Pada Rabu, 19 Desember 2012, Dr Saafroedin Bahar menulis:
> **
> Benar, bung Akmal, Seminar Nasional tsb diadakan antara lain utk melawan
> hujatan Ir. Mudy Situmorang.
> Tentu bukan hanya utk itu. Juga utk menyamakan faham ttg data sejarah bhw
> dasar-dasar doktrin ABS SBK berasal dari khutbah Tuanku Imam Bonjol pd
> tahun 1832, dalam suasana Perang Paderi.
> Temuan dan kesepakatan ini mungkin bersifat agak strategis, krn membantu
> menjernihkan kesimpangsiuran keterangan ttg asal muasal ABS SBK, yg secara
> informal sudah diterima sbg jati diri orang Minang.
> KKM/SKM GM 2010 dapat dipandang sebagai tindaklanjut Seminar Nasional th
> 2007 tsb, yang akan disusuli olen pembentukan kader dalam tahun 2013
> mendatang.
> Sekedar catatan, hasil wacana KKM/SKM GM 2010 tersebut menyimpulkan bahwa
> titik temu antara adat dan syarak adalah pada luhurnya budi/akhlak, persis
> sama dengan kesimpulan bung Akmal, dan tema ini juga yg akan diusung dalam
> pendidikan kader yang akan datang.
> Kegiatan Gebu Minang dalam 'standard setting' ABS SBK ini jelas bukan
> termasuk dalam 'menari pada gendang orang lain', tetapi merupakan kegiatan
> pro aktif untuk mencegah berlanjutnya kerancuan nilai (' anomi') yang
> terkesan menghinggapi masyarakat Minangkabau selama ini. Apalagi oleh
> karena ABS SBK merupakan dasar organisasi Gebu Minang berdasar Pasal 4
> Anggaran Dasar.
> Saya sama sekali tidak berkeberatan dengan gaya terus terang bung Akmal.
> Hal itu malah baik, karena membantu memperjelas duduknya masalah yg sedang
> dibahas. Silakan lanjut.
> Wassalam,
> SB.
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
> *
> *
>
------
Pak Saaf NAH, salah satu "kebingungan" saya dalam melihat GM sejak dulu
adalah sebenarnya positioning GM mau di mana: lembaga kajian? atau
akselerator perubahan sosial?
Contoh yang Pak Saaf sampaikan di atas menurut saya menunjukkan GM masih
berpretensi ingin menjadi lembaga kajian, yang sesungguhnya tidak perlu.
Percayakan saja hasil-hasil kajian kepada kampus, dan GM menindaklanjuti
pada kegiatan lebih strategis.
Misalnya untuk pemberdayaan ekonomi rakyat, mengapa GM, dengan banyaknya
cendekia di dalam dan jaringan internasional yang luas, tidak bekerja sama
dengan Grameen Bank dan mendatangkan Prof. Muhammad Yunus untuk sebuah
kerjasama riil di wilayah Sumbar. Bukankah kondisi faktual rakyat
Bangladesh hampir sama dengan kondisi rakyat di dusun-dusun Minang? (Saya
baca pada posting yang diforward Nofend kemarin, Teh Icah/Aisjah
Prawiranegara masih prihatin melihat dusun di Solok Selatan masih sama saja
kondisinya di tahun 50 dan sekarang, lebih setengah abad kemudian. Note:
untuk sementara kita singkirkan dulu pertanyaan di mana peran Pemprov/Pemda
selama ini?)
Mohon maaf jika karena keterbatasan pengetahuan saya, ternyata sudah ada
kerjasama antara GM dengan Grameen. Kenapa harus kerjasama dengan Grameen?
Karena konsep Grameen terbukti berjalan di lapangan, sukses, dan berhasil
membalikkan teori tentang kredit macet di kalangan grass root
--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/