Nakan Syafrinal;

Sambil menunggu tanggapan balik Nakan IJP terhadap  komentar Nakan Syafrinal
di bawah ini—walaupun bukan “putra asli Piaman” :) —sato pula ciek urun
pendapat. 

Menurut hemat saya, kondisi Piaman yang digambarkan Nakan Syafrinal sebagai
“dari tahun ke tahun perkembangannya hanya itu ke itu saja” bukan semata
karena ada atau tidak adanya industri (atau pertambangan seperti di Lubuk
Linggau dan Muaro Bungo) yang menggerakkan ekonomi kota. Lebih pas rasanya
kita melihat kondisi Piaman waktu ini sebagai representasi dari 70% —menurut
data Kemendagri—daerah pemekaran yang gagal atau belum berhasil,  belum
berhasil mendekatkan dan meningkatkan kualitas  pelayanan kepada masyarakat,
belum berhasil dalam mendorong kreativitas, ujung-ujungnya belum berhasil
meningkatkan kemakmuran masyarakat setempat secara berarti. 

Bukan berarti tidak ada kemajuan, tetapi umumnya masih  di bawah harapan
masyarakat banyak, atau tidak sesuai dengan potensi dengan yang ada.

Khusus untuk Piaman, angka-angka sederhana di bawah ini dapat bicara
sendiri.  

Setiap tahun, Kemenkeu menerbitkan peta kapasitas fiskal [1] untuk seluruh
kabupaten/kota di Indonesia. Sesuai dengan  data tahun terakhir (2011),
indeks  Piaman masuk kategori ‘sangat tinggi’ dan nomor dua tertinggi di
antara kota-kota di Sumatra Barat setelah Sawahlunto. 

Sekalipun demikian, dalam  tahun 2012, Piaman yang berpenduduk ± 75.000
jiwa, hanya mampu menghimpun APBD sebesar Rp400 M, kurang lebih sama dengan
APBD Padangpanjang di tahun tersebut,  yang penduduknya hanya 50.000 jiwa
atau hanya dua pertiga Piaman. APBD Piaman dalam tahun tersebut juga di
bawah APBD Kota Solok yang berpenduduk ± 65.000 jiwa sebesar Rp435 M dan
APBD Kota Sawahlunto yang juga berpenduduk ± 65.000 jiwa sebesar Rp500 M.

Mengapa hal itu bisa terjadi di daerah-daerah pemekaran? Sudah banyak pihak
yang memberikan pendapat, termasuk Kemendagri. Pendapat yang sangat umum,
pemekaran daerah lebih didorong oleh kepentingan elit ketimbang aspirasi
masyarakat daerah atau tanpa memperhitungkan potensi daerah yang
bersangkutan. Apapun penyebabnya, sekarang tentu sudah tidak penting lagi. 

Pertanyaan yang lebih penting, apakah untuk berkembang baik daerah-daerah
tersebut memerlukan adanya industri (atau pertambangan) sebagai faktor
penggerak.  

Liputan Khusus Kepala Daerah Pilihan 2012 pada majalah Tempo edisi Minggu, 9
Desember 2012 (“Bukan Bupati Biasa”), memilih tujuh bupati/wali kota,
masing-masing Walikota Sawahlunto,  Walikota Banjar (Jawa Barat), Bupati
Wonosobo (Jawa Tengah), Walikota Surabaya (Jawa Timur), Bupati Kubu Raya
(Kalimantan Barat), Bupati Enrekang (Sulawesi Selatan dan Bupati Keerom
(Papua). 

Selain Sawahlunto (pariwisata) dan Surabaya (industri dan perdagangan),
seluruhnya merupakan kabupaten/kota agraris. Fakta ini menegaskan bahwa maju
atau tidak majunya suatu daerah tidak ditentukan  ada atau tidak adanya
industri (atau pertambangan) di daerah tersebut. Sawahlunto bangun dan maju
secara mengesankan justru setelah pertambangan di sana ditutup dan fokus
kepada pengembangan sektor pariwisata. 

Hal itu disebabkan karena kunci keberhasilan para Bupati/Walikota tersebut
melakukan perubahan/kemajuan di daerah masing-masing lebih terletak pada
visi dan kepemimpinan yang efektif, inovatif dan bersifat melayani.

(Lihat juga infografis
http://www.tempo.co/read/flashgrafis/2012/12/13/508/Bukan-Bupati-Biasa)

Dalam perperspektif ini, kalau IJP ingin memfokuskan pembangunan Piaman
melalui revitalisasi pasar menurut saya cukup masuk akal, karena dari apa
yang saya tangkap, yang akan ditata kembali tidak hanya fisik bangunan,
tetapi—terutama—fungsinya. 

Malah menurut saya pribadi, penataan kembali fungsi pasar tidak hanya
kebutuhan Piaman saja, tetapi perlu dilakukan di berbagai tempat di Sumatra
Barat. Sulit rasanya mewujudkan pembangunan berbasis nagari tanpa
revitalisasi fungsi pasar-pasar di tingkat nagari dan kecamatan. Sulit
rasanya berbicara tentang perekonomian kerakyatan kalau pembangunan dan
renovasi bangunan pasar di kawasan perkotaan menjadi ajang perburuan rente,
yang menyebabkan pedagang-pedagang bermodal kecil menjadi tergusur.

Kembali ke kasus Piaman, tentu tidak ada salahnya jika pembenahan pasar
kemudian diikuti dengan pengembangan industri jika memang memungkinkan,
khususnya industri yang dapat memberikan nilai tambah serta lapangan kerja
yang berarti bagi penduduk lokal Piaman, walaupun ini lebih mudah
mewacanakan daripada mewujudkannya. Hal itu disebabkan  karena bola lebih
banyak berada di pihak ketiga yakni para pemodal yang tertarik atau tidak
tertarik untuk berivestasi di sana.

Pertanyaann kemudian tentu, apakah IJP memiliki kepemimpinan yang efektif,
inovatif dan bersifat melayani seperti tujuh bupati/wali kota tujuh pilihan
Tempo tersebut, tentu hanya sejarah yang dapat membuktikan.

Jika IJP berhasil menjadi Piaman satu, tentu saja.        

Wallahualam bissawab,

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok


[1] Kapasitas Fiskal adalah gambaran kemampuan keuangan masing-masing daerah
yang dicerminkan melalui penerimaan umum Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (tidak termasuk dana alokasi khusus, dana darurat, dana pinjaman
lama, dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk membiayai
pengeluaran tertentu) untuk membiayai tugas pemerintahan setelah dikurangi
belanja pegawai dan dikaitkan dengan jumlah penduduk miskin.

===

Re: [R@ntau-Net] Iko Jaleh Piaman! (14) 
Mon Dec 17, 2012 2:43 pm (PST) . Posted by: "Syafrinal Syarien" 

Ajo Indra yth;

Ambo mengikuti terus ulasan serial "Iko Jaleh Piaman", tapi dek karena
kesibukan, baru kini terlakit untuk berkomentar dan memberi masukan.

Di sektor ekonomi, kekurangan terbesar Piaman adalah: tidak adanya industri
yang menggerakkan ekonomi perkotaan. Setiap kota butuh industri untuk
menciptakan urban civilization. Ini konsekuensi yang harus ditempuh begitu
kita sepakat untuk spin-off kotamadya Piaman dari kabupaten Padang-Pariaman
tahun 2002 lalu.

Lebaran lalu, ambo mudik lewat jalur darat, melewati Lubuk Linggau dan Muaro
Bungo. Ambo takjub melihat perkembangan kedua kota tersebut. Dan
perkembangan itu disokong karena adanya industri tambang batubara di kedua
kota tsb. 

Berbeda dengan kota Piaman, yang dari tahun ke tahun perkembangannya hanya
itu ke itu saja. Malahan geliat ekonomi di kota Piaman cenderung turun
setelah banyak kantor Pemkab pindah ke Parit Malintang. Ikut dibawa pindah
juga pegawai-pegawainya. 

Pasar Piaman serba canggung. Jika dijadikan pasar grosir, orang lebih
memilih ke Padang atau Bukittinggi. Jika dijadikan pasar ritel, perlu
penataan lebih lanjut supaya tidak semrawut. Dan ini sulit, karena kabarnya
hampir semua toko di sana dimiliki oleh segelintir orang kaya jaman dahulu,
seperti klan Tantawi dari Simpang Apa. Barangkali karena itu pula, klan
Ahmadin tak mau menyentuh area pasar sekarang, gantinya mereka berusaha
mengembangkan areal pasar dalam format ruko yang lebih bersih dan teratur di
sekitar wilayah usaha mereka (sekitar Toko Ahmadin, kampung cina dulu).
Kabarnya istri Pak Walikota adalah dari klan Ahmadin ini.

Jadi menurut saya, biarkan sajalah pasar Piaman itu seperti apa adanya.
Biarkan ia menjadi pasar becek kumuh ala pasar inpres jaman orba dulu. Mau
diapa-apakan juga susah karena pemiliknya adalah perseorangan dari klan
orang kaya Piaman jaman dulu, yang keturunan mereka sekarang cuma bisa
melindangkan warisan saja.

Karena tidak adanya industri, peran kota Piaman tak lebih dari sekedar
daerah transit dari industri sawit di Pasaman yang menuju Padang. Lambat
laun nasib kota Piaman akan mirip dengan kota Cianjur. Sebelum tol
Jakarta-Bandung ada, Cianjur adalah kota yang hidup dengan geliat ekonomi
sebagai daerah transit. Tapi tengoklah sekarang setelah tol Jakarta-Bandung
jadi rute utama. Cianjur sudah tidak sesemarak dulu lagi. Kita sudah lupa
dengan tembang lawas "Semalam di Cianjur", karena memang Cianjur tidak ada
apa-apa lagi untuk diingat.

Tantangan bagi Ajo Indra untuk memilah industri apa yang cocok untuk
dikembangkan di kota Piaman.

Wassalam;

Syafrinal Syarien

Putra Piaman aseli...

42thn/Karawaci/Tangerang/Banten

 

________________________________

From: Indra Jaya Piliang <[email protected]

> 

 <mailto:[email protected]> To: Rantau Net <[email protected]> 

 <mailto:[email protected]> Sent: Monday, December 17, 2012 8:59 AM

 <mailto:[email protected]> Subject: [R@ntau-Net] Iko Jaleh Piaman!
(14)

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke