. Doktrin ABS SBK > kelihatannya dapat diharapkan merupakan " shared values" yang akan meresapi > demikian banyak lembaga sosiokultural orang Minang. > Akan sangat menarik jika tema ini dibahas secara khusus. > Wassalam, > SB. > Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. > ------------------------------ > *From: * Darwin Chalidi <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Thu, 20 Dec 2012 16:30:01 +0700 > *To: *Rantau Net<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: [R@ntau-Net] Re: Wahai Organisasi Minang, Jadilah Pressure > Group ...Re: Bls: MPKIM (Masyarakat Peduli Kebudayaan Indonesia Minangkabau) > > Pak Saaf NAH, dinda ANB NAH, sarato sanak Palanta RN. Karano menyebutkan > keberadaan GM sebagai organisasi mako ambo pernah malewakan analisa > Integritas organisasi iko sabalun pertemuan yang rencanannya di Bukittinggi > dulu. Nampaknyo masih berputar sekitar itu. > > *Analisa Integritas Model dari ORGANISASI GEBU MINANG* > > *Berdasarkan AD & ART 2005 - 2010* > > *BAB** IV - VISI DAN MISI - Pasal 6* > > *Visi Gebu Minang* adalah terwujudnya masyarakat Rantau dan Ranah yang > dinamis, terpadu, berorientasi ke masa depan, sejahtera, kreatif, sehat > lahir dan batin, dan mampu mengantisipasi serta menjawab tantangan dan > memanfaatkan peluang yang terbuka dalam hidup berbangsa dan bernegara. > > *Misi Gebu Minang* adalah memfasilitasi, memotivasi, mendinamisasi, dan > mendayagunakan potensi masyarakat Rantau dan Ranah dalam kerangka Negara > Kesatuan Republik Indonesia sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan > taraf hidupnya, baik lahir maupun bathin, dengan kekuatannya sendiri. > > * * > > *Pernyataan Visi* yang tertulis bukanlah merupakan visi dari Organisasi > Gebu Minang tetapi lebih pada harapan hasil kerja dari organisasi Gebu > Minang. Atau lebih kepada Visi Masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. > > Secara teori dan aplikasi Pernyataan Visi adalah apa tujuan jangka panjang > organisasi, dengan pernyataan visi ini maka setiap anggota organisasi akan > gampang mengidentifikasi dirinya, dan bangga, termotivasi, serta merasakan > bagian dari yang lebih besar dari dirinya. Pernyataan visi ini akan > mendorong kemampuan dan imej organisasi, serta kejelasan masa depan. > > > > *Pernyataan Misi* yang tertulis hanya sebagaian kecil dari pernyataan > Misi yang seharusnya. Pernyataan memfasilitasi, memotivasi, mendinamisasi, > dan mendayagunakan potensi masyarakat sangat bagus tapi masih terkesan > pasif dan tidak jelas dari mana memulainya. > > Pernyataan Misi adalah apa yang dikerjakan, bagaimana mengerjakan, dan > untuk siapa dilakukan oleh organisasi sehingga kelompok individu akan > secara bersama-sama diarahkan pada acuan yang sama. Dan dibeberapa > organisasi besar kelas dunia, pernyataan misi ini adalah ”Organization > Growth Model” > > Secara sekilas Pernyataan Misi ini berisi lima langkah utama, Apa yang > dikerjakan organisasi untuk menampung suara Anggota Gebu Minang, Inovasi > apa yang harus dikerjakan organisasi untuk memenuhi keinginan anggota, > produk yang bagaimana harus dibuat oleh organisasi, sosialisasi yang > bagaimana sehingga seluruh anggota mengetahui, dan Apa yang dikerjakan > untuk memastikan Gebu Minang ini berkelanjutan. > > > > *Kesimpulan dari Pernyataan Visi & Misi Gebu Minang* yang ada dalam AD > bab IV, adalah belum torformulasikan dengan baik. Oleh sebab itu maka > struktur organisasi dan kerja organisasi belum terarah dengan baik sesuai > dengan harapan rakyat badarai dari orang Minang. Kalimat dalam AD Bab I > ayat (1) perlu kita renungkan dengan baik tentang kaidah *Adat Basandi > Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ; Syarak Mangato Adat Mamakai, Syarak > Babuhua Mati, Adat Babuhua Sentak; Dima Bumi Dipijak Disinan Langik > Dijunjuang, yang dalam pelaksanaannya menganut pedoman Tuah Sakato, Cilako > Basilang. *Sarato *Duduak Samo Randah, Tagak Samo Tinggi* apakah sudah > bisa terlaksana dengan baik?. > > > > Berikut adalah evaluasi dari AD/ART sesuai dengan Organizational Model > Integrity Analisis scheme. > > > > *1. **Penerima Manfaat dari Organisasi: * > > Apakah setelah 20- tahun organisasi2 yang menjadi anggota mengetahui atau > merasakan manfaat Gebu Minang? Karena sifatnya pasif maka berkemungkinan > generasi ke 2 dari perkumpulan-perkumpulan orang Minang tidak mengetahui > bahwa untuk menjadi penerima manfaat maka kumpulan orang Minang harus > mendaftar jadi anggota. > > (ART/Bab III/Psl 5) anggotanya organisasi atau badan yang dibentuk oleh > warga Minang > > (AD/Bab VII/psl 9 (3)) mendaftarkan diri sebagai anggota secara sukarela.* > * > > * * > > *2. **Produk Gebu Minang: * > > Adakah selama ini Gebu Minang melakukan kegiatan-kegiatan seperti amanat > AD dibawah. Bagaimana bentuk pelaksanaannya, sudahkan terlaksana dalam > kurun waktu 20- tahun keberadaan Gebu Minang** > > (AD/Bab VI/psl 8 (2))** > > (a) Menanamkan semangat kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri > > (b) Mensosialisasikan hak ekonomi, sosial, dan budaya serta hak sipil > dan politik > > (c) Mendorong pendalaman sejarah dan kebudayaan Minangkabau > > (d) memberikan sumbangan yang berarti untuk peningkatan kualitas > kehidupan paguyuban masyarakat Minang > > (e) Menghimpun dan menyebarluaskan informasi. > > (f) Menyediakan tenaga-tenaga ahli > > (g) Menyediakan fasilitas dan peluang untuk berusaha. > > *(h) *Melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang sah.** > > *3. **Komunikasi dengan Penerima manfaat organisasi:* > > Pemerintah Daerah diharapkan sebagai penghubung. Sebagai organisasi apakah > Gebu Minang pernah melakukan intervensi atau mencoba merayu atau dengan > kata lain Apa saja yang pernah dilakukan terkait dengan komunikasi ini? > > (ART/Bab II/Pasal 4 (1)) Dakwah dalam rangka memberikan pemahaman, > pengertian, makna dan maksud adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah > > (ART/Bab II/Pasal 4 (2)) Pelayanan Pendidikan > > (ART/Bab II/Pasal 4 (3)). Pemberdayaan Ekonomi > > (AD/Bab X/Pasal 16) (3)) Gubernur Provinsi Sumatera Barat diharapkan > mengangkat seorang pejabat tinggi ** > > *4. **Bagaimana Mempertahankan Keberadaan Anggota:* > > Belum terumuskan dengan baik. Sangat diperlukan karena tanpa anggota dan > anggota tidak aktif akan menurunkan persepsi Rakyat Badarai terhadap Gebu > Minang** > > *5. **Darimana Dana didapat:* > > Apakah dana yang disebutkan dalam AD dibawah ini pernah terealisasikan? > Apakah sudah maximum menggali dana ini, serta bagaimana transparansi > pengelolaannya?** > > (AD/BAB XIII/Pasal 20 (1)) Gebu Minang bersama-sama dengan Pemerintah > Daerah Sumatera Barat membangun Dana Abadi melalui (kegiatan pengumpulan > dana secara internasional dan) kegiatan-kegiatan yang syah. > > (AD/BAB XIII/Pasal 20 (2)) sumbangan tetap dan iuran bulanan dari Pengurus > Gebu Minang Pusat, Gebu Minang Daerah, ikatan-Ikatan Keluarga Minang, para > donatur, serta sumbangan > > (AD/Bab XII/Pasal 9 (4)) Setiap badan usaha Gebu Minang menyediakan > sebanyak 25% dari keuntungan** > > *6. **Apa Aktifitas Organisasi Gebu Minang untuk menunjang Produknya:* > > Bagaimana Program Kerja Gebu Minang selama ini? Apakah Informasi kegiatan > yang ada ini diketahui anggota?** > > (AD/Bab X/Pasal 15 (2)) Informasi kegiatan dan saran kebijakan yang > merupakan Program Kerja > > (AD/Bab X/Pasal 15 (3)) Informasi Kegiatan ** > > *7. **Sumber Daya Apa yang dimiliki oleh Gebu Minang* > > Terlalu sumir untuk dikatakan sebagi sumber daya karena belum terdaftar > atau terdata di organisasi serta tidak diketahui anggota** > > (AD/Bab X/Pasal 15 (1)) Perseorangan dan atau kelompok warga perantau yang > secara sukarela bersedia untuk mengabdikan dan mendayagunakan pengalaman > dan kemampuan profesionalnya > > *8. **Partner strategis yang dimiliki oleh Gebu Minang* > > Apakah mereka yang masuk dalam AD dibawah ini sudah merasa sebagai bagian > dari Organisasi Gebu Minang** > > (AD/Bab X/Pasal 16 (1)) Gubernur, para Bupati dan para walikota didaerah > Sumatera Barat. > > (AD/Bab X/Pasal 16 (4)) Gubernur, Bupati, dan Walikota dari Propinsi > Tempatan > > (AD/Bab X/Pasal 17 (1)) tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau, baik di Ranah > maupun di Rantau, > > (AD/Bab X/Pasal 17 (2)) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Anggota > Dewan Perwakilan Daerah RI yang mewakili daerah pemilihan Sumatera Barat k > > (AD/Bab X/Pasal 17 (3)) Tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau didaerah rantau > yang mempunyai kemampuan dalam sumber daya > > (AD/Bab X/Pasal 17 (4)) Dewan Pakar terdiri dari pakar ilmu pengetahuan > dan teknolog*i* > > *9. **Pembiayaan Organisasi* > > (AD/Bab X/Pasal 13 (5)) Seluruh Pengurus dan Dewan Eksekutif bersifat > sukarela dan tidak menerima gaji dan honoraria. > > Kegiatan Gebu Minang lainnya > > Salam, Darwin Chalidi, 63, Tangsel > > > > > 2012/12/20 Akmal Nasery Basral <[email protected]> > > > > Pada Rabu, 19 Desember 2012, Dr Saafroedin Bahar menulis: > > ** > Benar, bung Akmal, Seminar Nasional tsb diadakan antara lain utk melawan > hujatan Ir. Mudy Situmorang. > Tentu bukan hanya utk itu. Juga utk menyamakan faham ttg data sejarah bhw > dasar-dasar doktrin ABS SBK berasal dari khutbah Tuanku Imam Bonjol pd > tahun 1832, dalam suasana Perang Paderi. > Temuan dan kesepakatan ini mungkin bersifat agak strategis, krn membantu > menjernihkan kesimpangsiuran keterangan ttg asal muasal ABS SBK, yg secara > informal sudah diterima sbg jati diri orang Minang. > KKM/SKM GM 2010 dapat dipandang sebagai tindaklanjut Seminar Nasional th > 2007 tsb, yang akan disusuli olen pembentukan kader dalam tahun 2013 > mendatang. > Sekedar catatan, hasil wacana KKM/SKM GM 2010 tersebut menyimpulkan bahwa > titik temu antara adat dan syarak adalah pada luhurnya budi/akhlak, persis > sama dengan kesimpulan bung Akmal, dan tema ini juga yg akan diusung dalam > pendidikan kader yang akan datang. > Kegiatan Gebu Minang dalam 'standard setting' ABS SBK ini jelas bukan > termasuk dalam 'menari pada gendang orang lain', tetapi merupakan kegiatan > pro aktif untuk mencegah berlanjutnya kerancuan nilai (' anomi') yang > terkesan menghinggapi masyarakat Minangkabau selama ini. Apalagi oleh > karena ABS SBK merupakan dasar organisasi Gebu Minang berdasar Pasal 4 > Anggaran Dasar. > Saya sama sekali tidak berkeberatan dengan gaya terus terang bung Akmal. Ha > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
