Komunitas Silat Indonesia http://silatindonesia.com/ menyelenggarakan diskusi
Silat Harimau (Minangkabau) pada tanggal 26 Januari 2008 yang lalu .
Pembicara : Bapak Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam
Tempat : Anjungan Sumatera Barat - TMII
Seperti biasa, ditampilkan sejarah, filosofi dan demo jurus/aplikasi silat ini.
Acara diarahkan oleh sahabat kita Kisawung selaku Moderator diskusi.
Sedikit latar belakang tentang pembicara, Edwel Yusri Datuk Rajo Gampo Alam,
beliau belajar silat sejak usia dini dari kakeknya di kampungnya negeri
Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Kecintaannya terhadap Silek Minang terlihat dari kemauannya mempelajari baik
Silek Harimau yang merupakan mainan keluarganya maupun Silek-silek Minang lain
dari beberapa Tuo Silek di Ranah Minang.
Adapun aliran-aliran Silek Minang lain yang pernah dipelajari beliau antara
lain Silek Silek Sunua, Silek Kumango, Silek Sitaralak, Silek Pakiah Rabun dan
Silek Kuciang.
Hasil diskusi tersebut beliau menyatakan bahwa belajar silat sesudah selesai
mengaji dan
banyak unsur unsur pelajaran yang mengandung nilai-nilai agama dan budaya.
Misalnya ada langkah pertama yang berarti ada serangan yang seolah olah
dilakukan
oleh seorang ibu kepada anaknya, sehingga serangan tersebut dilakukan dengan
menghindar saja dan tidak perlu menangkis apalagi membalas.
Dan jika seseorang mau latihan silat, dia harus mencari guru serta tidak ada
istilah
Guru mencari murid.
Saat peragaan terlihat gerakan yang sangat menajubkan dan sangat langka.
Para pesilat yang tampil ternyata tidak ada satupun yang berasal dari Ranah
Minang dan mereka sudah pernah tampil di Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol dan
Perancis.
Ketika ditanya kenapa tidak ada Putra Minang yang latihan, dijawabnya saat
beliau
membuka pertama latihan di Tanah Abang banyak Putra Minang yang ikut, tapi
lama kelamaan makin surut dan hanya tinggal pesilat yang non Minang.
Beliau sangat sedih karena putra Indonesia umumnya dan putra Minang khususnya
kurang kemauan untuk mengembangkan satu-satu olahraga dan budaya yang berasal
dari Indonesia (Minang) dan umumnya lebih suka dengan beladiri yang berasal
dari
negara asing. Tapi warga negara Asing misalnya Eropah, Amerika dan Australia
sangat
antusias mempelajarinya, sampai mereka datang ke Jakarta dan juga ada yang
langsung
ke Ranah Minang hanya khusus untuk ingin latihan langsung dari sumbernya.
Seperti kita ketahui pemerintah kurang peduli atas pelestarian Pencak Silat
ini dan
yang perlu diketahui pemerintah Malaysia sudah mewajibkan sebagai olahraga
kebangsaannya serta Pencak Silat diwajibkan untuk dipelajari dari tingkat
sekolah dasar
sampai perguruan tinggi.
Kalau kita biarkan, nantinya bisa kita akan belajar silat keluar negeri atau
Malaysia
meclaim bahwa Pencak Silat adalah milik mereka.
Bagaimana dengan PEMDA SUMBAR khususnya dan Pemerintah Indonesia untuknya
untuk menyikapi ini?
Wassalam
Sudirman Yan
Maintenance Dept
PT.EDS MANUFACTURING INDONESIA
Jalan Raya Serang KM.24, Balaraja-Tangerang
Banten
Telepon 021 5951535
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---