Tan Mudo, tolong seri nyo dikalua kan tiok hari. Akan ambo copy paste dan file kan untuak dibaco diwakatu senggang. Samantaro kini ambo simpan sajo dulu. Bara seri kasadonyo Tan Mudo ???
Best Regards, Mulyadi Tenaga bantuan Engineer dari PT.Pusri pada : Mechanical Dept. PT. REKAYASA INDUSTRI - Jakarta Jl.Kalibata Timur I No.36, Jakarta - 12740 Phone : +62-21-7988700 ext. 2215 Fax : +62-21-7988701 mobile : 08127834825 atau nomor baru 081932450588 email : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] atau : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nofend St. Mudo Sent: Tuesday, February 12, 2008 8:48 PM To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: [EMAIL PROTECTED] 5 Harimau Muda <== Cerita Silat beseri karya SIEKLI [00] Bagian Pertama : Masa Lalu Prakata Cerita ini menceritakan tentang petualangan lima orang pemuda yang mewarisi sebuah ilmu silat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Sumatera sampai saat ini yaitu ilmu harimau jadi-jadian, ilmu ini memang memiliki unsur mistiknya. Di jaman pemerintahan raja Adityawarman pada abad 14, beberapa tokoh terkemuka di pemerintahannya mewarisi ilmu ini, di dalam sejarah hal ini memang tidak diungkapkan karena ilmu ini sangat dirahasiakan oleh para pewarisnya. Yang mewarisi ilmu ini memiliki ciri khas tersendiri, jika ilmu ini di dapat dari pengajaran seseorang maka di dalam kegelapan kadang-kadang yang mewarisinya memiliki mata yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan seperti mata kucing, dan jika ilmu ini didapat dari keturunan maka pewaris tersebut akan bisa dilihat cirinya dengan jelas yaitu tidak mempunyai belahan di bawah hidung/bibir atas. Konon katanya sampai sekarang ilmu ini dan pewarisnya masih ada dan hidup di dalam masyarakat kita, bahkan ada yang bilang mereka hidup dalam sebuah komunitas di hutan yang terletak di kaki gunung Kerinci, tapi benar tidaknya belum ada yang terungkap. Semuanya tetap merupakan misteri dalam kehidupan masyarakat Sumatera dan binatang Harimau tetap di hormati sebagai lambang ilmu silat sakti dari Sumatera. Jilid I : Nagari Batang Kapeh Kisah ini bermula di daerah Ranah Minang, yang sekarang dinamakan Sumatera Barat, di masa pemerintahan Rajo Adityawarman yang pusat kerajaannya berada di Pagaruyuang. Lebih tepatnya di daerah Painan, Pesisir Selatan, nagari Batang Kapeh ( desa Batang Kapas). Nagari Batang Kapeh ini luas dan dekat dengan laut sehingga kebanyakan dari penduduk di daerah ini mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Setiap nagari yang ada di wilayah Minangkabau ini diatur oleh seorang wali nagari (lurah) yang membawahi beberapa kepala jorong (ketua RT jaman sekarang) dan mempunyai penasehat yang dinamakan Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri dari tokoh agama nagari, cadiak pandai (kaum intelek) dan ninik mamak, mereka inilah yang disebut dengan Karapatan Nagari, keputusan-keputusan nagari selalu merupakan hasil musyawarah dari Karapatan Nagari. Setiap senja menjelang terasa sekali daerah ini sangat indah dengan disirami cahaya matahari yang akan kembali peraduannya di balik laut yang begitu tenang. Suasana damai dan penuh keindahan ini tiba-tiba pecah dengan teriakan-teriakan para nelayan tersebut. Segera saja wali nagari dari nagari (desa) nelayan ini memburu datang ke tempat teriakan-teriakan itu. Ternyata sesampai di sana terlihat banyak orang mengerumuni 2 orang pria yang sedang bergumul di pantai saling tinju meninju dan gigit mengigit, terlihat para pemuda yang lain saling memberi semangat kepada temannya sehingga perkelahian ini menjadi lebih seru. Melihat hal ini sang wali nagari langsung menjadi naik pitam dan berteriak untuk menghentikan kehebohan yang sedang berlangsung tersebut. Teriakan sang wali nagari ini membahana di setiap telinga orang yang ada di sekitar perkelahian tersebut, terlihat secepatnya orang-orang tersebut mengangkat tangan untuk melindungi telinganya dari bentakan sang wali nagari. Dan kedua pemuda yang sedang berkelahi juga otomatis menghentikan perkelahiannya serta buru-buru menutup telinga mereka. Beberapa orang yang ada di sekitar perkelahian tersebut cepat-cepat berusaha menyingkir dan menjauhi arena, walau tetap tidak meninggalkannya. Mereka tahu sebentar lagi mereka akan menjadi saksi kemarahan dari sang wali nagari yang terkenal dengan kegalakannya dan keanehannya dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi serta ilmu silatnya yang tinggi. Sedangkan yang masih berani tetap tinggal di luar arena tidak berapa jauh dari kedua pemuda yang berkelahi tadi dan sekarang sedang berusaha berdiri dengan susah payah akibat di sekujur badan terdapat luka dan lembam. Begitu kedua pemuda itu melihat sang wali nagari yang sedang berdiri berkacak pinggang dengan pandangan mata yang dingin memiriskan hati langsung mereka tundukkan kepala dan mata mereka memandang pasir pantai. Sang wali nagari yang terus memandang mereka berdua dengan gemas dan jengkel sekali di dalam hati, karena kejadian perkelahian kedua pemuda ini sudah merupakan yang ke lima kalinya terjadi dalam minggu ini. Persoalan mereka sebenarnya dibilang sepele memang sepele bagi orang lain, tapi bagi pihak terkait merupakan persoalan yang rumit dan menuntut harus ada penyelesaiannya segera. Sambil memandang mereka dengan bengis, sang wali nagari yang bernama Sutan Manenggang Bumi ini atau biasa dipanggil oleh warganya Wali nagari Bumi, memikirkan bagaimana cara yang terbaik menyelesaikannya dan membuat kedua pemuda ini jadi kapok berkelahi lagi. Suasana di sekitar arena menjadi hening tidak ada yang berani membuka suara dan sepertinya semua orang sedang menunggu hukuman mati dari sang wali nagari tersebut. Kedua pemuda itu semakin lama semakin tambah payah kondisinya karena seluruh tubuh terasa sakit dan lutut terasa seperti tahu akibat kelelahan tapi tetap mereka tidak berani beranjak dari posisi mereka karena mereka takut hukuman mereka akan semakin parah jika mereka berani bergerak. Keadaan di tepi pantai tersebut semakin gelap seiring dengan masuknya sang surya ke dalam peraduannya dan buru-buru beberapa nelayan yang ada di sekitar situ membawa lampu-lampu minyak tanah untuk menerangi tempat perkelahian tersebut. Tiba-tiba terdengar sang wali nagari berkata dengan tegasnya " Kalian sekarang ikut aku ke rumah." hanya satu kalimat tersebut yang dikeluarkan oleh sang wali nagari lalu dia berbalik pulang menuju ke rumahnya. Tapi bagi kedua pemuda itu akan terasa seperti siksaan kesakitan yang berkepanjangan karena perjalanan dari tepi pantai ke rumah wali nagari mereka itu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki dalam kondisi seperti ini. Bersambung... --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. - Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahul -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
